Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 51 - PENYERANGAN FANGS


__ADS_3

Satu hari…dua hari…pasukan Fangs yang di tunggu belum juga muncul.


Hari ketiga, di pagi hari yang cerah… Ryon, Jendral dan kawan-kawannya sedang berdiskusi di halaman kastil tentang pasukan Fangs yang bisa saja menyerang kastil malam nanti.


Tiba-tiba berjalan di depan mereka putri Charlotte sudah bersiap dengan panahnya dan ingin menuju ke kudanya, ia tak memakai cadar tipisnya, wajahnya yang sangat cantik menjadi pesona untuk para pria yang tadi sedang berdiskusi, mata mereka semua tertuju pada kecantikan putri Charlotte.


“ Ehm!, jadi apa bisa kita lanjutkan? ” Jendral langsung menunduk dan melihat peta kerajaan Gozan Selatan yang ada di tangannya.


Gardden yang melihatnya langsung menuju putri dan menyapanya.


“ Apa kau mau memanah lagi tuan putri?” Tanya Gardden.


“ Iya..aku ingin belajar memanah, Ryon kau ikut kan? “ sahut putri Charlotte.


Akhirnya mereka menghampiri putri Charlotte.


“ Tuan putri, bukankah berbahaya jika kau memanah hanya ditemani Ryon? “ Tanya Ziggo.


“ Kalau hanya ingin belajar memanah, Gardden sangat mahir dalam hal memanah, kau bisa belajar darinya putri..“ Jendral menoleh kearah Gardden dan merangkulnya, Gardden hanya senyum dengan keterpaksaan.


“ Benarkah? Apa kau bisa mengajariku tuan Gardden?” Tanya putri.


“ Ah.., yaa..dengan senang hati putri..” Gardden seolah kikuk.


“ Baiklah, ayo kita berangkat ke hutan..” Putri Charlotte sudah mendahului mereka menuju kudanya diikuti Ryon.


“ Luzen, Sejak kapan aku mahir memanah “ Gardden berbisik pada Jendral di sampingnya.


“ Sejak kubilang tadi..” Jendral hanya tersenyum melihat kebingungan sahabatnya itu, lalu mendorong punggung Gardden.


“ Semoga berhasil kawan!..” Jendral menyemangati Gardden yang mengikuti putri dan Ryon menuju gerbang istana.


Di dalam hutan, Gardden tak hentinya mengagumi kecantikan putri Charlotte.


Ia yang hanya bisa sedikit belajar memanah beralasan pundak yang kemarin terkena panah masih dirasa nyeri, jadi tidak bisa sempurna mengajarkan panah pada putri Charlotte.

__ADS_1


‘ Andai saja aku seperti Denzu, pasti putri sudah terkagum-kagum denganku..’ pikir Gardden dalam batinnya.


Setelah hampir setengah hari mereka di hutan, akhirnya mereka kembali ke istana.


Di dalam kamar tamu di kastil kerajaan, Jendral dan kawan-kawan sedang beristirahat, di kamar yang luas itu terdapat tiga buah ranjang agak besar lengkap dengan selimut hangat lebar, dinding dan dekorasi kamar sangat mewah dan indah.


Gardden yang terlihat lelah namun ceria, menghampiri Jendral di kasurnya.


“ Luzen, apa kau tahu..semakin di dekati wajah putri Charlotte itu semakin cantik..” Gardden bercerita semangat.


“ Ha…Kau menyukainya Gard? “ Jendral memukul lengan atas Gardden dengan kepalan.


“ Yah, sepertinya begitu..” Gardden sedikit malu-malu mengakui di depan sahabatnya.


“ Luzen, apa kau punya cara..bagaimana aku bisa mendekatinya?” Gardden mencoba mendekat kearah Jendral.


“ Coba kau beri pujian padanya, biasanya wanita suka dengan pujian..” Jendral berbicara agak pelan.


“ Pujian seperti apa contohnya? ” Gardden juga ikut bersuara pelan.


“ Coba saja kau katakan, kalau dia cantik..”


“ Hmm…bagaimana kalau, kau sangat baik padaku putri..” mata Jendral menerawang.


“ Itu juga terdengar terlalu konyol..” Gardden lagi-lagi tidak setuju dengan pendapat sahabatnya.


“ Yah, terserah kau sajalah..,” sahut Jendral.


“ Luzen…” Gardden bersuara lagi.


“ Hmm..”


“ Apa kau tidak suka dengan putri Charlotte? ” Tanya Gardden membuat Jendral agak terkejut.


“ Aku?..aku masih memikirkan Merlin..” jawab Jendral.

__ADS_1


Terlihat perasaan lega di wajah Gardden dan sedikit senyuman.


Tak berselang lama, Ryon mengetuk dan membuka pintu kamar, ia membawa seseorang paruh baya dengan pakaian tebal berlapis dan senjata di pinggangnya.


“ Jendral Luzen, ini Kapten Earl yang kuceritakan kemarin, dia sudah kuberi tahu rencanamu dan dia siap membantumu “


Jendral bangkit dari kasurnya dan menghampiri Kapten Earl, kemudian mereka bersalaman.


“ Senang bertemu denganmu Kapten “ sapa Jendral.


“ Senang bertemu denganmu juga Jendral Luzen. Ryon sudah menjelaskan rinci rencanamu menghadapi pasukan Fangs, tapi apa kau yakin bisa menghadapi para raksasa itu?” sahut Kapten Earl.


“ Dengan bantuan dan dukunganmu kita harus yakin bisa mengalahkan mereka..” Jendral dengan percaya diri menjawab.


“ Dan aku meminta izin padamu untuk memimpin pasukan hanya di malam penyerangan melawan Fangs, apa kau tidak keberatan Kapten?” Jendral bertanya lagi.


“ Tentu saja tidak Jendral, dan aku juga akan membantumu..”


Di malam harinya, benar dugaan Jendral, pada malam itu suasana di luar benteng sangat sepi dan gelap.


Hanya beberapa obor di pinggir kastil sebagai penerang.


Dari kejauhan titik-titik kecil yang menyala berwarna jingga berbaris mendekati kerajaan.


Mereka semakin dekat, dan semakin jelas….


Dalam cahaya malam dan cahaya memerah dari obor menandakan sudah berkumpulnya ratusan pasukan yang memakai penutup kepala serigala di sekitaran gerbang kastil istana.


Mereka melolong bagaikan serigala. Dari dalam kastil tampak seseorang keluar seorang diri dengan berkuda, dengan obor di tangannya ia turun dari kudanya kemudian menghampiri kumpulan pasukan itu.


“ Siapa pemimpin kalian? Majulah!!“ suara Jendral Luzen terdengar keras di tengah kegelapan hanya di terpa cahaya jingga dari nyala obor.


Seseorang dengan tubuh dua kali lebih besar dan tinggi dari Jendral melangkah maju menuju posisi berdirinya Jendral.


“ Akulah pemimpinnya!! “ suaranya sangat berat dan menyeramkan.

__ADS_1


“ Baiklah, mari kita buat kesepakatan..” sahut Jendral.


...*********...


__ADS_2