PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 10 : Rasa Takut Untuk Jadi Serakah


__ADS_3

“Terimakasih Akang-Teteh sudah mau mampir ke Bandung. Kapan-kapan kalau mau mampir pintu rumah selalu terbuka buat Akang-Teteh.” Hana melepas Tujuh orang rombongan relawan termasuk Shinta yang akan segera pulang ke Jakarta.


“Teh Shintaaaaa.... gak mau.... Teh Shinta ikuuuuttt....” Rengek Saka yang sedang di gendong oleh Andre karena terus meronta meminta Shinta tidak pergi.


“Ssshhh.. jagoan Ayah gak boleh nangis. Teh Shintanya nanti main lagi kesini, pasti.” Bisik Andre pada putranya seraya menatap Shinta, ia memang dapat memastikan Shinta akan datang lagi ke rumahnya entah dengan suasana yang tenang seperti ini atau dengan suasana yang lain.


***


“Gila sih, Gak nyangka gue bisa ketemu dosen di Bandung. Apalagi dosennya Pak Andre. Kebetulan yang sangat kebetulan.” Bella masih sangat takjub dengan takdir.’


“Iya bener banget sih, Gak nyangka bisa ketemu Dosen muda itu. Tau gak dari kapan tahun gue penasaran sama istri yang udah dengan tega merebut Pak Andre dari gue dan ternyata emang cocok sih, Bu Hana kaya malaikat anaknya juga lucu banget. Iri gue sama Shinta karena dia deket banget sama Saka, udah pantes jadi mak tirinya lo Shin!” Ve menjelaskan panjang lebar, tetapi tak di dengarkan oleh Shinta sehingga Ve memukul pelan temannya itu yang duduk di sebelahnya.


Shinta menanyakan dengan kesal kenapa Ve dengan tega memukulnya seperti itu dan memecah lamunannya. Kepalanya sudah sangat sakit karena memikirkan pernikahannya, pernikahan yang seperti bukan pernikahan. Memang Andre mengakui dirinya adalah Suami Shinta, tetapi Shinta tak merasakan itu. Andre hanya memenuhi tanggung jawabnya untuk menjaga janjinya terhadap Ayahnya sedangkan hati dan pikirannya tidak untuknya. Shinta sangat tahu karena pernikahan ini Andre menjadi sangat menderita, termasuk juga terhadap dirinya. Shinta hanya takut perasaan yang seharusnya tak muncul, akan muncul seiring waktu, karena setelah mempunyai perasaan itu pasti akan sangat sulit untuk melepaskannya. Melepaskannya ketika akan pergi ke Bandung, melepaskannya untuk bertemu dengan wanita lain yang mempunyai hak yang sama terhadap dirinya, melepaskannya saat nanti ia merasa Shinta tak membutuhkan pria itu lagi. Memikirkannya sudah sangat berat bagi Shinta.


Setelah hampir tiga jam perjalanan mereka semua sampai di kampus sekitar jam tujuh malam. Andi, Marni dan Bela sudah lebih dulu turun di dekat kosan tempat mereka tinggal sebelum sampai di kampus.


“Kalian mau pulang langsung ?” Tanya Ikmal.


“Hmm.. Gimana Ve ?” tanya Mail.


“Kok ke gue ?” Ve memicingkan matanya heran.


“Gue pulang duluan ya, Gue gak ada tenaga buat ngedengerin ocehan kalian lagi...” Shinta segera keluar dari mobil.


“Shin...” belum Ikmal menyelesaikan maksudnya.


“Gue mau sendiri dulu. Besok gue izin gak ikut kumpulan ya.” Shinta segera turun dari mobil, sedangkan Ikmal hanya memerhatikan gadis itu keluar tanpa bisa mencegahnya. Ia benar-benar diperdaya oleh pesona Shinta.


Ikmal pernah salah menilai Shinta saat Shinta berkabung.


