
Setelah seminggu berlibur di Yogyakarta bersama Ve, Ikmal, dan Mail, Shinta memutuskan untuk ke Bandung. Andre sudah mempersiapkan pertemuannya dengan Hana di sebuah rumah makan Lembang, Andre memang sedang berlibur dengan keluarganya dan menyewa sebuah vila disana. Entah apa yang akan dibicarakannya nanti setelah bertemu Hana dan memikirkan reaksi istri
Andre itu ia sudah sedikit khawatir kehadirannya akan berdampak pada hubungan mereka di masa depan, tetapi ia juga mengerti jika pernikahan kedua Andre tetap dirahasiakan itu akan jadi lebih buruk.
“Oh iya Mas, malem nanti katanya mau ketemu orang itu ya ? Mas belum cerita siapa orangnya, kemarin bilangnya Cuma ada pertemuan penting aja.”
“Soal itu, nanti aja ya. Disana saya jelaskan.” Jelas Andre yang sedang bermain dengan Saka.
“Oh iya Mas, aku baru inget dua bulan ini aku belum dapet loh.”
“Dapet apa ?” tanya Andre yang memang sedang tidak terlalu fokus karena Saka yang terus mengajaknya bermain.
“Datang bulan mas, terus badanku ya kaya
beda aja.”
“Tunggu, maksud kamu hamil ?”
“Ya belum tau juga, kan belum di tes.”
Sejenak Andre terdiam memikirkan jika benar-benar istrinya tengah hamil, lantas bagaimana jika setelah mendengar pernikahan keduanya pasti kehamilannya akan tidak baik-baik saja karena Hana pasti akan terkejut dengan kabar ini, apalagi mengingat riwayat Hana yang pernah keguguran. Andre benar-benar dilema, ia tak bisa memberitahu istrinya saat ini karena sangat takut Hana akan stres dalam kehamilan awalnya dan bahkan bisa saja keguguran untuk kedua kalinya tetapi bagaimana dengan Shinta yang sudah ada di Bandung dan pertemuan malam ini tentu tak bisa dibatalkan begitu saja.
“Mas mikir apa ?” tanya Hana yang melihat langsung terdiam setelah mendengar kabar itu.
“Emm, ya udah sekarang saya beli aja testpacknya ya. Biar kita cepat tahu apa hasilnya.”
“Harus sekarang banget emangnya ?”
“Iya.” Jawab langsung Andre dan bersiap-siap memakai jaketnya, karena ia berpikir semakin cepat ia memastikan kehamilan itu, ia pun bisa memutuskan sikap apa yang harus dia pilih dengan pasti.
***
Hana telah keluar dari toilet dengan membawa hasil dari test itu, dengan wajah yang berseri ia langsung memeluk suaminya dan Saka yang sedang digendong oleh Andre. Ia memperlihatkan dua garis yang terlihat sangat jelas di batang test itu.
“Alhamdulillah, Terimakasih Hana.” Ucap Andre dan mengecup hangat istrinya di keningnya.
“Pantesan dari kemarin badanku lemes banget, yang biasanya kuat main sama Saka ini malah tumbang.”
“Terus gimana dengan makan malam itu, kamu masih bisa ikut ? kayanya kamu pucat banget.”
“Enggak, enggak aku masih bisa kok. Mas kan udah janji sama orang itu jadi gak bisa dibatalin dong.”
“Yakin ? angin malam gak baik buat kamu apalagi lagi panas gini badannya. Kamu di rumah aja ya, aku Cuma sebentar kok. Mau dibawain apa ?”
“Martabak bangka, coklat kacang sama martabak telor, telor bebeknya dua ya.”
“Haha.. yang lagi hamil langsung pengen martabak. Ya udah nanti dibeliin ya, sekarang kamu istirahat aja. Saka aku bawa ya, kamu lagi sakit.”
“Enggak, Jangan. Aku gak mau sendirian disini.”’
“Manja ya, Saka.. Kamu jagoan ayah harus bisa melindungi bunda dan calon adik kamu ya sayang. Jangan gangguin bunda ya, jadi anak baik dulu ya sayang.”
“Siaapp..!” jawab Saka dengan penuh semangat.’’
***
19.00 WIB
__ADS_1
Shinta telah berada di rumah makan yang sudah ditetapkan sebagai lokasi pertemuan mereka, ia sudah melihat Andre yang datang sendirian tak ada yang mengekornya di belakang. Shinta sangat keheranan, kenapa ia datang hanya sendirian atau ia sudah memberitahu tentangnya dan istrinya menolak untuk datang menemuinya.
