
“Sejak kapan Lo berhubungan dengan Pak Andre ?” Tanya Ikmal.
Shinta menjelaskan semua yang terjadi sejak sepeninggal ayahnya. Ikmal hanya diam tidak memberikan reaksi apa-apa. Shinta sangat mengerti bagi Ikmal ini adalah berita yang sangat mengejutkan.
“Kenapa Lo setuju untuk melakukannya ? Lo tahu Pak Andre itu udah punya istri!”
“Gue gak ada pilihan, karena Bapak gue.”
“Lo bisa menolaknya!”
“Mal! Kalau Lo mau memperdebatkan masalah ini sekarang... gue bener-bener gak ada waktu. Semuanya sudah terjadi!”
“Apa Lo mencintai Pak Andre ?”
Shinta mengangguk. “Gue gak bisa menahan perasaan gue sendiri, perasaan gue benar-benar diluar kendali gue.”
“Apa dia juga mencintai Lo ?” Tanya Ikmal lagi.
Shinta menunduk dan dilanjutkan dengan menggeleng. “Gue Cuma bahagia dia selalu ada di sisi gue.”
“Untuk apa Lo bertahan, Pak Andre tetap akan memilih istri dan anaknya!”
“Gue hanya gak bisa melepasnya, Mal! Gue benar-benar gak masalah kalau dia bersama istri dan anaknya di Bandung karena setelah itu dia bisa menemui gue disini.”
“Shin!”
“Apa gue salah karena mencintai suami gue sendiri ?”
Ikmal benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi, yang dia rasakan sekarang adalah sangat terkejut sekaligus sangat marah dan kecewa. Wanita yang ia cintainya ternyata sudah dimiliki oleh pria lain, dan pria itu adalah pria milik orang lain.
Setidaknya jika Lo tidak mencintai gue, Lo harusnya mencari pria yang baik dan bisa mencintai Lo seutuhnya, Shinta dan orang itu bukan Pak Andre. -Ikmal
Ikmal pergi begitu saja tanpa berkata apapun lagi, Shinta sangat tidak menyangka akhirnya hubungannya diketahui oleh seseorang. Shinta tahu cepat atau lambat ia harus menceritakan hubungannya dengan Andre kepada orang-orang terdekatnya dan ia pun sudah menyiapkan diri menerima apapun reaksi mereka. Tetapi tidak sekarang, ia masih belum siap untuk menerima reaksi seperti Ikmal tadi. Apalagi, Ikmal adalah teman terdekatnya setelah Ve di kampus. Apakah Ikmal masih akan menjadi temannya ? begitulah yang dipikirkan Shinta saat ini.
Rapat organisasi telah usai dilaksanakan dan selama rapat berlangsung Ikmal sama sekali tidak datang, entah lelaki itu pergi kemana. Ikmal masih sangat terkejut dengan berita yang baru saja ia terima, ia perlu waktu yang lebih untuk mencerna semuanya.
Setelah usai rapat, Shinta pun menyampaikan niatnya untuk berhenti dalam semua kegiatan organisasi sekaligus berpamitan kepada semua anggota BEM yang selama ini telah menemaninya dalam segala kegiatan kampus. Banyak sekali kenangan-kenangan yang tidak terlupakan selama ia aktif dalam organisasi, termasuk pertemuan pertamanya bersama Hana.
“Lo bener-bener harus berhenti ?” tanya Ve
__ADS_1
Shinta mengangguk.
“Lo yakin, Shin ?” tanya Mirna.
Kembali Shinta mengangguk.
“Good Luck, untuk semua rencana Lo di luar sana. Kita Cuma bisa ngedukung Lo.” Tambah Mirna.
“Thanks.”
***
Setelah selesai semua kegiatannya, Andre yang menunggu Shinta di sekitar kampus segera menjemput Shinta.
“Semuanya sudah beres ?” tanya Andre.
Shinta mengangguk tetapi tatapannya kosong, ia masih memikirkan Ikmal. Sepertinya Ikmal sangat terkejut setelah mengetahui semuanya.
“Kamu mikirin apa lagi sih ?”
Shinta menggeleng. “Enggak, Shinta Cuma keinget-inget lagi kegiatan-kegiatan BEM. Kayanya Shinta bakal kangen banget.”
Shinta tersenyum dan ikut mengelus perutnya yang masih rata bersama Andre.
Apapun akhirnya nanti, apapun pilihan Mas Andre nanti, Shinta sangat senang dan bahagia karena bisa mengandung anak dari Mas Andre, pria yang saat ini sangat Shinta inginkan. -Shinta.
***
Hari Sabtu pagi, Shinta dan Andre sudah bersiap untuk pergi ke Bandung atas permintaan Saka sekaligus Andre dan Shinta hendak membujuk Hana untuk tetap mempertahankan rumah tangganya setidaknya demi Saka.
Di tengah perjalanan, ponsel Andre bergetar.
“Shin, tolong angkat. Lihat siapa yang telpon.” Pinta Andre pada Shinta untuk menerima panggilan ponselnya itu.
“Siapa yang nelpon, Shin ?”
Shinta melihat nama kontak si penelpon. “Ratih, itu siapa Mas ?”
“Ratih ? itu kakaknya Hana. Coba angkat dan Loudspeaker.”
__ADS_1
Shinta segera melaksanakan apa yang diperintahkan Andre.
“Andre!”
“Iya, Teh.” Jawab Andre
“Kamu lagi gak jalan ke Bandung, kan ?”
“Andre sekarang lagi di jalan, Teh. Kemarin Saka yang minta Andre pulang.”
“Teteh minta, kamu jangan datang ke rumah.”
Shinta dan Andre cukup terkejut.
“Teteh minta pada kamu, dan wanita itu. Jangan muncul lagi ke kehidupan adik teteh. Teteh benar-benar gak bisa melihat Hana nangis lagi karena kalian.”
“Tapi, Andre tetap ingin mempertahankan Hana.”
“Kamu sayang sama Hana, kan ? Kalau kamu masih sayang sama Hana. Tinggalkan Hana sendiri!”
“Izinkan Andre untuk bertemu dengan Hana sekali ini saja.”
“Kami tidak ada di rumah, sebaiknya kamu kembali saja ke Jakarta karena percuma.”
“Kalian ada dimana ? Andre bisa langsung kesana. Teh, izinkan Andre untuk berbicara sekali lagi sama Hana.”
“Andre, cukup! Biarkan Hana bahagia dan kami pun tidak akan merebut kebahagiaan kamu bersama wanita itu.”
“Kebahagiaan Andre juga ada karena Hana dan Saka.”
“Beri Hana waktu, Hana benar-benar butuh ruang. Teteh minta padamu...”
Andre terdiam, Shinta meneteskan airmata.
“Teteh Cuma mau bilang itu saja, terimakasih karena kamu sudah membahagiakan adik teteh selama lima tahun terakhir, sekarang kebahagiaan Hana kembali menjadi tugas teteh setelah kamu memilih untuk membahagiakan wanita lain.”
Ratih segera menutup teleponnya.
“Sekarang bagaimana, Mas ?” tanya Shinta.
__ADS_1
Andre hanya diam dan terus menjalankan mobilnya dalam kecepatan penuh. Bagaimana pun ia harus bertemu dengan Hana, dimana pun mereka berada Andre bertekad untuk segera menemukan mereka.