Pada saat itu Shinta terlihat seperti wanita yang terus murung dan lemah. Ia khawatir namun tidak tertarik padanya, ia hanya tak ingin wanita ini bunuh diri karena berkabung. Tetapi setelah menghabiskan waktu di Yogyakarta bersama Shinta, semuanya berbeda. Shinta adalah wanita yang sangat menarik baginya dengan pesonanya ia berhasil menghipnotis Ikmal.


“Lo ngapain bengong! Kejar dong! Ini udah malem lo tega dia pulang sendiri ? Aduh lo kenapa sih, Mal! Jadi bego.” Ve sangat greget melihat Ikmal yang sangat lemah dan pergi dari mobil.


“Lo juga kenapa diem aja sih! Ayo pulang!” Perintah Ve pada Mail yang terus saja memandang Ve.


“Ah cowok di kampus ini gak ada yang bener ya!” keluh Ve dan pergi meninggalkan dua lelaki itu yang masih diam, saling menatap.

__ADS_1


“Lo gak akan turun ?” Tanya Ikmal. “Shinta udah keburu naik grab, Tol*l!” Keluh Ikmal.


“Ah... Ya...” hanya itu yang diucapkan Mail dan pergi menyusul Ve.


“BEG*” umpat Ikmal untuk Mail dan juga dirinya.


***


From : Mas Andre


Sudah pulang ?


Masih Marah ?


Kenapa gak dibalas ?


Panggilan tak terjawab 10x


Nanti saya akan atur waktu untuk memberi tahu Hana. Saya akan memberi tahu Hana segera. Kamu jangan khawatir, dan ini bukan kesalahanmu. Gak ada yang salah dengan pernikahan ini.


Aku tidak mau khawatir malam ini


Shinta hanya memandangi layar ponselnya saja, ia sangat lelah dengan perhatiannya. Sangat lelah untuk menolak perhatiannya, ia tak mau membiarkan dirinya menerima itu semua karena ia sangat takut dirinya akan meminta sesuatu yang lebih dari perhatiannya. Semuanya akan menjadi rumit, dan ia membencinya.


“Assalamuaikum ? Assalamuaikum ? Shinta ?”


Shinta segera bangun dari sofa karena semalam ia tak sengaja tertidur disana. Ini masih sangat pagi, siapa yang akan bertamu sepagi ini ? pikirnya.


“Pakkk... ?” Shinta sangat terkejut, ia tak menyangka Andre sudah ada di depan rumahnya.


Ia belum siap bertemu dengannya setelah kemarin, rasa bersalah terhadap Hana masih bersarang pada dirinya terlebih lagi ia seperti merenggut kebahagiaan Saka karena menikah dengan ayahnya.


“Kenapa bisa ada disini ? Bukannya hari pertama masuk kuliah sebulan lagi ?” Shinta masih sangat terkejut, sedangkan Andre masuk dengan santai ke dalam rumah dengan meletakan sebuah kantong plastik di atas meja makan.


“Jawab dulu salam saya baru tanya semua yang ingin kamu tahu” ucap Andre dengan terus meneruskan kegiatannya mengeluarkan makanan yang ada di dalam kantong plastik yang dibawanya.


“PAK ANDRE!” Tak tahu kenapa Shinta menjadi sangat kesal karena melihat sikap Andre yang seperti tidak terjadi apa-apa kemarin.

__ADS_1


“Sarapan dulu sama ketupat, Saya mau mandi dulu” Andre berlalu ke kamar mandi, Shinta masih tak habis pikir.


Setelah 15 menit Andre kembali dengan memakai kaos dan celana training saja, rambutnya yang masih basah terus ia gosokan pada handuk yang diletakan di kepalanya.


“Kenapa gak dimakan ?” tanya Andre yang melihat Shinta duduk di meja makan.


Shinta hanya diam, ia menuntut jawaban yang tadi sudah ditanyakan pada Andre dan pasti Andre sangat tahu apa yang harus dijelaskan padanya sekarang juga.


