
“Saya sudah sehat, Mas! Saya bisa makan sendiri.”
“Kalau kamu makan sendiri, pasti lama! Buka mulutnya cepet, habis ini baru dilanjut lagi main ponselnya.” Andre mengambil ponsel Shinta dan duduk di bibir ranjang Shinta berbaring.
“Oh ya! bentar lagi udah mulai kuliah. Mas akan mengajar kelas saya lagi ?” Tanya Shinta di sela-sela Andre menyuapinya.
“Saya tidak mengajar mahasiswa semester 6. Kenapa ?”
“Hanya tanya saja. Saya hanya sangat senang dengan metode mengajar Mas, mungkin akan asyik juga jika saya mendapatkan keuntungan dari ini.”
“Bermimpilah! Asal kamu tahu, saya adalah dosen yang sangat objektif.” Andre menjentikan jarinya pada dahi Shinta.
“Kamu itu sudah pintar, nilai mu akan tetap bagus! Tidak usah bermimpi lagi dan segera minum obatnya.” Andre menyodorkan obat yang harus diminum oleh Shinta.
“Mas! Mas harus tahu, selama ini sangat sulit untuk mengabaikan semua perhatian Mas. Saya berusaha keras untuk menahannya dan terus menolak semua itu, tetapi saya sangat lelah karena itu. Saya lelah dan akan berbuat sesuai dengan keinginan saya saja, tanpa memikirkan apapun. Saya akan melakukan apa yang ingin saya lakukan, sehingga tak ada penyelasan di akhir. Seperti sekarang, saya sangat bahagia mempunyai Mas. Terimakasih.”
Andre tersenyum dan mengecup kening Shinta sejenak, lalu hendak beranjak pergi tetapi Shinta menarik pelan baju Andre.
Mereka saling bertatap, Andre segera mendekati Shinta dan mengecup bibir ranumnya, bibir mereka saling berpagut mengikuti irama detak jantung mereka. Hati tak dapat berbohong, hingga dapat mengenyampingkan akal sehat. Mereka berdua tenggelam dalam sebuah rasa yang tak biasa, yang tak seharusnya ada namun sudah terlanjur tumbuh tanpa tahu kapan benih itu tertanam. Shinta berpikir, ia hanya akan hidup hari ini, tanpa penyesalan ia akan hidup sesuai dengan keinginannya. Andre hanya mengikuti hasratnya dan hatinya, logikanya seakan membeku dan tubuhnya tak bisa terkendalikan sekarang.
Dua insan bersatu tanpa tahu masa depan, mereka hanya akan hidup untuk hari ini seakan tak ada lagi hari esok.
...***...
2 tahun lalu
“Ini GPS sudah terpasang di ponsel kita berdua. Biar kamu percaya aku di Jakarta gak macem-macem.” Andre
__ADS_1
“Aku selalu percaya, Mas. Yang penting Mas sehat-sehat disana.”
“Cutiku sudah habis, besok aku harus kembali lagi ke Jakarta. Kamu gak apa-apa ?”
Hana menunduk, memainkan jari-jari kukunya ia tampak gugup. Ia tak sanggup menatap Andre dan mulai menitikan airmata. Sangat bohong jika ia menyatakan dirinya baik-baik saja sekarang, setelah kehilangan anak kedua mereka.
Hana baru saja mengalami keguguran minggu lalu karena pendarahan hebat dan membuat kondisinya benar-benar lemah dengan mental yang masih terguncang. Andre yang sangat khawatir mengambil cuti selama seminggu untuk merawat Hana dan Saka yang masih berusia dua tahun, ia sebenarnya tidak tega meninggalkan Hana tetapi kewajibannya untuk mengajar harus dilaksanakan. Hana pun sama, ia harus mengajar di TK.
“Kalau aku tidak terlalu sibuk, aku usahakan untuk pulang lagi ke Bandung.”
