PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 22 : Saka Minta Kado


__ADS_3

“Mah! Mamah!” Panggil Saka setelah sholat shubuh bersama Hana.


‘’Iya, Sayah. Kenapa ?” Tanya Hana.


“Saka kangen sama Ayah” Saka hendak menangis.


Hana yang mendengarnya sempat berdiam sejenak, sejak kedatangannya kemarin dari Jakarta Saka terus saja bertanya kapan ayahnya pulang atau mengatakan Saka sangat merindukan ayahnya. Hana hanya bisa menjelaskan Andre sedang bekerja untuk membeli mainan yang Saka suka. Jawaban anak berusia 4 tahun itu membuat Hana sangat terkejut dan tidak menyangka anaknya sudah besar.


“Saka gak mau mainan lagi! Saka ingin Ayah sama Mamah tidur bareng Saka.” Pintanya.


Hana berusaha menjawab Saka sebijak mungkin dengan mengajaknya terus berdoa pada Allah agar ayahnya, Andre bisa bertemu dengan Saka sesegera mungkin.


“Mah, Saka bentar lagi ulang tahun.” Ucap Saka lagi seusai berdoa bersama Hana.


“Saka mau hadiah apa dari Mamah ?” Tanya Hana.


“Saka mau ketemu Ayah sama Teh Shinta.”


Hana hanya terdiam. Ia tidak mungkin untuk menjawab tidak tetapi sangat sulit juga untuk menjawab iya pada permintaan Saka tersebut. Hana hanya menjawab jika Saka berdoa dengan sungguh-sungguh ke Allah, maka Allah akan mengabulkan semua permintaan Saka. Saka hanya mengangguk dan berdoa sekali lagi untuk meminta kado tersebut dari Allah.


***


Saat siang hari, Ratih dan Hana sedang menyantap makan siangnya sedangkan Saka sedang bermain di rumah Ovi. Hana bercerita mengenai permintaan Saka yang menginginkan Andre untuk datang di hari ulang tahunnya bersama dengan Teh Shintanya. Mendengar hal itu Ratih tentu saja langsung menolak, apalagi mendengar nama Shinta membuatnya sangat geram.


“Teteh sama sekali gak setuju, Saka masih kecil dia diomongin sekali juga pasti udah ngerti.” Jelas Ratih.


“Tapi Saka kangen sama Mas Andre.”


“Hana... hati kamu ini masih sakit, masih terluka. Sekarang, kamu mau mengundang penyakit-penyakit itu ke rumah kamu ?”


“Hana gak bisa memikirkan diri Hana sendiri, Saka lebih penting daripada perasaan Hana sekarang. Yang Saka tahu sekarang ia sangat merindukan sosok ayahnya.”


“Sekarang teteh tanya sama kamu, Apa kamu sanggup ?”


Hana terdiam.


“Hana... Teteh sayang sama adek teteh. Teteh gak mau adek teteh yang cantik ini menangis lagi.”


Hana tersenyum menatap Ratih, kata-kata yang terucap dari Ratih benar-benar menghiburnya.


***


Di sisi lainnya, Saka sedang bermain dengan Ikbal dan Viola tetapi Saka terlihat sangat murung membuat Ikbal dan Viola menanyakan kenapa Saka sangat murung.


“Saka kangen sama ayah Saka.” Cerita Saka.


“Aku tahu!!!” Ikbal tiba-tiba teringat akan sesuatu.


Dengan cepat Ikbal, bocah berusia lima tahun itu mengendap-endap menuju ruang keluarga.


“Kak Ikbal, kita mau ngapain ?” tanya Saka bisik-bisik mengikuti dibelakang Ikbal.


Viola yang masih tidak mengerti apa-apa hanya ikutan berjalan mengendap-endap dengan ceria. Ikbal melirik ke kanan dan ke kiri untuk mengecek keberadaan Ovi mamahnya. Ovi terlihat sedang masak di dapur, mengetahui hal itu Ikbal buru-buru mengambil ponsel pintar ibunya.


“Telepon pakai ini!” suruh Ikbal.


Saka masih tidak mengerti.


“Kak Ikbal kalau kangen sama papahnya Kak Ikbal suka telepon diem-diem pake ini.”


Saka mengangguk.


Ikbal yang baru bisa membaca dengan cara mengeja langsung mencari kontak yang bernama “Kak Andre” setelah ketemu Ikbal buru-buru memencet tombol telepon.

__ADS_1


“Halo...” Ikbal.


“Halo... Ovi ?”


“Halo...” sahut Ikbal lagi.


“Ikbal ? Ada Apa Ikbal ? Mama kemana ?”


Ikbal yang mendengar suara Andre buru-buru memberikan teleponnya pada Saka.


“Ayah...”


“Saka ?”


“Ayah...”


“Ada apa, Nak ? kamu kok bisa telepon Ayah ?”


“Saka kangen, Ayah....” Saka hendak menangis.


“Nanti Ayah pulang ya, Nak.”


“Besok!”


“Insyaallah.”


