PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 11 : Perasaan Tidak Bisa Dikendalikan


__ADS_3

Di usia kehamilannya yang baru dua bulan tentu saja wajar jika Hana masih mengalami morning sickness. Namun, Hana merasa kehamilannya saat ini terasa tidak terlalu membuatnya khawatir karena yang dia rasakan semakin hari ia merasa semakin kuat dan tidak ada masalah yang berarti dalam kehamilannya kali ini. Jadi, ia sudah bisa mengatasi semuanya sendiri tanpa harus merengek-rengek pada Andre untuk tetap tinggal bersamanya seperti saat hamil Saka dahulu.


Hari minggu ini ada kegiatan ibu PKK di kompleknya, ia sudah menjadi anggota sejak ia datang ke komplek itu. Semua ibu-ibu tetangganya sangat baik, walaupun terkadang mulut-mulut mereka sangat pedas saat mulai bergosip. Hana yang tidak terlalu senang bergosip cukup mengerti, namanya juga ibu-ibu tentu itu sudah bisa dibilang wajar. Ia hanya sebatas tahu, dan tak ingin mencari tahu.


Bu Juminem, tetangga depan rumah Hana segera menarik Hana dengan muka yang sangat serius meninggalkan kerumunan dari ruang tamu rumah Bu Ghina, tuan rumah arisan ibu PKK bulan ini. Mukanya sangat serius, namun Hana mengira Bu Juminem hanya ingin bergosip seperti biasa seperti ibu-ibu lainnya tetapi Hana cukup dibuat heran karena tak biasanya Bu Juminem membawanya hingga ke tempat yang sepi seperti ini hanya untuk bergosip dengan dirinya. Terlebih lagi, Hana bisa dibilang tak begitu aktif dalam kegiatan gosip ini.


“Bu Hana! Saya... saya sebenernya gak enak buat kasih tahu ini. Tapi, Saya ingin kasih tahu Ibu karena ibu adalah tetangga baik saya. Bahkan, rumah kita pun deketan jadi kamu sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Saya memberi tahu ini untuk kebaikanmu!” bisik Bu Juminem, seolah tak ingin membiarkan angin membawa kabar yang cukup rahasia ini.


“Apa Bu ?”


“Tentang suami Bu Hana, kemarin saya melihat suami Ibu.”


“Kemarin kenapa, Bu ? Suami saya kemarin gak kemana-mana.”


“Waktu kalian berlibur di Lembang saya melihat suami Ibu Hana, Pak Dosen, Mas Andre!” Mata Bu Juminem semakin terbelalak memberitakan hal ini pada Hana, tanda ini adalah bagian intronya dan sebentar lagi akan menuju klimaks.


“Kemarin saya melihat Mas Andre, Suamimu mengantarkan seorang wanita ke Hotel di Lembang!” Walaupun suaranya berbisik, suaranya penuh dengan penekanan. Bu Juminem memang sangat ahli dalam bernarasi jenis gosip ini, dengan mendramatisir sesuatu akan membuat cerita ini terdengar seakan-akan dunia akan runtuh.


Hana masih mencoba mencerna berita yang disampaikan Bu Juminem. Ia berusaha mengingat-ingat kegiatan apa saja yang ia lakukan bersama suaminya di Lembang. Hana mulai teringat dengan tamu yang tidak dapat ia temui karena tidak enak badan waktu itu, ia memang tidak tahu tamu itu wanita atau lelaki karena ia lupa menanyakan dan Andre tidak memberi tahunya tetapi saat ini ia bisa berasumsi wanita yang dilihat Bu Juminem ini adalah tamunya yang harusnya ditemuinya saat itu.


Jadi, jika benar Andre berselingkuh darinya seperti yang diceritakan Bu Juminem ini Andre pasti tidak akan memberitahunya bahkan mengajaknya bertemu dengannya. Justru Andre akan menutup-nutupi pertemuannya itu. Mungkin Bu Juminem hanya salah mengambil kesimpulan dari apa yang ia lihat waktu itu, pikir Hana. Ia juga mempercayai suaminya itu seratus persen Andre tidak akan mengkhianatinya.


“Bu, Terimakasih sudah memberitahu saya atas semua ini. Tetapi Andre sebenarnya mengajak saya dalam pertemuan itu tetapi saya waktu itu sedang tidak enak badan serta terimakasih banyak karena ibu telah mengkhawatirkan saya. Insyaallah, saya mempercayai suami saya, Bu!” jawab Hana berusaha untuk bijak agar Bu Juminem tidak tersinggung olehnya.


