Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 84 - BERAKHIRNYA DENDAM MASA LALU


__ADS_3

Akhirnya Jendral membuka pintu kamar Raja, dan memerintahkan semuanya menunggu di luar kamar.


Di dalam kamar mewah dan yang agak redup dan udara yang sedikit lembab, disana berdiri seorang Raja dengan jubah kerajaan, lengkap dengan mahkota bertabur batu safir biru di kepalanya, ia tengah berdiri di depan jendela besar yang setengah tertutup gorden, hingga cahaya tidak banyak masuk kedalam ruangan tersebut.


Cahaya dari luar hanya menerangi sebagian ruangan dan sebagian tubuh Raja Rowen, dengan tangan terlipat di belakang, Raja Rowen tidak menoleh ke arah Jendral.


“ Lama tidak bertemu Luzen.. “ suaranya yang sedikit parau menyapa Jendral tanpa menoleh.


Jendral melangkah mendekat ketengah ruangan. Kemudian ia menatap tajam punggung Raja Rowen dengan menggenggam pegangan pedangnya.


“ Apa kau lihat ruangan mewah ini yang redup Luzen?, seperti itulah kehidupanku. Dibalik kebesaranku sebagai Raja, aku merasa redup dengan hidupku, yah entah itu salah siapa, tapi sampai saat ini aku masih menyalahkan ayahku sebagai penyebabnya. Oya, ngomong-ngomong selamat atas kemenanganmu Luzen “


“ Kau harus penuhi janjimu! “ suara berat Jendral membuat Raja tersebut menunduk.


“ Ya, aku akan penuhi janjiku, tapi bisakah kita bicara sebentar Jendral Luzen?“ akhirnya Raja tersebut membalikan badannya menghadap Jendral.


Kali ini Jendral melihat wajah yang dulu pernah membuatnya terpuruk.


“ Apalagi yang ingin kau bicarakan?” tanya Jendral.


Raja Rowen melangkah sedikit menuju ke sampingnya, ia membuka telapak tangannya dan mengarahkannya ke dua kursi yang ada di sisi dinding di batasi sebuah meja kecil dan ia mempersilahkan Jendral duduk di salah satu kursi tersebut.


“ Duduklah..” sahut Raja tersebut.


Jendral duduk dengan hati-hati setelah Raja duduk di kursi di sampingnya yang hanya terhalang meja.

__ADS_1


“ Apa kau pernah berbicara pada ayahku tentang diriku? “ tanya Raja Rowen.


“ Ya, aku pernah membicarakanmu “ jawab Jendral mengerutkan keningnya.


“ Lalu, apa ayahku seolah membenciku? “ tanya Raja kembali.


“ Dia tidak membencimu, dia hanya kecewa padamu “


“ Apa kau tahu Luzen, dia sangat menyanjungmu melebihi aku anaknya, dan apa kau tahu, dia tidak pernah memberikan kasih sayangnya padaku hingga kematiannya, apa dia pantas di sebut ayah?”


“ Kau salah!, dia sayang padamu, tapi kau tidak pernah menyadarinya. Banyak harapan dan keinginannya yang ingin ia dapatkan darimu, tapi sampai dewasapun kau tidak pernah memberikan apa yang diinginkan seorang ayah, karena sikapmu yang tidak perduli dengan keinginan ayahmu, dan keras kepalamu yang membuatnya putus asa.


Apa kau pernah menyadari bahwa ayahmu membangun kerajaan ini menjadi besar dengan darah dan keringatnya demi untuk dirimu suatu hari. Tapi kau selalu menghancurkan harapannya, kau selalu membuatnya kecewa dengan sifatmu!”.


“ Kau tahu apa tentang sifatku!!” Raja Rowen spontan marah dengan memukul keras pegangan kursi dengan kepalan tangannya.


Raja Rowen diam dan sedikit lebih tenang.


“ Kau memang hebat Luzen, kau memiliki segalanya, kau memiliki semua yang tidak ku miliki, bahkan kau memiliki ayahku, kau memiliki istri dan keluarga…dan kau juga memiliki kerajaan yang lebih besar sekarang, yang mampu mengalahkanku “ Raja Rowen sedikit tertawa sinis.


Raja itu meletakkan mahkotanya di atas meja.


Kemudian Raja Rowen bangkit dari duduknya, lalu berlutut di hadapan Jendral.


“ Penggallah kepalaku Luzen, aku sudah tidak ingin lagi hidup, aku akan membayar dosaku padamu atas kematian istrimu, dan aku akan memenuhi janjimu di surat itu. Lakukanlah..”

__ADS_1


Jendral menatapnya dengan mata membulat. Ia menggenggam erat pegangan pedangnya yang masih berada di pinggang.


“ Ya, sesuai perjanjian kita, kau harus mati di hadapanku, Rowen Bosten “


Jendral mulai melepaskan pedang dari sarungnya, kilatan pedang yang berkilau terpantul setengah cahaya yang masuk melalui jendela.


Ia masih menggenggam dengan erat pegangan pedangnya, dan mengayunkan pedangnya ke atas.


Mata Raja Rowen terpejam pasrah, kepalanya agak terangkat, seolah memberikan lehernya untuk siap di penggal.


“ Lakukanlah..” sahut Raja tersebut dengan mata masih terpejam.


Jendral mengangkat pedangnya semakin ke atas, lalu mengayunkannya, kemudian…..


Jendral keluar kamar Raja, dengan pedang di genggamannya, di mata pedang tersebut melekat darah segar yang terus menetes. Di depan pintu Gardden dan prajurit yang tadi masih menunggunya.


“ Kau sudah membunuhnya?” tanya Gardden penuh penasaran dengan menatap wajah sahabatnya dengan serius.


“ Ya, aku sudah membunuhnya “ jawab Jendral dengan suara datar.


“ Hey, pengawal, kau uruslah mayat Rajamu “ Jendral menoleh pada pengawal tadi yang masih berada disana.


Pengawal tersebut mencoba melihat keadaan Rajanya di dalam, dia terkejut dengan kepala Rajanya yang berada tak jauh dari kakinya berdiri, tubuh sang Raja telah terpisah dari kepalanya.


Jendral keluar kastil bersama prajuritnya, dan akan melanjutkan perjalanan pulang menuju benteng dengan kemenangan yang di raihnya dan kebebasan dari dendam yang selama ini masih terbesit di kehidupannya.

__ADS_1


Jendral tersenyum dibalik wajahnya yang penuh dengan keletihan dan juga kepuasan.


__ADS_2