“Kok sendiri, Pak ?” tanya Shinta.
“Bapak lagi, bapak lagi..” protes Andre
“Kenapa sendiri ?” tanya Shinta lagi
“Udah pesen makan ?” tanya Andre yang sepertinya ingin menunda untuk menjawab pertanyaan Shinta.
“Kenapa sendiri datangnya, MAS ?” tanya Shinta lagi.
“Pesen makan dulu yuk.”
“Udah bilang ya, terus Mbak Hana marah terus gak mau ketemu aku ya ? udah pasti sih. Maaf ya aku memang jadi benalu di hubungan kalian berdua.” Shinta telah menyimpulkan sendiri dari sikap Andre yang sedari tadi memilih untuk tidak menjawab pertanyaannya.
“Bukan... bukan.. bukan.. saya belum bisa memberitahunya sekarang. Istri saya hamil, baru saja kami mengetahuinya tadi dan istri saya lagi sakit sekarang.”
“Terus ?.. tidak.. Pertama-tama saya harus mengucapkan selamat atas kehamilannya tetapi terus bagaimana ?” Shinta masih bingung dengan situasi saat ini.
“Ya, saat ini saya tidak bisa membahayakan kandungan istri saya. Ia bisa saja terkejut dengan berita ini dan bisa berakibat fatal.. keguguran.” Jelas Andre lagi.
“Lantas bagaimana, Mas ? mau nunggu sampai lahiran terus baru di kasih tahu ? 9 bulan loh ? apa kita rahasiakan saja ? Toh, kita pun tidak melakukan hubungan suami istri seperti pada umumnya kan, kita tidak mendaftarkan pernikahan ini dan tidak ada yang tahu kecuali orang-orang rumah sakit yang waktu itu melihat.”
“Tidak bisa seperti itu Shinta, bagaimana pun kamu adalah istri sah saya walaupun pernikahan kita tidak didaftarkan, saya pun adalah suami sah kamu hubungan kita sekarang adalah suami-istri, dan Hana harus tahu. Saya akan mencari waktu yang tepat, setelah itu saya akan mengabari kamu.”
“Berbicara tentang hubungan kita, saya masih bingung batasan-batasan dari hubungan ini. Tentu saja, kita tidak berhubungan suami istri, bukan ?”
“Jika kamu menginginkannya, saya bisa...”
“Tidak.. tentu saja tidak. Memangnya Mas bisa melakukannya tanpa cinta...” Shinta sangat kikuk.
“Bagaimana jika kehadiran cinta datang secara tidak terduga?..” gumam Shinta.
“Apa ?”
“Tidak, Saya tahu Mas sangat mencintai Mbak Hana karena Mas sangat menjaganya. Aku sedikit iri, karena bagiku Mas hanya seorang pengganti Ayah.”
“Maksudmu ?”
Shinta menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Andre.
“Kamu ini! Tidak usah berpikiran macam-macam, saya adalah suamimu Shinta, untuk sekarang saya adalah suamimu.” Andre menyentuh ujung kepala Shinta dan menegaskan kembali bahwa dirinya adalah suami sah Shinta bagaimana pun keadaan hubungan mereka yang tiba-tiba, tetapi menurutnya kalimat Ijab yang sudah ia ucapkan otomatis membuatnya terikat dengan Shinta begitupun Shinta telah terikat dengan dirinya sebagai suami dan istri yang sah.
“Iya.. iya.. Suami yang bertugas menjaga sampai lulus. Paham Mas!” Shinta pun dibuat kesal karena kalimat itu terus saja dilontarkan oleh Andre.
“Setelah kandungan Hana sudah kuat, baru saya akan memberitahunya dan saya akan mempertemukan kalian. Jangan khawatir, Insyaallah Hana akan mengerti dengan hubungan kita” Ucap Andre, Shinta hanya menganggukan kepalanya seraya tersenyum padanya.
Yang ia bisa lakukan sekarang hanya itu, mematuhi apa yang lelaki itu katakan. Posisinya memang serba salah saat ini, seperti seorang pelakor magang yang sama sekali tidak ada niatan untuk merebut suami orang tetapi sangat takut perasaannya akan berubah seiring dengan waktu.
“Oh iya, mumpung lagi di Bandung dan masih jam tujuh juga. Gimana kita jalan-jalan dulu ? Saya kasih tur gratis untuk turis kaya kamu.” Ajak Andre dengan semangat.
“Turis apaan ? Bukannya Mas Andre juga turis disini ?”