“Besok ulang tahun Saka, Ayah Pulanggg....”


“Iya, Nak. Saka mau kado apa dari ayah ?”


“Teh Shinta.”


Andre terkejut.


"Ayah Bisa bawa Teh Shinta, kan?"


Saka mengangguk dengan senang.


“Janji ?”


“Iya... Ayah janji.”


Tiba-tiba Ovi yang mendengar suara dari ruang keluarga meneriaki Ikbal.


“Kak Ikbal! Main hape mamah lagi ?” Teriak Ovi.


Ikbal dan Saka yang panik langsung mematikan telepon itu dan segera berlari ke kamar bermain lagi.


***


Di Jakarta, Shinta yang baru saja pulang dari kampus menemui Andre yang sudah setia menunggunya di depan gerbang. Shinta segera masuk dan menyuruh Andre untuk segera menjalankan mobilnya.


“Mas! Sudah Shinta bilang gak usah jemput Shinta.”


“Saya juga bilang kan, saya tetap ingin menjemput kamu.”


“Tapi kan di kampus belum ada yang tahu tentang hubungan kita, nanti kalau ada yang salah paham gimana ?”


“Memangnya kenapa ?”


“Shinta belum siap aja. Teman-teman Shinta juga belum ada yang Shinta kasih tahu. Tapi Shinta tahu, perut Shinta juga udah mau membesar jadi Shinta harus secepatnya memberitahu mereka kalau Shinta sudah menikah.”


Andre mengelus kepala Shinta dengan lembut.

__ADS_1


“Kalau kamu belum siap, gak apa-apa kok. Pelan-pelan aja. Masih ada satu atau dua bulan lagi. Ingat apa kata dokter, jangan banyak pikiran.”


Shinta mengangguk. “Iya... Shinta gak banyak pikiran. Shinta malah seneng Mas Andre ngijinin Shinta buat kuliah.”


“Oh iya... tadi Saka menelpon.”


“Saka ?”


“Iya, besok sabtu adalah ulang tahun Saka. Dia minta Mas buat dateng.”


“Kalau begitu, Mas tentu saja harus datenglah. Saka pasti sangat merindukan ayahnya.”


“Dan dia juga ingin kamu dateng.”


“Aku ? Dia masih inget sama aku ?”


“Iya... Sekalian kita bertemu dengan Hana untuk membicarakan semuanya. Kamu mau ?”


Shinta mengangguk dengan yakin. “Iya, Shinta pasti mau.”


Tiba-tiba ponsel Shinta bergetar, Shinta segera menjawab teleponnya yang ternyata dari Ikmal.


“Halo, Mal ? Ada apa ?”


“Lo udah pulang ?” tanya Ikmal.


“Iya, ini lagi di jalan. Kenapa ?”


“Lo lupa hari ini kita ada rapat ?”


“Oh iya, gue lupa.”


“Lo kenapa sih selalu gini akhir-akhir ini ? Lo ada masalah ?”


“Maaf, Mal. Iya... Akhir-akhir ini gue lagi banyak urusan jadi banyak yang gak keurus.”


“Sekarang Lo dimana ? Mau gue jemput ? Lo tau kan hari ini rapatnya besar-besaran ? Walaupun Lo udah mengundurkan diri jadi ketua pelaksananya setidaknya Lo masih harus ikut rapatnya kan.”


Shinta mengangguk.


“Ya udah, gue kesana sekarang. Sekalian mau yang ada gue omongin.”


“Ya udah, gue tunggu ya.”


Ikmal menutup telepon.


“Siapa ? Kamu mau kemana lagi ?” Tanya Andre.


“Mas, Shinta boleh ikut rapat BEM buat terakhir kalinya ?”


“Beresnya kapan ? Ini udah mau malem, Shinta!”


“Gak lama... Shinta juga mau sekalian perpisahan, Shinta juga tahu kapasitas kemampuan Shinta. Shinta gak akan aktif lagi di organisasi jadi setidaknya Shinta harus bilang dulu kan kalau Shinta mau berhenti.”


“Gak bisa besok ?”


Shinta menggelengkan kepala. “Shinta mohon ya.”


Andre mengangguk, “Jangan capek-capek.”


“Janji!” Jawab Shinta dengan tegas.


Sampai di gerbang kampus, Shinta turun dari mobil Andre dituruti dengan Andre yang ikut turun dari mobil. Shinta sudah memperingatinya untuk jangan turun tetapi Andre keukeuh untuk ikut turun karena ingin melihat Shinta berjalan ke kampus.

__ADS_1


Tapi, tak di sangka Ikmal yang memang berniat menunggu Shinta malah melihat Shinta yang turun dari mobil Andre dituruti dengan Andre yang mengikutinya. Ikmal sangat terkejut, begitu pun Shinta yang melihat Ikmal sedang menatapnya.


“Ikmal!” Shinta mematung melihat Ikmal yang pasti sedang bertanya-tanya mengapa dirinya bisa turun dari mobil Andre.


__ADS_2