
Hana menjalankan kehidupannya di Bali bersama Saka dan keluarga Ratih dengan damai. Setidaknya di tempat ini Hana bisa menenangkan pikiran dan berusaha merelakan semua masa lalu yang berakhir buruk bersama
Andre.
Rafli, rekan Mike suami Ratih juga sesekali datang ke rumah untuk makan bersama karena dia tinggal sangat dekat dengan mereka. Membuat hubungan Rafli dan keluarga Hana menjadi semakin dekat.
Saka juga tampak sangat nyaman bermain dengan Rafli, Ratih yang melihat pemandangan itu berdiskusi dengan Mike tentang kemungkinan Rafli tertarik dengan Hana atau juga sebaliknya.
“Itu bisa saja terjadi, Sayang. Tetapi apakah Hana sudah melupakan Andre ?” Mike berbaring di ranjangnya sambil sibuk dengan layar ponselnya.
“Mungkin kehadiran Rafli akan membawa lembaran baru untuk Hana dan Saka dan menghapus semua ingatan tentang andre.” Jelas Ratih yang sedang menyenderkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
“Biarkan mereka dekat secara alami sayang. Kita tidak perlu ikut campur.”
“Hana itu adikku, jika kita tidak mendorongnya sedikit dia tidak akan membuka hatinya sama sekali.”
“Sayang… Hana bahkan belum bercerai secara resmi. Kenapa kamu terburu-buru.”
“Aku hanya ingin adikku mendapatkan kebahagiaannya lagi. lebih bahagia dari sebelumnya dan melupakan semua traumanya saat menikah dengan Andre.” Jelas Ratih murung, ia menenggelamkan kepalanya pada badan Mike sambil memeluknya erat.
Airmatanya mengalir mengingat kembali kondisi terburuk adiknya Hana saat sedang depresi. Hana bahkan tidak ingin keluar kamar dan menemui anaknya sama sekali saat itu. Mike mengerti tentang perasaan istrinya, ia pun telah menganggap Hana sebagai adiknya sendiri.
“Jika memang mereka ditakdirkan bersama, kita hanya perlu mengawasinya dari jauh. Sayang.”
Ratih mengangguk sambil terus menutupi wajahnya pada tubuh besar Mike karena airmatanya masih terus mengalir.
***
Shinta masih disibukkan dengan tugas kampusnya, ia benar-benar sibuk sampai melupakan jam makan. Seharian wanita itu hanya duduk di meja belajarnya sambil menatap laptop dan sesekali membaca tumpukan buku
untuk menambah materi.
“Shinta, ini makanlah dulu. Kamu sedang hamil tidak boleh melupakan makan.” Pinta Andre sambil membawakan sepiring makanan empat sehat lima sempurna dan minuman.
“Jangan ganggu Shinta dulu, Shinta harus mendapatkan nilai yang bagus agar bisa mempertahankan beasiswa Shinta. Akhir-akhir ini Shinta mendapatkan nilai yang buruk.” Keluh Shinta.
“tetap saja…” Andre meletakan piring dan gelas air pada meja dekat laptop Shinta dan menggenggam tangan Shinta yang sedang memegang buku.
“untuk menaikkan nilai, kamu membutuhkan nutrisi yang baik. Apalagi nutrisi ini bukan hanya untuk kamu tetapi juga anak kita.”
Shinta menatap Andre dan tersenyum, “tumben banget mas Andre seperti ini.”
__ADS_1
“Maafkan saya, karena masa saya dengan Hana membuat kamu terkena imbasnya. Tidak seharusnya saya memperlakukan kamu seperti kemarin. Seharusnya masalah saya dengan Hana…”
“Mas Andre…” Shinta menghentikan Andre berbicara.
“Shinta yang seharusnya minta maaf, karena Shinta juga terlibat dan menjadi penyebab itu semua terjadi. Tetapi Shinta tidak melakukan apa-apa… Shinta yang seharusnya meminta maaf.”
“Shinta, saya menikahimu itu adalah pilihan saya. Kamu sama sekali tidak terlibat. Jangan salahkan dirimu karena kesalahan yang sama sekali tidak kamu buat.” Andre membelai wajah Shinta dengan tangannya.
“Tapi tetap saja…”
“Pak Kusuma pasti akan sedih jika kamu meragukan pilihannya.”
Shinta terdiam.
