PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 4 : Ikatan yang dibuat untuk diputuskan


__ADS_3

Sudah sekitar seminggu Shinta absen dari Kampus, tentu semua memaklumi duka yang Shinta alami. Namun, hari ini Shinta memilih untuk kembali menjalani rutinitasnya. Ia pun kembali aktif pada beberapa kegiatan organisasi dan sosial di kampus setelah beberapa bulan ke belakang harus terhenti sementara karena sibuk dengan pengobatan ayahnya. Selain itu, ia berharap dengan kembalinya ia aktif dalam kesibukan organisasi membuatnya sedikit melupakan kesedihan serta sepinya.


"Turut berduka cita ya, Shinta" Ucap Ve (Vebi Atmaja), sahabat perempuan satu-satunya yang dipunyai Shinta karena walaupun ia aktif berorganisasi ia cukup sulit untuk berhubungan dengan orang lain, apalagi membuat jaringan pertemanan yang banyak.


"Ya, Ve. Terima kasih" balas Shinta yang terlihat masih sangat pucat dan lemah.


"Kamu yakin buat ikut kegiatan bakti sosial hari ini ?" Tanya Ve yang menyadari kondisi Shinta yang masih belum benar-benar pulih.


"Ve! I'm Ok." Shinta berusaha meyakinkan sahabatnya itu agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.


Ponsel Shinta tiba-tiba bergetar menandakan ada sebuah pesan yang  order.


Sender : Andre


Jangan lupa makan, dan jangan sakit ! Karna tidak ada yang mengurusmu nanti


Pesan itu  dari Andre yang masih berada di Bandung bersama istri dan anaknya. Setelah membaca pesan itu, Shinta langsung menghapusnya dan kembali menyimpan kembali ponselnya di tas.


“Siapa itu ?” Ve sangat penasaran dengan siapa yang telah mengirim pesan pada temannya karena ia tahu tak banyak orang mengetahui nomer ponsel dari temannya itu, bahkan ia bisa menghintung siapa saja yang ada di kontak teleponnya.


“Cuma operator” kilahnya.


Semua tampak sibuk memasukkan berbagai barang kedalam mobil pick up untuk segera diantar menuju tempat tujuannya nanti. Tak terkecuali Shinta yang terlihat pucat namun memaksakan untuk membantu, padahal semua telah memberitahunya untuk tidak melakukan hal yang berat-berat. Shinta seperti robot, bekerja tanpa henti untuk membuatnya lupa tentang kesedihannya. Ia akan terus seperti ini sampai hatinya yang hampa sudah tak terasa lagi. Ikmal, ketua BEM di kampus itu sedaritadi memperhatikan Shinta yang tampaknya akan tumbang karena melihat langkah kakinya yang terlihat berat dan wajahnya yang semakin pucat. Ia berhasil menangkap Shinta saat Shinta berusaha mengambil sebuah barang yang cukup berat namun ia terpental karena gagal mengangkatnya.


“Mending lo sekarang istirahat aja, muka lo udah gak  bisa di kondisikan. Mail! Ambilin minum air anget!” Teriaknya pada seseorang yang paling dekat dengannya dengan masih membuat Shinta berada dalam dekapannya.


Shinta yang sadar posisinya seperti itu segera berusaha untuk berdiri dengan benar, karena ia cukup risih untuk bersentuhan dengan seorang pria, apalagi mengingat statusnya kini yang merupakan istri orang walaupun suaminya bukan benar-benar miliknya, ia hanya ingin menjaga kehormatan suami saja dengan sadar statusnya sekarang.


“Nih minum” Mail kembali dengan segelas minuman hangat yang disodorkan pada Shinta.


“Makasih” Shinta menerimanya, dan langsung menyeruput air itu.


“Shin, kita tau lo masih dalam keadaan berduka, tapi gak gini caranya buat ngelampiasinnya. Bukan dengan cara menyiksa diri lo sendiri” Nasihat Ikmal pada Shinta yang terus menyeruput air itu, tatapannya lurus kedepan seperti ia tak peduli dengan siapa ia berbicara.


“Shin ! Lo denger gue!” Ikmal meninggikan suaranya, karena menilai Shinta tak mendengarkannya.


“Denger.” Jawabnya singkat, tanpa menatap sedikit pun ke arah Ikmal.


