
Makan malam di Bali, Hana dan Ratih sudah menyiapkan makanan spesial untuk menyambut para rekan kerja dari Mike suami dari Ratih. Total tamu yang akan diundang adalah lima orang.
“Sebentar lagi mereka akan datang, teteh mau mandi dulu deh.”
“Iya udah sana! Hana bisa ngeberesin sendiri kok.”
Ratih segera pergi dari dapur untuk bersiap menyambut tamunya sedangkan Hana masih harus membereskan hidangan penutupnya. Jam sudah menunjukan pukul enam tepat, itu adalah jam pulang dari Mike dan benar saja Mike dan kelima rekannya sudah hadir. Ratih yang masih bersiap di kamarnya menyuruh Hana untuk menyambut terlebih dahulu rekannya sebagai pengganti dirinya.
“Perkenalkan semuanya! Dia adalah Hana adik dari Ratih istri saya.”
Hana menyambut satu persatu rekan dari Mike yang ternyata mereka semua adalah dokter dan suster yang bekerja di departemen anak. Mike sendiri adalah dokter anak di Rumah Sakit A di Bali.
“Loh! Dr. Rafli ?” Hana terkejut saat melihat dokter Rafli datang bersama dengan keempat rekan Mike lainnya.
“Kamu sudah mengenal Rafli ? Dia adalah dokter baru dari Bandung yang saya ceritakan semalam!” Mike.
“Hahaha... saya tidak menyangka akan bertemu dengan Ibunya Saka disini.”
“Ayo, kita mengobrol di meja makan saja. Makanannya sudah siap.” Ajak Ratih yang baru ikut bergabung setelah selesai bersiap.
“Hmm... Hana akan menyusul setelah menyuapi Saka.” Hana segera pamit dan pergi ke kamar.
“Ya... Udah waktunya minum obat juga.” Ratih.
“Saka lagi sakit ?” tanya Rafli.
“Saka hanya demam saja.” Jelas Ratih.
*****
“HUAAAAAA.... HUUUUAAAAAA!!!! GAK MAU! SAKA GAK MAU!!!!!” rengek Saka sangat keras dari kamar terdengar sampai meja makan.
“Saka memang sedikit susah untuk minum obat.” Jelas Ratih.
“Jika tidak keberatan, boleh saya menengoknya ?” tanya Rafli.
“Sure! Silakan, Anda sangat cerdas dalam menghadapi situasi ini.” Mike.
“Ya, Dokter Rafli yang terbaik menangani pasien anak-anak yang menolak minum obat.” Puji salah satu rekannya lagi.
__ADS_1
“Saya hanya menggunakan cara yang saya lakukan pada keponakan saya. Itu bukan sesuatu yang spesial.”
“Tetap saja, sejauh ini Anda yang terbaik yang pernah saya temui.” Jelas rekannya lagi.
“Hahaha... Saya akan melihatnya sekarang.” Rafli beranjak dari meja makan untuk melihat keadaan Saka dan Hana.
Hana masih berusaha memaksa untuk meminum obat di tengah Saka yang masih terus menangis dan mengamuk karena menolaknya.
“Saka! Minum obat dulu ya, Nak! Saka kan mau sembuh, kalau udah sembuh Saka bisa main lagi sama kakak Niana.” Hana terus merayu tetapi Saka tetap menolak sangat keras.
“Tuk... Tuk... Tuk....” Rafli menirukan suara ketukan pintu untuk mengambil alih perhatian Saka.
“Dokter Rafli ?” Hana terkejut menemui Rafli yang sudah ada di depan pintu kamar.
Rafli lalu berjalan mendekati Saka untuk ikut membujuk bocah berusia 5 tahun itu.
“Saka masih inget sama Dokter Rafli ?”
Melihat Dokter Rafli mendekat Saka segera bersembunyi di punggung ibunya.
“Maaf, Dokter. Sakanya lagi sakit, jadi suka malu-malu.” Jelas Hana.
“Siapa ya yang mau mobil-mobilan baru ?” Tawar Rafli.
“Abis beli mobil-mobilan baru, kita main-main ke pantai bikin istana pasir....”
Saka mulai menunjukan ketertarikannya dan mengintip Rafli dari punggung Hana.
“Saka mau mobil-mobilan gak ?”
Saka menengok Rafli lalu mengangguk.
“Mau jalan-jalan sama Dokter Rafli ?”
Saka juga mengangguk.
“Tapi kalau Saka mau itu semua ada satu syaratnya... Saka harus sehat dulu.”
Saka diam.
__ADS_1
“Saka mau sehat ?” tanya Rafli lagi.
Saka langsung mengangguk lagi.
“Kalau mau sehat, berarti Saka harus minum apa ?”
“obat~” Jawab Saka lemah.
Rafli mengajak Saka untuk duduk di pangkuannya.
“Pinter!” Rafli mengusap kepala Saka, lalu menatap Hana untuk segera mengambilkan obat yang harus diminum Saka.
Hana segera memberikan obat demam yang diresepkan Mike semalam untuk Saka. Rafli menyuapi Saka dengan obat tanpa amukan dan tangisan lagi lalu memuji Saka karena sudah menjadi anak yang pintar. Tak sampai disitu, Rafli juga menyuruh Hana untuk makan malam saja dan dia bersedia untuk menidurkan Saka.
Setelah selesai menidurkan Saka, Rafli kembali ke meja makan.
“Saka sudah tertidur.” Bisik Rafli pada Hana yang baru saja menyelesaikan makan malamnya.
“Terimakasih.” Ucap Hana.
“Semuanya sudah pulang ?” tanya Rafli pada Mike karena rekan kerja lainnya sudah tidak ada di meja makan.
“Mereka baru saja mendapatkan emergency call dari pasien anak-anak yang baru tadi pagi tiba, tapi tidak apa-apa kamu tidak perlu khawatir.” Jelas Mike
“Kalau begitu saya juga akan pulang.”
“Ehh... Dokter Rafli, Anda belum boleh pulang karena Anda belum menyantap hidangan penutupnya. Lagi pula katanya Dokter Rafli rumahnya masih di komplek ini kan ?” Ratih.
“Ya, Rumah saya ada di dekat toko serba ada di depan. Tinggal jalan kaki dari sini.”
“Tuh kan, gak usah buru-buru kalau begitu! Ini adalah buatan Hana.” Ratih menyajikan hidangan penutup kue brownis kukus.
“Hana sangat jago memasak masakan manis. Kamu akan sangat rugi jika menolaknya, Dokter Rafli.” Tambah Mike.
“Aa... Kalau begitu terimakasih. Hehe...” Rafli mulai mencicipinya.
“ehmm... ini benar-benar sangat enak. Bu Hana harus menjualnya.”
“Tidak... itu sangat berlebihan Dokter.”
__ADS_1
“Saya serius, Bu Hana. Ini sangat enak.”
Hana hanya tersenyum setelah mendengar pujian itu.