PENGANTIN KEDUA

PENGANTIN KEDUA
Episode 15 : Anggota baru di Tengah Badai


__ADS_3

“Saya tidak menyalahkanmu.” Hana mengucapkan kalimat pertama dengan sangat datar dengan mata yang terus menyorot pada Shinta, sedangkan Shinta hanya tertunduk di hadapan Hana.


“Saya mengerti alasan kalian menikah, tetapi saya tak dapat menerima pernikahan itu. Saya tidak bisa membiarkan rumah yang saya bangun dimasuki oleh orang lain.” Jelas Hana.


“Tidak untuk sekarang dan tidak untuk masa depan. Saya tetap tak bisa membayangkan dalam atap terdapat dua wanita. Saya tidak akan membiarkan itu terjadi, walaupun itu sudah terjadi saya tetap tak bisa menerimanya. Saya tidak sebaik hati itu sehingga dapat membagi lelaki yang saya miliki, maafkan saya telah mengucapkan kalimat-kalimat jahat ini tetapi tetap saya lakukan untuk membuatmu sadar tidak ada wanita di dunia ini mau lelakinya dibagi seperti itu.”


Shinta tak bisa mengatakan apapun, ia hanya diam. Memang benar semua yang dikatakan Hana, ia tak dapat menyangkalnya dan ia akan melakukan hal yang sama sekiranya ia berada di posisi Hana. Shinta sudah sangat siap akan situasi seperti ini, karena ia sudah membayangkan ini beratus-ratus kali tetapi tetap saja ini membuatnya sangat bersalah. Ia benar-benar merasa bersalah karena telah menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangga harmonis Andre dan Shinta. Sampai kapan pun ia tetap merasa bersalah terhadap Andre dan Shinta karena telah menjadi duri diantara mereka berdua.


Andre hanya diam di samping Shinta, ia tak dapat berbicara apapun lagi. Selama sebulan terakhir Andre telah hidup terpisah dari Hana karena Hana tak mau bertemu dengannya lagi sejak di rumah sakit. Tetapi tiba-tiba Hana menghubunginya dan ingin bertemu dengan Shinta bersama dirinya, dan terjadilah malam itu dan membuat Andre tak tahu harus berperilaku seperti apa.


Selama ini ia sangat percaya diri mengucapkan pada Shinta urusan keluarganya akan menjadi urusannya tetapi ia merasa menjadi pecundang karena tak dapat memegang kata-katanya sendiri. Semuanya terasa sangat rumit saat dijalani ketimbang memikirkannya saja. Hana bereaksi sangat berbeda dari apa yang ia kira dan tak menyangka menjadi seperti ini. Andre menjadi sangat hancur sebulan terakhir dan membuat surat pengunduran diri tiba-tiba kepada pihak kampus dan menenangkan dirinya dengan menyewa vila di kawasan ciwidey.


“Oleh sebab itu, .....” ketika Hana akan melanjutkan kalimatnya, Shinta tiba-tiba merasa mual dan segera berlari ke toilet.


“Maaf... maaf” Shinta menutupi mulutnya dan pergi segera ke toilet.


Andre menatap dengan khawatir Hana yang sepertinya memang sedang sakit, wajahnya sangat pucat sejak tadi ia menjemputnya dan tambah pucat lagi saat bertemu dengan Hana. Ia sangat ingin memeriksa keadaannya tetapi tak bisa karena Hana.

__ADS_1


Hana sangat mengerti Andre sangat peduli pada Shinta yang memang istrinya, dan menyuruh Andre untuk segera memeriksa keadaan Shinta disana. Ia sangat mengenal Andre sehingga dapat membaca pikiran dari pria itu, saat ini Andre telah mencintai Shinta. Ia tahu kepedulian yang dirasakan Andre bukan sekedar kepedulian biasa, Andre benar-benar mengkhawatirkan Shinta karena ia mencintainya tanpa disadarinya karena kepedulian dan rasa cinta memang hampir sama.


Hana dapat melihat semua itu semenjak Andre bersama Shinta berjalan ke arahnya, bagaimana ia berjalan di belakang Shinta dengan terus menatapnya, dan sedari tadi mata Andre terus saja menatap Shinta sesekali. Cara menatap Andre pada Shinta membuat Hana mengerti, Andre sudah mencintai Shinta, sangat mencintainya.


Shinta tampak sangat pucat dan seperti akan pingsan. Kepalanya sangat pusing dan badannya sangat lemas, Shinta berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri dengan mencuci mukanya tetapi tidak berhasil dan dalam sekejap penglihatannya menjadi hitam dan ia tak sadarkan diri. Andre tak bisa masuk toilet wanita meminta seorang wanita yang hendak masuk ke toilet itu untuk mengeceknya dan ia mendengar suara keributan di dalam sana. Andre langsung masuk dan memeriksanya sendiri dan menemukan Shinta yang sudah dikerumini oleh beberapa orang di dalam toilet sana sudah pingsan.