“Lo gak sendiri, Shin ! Gue ada sama lo, termasuk anak-anak. Mereka peduli sama lo”


“Apa sih yang kalian tau tentang gue!, kenapa semua orang berkata seperti itu ! Gak habis pikir. Asal lo tau ya, anak TK juga bisa bilang kaya gitu tapi mereka lebih mengerti dengan kata-kata itu daripada lo!” Shinta langsung tersulut emosinya saat mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Ikmal yang tadinya berusaha menyemangati Shinta.


“Lo kok malah bandingin sama anak TK! Lo kira ini playgrup ? Sekarang terserah lo Shin, mau lo bunuh diri pun gue gak peduli ! Tuh ada obat nyamuk di ruang BEM. Kalo lo mau ambil aja ! kalo perlu nanti gue ambilin gelasnya khusus buat lo!” Ikmal ikut tersulut emosinya karena Shinta yang memulainya. Ia tak habis pikir, yang tadinya ia hanya ingin membantu menyemangati gadis itu, malah kena semprot amuknya. Ikmal beranjak dengan emosi meninggalkan Shinta.


Saat Ikmal pergi, Telepon Shinta bedering. Ia melihat siapa yang memanggilnya saat ia sedang kalut seperti ini. Panggilan itu berasal dari Andre, Shinta cukup lama memandang teleponnya yang masih berdering sampai akhirnya berhenti. Tak lama teleponnya kembali berdering kembali, membuat Ve yang melihatnya cukup penasaran dengan siapa sosok yang menelpon Shinta.


“Kenapa gak di angkat sih ?” Ve mendekati Shinta karena sangat penasaran.


“Hmm… bukan siapa-siapa” jawab Shinta


“Kalo bukan siapa-siapa gak mungkin dia telpon sampe berkali-kali”


Telepon itu masih berdering untuk ketiga kalinya. Ve mengerti sahabatnya itu butuh ruang sendiri dan pergi seraya menepuk-nepuk pundak Shinta tanda ia mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan oleh Shinta walaupun ia tak tahu persis apa yang sedang dialami Shinta.


“Ada apa ?” tanya Shinta, yang akhirnya menerima panggilan itu.

__ADS_1


“Assalamuaikum dulu dong”


“Waalaikumsalam”


“Kenapa gak diangkat dari kemaren ? dan sms pun gak dibales”


“Ada urusan” kilah Shinta


“O ya, Apa disana baik-baik saja ?”


“Ya.. hanya seperti itu tak ada yang berbeda”


“Saya baru akan kembali ke Jakarta hari Rabu”


“Ya, Oke.”


“Jaga dirimu baik-baik, makan teratur, tidur tepat waktu, dan jangan terlalu kelelahan”


“Kenapa bapak terlalu cerewet!”


“Karena kamu adalah tanggung jawab saya” jawabnya dengan tegas, Shinta hanya terdiam setelah mendengar hal itu.


“Ya sudah, itu saja yang ingin ku sampaikan. Wassalamualaikum” sambung Andre


“Iya, waalaikumsalam”


Setelah panggilan itu, Shinta beranjak dari tempatnya menuju Ve yang sedang berkumpul dengan anggota pengurus BEM lainnya yang sedang rapat tentang acara amal hari ini, setelah selesai dengan acaranya. Akhirnya, Shinta kembali pulang ke rumahnya yang sangat sepi, hanya ada Bi Inah asisten rumah tangga yang sudah bekerja dengan keluarganya selama 12 tahun. Shinta seorang putri tunggal keluarga Wijadja, tentu dengan kepergian ayahnya kemarin membuatnya sekarang hanya tinggal seorang diri, terlepas dari adanya Andre sebagai suaminya. Ia tak bisa terlalu berharap banyak padanya, karena ia sangat sadar Andre bukan miliknya seutuhnya.


Hari kamis, seperti biasa Shinta memasuki kelas bersama Ve yang sangat setia mendampinginya karena sebagai sahabat, Ve masih merasakan duka mendalam dalam diri Shinta dan ia tak tega untuk meninggalkannya sendiri. Hari ini adalah jadwal kelas Andre, Shinta tak menyadarinya dan baru ingat tentang itu saat Andre memasuki kelas dengan membawa sebuah tas yang berisikan laptop dan beberapa bukunya.


Selama kelas berlangsung, tatapan Andre hanya tertuju pada Shinta karena gadis itu terus saja berada dalam pikirannya, bahkan selama ia berada di Bandung pun Andre terus mengkhawatirkan gadis itu. Setelah melihatnya di kelas Andre sedikit lebih tenang karena Shinta masih terlihat baik-baik saja sama seperti saat ia meninggalkannya.