“Setidaknya saya lebih banyak tahu dari kamu, mau gak ? Kamu juga gak ada kegiatan apa-apa lagi kan. Saya masih punya waktu satu atau dua jam lagi.”
“Baiklah, kita mau kemana pak tour guide ? bawa saya ke tempat yang bagus ya.” Shinta.
__ADS_1
Andre mengajak Shinta untuk berkunjung ke tempat wisata air di Lembang. Cukup sepi karena sudah malam juga dan jam operasionalnya sudah hampir habis. Penjaga tiket pun sudah memberi tahukan pada Andre, namun Andre tetap kekeh dengan keinginannya untuk mengajak Shinta masuk ke tempat wisata itu walaupun waktunya hanya satu jam.
Andre berpikir waktu satu jam saja sudah sangat cukup untuk mereka menghabiskan quality time bersama. Ia perlu lebih dekat dengan gadis kecil ini, gadis yang sekarang menjadi istri sah nya.
“Mau naik perahu gak ? Katanya kalo malem gratis.” Tawar Andre.
“Gratis itu karena yang tukang dayungnya udah pulang. Tuh liat, orang-orang pada pulang, kita malah masuk.”’
“Bagus dong, jadi seperti kita menyewa tempat ini kan.”
“Terserah, deh.”
“FOTO GRATIS... FOTO GRATIS.. FOTO GRATIS.. Kang mau di foto sama si nengnya ? jarang loh mas bulan juga lagi purnama gini. Bagus kalo di foto.” Tawar seorang kakek tua yang menawarkan jasanya pada Andre.
“Boleh, ki! Ayo Shinta!” Andre segera menarik Shinta untuk berada di sampingnya dan berpose dengan pemandangan danau buatan serta bulan bulat purnama.
“Hiji... dua... tilu... cheese!”
Cekrek...
“Kang, deketan lagi. Peluk kang... biar mesra. Sayang bulannya lagi bagus.” Saran tukang foto.
Andre mengiyakan dan memegang pinggang Shinta lalu menariknya untuk lebih intim bersamanya. Shinta yang menerima perlakuan itu sangat terkejut dan merasa sangat canggung sekarang namun ia masih berusaha menyunggingkan senyum untuk tampil baik dalam foto.
“Tunggu sepuluh menit ya, Kang. Langsung bisa di print. Satu fotonya sepuluh ribu ukuran 4r.”
“Katanya gratis tadi ?” tanya Shinta dengan heran.
“Fotonya gratis, Neng. Kalo mau dicetak bayar. Hehe...”
“Gak konsisten nih! Gak usah deh. Yuk Mas pulang aja.”
“Cetak semuanya ya, Ki. Saya tunggu di tempat makan.” Andre memutuskan untuk mencetak semua foto yang tadi telah di ambil oleh tukang foto itu walaupun Shinta terlihat masih kurang setuju dengan itu.
“Muhun, Kang. Hatur Nuhun. Ditunggu ya, Kang.”
***
“Kang! Ini fotonya.” Tukang foto itu memberikan lima foto yang sudah dicetak dan segera di bayar oleh Andre.
“Mau liat, Mas!” Shinta yang tadi tidak setuju dan terus saja mengomel atas keputusan Andre tadi terlihat menjadi sangat antusias pada foto-foto itu.
“Tadi bilangnya gak mau...” sindir Andre
“Ini aku nya jelek banget. Nih tukang fotonya gak pinter ngeditnya. Oh! Lupa minta softfile nya! Mas ayo susul lagi tukang fotonya nanti aku edit biar lebih bagus lagi terus cetak lagi.” Shinta dengan semangat menarik tangan Andre tetapi Andre tidak beranjak sedikit pun dari duduknya.
“Saya sudah minta tadi. Nanti saya kirim. Sekarang kita pulang yuk. Udah malem juga.”
“Oh ya...” Shinta kembali ke kenyataan. Kembali tersadar lelaki ini bukan sepenuhnya miliknya.
Lelaki yang memiliki tanggung jawab lain yang lebih besar selain menjadi penjaganya saja.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, mereka sampai di depan hotel yang disewa oleh Shinta.
“Assalamualaikum” Ucap Shinta lalu meraih tangan Andre untuk mencium tangannya sebagai tanda pamit pada suaminya.
Andre pun membalas mencium kening Shinta dan menjawab “Waalaikumsalam” dan berlalu dengan mobilnya.
__ADS_1
Hari yang menyenangkan!-Shinta
Ia sangat cantik jika tersenyum.-Andre