
“Bagaimana dengan mediasinya ?” tanya Shinta yang menyambut Andre di rumahnya.
“Hana tetap akan melanjutkan persidangan. Kami akan bercerai sesuai dengan keinginannya.”
Shinta mengangguk mengerti dan tidak ingin bertanya lebih lagi tentang hal itu. Ia sangat mengetahui bagaimana Andre sangat sedih tentang ini.
“Shinta sudah menyiapkan makan malam, apa Mas Andre sudah makan malam ?”
“Saya sudah makan, tetapi melihatmu memasak seperti ini membuat saya lapar lagi.” Andre mencuci tangannya dan berjalan menuju meja makan. Shinta menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi untuk Andre.
“kamu sudah makan ?” tanya Andre.
“Shinta sudah makan bersama Bibi tadi. Karena Shinta gak mau diomelin lagi sama laki-laki cerewet ini.” Shinta memberikan sepiring nasi sambil menatap Andre.
“Anak Pintar.” Andre mengusap kepala Shinta lalu mengusap perut buncit Shinta yang sudah semakin terlihat.
Shinta duduk di sebelah Andre dengan raut wajah kesal, “Shinta bukan anak-anak!”
Pasangan Shinta dan Andre memiliki hubungan yang membaik dan semakin baik setiap harinya. Mereka mulai saling mengerti satu sama lain dan menjaga satu sama lain terutama mengerti dengan perasaan masing-masing.
Awal mereka memang terlihat tidak benar, tetapi cinta mereka itu adalah takdir yang tidak bisa mereka tolak. Fakta tentang mereka saling mencintai tidak bisa terbantahkan, sekarang Shinta dan Andre memutuskan untuk menjaga apa yang mereka miliki. Termasuk merelakan Hana untuk mengambil kebahagiaannya sendiri tanpa Andre di dalamnya.
***
Saka yang sedang ditinggal oleh ibunya mulai menunjukan tantrumnya. Walaupun ini bukan pertama kalinya bagi Saka, tetap saja bagi bocah 4 tahun itu sangat sulit untuk tinggal berjauhan dari orang tuanya.
“Saka sini sama ua. Bantuin bikin kue mau ?” ajak Ratih
Saka masih menangis dan menanyakan kemana ibunya serta menyuruhnya untuk kembali.
“nanti ua telepon mamanya biar pulang cepet, tapi sekarang mau bantuin kue sama ua ?”
Saka menolak dengan keras.
“mau main sama kakak ?” tanya Niana
__ADS_1
Saka menolaknya juga
“Mau makan coklat ?” tanya Naomi
Saka juga menolaknya dan menangis semakin besar.
“Main sama Om Rafli yuk” Rafli datang bersama mike setelah selesai bekerja di rumah sakit.
Saka melihat Rafli yang berjalan ke arahnya dan langsung berlari memeluknya. Rafli menangkap Saka dan menggendongnya sambil menenangkan bocah 4 tahun itu. Melihat pemandangan itu Ratih menyenggol Mike dengan sikunya.
“Lihatlah, Saka yang sedang tantrum bisa langsung diam setelah melihat Rafli.” Bisik Ratih
Mike mengangguk, “Kamu benar, mereka dipertemukan disini mungkin karena sudah diatur oleh Tuhan.”
“Apa kita perlu membantu Tuhan membuka jalan mereka” Ratih berbinar-binar
“Tidak! Mereka akan menemukan jalannya sendiri. Jangan teburu-buru Sayang.” Mike menepuk-nepuk punggung istrinya karena saat ini Ratih benar-benar terobsesi untuk menjodohkan Rafli dengan Hana.
Saat Mike dan Ratih sedang berbicara tentangnya, Rafli hanya fokus bermain dengan Saka dan kedua sepupunya. Profesinya sebagai dokter anak mungkin menjadi alasan Rafli bisa dengan mudah mengambil hati anak-anak
termasuk Saka.
“Apa hubungan kalian selalu harmonis seperti ini ?” tanya Rafli yang turut bergabung duduk di samping Mike.
“Itu berkat Dokter Rafli kita bisa menghabiskan waktu bersama, Dokter Rafli sepertinya sangat cocok dengan anak kecil.” Puji Ratih seraya memberikan satu cangkir dan mengisinya dengan teh hangat dari Teko.
“Saya senang bermain dengan anak-anak.” Jelas Rafli
“Dokter Rafli memiliki sertifikasi sebagai psikolog anak, Ratih. Jadi sudah pantas dia bisa mengerti tentang pikiran anak-anak daripada orang dewasa seperti kita.” Jelas Mike
“Benarkah ?” Ratih cukup terkejut mendengar fakta itu.