“Cukup sekian untuk hari ini, jangan lupa minggu depan essay sudah ada di atas meja ini. Assalamuaikum” tutup Andre untuk mengakhiri perkuliahan kali ini.


Saat keluar ruangan, Andre sekilas menatap Shinta lalu tersenyum padanya bersamaan dengan Shinta juga yang sedang memerhatikannya. Shinta tak membalas senyuman itu, ia sedang kalut dengan perasaannya sendiri. Melihat Andre tadi sebenarnya sedikit membuatnya senang, tapi membuatnya sadar jarak diantara mereka sangat jelas. Andre hanya menganggapnya sebagai anak asuh, ia hanya akan memeriksa bahwa Shinta baik-baik saja, dan tugasnya akan selesai saat Shinta lulus kuliah, lalu ia akan meninggalkan Shinta sendiri dan kembali pada istri dan anaknya hidup bahagia, pikir Shinta. Entah kenapa pemikiran seperti itu terus saja mengahantuinya, membuat dirinya semakin kalut.


“Shinta, kamu kenapa sih. Semangat dong Shin jangan gini terus, Ayah kamu juga ingin kamu semangat, kaya dulu gak kaya gini” nasihat Ve saat menunggu makanan mereka diantarkan ke meja mereka.


“Gak tau deh, Ve. Banyak banget yang aku pikirin akhir-akhir ini. Rasanya cape, pengen ngilangin stress rasanya” curhat Shinta


“Gimana kalo kita liburan aja, kita mantai ke jogja. Lumayan kan nanti liburan, Shin. Ada waktu seminggu sebelum UAS”


“Gimana ya..”


“Katanya mau ngilangin stress, ayo Shin ! mumpung banyak diskon tuh, kita naik kereta. Kalo perlu ajakin yang lain juga supaya lebih seru” Ve terus fokus pada handphone-nya, dengan mata terbelalak karena berbagai diskon yang menggiurkan di akhir tahun ini.


Shinta pun mengangguk menyetujuinya, tanpa memikirkan izin dari Andre. Karena ia pikir dirinya pun tak penting di mata Andre, untuk apa ia perlu meminta izin darinya.


“Oke, aku tanyain ke grup chat deh siapa aja yang mau ikut, supaya langsung di pesen keburu abis nih diskonnya”


Lagi-lagi Shinta hanya menganggukkan kepalanya.


“Cuma dikitan yang ikut ternyata, Mail, Ikmal, Beti, Ve, sama Shinta. Cuma lima orang doang, oke... eh Beti cancel.. jadi Cuma empat orang nih.” Ve sangat serius menatap layar handphone-nya, seperti sedang berbicara dengan benda mati itu.


“Shinta, kamu jangan cancel ya, udah aku pesenin soalnya. Biaya transport semuanya sama aku, tenang aja” Ve menepuk-nepuk pundak Shinta, seraya tersenyum manis padanya.

__ADS_1


“Jadi siapa yang ikut ?” tanya Shinta, ia tak benar-benar mendengarkan ocehan Ve tadi.


“Mail, sama Ikmal doang yang jadi. Semuanya pada bokek”


Shinta hanya mengagguk-anggukkan kepalanya saja.


***


Jam sudah menunjukan pukul sembilan malam, Shinta baru saja hendak pulang karena sebagai salah satu pengurus organisasi mahasiswa ia terbilang sangat sibuk. Shinta sempat ditawari tumpangan oleh Ikmal dengan motor matic nya namun ia menolak dan memilih untuk menggunakan transportasi online. Sialnya handphone-nya mati karena kehabisan daya. Ia mencoba untuk berjalan sedikit lagi menuju halte dekat kampus untuk mencari kendaraan umum, tetapi tak ada yang lewat disana. Sudah sekitar tiga puluh menit ia diam dan tak kunjung menemukan kendaraan untuk membawanya pulang.


“Hey ! kenapa gak di angkat telponnya ?!” seorang lelaki keluar dari mobil avanza bewarna silver yang berhenti di depan halte itu. Dia adalah Andre yang langsung meninggikan suaranya saat menemukan Shinta disana.


