
“Teh Shinta kenapa lama banget gak main sama Saka!” Saka cemberut merajuk pada Shinta karena Shinta tidak menepati janjinya untuk segera berkunjung tempo hari.
“Hehehe... maafin teteh ya, Saka! Teteh kan udah bawain mainan kesukaan Saka.”
Saka tetap cemberut pada Shinta.
“Teh Shintanya mau tetep dicemberutin gitu, nih ? mau Teh Shinta kelitikin! Sini!” Shinta mengelitiki Saka yang membuat Saka langsung tersenyum dan tertawa.
Sedangkan Hana masih terdiam di dapur, ia masih harus menyiapkan dirinya untuk menghadapi Shinta dan Andre. Ovi berusaha untuk menguatkan Hana, bagi Ovi Hana sudah seperti kakak perempuannya sendiri.
“Teh Hana...”
“Gak apa-apa, Vi. Teteh gak apa-apa kok. Teteh nganterin minum dulu buat mereka.” Hana membawa nampan berisi dua gelas untuk tamunya.
“Biar Ovi aja, Teh.”
Hana menggeleng, “Teteh aja, Vi.” Hana berjalan menuju ruang depan.
“Shin...” Sapa Hana.
“M-mbak.. Hana...” Shinta sangat kikuk.
“Ini di minum dulu. Mas Andre kemana ?”
“M-Mas.. Mas Andre lagi di depan.”
__ADS_1
Hana mengangguk seiring memberikan segelas teh untuk Shinta, Shinta segera menerima gelas itu dan meminumnya.
“M-makasih, Mbak Hana...”
Hana hanya mengangguk. “Saya kedepan dulu ya.”
“I-iya teh.”
Hana pun pergi meninggalkan Shinta dan anak-anaknya lalu pergi keluar untuk memberikan minum kepada Andre secara langsung. Saat ini tangannya bergetar sangat hebat tetapi Hana berusaha untuk menahannya dan terus mengatur nafasnya karena dadanya masih terasa sangat sesak.
Kakinya langsung terhenti saat mendengar percakapan antara Ratih dan Andre.
“Segeralah mengurus perceraian kalian! Teteh tetap pada keputusan awal, kalian harus berpisah.”
“Saya tidak akan melepas Hana! Tidak sekarang atau nanti, Saya akan tetap bersamanya.”
“Tidak ada satu pun dari kita harus mundur!”
“Teteh gak menyangka kamu bisa menjadi pria seegois ini, Ndre!”
“Sudah cukup, Teh... Mas Andre!” Sela Hana.
“Hana!” ucap Andre.
“Teteh sebenarnya tidak mau ikut campur pada urusan rumah tangga kalian. Namun, setelah melihat Hana yang sangat terpuruk kemarin. Teteh merasa perlu untuk mendampingi Hana.”
__ADS_1
“Teteh! Cukup! Sekarang giliran Hana yang berbicara. Hana akan menegaskan kembali pada Mas Andre. Hana sudah sangat mantap untuk bercerai dari Mas Andre. Tanpa paksaan dari pihak manapun, ini adalah keputusan akhir. Alasannya sudah Hana jelaskan malam itu.”
“GAK! Gak boleh!” Shinta tiba-tiba muncul untuk mencegah Hana.
“Mbak Hana gak boleh pisah dengan Mas Andre! Mas Andre masih sangat mencintai Mbak Hana.”
Hana menatap Shinta, “Cintanya tidak sesuci dahulu, Ini juga untuk kebaikan kamu dan anakmu nanti.”
“Bagaimana bisa Shinta diam saja melihat rumah tangga Mas Andre dan Mbak Hana hancur gara-gara Shinta ? Shinta yang salah, dari awal pun Shinta sudah siap untuk pergi!”
“Saya sudah sangat lelah dengan kalian berdua. Saya ingin istirahat.” Hana pergi masuk ke dalam.
“Mbak Hana! Mbak Hana!” Shinta hendak mengejar Hana namun dihalangi oleh Ratih.
“Apa yang kamu dapat dengan berlari ke dalam dan menangis-nangis di depan anak kecil! Kamu hanya akan membuat Saka mengetahui permasalahan yang dialami orang tuanya!”
Shinta terdiam dan menangis.
“Kalian sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan, Hana tadi. Jika kalian tidak memikirkan diri kalian sendiri, kalian pasti akan melihat fakta bahwa Hana akan jauh lebih bahagia jika hidup terpisah dari kalian!” Ratih masuk ke dalam meninggalkan Andre dan Shinta.
“Mas...”
Andre masih terdiam, merenungkan semua perkataan Ratih dan Hana barusan. Apakah benar Hana akan baik-baik saja jika hidup terpisah dengannya ? Apakah benar jika Hana berpisah dengannya Hana akan jauh lebih bahagia ? lantas bagaimana dengan dirinya ?. Yang ia ketahui sekarang adalah perasaannya pada Hana dan Shinta semakin membingungkan, ia benar-benar tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan untuk langkah selanjutnya ?
Apakah ia benar-benar harus berpisah dengan Hana dan hidup bersama Shinta ? Atau tetap bersama Hana dan membiarkan Shinta ?
__ADS_1
...~Bersambung~...