PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 17 : Apa dia benar-benar hidup ?


__ADS_3

Shinta terus saja gusar dan terus merasa bersalah terhadap kacaunya hubungan Andre dan Hana. Ia memang tidak terlalu tahu dengan kehidupan pernikahan mereka tetapi ia sangat tahu bagaimana Andre mencintai Hana dan begitu pun Hana yang sangat mencintai Andre. Begitupun Saka yang masih harus mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya secara utuh. Anak sekecil itu tidak akan mengerti namun ia dapat merasakan permasalahan yang ada dalam kedua orang tuanya yang ditimbulkan oleh dirinya.


“Pantes tadi bingung suaminya mau jawab apa, ternyata mbaknya ini simpanan suaminya. Gak nyangka ya sampai istri pertamanya juga ikut nganterin simpanan suaminya. Sungguh sangat beruntung mbaknya ini gak diviralkan! Hape saya tadi lagi di isi baterai.” caci seorang ibu-ibu yang sedang merawat ibunya yang sedang rawat inap di klinik itu.


Shinta hanya tediam, tidak membalas perkataan ibu-ibu lambe turah itu. Namun, keadaannya diperkeruh dengan satu orang bapak-bapak yang juga sedang dirawat inap mendukung ucapan ibu-ibu itu.


“Iya saya juga tidak habis pikir, masih saja ada wanita murahan seperti dia terus saja menggoda pria yang sudah beristri. Kalau saya, kalau memang harus berselingkuh tidak akan sampai berani menghamili anak orang seperti ini. Kalau sampai bersedia untuk dibuahi yang berarti wanita itu memang berniat untuk menghancurkan rumah tangga orang.”


“Pelakor ya memang pelakor! Tidak ada pelakor yang berhati baik, semua pelakor bukannya memang berniat untuk menghancurkan rumah tangga orang.” Timpal ibu itu lagi.


Shinta sudah tidak tahan lagi, fisiknya yang walaupun masih sangat lemas dipaksanya untuk meninggalkan ruang rawat itu. Mentalnya sudah sangat runtuh, ia tak sanggup lagi untuk mendengar penghakiman orang-orang itu. Andre yang baru kembali untuk menjemput Shinta menemukan Shinta sedang terduduk lemas di ruang tunggu pasien. Andre sangat khawatir dan menanyakan kenapa ia malah duduk disana.


“Mbak Hana bagaimana ?” tanya Shinta, bukannya menjawab Andre yang Shinta khawatirkan hanya Hana.


“Sudah saya antarkan ke hotel terdekat, besok pagi kita akan kembali ke Bandung. Kenapa kamu diam disini, bukannya beristirahat di ruang rawat ?” tanya Andre lagi.


“Kalian tidak akan berpisah kan ?” tanya Shinta lagi.


Andre tahu yang dikhawatirkan Shinta saat ini hanya dirinya dan Hana dan tidak akan menjawab pertanyaannya walaupun ditanya beberapa kali.


“Kamu tunggu disini, saya akan mengambil tas kamu di dalam dan mengantar kamu pulang.”


Saat Andre masuk dan mengambil tas milik Shinta, ibu yang tadi mengatai Shinta melakukan aksinya lagi.


“Sekarang jadi budaknya pelakor ? dasar lelaki ya, memang imannya lemah melihat ada wanita yang lebih muda dan lebih cantik langsung tergoda dan sekarang menghamilinya. Kasihan mbaknya yang tadi, pasti sangat shock karena suaminya mengahamili wanita lain.” Cibirnya.


Andre langsung mengerti mengapa Shinta sampai harus duduk dan menunggu di luar karena hal ini. Andre benar-benar tidak ingin menimpali wanita tua itu, bukan waktunya untuk melakukan hal itu. Saat ini Shinta harus benar-benar istirahat, hari ini sudah sangat melelahkan untuk wanita kecil itu di tambah harus menerima perkataan kasar seperti ini.


Saat di perjalanan, Shinta hanya terdiam, pandangannya lurus ke depan namun tidak fokus. Tangannya terus saja memeluk perutnya, Shinta masih harus menerima keadaan saat ini. Semuanya terasa begitu cepat, dari bertemu dengan Hana dan mengetahui dirinya tengah hamil, semua terasa saat ini hidupnya penuh dengan kesalahan.


Apa yang ia jalani sekarang tidak benar dan terus saja salah. Shinta tidak bisa lagi memikirkan masa depan, masa mudanya telah usai, benar-benar telah usai dan berakhir.


“Shinta ?” Andre mencoba menyadarkan Shinta, Shinta terus saja melamun sampai ia tidak menyadari mereka berdua telah sampai di rumahnya.

__ADS_1


“Mas ?... sekarang bagaimana ?” Shinta tiba-tiba mengajukan pertanyaan dengan pandangan tetap tidak fokus.


“Bagaimana ?”


“Bagaimana dengan semuanya ? Mas dan Mba Hana, Aku dan masa depanku dan bayi ini ?”


“Shinta...” Belum Andre melanjutkan kalimatnya lagi, Shinta segera mencegah Andre melanjutkan kalimatnya karena ia benar-benar tidak ingin mendengarnya.


“Terimakasih telah mengantarku.” Shinta segera keluar dari mobil Andre dan masuk ke dalam rumah.