“Oke...” Andre duduk di hadapan Shinta siap menjelaskan apa yang ingin di dengar Shinta.


“Saya ada seminar besok jadi saya disini sekarang, dan saya ingin mengobrol sama kamu. Setelah saya pikir-pikir kita belum pernah mengobrol yang begitu dalam tentang pernikahan ini. Saya minta maaf, karena pikiran saya juga kacau. Tetapi kemarin saya sudah memikirkan semuanya.”


“Memikirkan apa ? Apa yang bapak pikirkan tentang pernikahan yang sudah tahu akhirnya seperti apa ? seperti yang kemarin aku katakan lebih baik bapak ceraikan saya. Dengan itu masalah kita selesai.”


“Tidak.. Tidak...” Andre menggenggam tangan Shinta segera dengan memohon. “Shinta, saya harap kamu juga tidak mengungkit masalah itu lagi.”


“Lantas apa ? Pernikahan ini akan seperti apa ? Apa yang diinginkan Pak Andre dengan pernikahan ini ?”


“Saya ingin mengenalmu, saya ingin mengenal istriku. Selama ini kita terlalu sibuk memikirkan orang lain tanpa pernah memikirkan kita sendiri. Itu sebabnya kita sangat kacau, tanpa kamu ketahui saya juga tahu pikiranmu sangat kacau dengan pernikahan ini. Semua akan baik-baik saja, bahkan pada Hana. Saya sangat yakin. Di tambah, saya bukanlah dosenmu sekarang, sudah berapa kali saya katakan padamu ?”


Shinta tak bisa menahan emosinya lagi, selama ini ia begitu keras menolak pernikahan ini, merasa sendiri menghadapi hubungan semu ini, ia sangat lelah menghadapi Andre sekarang. Andre terus saja berusaha untuk mendekatinya disaat ia berusaha keras untuk menjauhi lelaki ini. Kenapa lelaki ini terus saja memberikan perhatian yang tak pernah dibalas oleh Shinta. Selama ini bagi Shinta sangat sulit untuk menolak perhatian dari lelaki ini, tetapi lelaki ini sangat baik dan sabar menghadapinya dan menghadapi keluarganya.


Tangis Shinta pecah, mengeluarkan semua emosinya yang tertahan. Ia tak sanggup lagi menahan, ia tak sanggup lagi untuk menolak perhatian lelaki ini. Ia mulai candu dengan perhatian lelaki milik orang lain ini, membuat ia menjadi serakah sehingga ingin memiliki lelaki ini seutuhnya. Ia lelah dengan dirinya sendiri, sangat lelah menekan dirinya sendiri untuk mencegah perasaannya yang terus berkembang.


“Shin.. Shinta ?” Andre segera menghampiri Shinta yang menangis. Lelaki ini bingung, apakah ucapannya tadi ada yang menyakitinya ?


“Saya ingin sendiri.” Shinta segera beranjak dari kursinya dan pergi ke kamarnya. Namun Andre tidak ingin lagi membiarkan gadis ini sendiri. Tekadnya kuat untuk lebih mengenal gadis yang sekarang sudah sah menjadi istrinya.


Semua masalah yang di alami gadis ini sekarang sudah menjadi masalahnya, sehingga ia takkan membuat Shinta bersedih lagi. Ia akan melakukan semua yang diinginkan istrinya itu untuk menghiburnya.


“Tidak...Ceritakan semuanya padaku! Aku akan mendengarkan semuanya, semua masalahmu berbagilah padaku.”


“Jangan memaksaku lagi! Saya tidak bisa menjadi istrimu.”


“Ada apa lagi Shinta? Setidaknya kamu jelaskan alasannya padaku.”


“Saya bisa saja mencintamu! Saya bisa saja menjadi serakah akan dirimu! Saya tidak ingin itu terjadi! Jadi saya mohon, jangan memaksaku! Saya sangat takut!”

__ADS_1


__ADS_2