Shinta tak mencoba menjawab pertanyaan Andre tadi, karena ia masih tak percaya menemukan Andre disini. Bagaimana ia bisa tahu dirinya berada di halte, pikirnya.


“Ayo masuk ! ini sudah malam, seharusnya kamu memberitahu saya kalau akan pulang, dengan begitu saya tidak usah susah payah mencarimu” ucap Andre, menatap Shinta yang masih menatap dirinya seolah tak percaya.


Andre meraih tangan Shinta, dan menariknya pelan untuk membawanya masuk ke dalam mobilnya. Shinta tak menolak, dan langsung memasuki mobil itu tanpa protes.


“Handphone mu mati ?” tanya Andre, sesekali melirik Shinta untuk menunggu jawabannya.


Shinta hanya menjawabnya dengan anggukan pelan.


“Maaf karena kemarin saya tidak mengabarimu dulu” jelas Andre, ia bisa menebak apa yang dipikirkan Shinta tadi dikelas tentang dirinya.


“Shinta akan ke Jogja” ucap Shinta dengan tatapan lurus ke depan, tak berani menatap Andre yang masih berkonsentrasi menyetir.


“Kapan ?” tanya Andre


“Setelah UAS nanti. Bapak tidak usah khawatirkan saya, dan bisa berlibur dengan tenang bersama istri dan anak bapak” Saat mengatakannya, dada Shinta terasa lebih sesak, airmatanya serasa akan pecah namun ia tetap berusaha menahannya.


Andre hanya mengangguk-anggukan kepalanya, Shinta sedikit heran dengan ekspresi Andre yang tidak bisa terbaca. Suasana pun menjadi canggung karena yang biasanya Andre selalu berusaha berbicara dengannya menjadi diam.


“Apa aku mengatakan sesuatu yang salah ? Ada apa dengannya, tidak biasanya ia terdiam seperti itu”


Sampai di rumah, Andre memarkirkan mobilnya di garasi Shinta mengartikan ia akan menginap di rumah Shinta. Tidak ada yang aneh disana, karena Shinta adalah istrinya namun sangat canggung untuk Shinta dan ia sangat bingung bagaimana memperlakukan Andre sebagai suaminya. Tanpa dipersilakan Andre sudah merebahkan tubuhnya di sofa, Shinta yang menilai Andre sangat kelelahan menawarkan untuk dibuatkan secangkir kopi hitam untuknya, Andre hanya menganggukan kepalanya.


“Ini kopinya, Pak.” Shinta menaruh cangkir kopi itu di atas meja, lalu berlalu menuju kamarnya untuk membersihkan badannya.


“Tunggu !” Andre mulai membenarkan posisi duduknya, dan menyuruh Shinta untuk duduk di sampingnya. Shinta menurutinya dan segera duduk di sampingnya.’


Andre membuat tubuh Shinta menghadap dirinya, ia menatap Shinta. Seperti akan berbicara sesuatu yang serius dengan istrinya itu.


“Ada apa, Pak ?” tanya Shinta, gugup, sudah pasti.


“Pertama, saat kita berdua tolong jangan memanggil saya dengan sebutan bapak. Kamu bisa memanggil saya sesuka hati kamu, asal jangan sebutan yang terlalu formal itu. karena kita adalah suami istri sekarang, bukan dosen dan mahasiswa.”


Shinta hanya mengangguk.


“Saya tidak ingin mengekangmu hanya karena saya adalah suamimu, saya hanya bertugas untuk membimbingmu dan menjagamu sesuai dengan permintaan ayahmu. Di hari kelulusanmu nanti, saya akan melepasmu karena saya menganggap saat itu kamu sudah bisa memilih kemana jalan yang akan kamu pilih.”


“Kata-kata itu lagi! Tidak usah kau ingatkan saya sudah sangat paham, kenapa harus menunggu kelulusanku ? kau bisa pergi sekarang juga!” rutuknya dalam hati.


Shinta hanya menganggukkan kepalanya, menahan rasa sesak dalam dirinya.


“Shinta mau mandi, Bapak... maaf, Mas Andre kalau mau mandi bisa pake yang kamar mandi di dapur dan kamarnya bisa pake kamar ayah. Jangan tidur di sofa!” Shinta berlalu dengan menahan rasa sesaknya saat Andre berbicara tentang perpisahan itu. Ia sangat tidak mengerti dengan ikatan pernikahan ini, ikatan yang sejak awal sudah tau akan terputus.

__ADS_1


__ADS_2