“Enggak... Gak usah, Mas! Aku yang lebay, biasanya aja gak cengeng kaya gini.” Hana segera menyeka airmatanya untuk memperlihatkan dirinya kuat dan mampu menghadapi semuanya agar Andre tidak khawatir saat di Jakarta.
“Semakin kamu menolak, makin aku gak tega. Aku bakal pulang pergi saja, biar kamu bisa senyum. Kamu tahu kan aku ini suami siaga.”
“Iya kamu yang terbaik.” Hana segera memeluk pinggang Andre dengan sangat erat. Hana sangat bersyukur bisa bertemu dengan sosok pria yang sangat hebat ini. Pria yang selalu ada untuk dirinya dan selalu membuat dirinya dicintai.
Hingga keretakan mulai datang pada rumah tangga mereka, sebuah kabar burung yang belum dipercayai oleh Hana, tetap saja menganggu pikirannya. Ia mulai merasakan kekhawatiran, dengan ketidakhadiran Andre pada pertemuan pertama dengan dokter kandungan pun membuatnya tambah khawatir. Andre sebelumnya tak pernah mengenyampingkan keluarganya untuk urusan apapun, ia rela pulang pergi Jakarta-Bandung hanya untuk menghiburku waktu itu.
To : Andre
Mas ? sedang apa ? Aku sudah memeriksakan kandungan anak kita, alhamdulillah kata dokter anak kita baik-baik saja.
Tak lama Andre membalas pesan teks itu.
To ; Hana
Alhamdulillah, jaga diri baik-baik ya. Saya sedang di kampus masih ada yang harus dikerjakan. Nanti saya telepon lagi ya.
__ADS_1
Hana sangat terkejut dengan jawaban yang dibuat oleh Andre, ia tak percaya Andre sedang berbohong padanya dan menyembunyikan sesuatu disana. Apa yang dilakukan Andre sehingga sampai dengan tega ia membohonginya saat ini.
...***...
Harusnya aku tidak menariknya, harusnya aku tidak meneruskannya. Baru saja kami berteman dan sekarang terjadi ini. Bodohnya diriku yang mempunyai hati yang lemah.
Andre dan Shinta berada dalam suasana yang penuh dengan kecanggungan, mereka sama-sama tak percaya tubuh dan hati mereka mengkhianati akal sehat. Tak tahu harus berbuat apa, mereka berdua hanya berbaring di ranjang yang sama dan menatap kosong langit-langit. Entah bagaimana itu semua terjadi, tetapi yang mereka tahu adalah mereka melakukannya tanpa paksaan satu sama lain.
“Ekheemm... emmm, aaaa, sss..” Andre mencoba untuk mengawali topik pembicaraan dengan Shinta tetapi tak tahu harus berbicara apa.
“Mas ?” Shinta yang tidur memunggungi Andre tampak sangat bingung.
“Ya.. Apa ?”
“Sa..saya.. gak akan hamil kan ?” dengan polos Shinta menanyakan hal itu, ia sangat bingung dengan situasinya dan tak terpikirkan akan terjadi seperti ini.
Andre pun tak bisa menjawabnya dengan pasti, ia sangat bingung akan menjawab apa dengan pertanyaan yang tak terduga dari Shinta.
“Besok, Mas akan pulang ya ? Bu Hana pasti sangat khawatir, Saka juga pasti sangat merindukan Mas. Saka anak yang pintar, dan lucu sama seperti kalian."
Andre tak menjawab apapun.
"Mas ?” Suara Shinta kembali terdengar memecah kesunyian yang ada pada ruangan itu.
“Iya ?”
“Saya tidak akan hamil, kan ?” suara Shinta mulai bergetar, mengusap airmatanya yang mengalir tanpa diperintah.
__ADS_1
Andre tidak mengatakan apapun, yang bisa ia lakukan hanya mendekap Shinta dari belakang untuk menenangkannya. Ia pun tak pernah merencanakan hal seperti ini akan terjadi.
“Maafin Shinta, harusnya Shinta tidak melakukan hal itu. Shinta selalu jadi masalah untuk hidup Mas.”