
“Teteh tadi ngomong sama siapa ?” tanya Hana
“Ehmm... Teteh tadi nelpon Andre. Supaya gak usah ke Bandung. Teteh tahu kalau misalnya dia menghubungi kamu, kamu gak bisa nolak. Jadi teteh udah nelpon dia duluan.”
“Mama! Ayah kapan dateng ?” tanya Saka yang tiba-tiba datang.
“Ayah... Ayah Saka lagi dijalan. Saka main dulu ya.” Jelas Ratih
“Tapi Saka udah kangen!”
“Tadi tante udah nelpon ayahnya kok, katanya bentar lagi sampe. Saka tunggu sebentar ya.”
“Saka mau nelpon ayah lagi!”
Hana dan Ratih terdiam sejenak.
“Ma! Saka mau nelpon Ayah!!!” rujuk Saka.
“Saka... Saka sayang... dengerin mama,” Hana menyejajarkan tingginya dengan Saka dan mencoba untuk menenangkan Saka.
“Ayah sekarang pasti sedang di jalan, kalau Ayah di jalan berarti Ayah harus fokus nyetir kan. Kalau Ayah gak fokus nyetirnya, Kasian Ayahnya... nanti bisa celaka gimana ?”
Saka mulai diam. “Tapi Ayah beneran udah di jalan kan ?”
Hana mengangguk.
Saka memeluk erat Hana. “Saka kangen Ayaaahhh...”
Hana benar-benar tidak tega melihat Saka seperti ini, yang ia inginkan hanya bertemu dengan ayahnya.
Di perjalanan, Andre dan Shinta sudah sampai di rumah Hana. Suasananya sangat sepi karena seperti yang dikatakan Ratih tadi, mereka semua pergi. Begitu pun rumah Ovi adik dari Andre. Andre merasa dikhianati karena mereka semua sepertinya memang sengaja mengadakan ulang tahun Saka di luar rumah.
“Jadi bagaimana, Mas ?”
Andre terlihat sangat kebingungan dan sangat kesal karena keadaan ini. Ia hanya ingin bertemu dengan anaknya, kenapa sampai dilarang seperti ini begitu pikirnya. Shinta berusaha untuk menengkan hati Andre dan mencoba berpikir kemana kira-kira tujuan Hana berlibur.
“Bagaimana jika kita menelpon Mbak Hana dulu ?”
Andre masih diam dan terlihat sedang menahan emosinya.
“Biar Shinta aja kalau begitu yang menghubungi Mbak Hana.” Shinta mengambil telepon genggam milik Andre dan langsung menelpon Mbak Hana.
__ADS_1
Panggilan pertama tidak terjawab. Shinta terus mencoba sambil terus menenangkan Andre.
“Sabar, Mas. Kita pasti bisa bertemu kok.”
Sudah beberapa kali Shinta menelpon tetapi tak kunjung di jawab oleh pihak seberang.
“Apa kita balik dulu ke Jakarta, Mas ? Sepertinya Mbak Shinta benar-benar marah sama kita.”
“Masalahnya Saka, Shin! Hana tidak seharusnya melakukan ini. Saka juga anak saya, saya tetap berhak bertemu dengannya karena saya Ayahnya!”
Mas Andre yang sangat tenang terlihat sangat berbeda sekarang, ia terlihat sangat kalut dan putus asa. Sangat terlihat ia sangat mencintai Sak, semoga kelas calon bayi ini juga dapat menerima kasih sayang yang sama besarnya darimu, Mas.
Andre tiba-tiba teringat sesuatu, ia ingat tempo hari ia pernah memasang GPS di telepon genggam Hana untuk saling mengetahui lokasi masing-masing. Ia buru-buru mengeceknya dan akhirnya menemukan titik terangnya. Villa Lembang tempat dirinya dan Hana liburan tahun lalu. Andre langsung tancap gas untuk segera bertemu dengan Saka.
“Pelan-pelan saja, Mas. Jangan terlalu mengebut.”
Andre seakan kerasukan syaiton nirojim dan tidak mendengarkan Shinta. Ia tetap mengebut dengan kecepatan maksimal, Shinta yang sangat khawatir di sebelah kursi pengemudi sudah memperingati Andre beberapa kali tapi tetap saja Andre tidak mendengarkan sampai akhirnya mobilnya terpaksa terhenti karena lampu merah. Andre segera menginjak pedal rem yang membuat Shinta terhentak.
