Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 11 - SERANGAN PEROMPAK


__ADS_3

“ Aku ingin bertarung…” sahut pria botak tadi yang berbadan besar. Akhirnya Jendral melepaskan kunci sel pria botak tersebut. Si pria berbadan besar tadi keluar dari jeruji sel dengan semangat.


“ Ayo kita bertaruh..” ujar tahanan berbadan besar.


“ Apa taruhannya?” tanya jendral yang sepertinya sudah siap.


“ Kalau aku menang, aku akan memaafkanmu, kalau kau menang, kau bisa makan jatah makananku, bagaimana?” tanya si tahanan berkepala botak.


“ Kapan aku pernah meminta maaf padamu, dasar bodoh!. Lagipula aku sudah punya jatah makananku sendiri, aku tidak layak makan makanan tahanan botak sepertimu”


Kata-kata Jendral membuat emosi tahanan berbadan besar tadi, ia sudah memulai ancang-ancang menyerang, tetapi jendral masih santai di posisinya.


“ Taruhannya, kalau aku menang, aku akan menampar pipimu tiga kali, kalau kau menang jatah makanmu akan aku tambah, bagaimana? “ sahut Jendral.


“ Baiklah, terserahmu saja, aku akan menghabisimu“ tahanan itu sudah tidak sabar ingin bertarung dan seolah sudah tidak perduli dengan taruhannya.


Riuh dan gemuruh, tahanan di dalam sel sangat antusias dengan pertarungan pertama mereka dengan penjaga. Ini merupakan hiburan yang di nanti-nanti bagi mereka.


Tahanan botak sudah berkali-kali melancarkan pukulannya kearah Jendral, tapi tidak satupun yang mengenai sasaran, sekali lagi ia hendak memukul ke arah wajah Jendral, tapi dengan sigap jendral menangkap jemari lawan yang mengepal dengan satu tangkapan, lalu memutar tangan lawannya, sampai terjungkal.


Kaki yang terlihat kokoh milik tahanan berbadan besar itu di geser dengan cepat dari posisinya oleh Jendral, ia jatuh tersungkur, Jendral mengunci posisi lawan, lalu memukul wajahnya berkali-kali.


Ketika darah mengalir dari hidung si kepala botak, Jendral menghentikan pukulannya, dan berkata…


“ Aku menang!..ha..ha..ha..bersiaplah menerima tiga tamparanku..” Jendral tampak puas mengalahkan si botak berbadan besar.


Tapi bukannya menampar wajah lawannya, ia malah membantunya berdiri, lalu menggeretnya masuk kembali kedalam sel dan menguncinya kembali.


“ Ck, sudahlah aku tak mau lihat lebih banyak darah yang keluar..” sahut Jendral.

__ADS_1


Si botak hanya melihat dengan tatapan sinis, tak mampu berucap lagi sambil mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


“ Hah?!, siapa lagi yang ingin bertarung dengan penjaga? ” Jendral menantang kembali. Para tahanan riuh dan gaduh saling berebut ingin bertarung dengan Jendral, menjajal kemampuan masing-masing.


“ Aku - Aku - Aku !!! “ para tahanan berebut ingin menjajal bertarung dengan Jendral.


Jendral membuka sel tahanan yang ingin menjadi lawannya.


Akhirnya, dua orang tahanan juga tumbang di tangan Jendral. Jendral masih menantang yang ingin mengujinya.


“ Hoy, penjaga, coba kau bertarung dengan pria di sebelah sana..” salah satu tahanan menyarankan lawan yang sepertinya lumayan tangguh. Jendral menoleh kearah yang ditunjuk.


“ Namanya Leon, mantan prajurit terkuat kami..kalau kau bisa kalahkan dia, kau bisa tampar pipinya tiga kali “ salah seorang lagi bersuara.


lalu para tahanan ricuh kembali. Jendral melihat seseorang di dalam jeruji besi yang ditunjuk tadi.