“Itu betul.” Rafli mengangguk lalu meneguk teh hangat yang tadi dituangkan Ratih.
“Bagaimana dokter bisa mengambil dua profesi sekaligus, menjadi dokter spesialis anak dan psikolog anak. Pasti itu akan menyita waktu dokter, pantas saja sampai saat ini dokter masih betah sendiri.”
__ADS_1
“Saya pernah mempunyai istri.” Jelas Rafli sambil tersenyum.
Lagi-lagi Ratih tidak percaya dengan yang baru saja Rafli jelaskan, kali ini Mike juga cukup terkejut karena pertama kali mendengarnya.
“Tetapi dia pergi, kami bercerai. Alasan klasik, karena saya terlalu sibuk. Mbak Ratih benar, saya sepertinya terlalu memaksa diri saya untuk mengejar kedua gelar itu.” Rafli kembali menyesap tehnya karena tenggorakannya terasa kering setelah mengungkapkan fakta tentang dirinya.
“Maaf jika saya boleh bertanya, apa kalian mempunyai anak ?” tanya Ratih
“Ratih…” Mike menegur Ratih karena tidak ingin istrinya melebihi batas.
“Tidak apa-apa, kami mempunyai satu anak. Anak kami sangat istimewa, dia mengalami gangguan asperger Syndrome. Mike pasti tahu, gangguan ini akan berpengaruh pada perkembangannya terutama saat dia bersosialisasi dan berkomunikasi. Dia juga menjadi salah satu alasan saya ingin mempelajari tentang psikologi anak untuk mengerti apa yang ia rasakan dan inginkan. Setelah menyelesaikan pendidikan, saya juga berencana untuk menjalani pendidikan sebagai terapi khusus anak autisme.” Jelas Rafli.
Ratih dan Mike masih mendengarkan dengan baik, karena ini kali pertama Rafli berani untuk membuka sedikit tentang dirinya. Selama ini Rafli memang sangat ramah tetapi ia sangat jarang membicarakan tentang
kehidupannya.
“Tetapi sayangnya ketika saya selesai dengan pendidikan psikologi, anak kami sakit. Saat itu saya tengah sibuk di ruang operasi sehingga tidak bisa mendapatkan panggilan. Anak kami mengalami pecah pembuluh darah pada otak dan koma selama hampir tiga bulan. Saat itu hubungan saya dengan mantan istri saya semakin buruk, karena kami terus saling menyalahkan tentang situasi yang dialami anak kami. hingga pada akhirnya, anak kami meninggal dunia pada usianya yang baru 4 tahun, usianya sangat mirip dengan Saka. Mungkin itu sebabnya, ketika saya melihat Saka selalu mengingatkan saya dengan anak kami.”
“Kalian tidak berusaha untuk memperbaiki hubungan kalian setelah itu ?” tanya Ratih
Rafli menggelengkan kepalanya, “hubungan kami sempat membaik, kami saling menguatkan dan berjanji untuk tidak saling menyalahkan lagi. hubungan kami terlihat normal sampai setahun setelah anak kami tiada. Tetapi saat itu saya sadar, hubungan normal itu tidak benar-benar normal. Kami hanya bersandiwara, saya terus menyibukkan diri di rumah sakit karena ketika saya di rumah pasti selalu teringat dengan anak kami, dan istri saya yang terus kesepian karena saya tidak ada di rumah akhirnya menemukan tambatan hati lainnya dan menjalani hubungan gelap itu.”
“Istrimu selingkuh ?”
“karena melihat hubungan ini sudah tidak sehat, akhirnya kami sepakat untuk mengakhirinya.” Jelas Rafli.
“Kamu memaafkan dia sekarang ?”
“Siapa yang memaafkan siapa, kami saling menyakiti dan saling memberikan luka. Saya rasa tidak ada yang harus meminta maaf atau memaafkan. Kami hanya sepakat untuk berpisah dan mencari kebahagiaan masing-masing. Dan disinilah saya sekarang.”
“Saya tidak menyangka, masalah itu terjadi padamu Dokter Rafli. Saya selalu mengira kamu masih lajang, apalagi dengan wajahmu yang terlihat sangat muda. Orang-orang tidak akan mengetahui kalau kamu sudah pernah
menikah.”
“Saya tidak berusaha menutupi fakta bahwa saya sudah menikah, orang-orang saja yang tidak menanyakan itu pada saya.” Kelakar Rafli.
__ADS_1
Rafli sudah benar-benar berdamai dengan masa lalunya itu, nasibnya bisa dibilang hampir sama dengan Hana. Anak meninggal dan juga pasangan yang berselingkuh, mungkin itu sebabnya Rafli cukup peduli dengan Hana
dan juga Saka.