“aaahhh!” Shinta terhentak.
Andre baru tersadar, Shinta yang ada di sebelahnya sedang hamil anaknya.
“Shinta! Maafkan saya! Saya benar-benar hilang akal tadi. Apakah ada yang sakit ? bagaimana dengan perutmu ?”
“Gak apa-apa. Shinta gak apa-apa kok.” Shinta tersenyum menyembunyikan kesakitannya.
Andre memeriksa perut Shinta.
“Apakah benar-benar gak apa-apa ?”
Shinta mengangguk, “Beneran Mas.”
“Sekarang saya akan menjalankan mobil dengan normal. Maafkan saya sekali lagi, Shinta.”
“Hati-hati, Mas. Saka ingin bertemu dengan Ayahnya untuk bermain bukan untuk menghadiri pemakamannya.”
“Iya... Iya... istriku.” Andre tersenyum, mengelus-ngelus perut Shinta dan mendekatkan kepalanya kepada perut Shinta.
“Maafin Ayah tadi ya, Nak.” Kata Andre pada perut Shinta yang masih datar itu lalu Andre menciumnya.
Beberapa saat kemudian, Andre sampai di Villa yang di sewa Hana dan keluarga. Saka yang melihat mobil ayahnya datang langsung berlari keluar untuk menyambutnya.
__ADS_1
“AYAH!” teriak Saka dan berlari keluar menghampiri Andre yang sudah membawakan sekantong besar mainan.
Mendengar Saka berteriak “ayah” membuat kaget Hana, Ovi dan Ratih yang sedang memasak di dapur. Ratih segera mengecek untuk memastikan dugaan mereka tentang Andre yang datang tidak benar. Ratih tampak sangat terkejut karena yang dia lihat sekarang adalah Andre dan Shinta sudah dengan santainya bermain dengan Saka dan sepupu-sepupu Saka.
Andre melirik Ratih yang sedang melihat dirinya, dan tersenyum padanya.
“Andre!” Panggil Ratih.
“Teteh mau bicara dulu sama kamu!” Ratih lalu pergi keluar Villa bersama dengan Andre yang mengikutinya.
“Kamu gak apa-apa di tinggal sendirian, Shinta ?” tanya Andre.
Shinta hanya mengangguk dan melanjutkan main bersama dengan Saka dan saudara-saudaranya.
Diluar Villa Ratih memasang raut wajah yang sangat serius, Andre sangat mengetahui Ratih sangat terganggu akan kehadirannya sekarang.
“Saya sudah bilang, kenapa Andre tetap datang kesini!”
“Kenapa teteh ikut campur dalam rumah tangga Hana dan Andre ?” tanya Andre
“Kamu tanya kenapa ? Hana itu adik satu-satunya Teteh, kamu harusnya inget saat kamu minta izin ke teteh untuk mengambil Hana. Kamu berjanji untuk selalu memberi Hana kebahagiaan.”
“Saya akan terus berusaha untuk memberikan Hana kebahagiaan, Teh. Saya memang bukan suami yang sempurna tetapi saya selalu berusaha untuk itu.”
“Kamu lihat sekarang, apakah Hana terlihat bahagia dengan pernikahan kedua kamu ?”
“Andre percaya kita masih bisa hidup bersama. Demi Saka.”
“Kalian akan tetap hidup bersama jika kamu tidak melakukan pernikahan itu secara diam-diam!”
“Teteh gak bisa bayangkan situasi saat itu seperti apa!”
“Situasi apapun dan alasan apapun itu, perbuatanmu itu tetap menyakiti adik teteh. Kamu bilang bisa hidup bersama ? Kamu hanya akan terus menimbun rasa sakit untuk adik teteh.”
...~Bersambung.~...
Maafkan karena Author cukup membutuhkan waktu lama untuk update karena Author sebenernya lagi nyusun skripsi juga.
Doain ya semuanya supaya skripsi Author cepat selesai dan Author bisa lulus tahun ini.
Dan makasih juga kepada kalian para readers yang setia menunggu.
__ADS_1
Spoiler aja nih, Hana gak akan selalu sakit hati kok dan Shinta juga gak akan selalu dimanja sama Andre. Bacanya jangan pada emosi yah hehe...