
“Mbak Shinta ?” tanya tukang ojek online itu.
Shinta hanya mengangguk dengan rasa kecewa yang masih hinggap di dalam dirinya. Ia masih bertanya-tanya apa yang dilakukan Andre di Bandung sampai-sampai Andre tak sempat memberi kabar sama sekali.
Saat sampai di rumah sakit ibu dan anak tempat dirinya akan bertemu dengan dokter kandungan, tak sengaja ia melihat seseorang yang ia kenal. Sangat terkejut, Shinta segera memalingkan wajahnya karena khawatir dirinya akan diketahui oleh orang itu. Dia adalah...
***
Setelah hari ulang tahun Saka, Ratih sangat khawatir dengan Hana. Ia tahu adiknya memperlihatkan dirinya kuat tetapi sebenarnya jauh di dalam dirinya pasti masih merasakan sakit.
“Han!” panggil Ratih.
Hana yang sedang membuatkan cemilan untuk Saka hanya menjawabnya dengan tengokan sebentar.
“Kamu sudah memikirkan baik-baik tentang kamu, Saka dan dia...” tanya Ratih.
Hana tidak menjawab apa-apa ia masih fokus dengan masakannya untuk Saka. Ratih pun merasa ini bukan waktu yang tepat untuk membahasnya, ia hanya khawatir nyali Hana akan kembali ciut setelah pertemuannya dengan Andre kemarin.
“Hana kemarin sudah ke pengadilan agama, Teh” Tiba-tiba Hana membuka pembicaraan setelah memastikan cemilan Saka beres dibuatnya.
“Terus ?” tanya Ratih.
“Hana sudah mantap untuk pergi dari kehidupan Mas Andre, tetapi Hana masih ragu tentang Saka. Saka mungkin masih gak mengerti tetapi lambat laun pasti Saka akan segera mengerti mengapa orang tuanya semakin jarang bersama. Tambah lagi, setelah bercerai pun Hana gak bisa menghilangkan begitu saja sosok ayahnya. Hana sedang memikirkan semuanya, dan ketika itu sudah sangat mantap, Hana akan segera mendaftarkannya secara resmi.”
Ratih tersenyum melihat Hana, adiknya yang terlihat lebih tegar sekarang. Mengingat beberapa waktu kebelakang mental Hana sangat tidak stabil sampai-sampai ia berkali-kali hendak mengakhiri hidupnya sendiri.
“dan... Hana akan meninggalkan rumah ini. Bagaimana pun rumah ini milik Mas Andre kan walaupun saat itu Mas Andre membelinya untuk tinggal bersama istri dan anak-anaknya. Sekarang... Hana bukan siapa-siapa, Hana juga merasa tidak berhak untuk tetap tinggal disini setelah perceraian kita.” Jelas Hana lagi.
Ratih hanya mengangguk dan mengenggam tangan adiknya untuk saling menguatkan. Saat ini yang ia lihat pada diri Hana bukan hanya sekedar ia adalah adiknya saja tetapi ia sedang menatap seorang wanita yang sangat kuat dan tangguh. Sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu saat Saka bahkan harus diungsikan sementara di rumah Ovi.
“Satu hal yang harus kamu ingat, kamu masih punya teteh. Apapun keputusan kamu, teteh akan selalu mendukung kamu. Setelah ayah dan ibu meninggal, kamu adalah satu-satunya keluarga yang teteh punya begitu pun sebaliknya. Hana... adik teteh yang paling cantik dan yang paling kuat, kita pasti bisa melalui ini bersama-sama, ya ?”
__ADS_1
Hana mengangguk lalu memeluk Ratih dengan sangat erat, tanpa kehadiran Ratih mungkin saat ini ia sudah tiada. Ia sangat berterimakasih kepada kakaknya yang selalu hadir saat ia membutuhkan kekuatan dan rela meninggalkan keluarga kecilnya beberapa saat hanya untuk menemani adiknya yang rapuh ini.
*****
Shinta memutuskan untuk tetap masuk ke dalam rumah sakit untuk mengambil antrian terlebih dahulu dengan diam-diam, karena melihat situasi rumah sakit yang ramai nomor antriannya pasti sudah besar yang artinya ia bisa pergi terlebih dahulu ke suatu tempat untuk menghindar dari seseorang yang ia kenal.
045.
