
Kabar buruk, Shinta baru saja diberitahu tentang kondisi ayahnya yang saat ini sedang kritis akibat serang jantung dari asisten rumah tangga yang tinggal bersama ayahnya. Shinta langsung ambruk pada saat ia sedang berjalan menuju kelas, kakinya sangat lemas. Ia belum siap untuk ditinggal pergi oleh ayahnya sekarang. Andre yang melihat Shinta ambruk langsung berlari kearahnya dan menanyakan apa yang terjadi padanya. Mengetahui Pak Kusuma sedang kritis, Andre langsung pergi bersama Shinta menancap gas mobilnya untuk segera melihat keadaan Pak Kusuma.
Melihat Pak Kusuma yang terbaring bersama alat-alat bantu medis yang tertempel di badannya membuat Shinta histeris, ia tidak tega melihat ayahnya terbaring seperti itu. Andre yang berada di samping Shinta berusaha menguatkannya, dan tetap setia mendampinginya.
“Shin, ada sesuatu yang harus saya sampaikan.” Andre menatap Shinta, terlihat kebingungan disana. Sedangkan Shinta, ia masih menundukkan kepala menahan tangis dan berusaha menguatkan diri.
“Kamu mau menikah dengan saya ?” tanya Andre sedikit ragu, Shinta seolah tak percaya dengan sebuah pertanyaan yang tadi dilontarkan Andre padanya.
“Menikah ? Maksud bapak apa ? bukannya bapak udah punya istri ?” Shinta meninggikan suaranya karena di situasi seperti ini bagaimana Andre bisa menanyakan hal seperti itu.
“Dengarkan penjelasan saya terlebih dahulu, ini adalah permintaan Pak Kusuma, Istriku adalah urusanku. Jawablah, dan pertimbangkan karena ini bisa saja menjadi permintaan Pak Kusuma.”
“Tidak, Pak. Ini bukan permintaan yang harus diikuti. Mungkin kemarin ayah lupa kalau bapak sudah memiliki istri, dan saya tidak mau menjadi orang ketiga dalam rumah tangga bapak”
“Bukan itu yang penting, Shinta. Ini adalah sebuah wasiat, dan permintaan Pak Kusuma adalah perintah untuk saya. Saya akan menjadi walimu, hanya sampai kamu mapan dan bisa mandiri dan setelah itu saya akan melepasmu”
Shinta hanya terdiam, tertunduk merenungin sebuah wasiat tidak masuk akal ini. Tiba-tiba suster datang terburu-buru memberitahu keadaan Pak Kusuma semakin memburuk.
“Tak ada waktu lagi untuk berpikir !” Andre meraih tangan Shinta dan berlari menuju ruangan Pak Kusuma.
Andre telah meminta pada suster yang bertugas untuk memanggil seorang penghulu untuk menikahkan mereka, serta Dokter yang bersedia menjadi saksi mereka. Shinta, masih tak percaya pernikahannya akan dilaksanakan di sebuah rumah sakit, bersama ayahnya yang terbaring dengan alat-alat bantu medis menghiasi tubuhnya. Dengan make up seadanya dari seorang suster, dan baju yang sama saat ia pertama kali tiba di rumah sakit ini, Shinta harus siap diperistri oleh dosennya sendiri dan lebih gilanya lagi ia akan dijadikan istri kedua.
“Saya terima nikah dan kawinnya Shinta Widjaja binti Kusuma Widjaja dengan mas kawin tersebut, Tunai” dengan lancai Andre melafalkan ijab, dan di sahkan oleh saksi dan penghulu. Dengan demikian Andre dan Shinta telah sah menjadi suami istri, di tandai dengan Shinta mencium tangan Andre, dan Andre mencium kening Shinta.
Disaat itu pula, jantung Pak Kusuma mulai berhenti berdetak ditandai dengan terlihatnya garis datar pada alat EKG yang tersambung dengan tubuh Pak Kusuma. Shinta histeris, melihat ayahnya pergi sesaat sesudah ia telah diperistri oleh lelaki pilihan ayahnya, Andre mencoba untuk menenangkan Shinta dan menyuruhnya untuk mengikhlaskan kepergian guru sekaligus ayah mertuanya.
Selama tujuh hari, Andre setia menemani Shinta dalam masa duka. Begitu banyak tamu yang datang, Andre senantiasa menerima tamu-tamu tersebut selayaknya seorang anak, sedangkan Shinta masih saja kerap melamun merasa hampa tanpa ayah disisinya. Seringkali para tamu undangan heran mengapa Andre yang menerima para tamu, dan selalu ada di rumah duka tetapi sejenak mereka sadar dan mengetahui kedekatan Andre dan Kusuma memang seperti anak dan ayah dan mewajarkan situasi itu terjadi.
__ADS_1
Malam hari setelah tahlilan, Shinta melihat Andre sedikit pucat dan terlihat sangat lelah. Ia tersadar, bukan dirinya saja yang merasa kehilangan dan merasa bersalah karena selama ini selalu mendiamkannya terlebih lagi status barunya sebagai istrinya, bukankah sudah seharusnya ia lebih memerhatikannya. Apapun status itu, shinta hanya akan mengambilkan air untuknya itu saja tidak lebih pikirnya.