Andre panik dan segera menggendong Shinta menuju mobilnya, disusul Hana yang memerhatikan dari jauh dengan sangat panik sama seperti Andre. Andre membawanya ke klinik terdekat yang masih buka, dokter segera memeriksa keadaan Shinta.


“Kondisi seperti ini sangat wajar ketika ibu sedang hamil, karena kelelahan sepertinya menjadikannya seperti ini. Bapak ini.... suaminya ?” tanya dokter pada Andre dengan ragu karena Andre datang bersama wanita lain juga.


“Istri bapak sedang hamil, kira-kira baru empat minggu tetapi untuk lebih jelasnya mungkin bisa langsung diperiksakan di dokter kandungan. Istri bapak harus mengurangi aktivitasnya karena sedang hamil muda, tapi sepertinya kandungan istri bapak sangat kuat jadi sejauh ini baik-baik saja. Hanya saja, agar lebih baik pertumbuhannya diatur juga asupan nutrisi ibu hamil agar janinnya berkembang dengan baik dan sehat. Selamat ya, Pak.” Dokter memberitahukan diagnosisnya.


Hana dan Andre hanya diam, mendengarkan dengan seksama apa yang dijelaskan dokter tentang kondisi kandungan Shinta yang baru diketahuinya saat ini. Tak tahu harus berekpresi senang karena akan mempunyai anak atau sedih mengingat Hana yang baru saja kehilangan anaknya sebulan yang lalu. Situasi macam ini, membuatnya semakin ingin mentertawakan takdir.


“Kenapa kamu tidak memberitahu kehamilan kamu pada saya ?” tanya Andre dengan menaikkan suaranya karena kesal atas sikap Shinta yang menutupi tentang kebenarannya.


“Aku hamil ?” Shinta pun terkejut saat Andre memberitahunya. Ia benar-benar tak menyangka ia akan hamil seperti ini.

__ADS_1


Shinta memegangi perutnya yang masih rata, tak percaya ada janin yang sedang dikandungnya.


Ia tak merasakan apa-apa saat memegangi perutnya, membuatnya tak percaya atas apa yang dibicarakan Andre tadi. Tak mungkin ia hamil, ia tak boleh hamil saat ini. Ia tak menginginkan anak ini, setidaknya untuk saat ini dan sampai ia lulus. Ia masih ingin kuliah dan menyelesaikan pendidikannya, jika ia hamil bagaimana dengan itu semua. Anak ini akan menajdi penghalangnya ia tak ingin anak ini. Ia mulai memukuli perutnya untuk menghilangkan anak ini dan terus menangis menolaknya. Hana yang memerhatikannya dari awal langsung menampar Shinta dengan sangat keras.


“Sebagai seorang ibu jangan bersikap bodoh! Kau telah dititipkan oleh Tuhan anak ini, Jangan kamu hilangkan ini dan kemudian merasakan penyesalan. Banyak diluar sana yang sangat sedih hingga ingin mati karena kehilangan anaknya. Jangan bersikap bodoh, setidaknya demi anak yang belum lahir ini.” Ucap Hana dengan sedikit meneteskan airmata, ia masih mengingat bagaimana kesedihannya kehilangan dua anaknya yang belum sempat ia lahirkan.


Setidaknya ia dapat memberi nasihat pada Shinta untuk tidak menyalahkan anak tak bersalah yang sedang dikandungnya itu.


Shinta kembali tertunduk dan menangis. Ia lantas sadar dan merasa malu tentang dirinya yang bersikap kekanak-kanakan.


“Jangan sampai kehilangan anak ini, sudah cukup Mas Andre kehilangan anaknya kemarin. Ia tidak boleh kehilangan anak ini lagi.” Hana menatap Shinta dan memegang tangannya memohon.


Shinta menatap kembali Hana dengan bertanya-tanya akan penyataan Hana tadi. Maksud dari jangan membuat Andre kehilangan anaknya lagi. Apa artinya itu.


“Hana keguguran saat tahu tentang hubungan kita, saat hari itu.” Andre yang menjawab kebingungan Shinta dan membuatnya kembali menangis.


“Tidak... tidak... ini semua karena aku. Maafkan aku, aku benar-benar memang sumber dari masalah kalian. Maafkan aku.” Shinta benar-benar merasa bersalah dan tak berani untuk menatap Hana.

__ADS_1


__ADS_2