PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 21 : Dokter Kandungan


__ADS_3

Setelah menerima surat itu, Shinta dan Andre saling bertatap.


“Mas...” Shinta kembali menangis. “Kita harus bertemu dengan Mbak Hana, Aku gak ingin kalian pisah. Aku gak mau merusak rumah tangga kalian, apalagi aku merasa bersalah sama Saka.” Shinta terus menangis.


Andre tak berkata apa-apa, ia hanya memeluk Shinta dan mencoba untuk menenangkannya. Walaupun di dalam dirinya tak kalah hancur dengan Shinta saat menerima surat itu.


“Nanti, kita akan ke Bandung tetapi gak sekarang. Kamu juga harus tetep kuliah.” Jelas Andre pada Shinta yang masih terisak.


“Tapi.. Mbak Hana...”


Andre melepas pelukan dan menatap Shinta. “Kita semua akan menyelesaikannya segera. Kita semua, Saya, Hana dan Kamu. Kita bertiga memang harus menyelesaikannya bersama. Tapi tidak sekarang, saat ini yang terpenting adalah calon bayi ini” Andre menatap ke arah perut Shinta.


Mendengar calon bayinya disebut Shinta kembali tersadar, ia tidak boleh egois. Ia memiliki tanggung jawab untuk menjaga anaknya. Setelah Shinta tenang, Andre menuntunnya untuk berjalan menuju mobil mereka yang ada di parkiran.


***


Dokter Ghea Fakhrunisa, dokter kandungan berusia 38 tahun itu menjadi dokter kandungan yang akan menemani Shinta selama masa kehamilan.

__ADS_1


“Selamat Pagi.” Sapa Dokter Ghea


“Pagi, Dok.” Jawab Andre.


Dokter Ghea mulai memeriksa kandungan Shinta, Andre tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya saat mendengarkan detak jantung jabang bayi yang sedang dikandung oleh Shinta. Begitu juga dengan apa yang dirasakan Shinta, setelah mendengar detak jantung anaknya Shinta bertambah yakin di dalam rahimnya sekarang sedang ada kehidupan, ia sangat ingin segera bertemu dengan anaknya. Shinta kembali menyeka airmatanya yang keluar lagi karena sangat bahagia saat mendengar detak jantung itu.


“Alhamdulillah sehat, ibunya sehat, anaknya juga sehat dan stabil. Usia kandungannya sudah berusia 6 minggu. Banyak-banyakin aja makan sayur, makan buah-buahan yang bernutrisi biar sehat ibu dan bayinya.” Jelas Dokter Ghea.


“Untuk mual-mual di pagi harinya dok ? Bagaimana ?” tanya Andre yang tampak memang agak sedikit khawatir tentang itu.


Shinta hanya diam.


“Tidak apa-apa, Ibunya masih muda wajar kalau memang banyak kepikiran ini dan itu. Asal jangan terlalu saja, banyak-banyakin melakukan sesuatu yang buat ibu senang buat merilekskan pikirannya karena jika ibu terlalu banyak pikiran sampai stress pasti akan berdampak pada kandungannya. Bapak... jaga ibunya ya..” Jelas Dokter Ghea diakhiri dengan godaan pada Andre untuk lebih memerhatikan Shinta lagi.


Andre hanya tersenyum dan berucap “Iya, terimakasih, Dok.”


“Iyaaa sampai ketemua lagi ya.”

__ADS_1


***


Di mobil, Andre belum menyalakan mesinnya. Ia hendak menanyakan dulu kemana destinasi yang akan mereka tuju selanjutnya. Seperti apa yang dikatakan oleh dokter tadi, Andre bertugas untuk membuat senyum Shinta kembali lagi. Seperti pada saat di Lembang, Shinta terlihat bahagia saat itu.


“Kita pulang aja, Mas. Shinta capek.” Ajak Shinta.


“Gimana kalau kita makan siang dulu, kamu mau makan apa ?” Tanya Andre.


Shinta menggeleng. “Mulut Shinta masih gak enak, Mas.”


“Inget kata dokter, kamu itu harus banyak-banyakin makan sayur sama buah-buahan dan gak boleh kelewatan jam makan. Kamu gak mau kan anaknya kelaperan ?”


Andre kembali menyebut anaknya yang membuat Shinta tidak bisa menolak lagi.


“Ya udah iya, Shinta mau bubur ayam.”


Andre tersenyum, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan selalu melindungi orang-orang yang dia sayangi. Termasuk Shinta dan calon anaknya, mereka sangat berharga bagi Andre untuk saat ini.

__ADS_1


__ADS_2