“Maaf karena membuat bapak lelah sendirian.” Shinta menyodorkan segelas kopi hangat untuk andre, dan tentu di terima dengan sangat hangat oleh andre.
“Tidak, ini juga kewajibanku. Karena Pak Kusuma sudah saya anggap sebagai ayah saya. Dia sangat berjasa, dan bisa dibilang beliau adalah satu-satunya keluarga saya pada saat orang tua saya sudah tidak ada.” Andre menyeruput kopi buatan Shinta.
“Terima kasih, Jika tidak ada bapak saya tidak tahu bagaimana saya mengurusnya di tengah saya berduka.” Shinta kembali menitikkan airmata, saat kembali teringat ia harus hidup seorang diri tanpa sang ayah.
Tanpa berkata-kata Andre langsung mendekap Shinta dalam pelukkannya, menghapus airmatanya.
“Kamu sendiri tahu, bagaimana Bapak (Kusuma) membenci airmata... kamu tidak sendiri, Shinta. Ada saya, sebagai keluargamu, walimu, suamimu, saya tidak akan membiarkan airmata ini jatuh lagi,” tuturnya seraya menatap Shinta untuk terus menguatkannya.
“Sudah larut, sebaiknya kamu istirahat.” Andre mengantarkan Shinta untuk tidur, dan menemaninya dengan terus menggenggam tangannya sampai ia tertidur lelap.
Setelah Shinta memejamkan mata, Andre menerima panggilan yang sedaritadi didiamkannya. Itu berasal dari Hani, istri Andre.
“Mas masih sibuk disini, Han. Maaf, mas harus ngurus pemakaman dan tahlilannya Pak Kusuma. Mas, belum bisa pulang sampe besok” jelas Andre pada lawab bicara telponnya.
“Kenapa Saka ?” tanya Andre yang sangat panik, mendengar keadaan anaknya yang diyakini sedang tidak baik-baik saja.
“Saka masuk rumah sakit, Mas. Dia.. jatoh dari tangga pas mau ngambil mainan di atas lemari kerja kamu, Mas”
“Astagfirullah, Mas berangkat besok pagi dari sini”
“Iya mas, Hati-hati. Saka terus-terusan manggilin mas dari kemaren”
“Iya, iya han. Maafkan Mas yang lalai dalam menjaga keluarga”
__ADS_1
“....”
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam”
Tak sengaja, Shinta mendengar semua percakapan itu karena tadi ia terbangun saat mendengar suara panggilan telepon. Ia menghampiri Andre, untuk menenangkannya karena ia tahu sekarang ini hatinya akan sangat kacau dan ia pun merasa sangat bersalah karena membuat Andre seperti jauh dari keluarganya.
“Pak, maafkan Shinta karena ngebuat bapak jadi gak merhatiin keluarga bapak. Kalau bapak mau pergi sekarang juga gak apa-apa. Pasti anak bapak ngebutuhin ayahnya” Shinta duduk berdampingan, menatap Andre yang sedang sangat kalut. Walaupun tak mengeluarkan airmata, terlihat sekali dari raut wajah Andre yang kacau.
“Terima kasih Shin. Kamu bisa ditinggal sendiri ? apa kamu yakin ? Sepertinya saya akan sedikit lebih lama di Bandung.” Andre menghadap Shinta, menatapnya dalam-dalam. Pikirannya sekarang terbelah dua, ia tak percaya akan mengalami dilema seperti ini.
Shinta menganggukkan kepalanya dan tersenyum, guna menenangkan Andre dan berkata “Shinta tidak apa-apa. Aku bisa sendiri, keluarga bapak sekarang yang lebih membutuhkan, Bapak. Shinta malah ngerasa bersalah karena harus hadir ditengah-tengah kalian. Shinta khawatir istri bapak gak bisa nerima Shinta, dan lebih membuat rumah tangga bapak kacau, maafkan Shinta”
“Tidak, saya sudah katakan keluargaku adalah urusanku. Kamu sekarang adalah tanggung jawabku, jika nanti rumah tanggaku harus hancur itu bukan salahmu, aku akan tetap bersikeras mempertahankan rumah tangga ini. Percayalah padaku”
Shinta menganggukkan kepalanya.
“Maafkan saya karena tidak bisa menemanimu untuk beberapa hari kedepan. Jika terjadi sesuatu, kamu bisa langsung menelpon saya.” Shinta terus menganggukkan kepalanya mengerti.
Andre langsung beranjak dan mengambil kunci mobilnya di meja, saat akan keluar dari pintu rumah, Shinta menghentikkanya dengan meraih tangan Andre.
“Hati-hati,” ucapnya seraya mencium tangan Andre, selayaknya seorang istri melepas suaminya pergi. Andre membalasnya dengan langsung mendekap Shinta dan mencium kening Shinta.
“Jaga diri baik-baik” pesannya dan pergi dengan terburu-buru.
Shinta melambaikan tangan dengan senyuman melepas Andre yang benar-benar pergi meninggalkannya sendiri. Ia tahu Andre bukanlah benar-benar miliknya, ia pun tidak bisa memaksa Andre untuk kembali lagi pulang kerumahnya karena ia pun bingung jika Andre datang ke rumahnya apakah itu bisa di sebut kepulangan, atau sebuah kunjungan.
__ADS_1