Nomor antrian milik Shinta, ia juga menanyakan nomor antrian yang sudah dipanggil sudah sampai berapa kepada suster yang memberinya nomor antriannya. Suster menjawab bahwa diperlukan sekitar tiga puluh menit atau lebih sebelum nomor antrian milik Shinta dipanggil. Shinta sangat bersyukur karena itu artinya ia memiliki waktu untuk menghindar dari seseorang itu.
Ia berjalan keluar rumah sakit untuk mencari tempat yang bisa ia singgahi. Tapi betapa terkejutnya ia saat seseorang yang berusaha ia hindari ternyata bertemu mata dengannya.
“Shinta!” panggil seseorang itu.
Shinta masih berusaha untuk mengabaikan panggilan itu, tetapi orang itu karena sangat yakin dengan penglihatannya mencoba memastikan dengan mendekati Shinta. Dia adalah teman kampus Shinta, Ghea.
“Lo ngapain disini ?” tanya Ghea pada Shinta.
“Lo nganterin orang juga ? Siapa yang lagi hamil ?” tanya Ghea lagi.
Shinta mengangguk dengan canggung.
“Udah lama kita gak ngobrol, kita ngobrol yuk. Mbak gue lagi diperiksa, mungkin sedikit lama.”
“Ehmm... kayanya gue gak bisa. Itu... yang gue anterin kayanya nungguin gue deh.”
“Nomor antriannya berapa emangnya ?” Ghea segera melihat kertas antrian yang sedari tadi dipegang oleh Shinta.
“45... masih lama. Itu masih dua puluhan lebih, kita ngobrol yuk. Gue bosen banget deh. Di kelilingi sama ibu-ibu hamil.” Ghea sedikit menarik Shinta untuk memaksa Shinta mengikutinya.
Shinta tidak bisa menolak lagi.
__ADS_1
Akhirnya, Shinta dan Ghea pergi ke kantin rumah sakit itu.
“Jadi, siapa yang hamil, Shin ?” tanya Ghea yang sepertinya memang sangat kepo.
Shita sudah sangat tahu sifatnya seperti ini, sehingga tadi ia berusaha untuk menghindarinya. Ia hanya takut mulut besarnya akan membuat rumor di kampus tentang dirinya.
“Kerabat dekat, Ghe.” Jawab Shinta.
“Lo keliatan lebih gemuk ya, Shin. Gue sempet ngira Lo yang hamil Loh. Soalnya postur tubuh Lo tuh sama banget sama kakak gue. Gemuknya sama, besar-besarnya sama.”
“Hahaha...” Shinta tertawa canggung, karena Ghea tidak sepenuhnya salah.
“Gue Cuma lagi stres aja, terus larinya ke makanan jadi gini deh. Hehe.”
“Iya sih, kita udah hampir semester akhir bentar lagi kita skripsian juga. Gue juga lagi stres-stres banget.”
Setelah itu sunyi, tidak ada obrolan diantara mereka. Pada dasarnya memang mereka tidak terlalu dekat, Shinta juuga hanya menanggapi senyuman dan anggukan pada setiap keluhan-keluhan yang Ghea lontarkan dari mengenai kampus sampai pada hubungannya. Mungkin karena Ghea sudah lelah bercerita tentang kehidupannya, saat ini yang ada diantara mereka hanya kesunyian.
Drrttt... drrttt...
Suara ponsel Shinta berbunyi, bertuliskan “Suami”. Shinta dengan buru-buru menutupi nama kontak yang muncul pada ponselnya segera mengangkat dan meminta izin pada Ghea untuk pergi menjawab telpon itu. Mata Ghea tidak bisa berbohong, secara sekilas ia melihat nama kontak yang tertulis di ponsel Shinta.
“Suami...” Ghea bergumam dan langsung berpikir. Apakah sebenarnya yang hamil itu bukan kerabatnya tetapi Shinta sendiri ? mengingat “suami”nya tadi menelpon yang artinya Shinta sudah menikah ? Tapi kenapa di kampus tidak ada yang membicarakannya ? kemungkinannya hanya dua antara dirinya yang ketinggalan berita atau memang Shinta yang masih menutupi berita ini.
Bersambung~
Mohon maaf ya baru sempet up sekarang.
yang masih menunggu, terimakasih banyak!
Love You buat yang masih setia🤗🤗🤗
__ADS_1