“Sekarang makanlah dan jangan memikirkan apapun lagi. seperti yang saya bilang masalah saya dan Hana akan tetapi jadi tanggung jawab saya. Apapun yang Hana putuskan saya percaya itu adalah yang terbaik menurut
dirinya.”
***
Sidang dengan agenda mediasi akan dilaksanakan minggu ini, Andre dan Hana akan bertemu untuk pertama kalinya setelah sebulan sejak Hana mantap mengajukan perceraian.
“Kamu yakin gak akan ditemenin sama teteh ? Niana sama Naomi kan udah gede, jadi pasti bisa ditinggal sama Mike atau nyewa babysitter infalan.”
“Enggak, kasian waktu itu Niana sana Naomi juga udah ditinggalin sama teteh lama. Hana gak mau teteh jadi repot ngurusin Hana dan ninggalin anak-anak lagi.”
“kamu adik teteh, direpotin apanya sih. Dari kamu kecil juga teteh yang urus.”
“Hana sekarang sudah besar, sudah punya anak satu. Dan disana juga Hana gak sendiri. Ditambah lagi yang Hana hadapin itu Andre, laki-laki yang sudah menjaga Hana selama ini.”
“Dia udah nyakitin kamu.”
Hana Menghela nafas, matanya berair karena tidak sengaja ingatannya tentang Andre muncul lagi.
“Dia adalah orang yang baik, Teh. Hana masih percaya itu.”
***
Sidang mediasi dimulai, Hana dihadapkan dengan Andre sekaligus dengan Hakim dan para pengacara. Hakim mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka berdua dari mulai alasan memutuskan bercerai sampai dengan
kemungkinan-kemungkinan untuk rujuk.
__ADS_1
Hana sudah mantap dengan keputusannya untuk bercerai, tetapi Andre tetap teguh dengan pendiriannya untuk tetap mempertahankan Hana. Hakim kemudian menjadwalkan sidang perceraian mereka akan berlanjut minggu depan.
Hana dan Andre duduk bersama di halaman kantor pengadilan agama, cukup canggung karena sudah lama sekali mereka tidak duduk bersama.
“Apa kabarmu ?” tanya Andre mengawali perbincangan mereka
“baik.” Jawab Hana
“Saka ?”
“Dia sudah semakin besar dan terus menanyakanmu.”
“Aku boleh menemuinya ?”
“Tunggu sebentar lagi, sampai sidang perceraian ini beres.”
Andre mengangguk mengerti, ia sama sekali tidak ingin memulai perdebatan dengan Hana hari ini. Ia hanya ingin menikmati kebersamaan mereka berdua saja, karena rasanya ini bisa jadi yang terakhir kalinya.
“bagaimana dengan Shinta ? Kandungannya baik-baik saja ?”
Andre mengangguk, “katanya anak yang dikandungnya perempuan, sangat sehat dan berkembang dengan baik.”
“Baguslah, Hana turut senang.”
“Maaf karena tidak bisa menjagamu dengan baik saat itu.”
Hana menghela nafas untuk mengatur emosinya saat Andre membuatnya mengingat tentang kegugurannya.
“Tidak ada gunanya untuk menyesalinya sekarang. Yang terpenting kita tidak mengulangi kesalahan yang sama. Jagalah Shinta dengan baik, Shinta sangat mencintaimu dan kamu juga mencintainya.”
Andre mengangguk, “Mau makan soto Bu Ami dekat rumah kita dulu ? Tiba-tiba aku merindukannya.”
Hana berpikir sejenak.
“Jika kamu khawatir akan menimbulkan fitnah, kita bisa memanggil adikku.”
“Hana benar-benar mau, tetapi sepertinya tidak bisa sekarang. Hana ingin pergi ke sekolah.”
Andre mengerti dan tidak ingin memaksanya. Ia membiarkan Hana pergi sendiri dan menatapnya yang berjalan menjauh.
Hana, wanita yang selalu saya hormati dan selalu seperti itu. Hana selalu memilih jalan kehidupannya sendiri dengan yakin untuk kebahagiannya. Dia pernah memilihku untuk jadi tempat bahagianya lalu Wanita terhormat itu telah pergi dari hidup saya dan saya tidak ingin menghalangi jalannya lagi untuk mencapai kebahagiaan lainnya di tempat lain. -Andre
__ADS_1