Seseorang yang lebih tenang dari pada tahanan yang lainnya, ia hanya duduk di dalam sel sambil mengukir sesuatu di tangananya, janggutnya berwarna pirang tebal dan panjang dengan rambut berwarna sama, panjang terurai.


“ Hey, apa kau mau bertarung? ”Jendral tampak langsung membuka kunci sel, tanpa jawaban dari pria yang didalam sel.


Akhirnya pria berambut pirang yang bernama Leon keluar dari sel jerujinya.


Badannya lebih tinggi beberapa centi dari Jendral, besar dan kokoh. Ia membuka bajunya.


“ Ayo bertaruh. Kalau kau menang, kami akan menghormatimu, kalau aku yang menang kau harus membebaskan kami dari penjara ini “ Pinta pria yang baru saja keluar dari jeruji besinya dengan suara berat.


“ Permintaan itu terlalu konyol “ ujar Jendral


“ Kalau kau menang, terserah apa maumu akan ku turuti, tapi kalau aku menang tetap kau harus keluarkan kami dari penjara ini”

__ADS_1


Jendral menghela nafas, mendengar pria tadi berucap dengan dengan permintaan yang sama.


“ Terserah kau lah…”


Tanpa basa-basi Leon langsung menyerang Jendral.


Jendral yang belum siap tampak kaget dengan serangan dadakan tersebut, ia terkena pukulan telak di wajahnya.


Lalu Leon si pirang berbadan besar terus memukuli Jendral yang menahannya dengan kedua lengannya.


Kaki Jendral menjadi tergeser mundur karena pukulan bertubi-tubi dari Leon.


Tapi dengan sigap Jendral menangkap kepalan tangan Leon yang akan menyerangnya lagi, lalu Jendral menendang perut Leon, sehingga Leon sempat mundur terseret kebelakang.


Jendral langsung menyerangnya dengan pukulan keras yang mengenai wajah Leon, tapi Leon juga balik melawan, hingga keduanya sama-sama dalam posisi bertahan dan menyerang.


Pertarungan yang lebih seru dari sebelumnya, karena lawan yang seimbang. Para tahanan sangat bersemangat, gaduh dan ricuh, mereka meneriakan nama Leon bersamaan menyemangati kawannya yang menjadi lawan Jendral.


Keduanya sama-sama kuat, hingga akhirnya Jendral mampu menumbangkan Leon, Leon jatuh dan Jendral mengambil kesempatan itu untuk menghajarnya.


Ketika Jendral hampir menang, dan Leon tampak sudah kepayahan, salah satu tahanan berteriak, “ Yang Mulia Ratu datang!..” sontak semua kaget dan menoleh kearah tangga.


Tapi tak ada siapapun disana, itu hanya tipuan. Dengan konsentrasi yang buyar, Leon memanfaatkan situasi, ia kembali menghajar Jendral yang sedang menoleh, lalu Jendral terkena pukulan Leon sehingga bibirnya pecah dan mengeluarkan darah, lalu keadaan berbalik, kali ini Leon yang memimpin pertarungan.


Tapi kemenangan Leon tak berlangsung lama, Jendral kembali melawan balik dan akhirnya ia menguasai pertarungan, Leon lagi-lagi jatuh dan roboh, Jendral dengan semangat yang tersisa memukul wajah Leon berkali-kali, posisi Jendral berada di atas badan Leon yang terkulai di bawah.


Tiba-tba suasana menjadi hening, ‘ Hoy, Ratu datang!!’ seorang tahanan mencoba memperingatkan, tapi Jendral terus saja memukuli Leon.


“ Aku tak akan tertipu lagi, dasar bodoh! ” Jedral akhrnya menyadari suasana hening di tempat itu.

__ADS_1


Seketika Jendral menoleh kearah tangga, disana tengah berdiri bayangan hitam sesosok wanita dengan gaun mewah kerajaan, di belakangnya dua pengawal sedang berdiri dengan pedang di pinggangnya.


__ADS_2