Melihat keadaan Shinta saat ini membuatnya sangat khawatir untuk meninggalkannya seorang diri. Di tambah dengan kondisinya yang tengah mengandung, pasti ia masih sangat bingung. Andre memutuskan untuk memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


“Mas ?” Shinta yang sedang terduduk di sofa kebingungan karena Andre masuk ke dalam rumahnya sekarang.


“Saya akan menginap malam ini.”


“Tidak! Kenapa ?..”


“MAS ANDRE!”


Andre menghadap Shinta, menatap gadis kecil itu yang sedang mengandung anaknya sekarang. Ia tak benar-benar tahu bagaimana hubungan dirinya dengan wanita yang berada di hadapannya pada masa depan tetapi saat ini ia memiliki keinginan untuk membuatnya bahagia baik bersama dirinya ataupun tanpa dirinya. Andre akan berusaha untuk membuatnya bahagia sesuai dengan janjinya pada Pak Kusuma”


“Saya sedang menyiapkan air hangat untuk kamu mandi. Air hangat bisa membuat pikiranmu tenang.” Andre menyentuh kepala Shinta dengan lembut, untuk membuatnya tenang.


Shinta kembali menunduk, ia tidak bisa menatap Andre terlalu lama. Ia tak bisa membendung perasaan ingin memilikinya, perasaan yang tidak seharusnya ada, perasaan yang harus dirinya simpan selama-lamanya, ia sangat malu dan merasa bersalah karena mempunyai perasaan yang lebih terhadap Andre.


“Airnya sudah mendidih, kamu siap-siap mandi ya. Udah sana... Malam ini sudah cukup untuk memikirkan segalanya, kasihan padanya sekarang apa yang kamu rasakan juga akan dirasakan olehnya” Andre menunjuk perut Shinta.


Mendengarkan hal itu kembali lagi menyadarkan Shinta, sekarang di dalam dirinya ada sebuah kehidupan yang juga akan bergantung padanya. Satu kehidupan yang tak di sangka akan hadir begitu cepat namun Shinta tidak benar-benar menolaknya, hanya saja semua kebenaran ini sebenarnya masih sangat sulit di terima oleh Shinta, jika berpikir ada satu kehidupan yang sekarang bergantung padanya ini benar-benar belum terasa nyata bagi dirinya. Selama sebulan ini ia tidak merasakan apapun, apakah benar di dalam perutnya ada sebuah kehidupan ? begitulah yang dipikirkan Shinta.


Andre sudah menyiapkan air hangat untuk Shinta, lelaki itu sangat mengerti wanita kecil itu belum dapat mencerna tentang kebenaran kandungannya itu. Andre menyadarkan Shinta dari lamunannya dan mendorongnya pelan menuju kamar mandi.


“Cepatlah bersihkan badanmu dan santaikan seluruh tubuhmu, atau kamu mau saya yang mandikan ?” goda Andre.

__ADS_1


Shinta memukul pelan perut Andre dan pergi ke kamar mandi sendiri, Andre tersenyum pada Shinta melihat Shinta akhirnya merespon apa yang ia katakan. Sambil menunggu Shinta selesai mandi, Andre memeriksa kulkas untuk memasak makanan untuk Shinta. Ia tidak benar-benar bisa masak, karena khawatir akan kemampuannya dalam memasak mengingat Shinta pun sedang mengandung, ia tidak mau membiarkan Shinta dan anaknya memakan masakannya yang buruk sehingga Andre segera mengambil ponselnya untuk memesan makanan karena ia tahu Shinta belum makan apa-apa sejak pulang kampus tadi.


Setelah hampir tiga puluh menit Shinta belum saja keluar dari kamar mandi, Andre sedikit khawatir dan mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan Shinta tetap sadar.


“Shin ? Shinta ?” panggil Andre dengan terus mengetuk pintu.


“Shinta ? Jawab saya Shin.” Ucap Andre lagi.


Bukannya tak ingin menjawab, hanya saja Shinta tidak mendengarnya. Memang benar, air hangat dapat membuat Shinta lebih tenang dan rileks sehingga membuat dirinya yang sudah lelah tertidur begitu saja. Andre yang masih sangat panik karena Shinta tak kunjung menjawab segera mencari kunci kamar mandi untuk membukanya, tetapi saat dia akan membuka pintu memakai kunci itu, Shinta membuka pintunya dengan ekspresi yang bingung.


“Mas Andre sedang apa ?” Tanya Shinta heran.


“Astagfirullah...” Andre bernafas lega saat melihat Shinta keluar dengan keadaan yang lebih baik.


“Mas Andre ?”


Andre segera memeluk Shinta dengan erat karena masih sangat khawatir pada wanitanya itu. Andre saat ini menyadari, apa yang telah dikatakan Hana tadi memang benar. Perasaannya pada Shinta bukan lagi tentang kewajibannya memenuhi wasiat itu, melainkan rasa cinta yang tak sadar tumbuh begitu saja. Perasaan yang tidak bisa dikendalikan itu tanpa sadar terus bertumbuh selama mereka berdua saling membuka diri satu sama lain, saling mengenal satu sama lain, dan saling menerima atas kebenaran hubungan diantara mereka.


...****************...


Terimakasih semuanya yang sudah setia membaca PENGANTIN KEDUA.


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan Comment dan Like nya😉


Dengan Comment dan Like kalian akan membuat Author semakin semangat buat nulisnya.


Oh iya, mampir juga yuk ke karya author yang lain



"SIMFONI CINTA DENGAN TUAN AROGAN"


Up tiap hari juga lohh😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2