
Daby memapah ayahnya yang sulit berlari dan akhirnya berhasil keluar dan menjauh dari naga tersebut.
Setelah semua keluar gua dengan selamat dan terengah-engah, bahkan ada yang sampai setengah berbaring di tanah.. tetapi mereka seperti kehilangan seseorang.
“ Tuan Gardden, dimana yang mulia Luzen? “ tanya seorang penasehat pada Gardden ketika mencari Jendral tidak lari bersama mereka.
“ Tuan Mohywe?..apa dia sedang menaklukkan Wyen?..” orang tua itu bergumam.
“ Ha?..Luzen?..apa dia masih di dalam?..” Gardden yang baru tersadar juga terlihat panik.
Akhirnya mereka mendekati mulut gua dan melihat perlahan ke dalam, apa yang terjadi dengan Jendral.
“ Jangan ada yang bersuara “ perintah pak tua kepada semuanya.
Mereka mulai melangkah perlahan memasuki kembali gua yang tadi mereka tinggalkan.
Dari jarak yang lumayan jauh, mereka semua menyaksikan Jendral berdiri dengan gagahnya di depan sang naga dan mahkluk besar tersebut tidak melakukan sesuatu yang membahayakan.
Jendral dan naga itu saling bertatapan. Jendral merentangkan tangannya kedepan, seolah ingin mengelus bagian kepala naga besar tersebut.
Naga yang bernama Wyen itu seolah menurut dan mengerti dengan keinginan Jendral. Makhluk besar itu menunduk dan memberi kepalanya pada Jendral untuk di sentuh.
Jendral menyentuh perlahan ujung mulut naga besar itu, perbedaan ukuran besar makhluk itu dengan Jendral sangat jauh.
Naga itu mendengus di depan Jendral, seketika mata pria memejam kuat, dan hembusannya hingga membuat rambut dan jubah pria itu bergerak terhempas.
Mereka yang melihat dari kejauhan tercengang dengan mata membulat.
“ Dia adalah Mohywe sejati..” gumam pelan orang tua kepala suku itu menyaksikan kejadian di depan matanya tersebut.
Akhirnya Jendral menoleh menyadari ada yang memperhatikannya.
“ Seperti inikah cara menaklukannya pak tua? “ tanya Jendral.
__ADS_1
Orang tua itu tersenyum sembari mengangguk, dan mereka mulai mendekati Jendral.
“ Luzen, kau berhasil! “ seru Gardden seraya memperhatikan lebih jelas makhluk bernama Wyen di hadapannya.
“ Pak tua, bagaimana dia bisa di belenggu? Bukankah tadi kau bilang dia sulit di taklukkan? “ tanya Jendral melihat rantai besar di leher Wyen.
“ Waktu kami menangkapnya, kami memerlukan sepuluh penyihir untuk bisa menidurkannya, dan selagi dia tidur, kami merantainya” jawab orang tua itu.
“ Sepuluh penyihir? “ tanya salah satu rombongan Jendral.
“ Ya, dan untuk membawanya ke dalam gua butuh waktu dua hari kami mengangkatnya “ Daby menambahkan.
“ Berarti selama beberapa tahun dia tidak pernah keluar dari gua ini? “ Gardden juga bertanya.
“ Ya, kami hanya memberinya makan ketika pagi hari, dia tertidur ketika matahari masih agak bersinar “
“ Baiklah, mari kita buka belenggunya “ sahut Jendral.
“ Tapi apa dia sudah benar-benar jinak tuan Mohywe ? “ tanya Daby sedikit ragu.
“ Baiklah…, Daby ambilkan kunci besar “ sahut orang tua pada Daby.
“ Baik ayah “ Daby berlari ke lumbung mengambil kunci untuk membuka rantai Wyen.
“ Lihatlah, di kulit naga ini sudah berlumut” Jendral meraih sesuatu di antara hidung naga tersebut.
“ Kalian terlalu lama mendiamkannya di sini, apa kalian tidak memikirkan keadaannya? “ Jendral bertanya dengan nada keras.
“ Maaf tuan Mohywe yang agung, kami tidak bisa menyentuhnya. Jika kami dekati dia akan mengeluarkan api karena marah “ pak tua itu menjelaskan seraya menunduk di hadapan Jendral.
“ Ya, tentu saja dia marah pada kalian, karena kalian memperlakukan dia seperti ini “ Jendral membersihkan lumut yang tumbuh di sekitar kulit naga tersebut.
“ Tenang, aku akan membersihkan semua lumut di tubuhmu ketika kau keluar nanti “ gumam Jendral pada Wyen.
__ADS_1
Tak lama berselang, Daby kembali dengan membawa kunci besar untuk membuka rantai yang membelenggu sang naga. Kunci itu diserahkan pada Jendral.
“ Silahkan anda yang membukanya tuan yang agung “ pak tua menyerahkan kuncinya pada Jendral.
Jendral membuka kunci, dan karena sudah terlalu lama maka sedikit sulit untuk membukanya. Tetapi akhirnya ia berhasil membuka rantai belenggu itu.
“ Nah,..Wyen yang gagah, kau bisa bebas sekarang..keluarlah, dan jangan melukai orang “ gumam Jendral pada naga besar di depannya.
Semua yang ada di sana dengan cepat berlari keluar gua, diikuti Jendral yang juga keluar gua dan menunggu kebebasan Wyen sang naga.
Naga itu masih belum sepenuhnya bisa mengepakkan sayap besarnya karena terlalu lama di dalam gua, ia hanya bisa membentangkannya saja.
Wyen melangkah dengan langkah besarnya perlahan keluar dari gua.
Dengan hentakkan kakinya menjadikan gua bergetar, semakin ia keluar, tanah yang di pijaknya akan bergetar.
Ketika matanya terkena sinar matahari ia kaget dan hendak masuk kembali ke dalam gua, tetapi Jendral mengisyaratkan dia untuk tetap keluar.
Akhirnya dengan mata memincing, Wyen yang besar keluar dari gua setelah beberapa tahun lamanya mendekam didalam lubang gelap itu.
Kulitnya yang hitam pekat terlihat kusam tertutup lumut di sebagian sisinya. Semakin keluar terlihat penampakkan seekor naga yang gagah dan menyeramkan.
Kedua sayap besarnya masih melipat, dan ada sedikit goresan bekas luka di bagian sisi kanan sayapnya.
Semua terlihat penasaran dengan penampilan seutuhnya naga tersebut.
Betapa tercengangnya mereka melihat sosok sangat besar itu berdiri di hadapan mereka.
Tubuh besarnya dan kulitnya yang hitam serta mata merah menyala terlihat bahwa mahkluk itu bukanlah naga biasa. Ekornya yang besar menggibas sesekali.
Dia agak berteriak keras dan mendengus, entah teriakkan senang karena telah bebas atau teriakkan kekecewaan pada suku Abyee yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.
Saking kerasnya teriakkan Wyen, sebagian penduduk Abyee berdatangan melihat apa yang sebenarnya terjadi dengan makhluk besar itu.
__ADS_1
Naga itu tidak melarikan diri atau berusaha terbang walau dengan sayap yang masih kaku, tetapi dia menghampiri Jendral dan duduk di sisi Jendral.