“Saya hanya memberi tahu, suami yang terlalu banyak tidur di luar bukannya harus lebih waspadanya ekstra ? Kemarin bisa saja saya salah lihat karena memang saat itu sudah malam, tetapi bisa saja apa yang kemarin saya lihat menjadi kenyataan. Selalu waspada itu penting Bu Hana buat Anda yang dalam situasi suaminya kerja di luar kota. Tidak ada yang tau!” Nasihat Bu Juminem yang benar-benar didengarkan oleh Hana karena sebagian dari perkataan bu Juminem memang ada benarnya.


Bukannya tak ingin waspada hanya saja Hana berpikir terlalu banyak curiga pun tak ada baiknya. Perbuatan itu malah akan membuat hubungannya dengan Andre tidak harmonis dan akan memulai benih-benih pertengkaran yang tak ada habisnya. Kunci dari hubungannya tetap harmonis selama ini tentu saja harus saling mempercayai satu sama lain, metode ini dirasa sangat pas karena Andre pun terlihat tidak melakukan hal aneh-aneh.


...***...


To. Mas Andre


Mas, sudah sampai Jakarta ? Semoga seminarnya lancar ya, Mas.


Tak ada jawaban dari Andre, mungkin ia sedang sibuk pikir Hana. Andre memberi tahu Hana ia akan segera pulang setelah seminarnya selesai dan pergi ke dokter kandungan bersama pada hari Rabu. Ia sangat antusias karena setelah sekian lama ia akan kembali ke dokter kandungan dan akan segera bertemu dengan calon anak keduanya. Walaupun ini adalah kehamilannya yang kedua namun antusiasnya tetap sama, bahkan lebih. Ia selalu merasa bahagia saat hamil, karena pada saat itu ia merasa tak pernah sendirian dan merasa selalu ditemani dengan calon anaknya. Ia selalu merindukan rasa seperti ini dan akhirnya Tuhan mengabulkannya dan menitipkan kembali malaikat kecil pada dirinya. Tentu, tak ada kebahagiaan yang akan menandinginya.


...***...


Tidak ada yang bisa menahan perasaan yang tumbuh tanpa peringatan bahkan diri sendiri. -Andre

__ADS_1


“Lupakan! Anggap saya tidak pernah mengatakan kalimat tadi. Saya hanya sedang lelah jadi ucapan saya sedikit melantur. Besok seminarnya, kan ? Kapan Anda akan pulang ?” Tanya Shinta berusaha bersikap tenang, setelah emosi memburunya tadi.


“Ah... Hmm...... Hari Selasa aku akan pulang karena hari Rabu saya harus mengantarkan Hana ke dokter....”


Suasana sangat canggung. Andre tak tahu harus bersikap apa agar suasana saat ini menjadi cair, ia cukup terkejut dengan perkataan Shinta tadi. Jatuh cinta, sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Ia tak pernah memperhintungkan itu akan terjadi pada mereka berdua, bahkan pada Shinta sekalipun karena ia pikir gadis ini tidak akan mencintai dirinya yang berbeda hampir lima belas tahun darinya. Itu tak boleh terjadi, sangat tidak boleh!


Perbedaan umur dan status mereka tidak bisa mempersatukan mereka. Ia menginginkan Shinta mencintai seseorang yang pantas untuknya, seseorang yang akan memberinya cinta seutuhnya, seseorang yang selalu ada untuknya dan yang sebaya dengannya. Orang itu bukan Andre.


Sudah setengah hari Shinta berada di dalam kamarnya dan belum makan apa-apa. Andre sudah memanggil-manggil Shinta namun tidak ada jawaban. Mulai khawatir karena ia ingat Pak Wijadja pernah bilang bahwa putrinya pernah masuk rumah sakit gara-gara lupa makan saat sibuk dengan kegiatannya yang padat dengan berbagai organisasi karena Mag akut yang dideritanya.


“Bi! Apa ada kunci ganda kamar Shinta ? Dari tadi dia belum makan, saya takut mag nya jadi kambuh.” Pinta Andre.


“Ada, Saya ambilkan dulu.”


Setelah beberapa menit Bi Ina kembali dan memberikan satu buah kunci pada Andre. Lelaki itu segera membuka kamar Shinta dan menemukan Shinta tengah berbaring di kasurnya menggigil dengan terus memegangi perutnya.


“Shin ? Shin ?” Andre sangat panik, karena dugaannya benar. Shinta tidak baik-baik saja sekarang.


“BI! Jagain dulu Shinta. Saya keluarin mobil dulu!” Andre segera pergi menuju mobilnya untuk memarkirkannya di depan pintu dan segera kembali ke kamar Shinta untuk menggendongnya dan ditempatkan di mobilnya.


Shinta terus mengigil, badannya sedang demam dan sepertinya perutnya tidak baik-baik saja. Gadis ini memang seorang yang keras kepala. Shinta sudah ditangani oleh dokter di UGD, dokter mengatakan Shinta akan baik-baik saja setelah infusnya habis dan setelah itu Shinta harus makan bubur yang nanti akan disediakan oleh Rumah sakit.


“Mba Shinta sudah sadar ? Mba Shinta sekarang apa yang dirasa ? sudah baikan ?” tanya Bi Ina


“Pak Dosen sedang seminar sekarang, Mba Shinta. Katanya kalau mba Shinta sudah siuman disuruh makan bubur ini. Tadi Pak Dosen sudah belikan ini untuk Mba Shinta karena khawatir Mba Shinta gak mau makan makanan rumah sakit.” Jelas Bi Ina


“Saya tidak mau makan, Bi. Perut saya masih gak enak.”


“Kata Dokter makan sedikit-sedikit dulu, Mba shinta. Jangan sampe perutnya kosong. Jangan bandel! Ayo cepat makan, bibi suapin ya ? menggantikan Pak Dosen.”


“Enggak... enggak... biar saya aja makan sendiri.”


“Mba Shinta sudah kuat ?”


Shinta mengangguk dengan lemah, ia pun berusaha untuk duduk walaupun badannya masih lemah dengan di bantu Bi Ina


“Saya suapin aja ya, Mbak.”


Shinta pun menganggukkan kepalannya lagi.

__ADS_1


“Sebelum itu...” Bi Ina mengambil ponselnya dan mengambil gambar dari Shinta.


“Kok malah di foto ?”


“Buat laporan ke Pak Dosen, katanya Pak Dosen harus ada bukti sebelum dan sesudah mbak Shinta makan.”


Shinta hanya diam.


...***...


“Gimana Shinta ?” tanya Andre yang baru datang setelah menjadi pembicara seminar seharian.


Shinta sedang tidur setelah minum obat sore tadi, Andre segera meminta Bi Ina untuk pulang karena telah menjaga Shinta seharian.


“Besok Mba Shinta sudah boleh pulang, Pak Dosen. Saya akan kesini pagi-pagi untuk membantu Mba Shinta, karena saya dengar Pak Dosen akan pulang ke Bandung besok.”


“Tidak usah, Bi. Saya besok belum pulang.”


“Ya Sudah, besok saya di rumah saja menyiapkan makanan untuk Mbak Shinta. Saya pulang dulu, Pak Dosen.”


Setelah Bi Ina pergi, Shinta yang memang sudah terjaga sejak Andre datang mendengar percakapannya dengan Bi Ina tadi.


“Kenapa tidak pulang saja ? Bu Hana pasti sangat membutuhkan Mas Andre.”


Andre hanya diam menatap Shinta.


“Pak Andre pulang saja, kasihan Bu Hana.”


Andre lagi-lagi hanya menatap Shinta. Shinta merasa sangat canggung karena Andre hanya diam menatapnya saja dan tidak ingin lagi bercakap dengan pria itu.


“Saya akan memberi tahu Hana. Saya akan berbicara sendiri pada Hana.” Andre akhirnya membuka mulutnya.


Shinta benar-benar tak tahu harus bereaksi apa sekarang, suasana sangat dingin dan berbeda. Andre tampak sangat serius, tak seperti biasanya. Wajahnya tegang, ia sedang memikirkan sesuatu dan itu pasti tentang hubungan antara kita bertiga. Selama ini bukan dirinya saja yang memikirkan, tetapi lelaki ini pun memikirkan hal yang juga tak kalah membuatnya terganggu. Selama ini Shinta sangat egois sehingga memikirkan hanya dirinya saja yang menderita dengan pernikahan ini, tetapi ia sadar Andre lebih menderita disini. Banyak yang akan ia korbankan dengan mempertahankan pernikahannya dengan Shinta, namun ia tak bisa melepas Shinta begitu saja karena wasiat itu dan hatinya.


“Jangan berbicara tentang perpisahan, saya tidak akan melakukannya. Cepatlah pulih, dan jadilah wanita kuat. Saya akan selalu berada di sisimu dan selalu menyokongmu dari belakang.”


“Kenapa ?”


“Apa ?”

__ADS_1


“Kenapa dari belakang ? lebih baik kita berdampingan, bukan ? Saya akan menyetujuinya. Kita akan berteman.”


Andre akhirnya tersenyum dan membelai kepala Shinta dengan lembut.


__ADS_2