Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 89 - MUSUH DARI PULAU KEMATIAN


__ADS_3

Gardden turun dari kudanya, kemudian melangkah mendekati pria berbadan tersebut.


“ Apa kau benar pemimpin mereka? “ tanya Gardden seolah ragu dengan penampilan pria tersebut.


“ Ya benar tuan, aku pemimpin mereka. Namaku Will “ jawab pria itu.


“ Apa tujuan kalian datang ke willayah ini ?! “ tanya Gardden tegas.


“ Hahaha, kami hanya ingin melihat-lihat saja tuan..” tangan pria itu membentang ke samping dan tertawa ringan, seolah santai dengan keadaan tersebut.


“ Apakah jika hanya melihat-lihat harus mendaratkan kapal sebanyak itu? “ wajah Gardden menunjuk kearah kapal-kapal mereka yang berlabuh.


“ Yah, sebenarnya kami hanya kebetulan mampir. Kenapa penyambutannya begitu menegangkan?..apa tidak bisa kita bicara di tempat yang lebih sejuk tuan?” Will si pria tadi masih terlihat tenang.


Gardden berbisik pada Leon, kemudian Leon menghampiri Jendral. Tak lama berselang Leon berbalik kearah Gardden.


“ Kalian di izinkan beristirahat disini dengan pengawalan, dan pemimpin kami meminta bertemu dengan pimpinan kalian “ ujar Leon dari atas kudanya.


“ Yah, baiklah..aku akan ikut dengan kalian “ ujar pria berbadan tegap bernama Will.


Will menaiki kuda yang di bawa Leon. Mereka melajukan kudanya ke suatu kedai yang masih di wilayah Hazmut dekat dengan dermaga.


Jendral dan yang lain telah menunggu di sana.


Sesampainya di kedai, Will pria berambut kuning dan berjanggut tebal tadi mengikuti Leon yang membawanya ke dalam kedai.


Para penduduk sengaja keluar kedai sebelum mereka datang, yang ada di sana hanya pramusaji dan pelayan.


Jendral dan yang lain sudah menunggu duduk di kursi-kursi kayu yang mengeliling, di ruang yang agak terang dengan jendela besar yang membentang.


“ Duduklah “ sapa Jendral dan mempersilahkan Will untuk duduk di hadapannya.

__ADS_1


“ Terimakasih tuan “ pria itu duduk di depan Jendral, ditengah mereka terdapat meja bulat berukuran sedang.


“ Kami melihat banyak kapalmu berlabuh di wilayah kami, kalau boleh tahu apa tujuan kalian ke wilayah ini? “ tanya Jendral sopan.


“ Kami hanya mampir tuan… kebetulan kami lewat di wilayah kalian, dan kami ingin beristirahat sejenak “ pria itu masih saja berkata santai.


“ Begitukah? “ Jendral seolah tidak langsung mempercayainya.


“ Ya, aku harap tuan mengizinkan aku dan anak buahku menetap di wilayah ini untuk beberapa hari saja dan setelah itu kami akan melanjutkan perjalanan lagi “


“ Hmm, aku bisa saja mengizinkan kalian untuk menetap, tapi aku juga bisa mengusir kalian sekarang juga. Maka dari itu jujur sajalah, apa maksud kedatanganmu kesini? Aku tak ingin membuang banyak waktu “ tegas Jendral.


“ Aku sudah berkali-kali mengatakan tuan, bahwa kami hanya singgah disini “ pria itu tidak juga mengatakan yang sebenarnya.


“ Darimana asal kalian? “ tanya Jendral.


“ Kami dari sebrang tuan “ jawab pria itu lagi-lagi seolah menyembunyikan sesuatu.


“ Itu bukan jawaban yang kuharapkan “ tukas Jendral.


“ Pulau kematian? “ Jendral mengerutkan dahi, kemudian menoleh kearah teman-temannya yang sama herannya dengan Jendral mendengar nama pulau itu.


“ Apa ada pulau seperti itu di sekitar sini? Aku belum pernah mendengarnya“ Gardden menimpali.


“ Tidak, tempat kami sangat jauh dari benua ini “ jawab pria di depan Jendral tersebut.


“ Baik, begini saja, kami akan memberi waktu kalian hanya satu hari untuk tinggal di sini, setelah itu kaian boleh pergi dari wilayah ini “ tegas Jendral.


Akhirnya pria itu menyetujui usulan Jendral, dan iapun berpamitan untuk kembali ke dermaga menemui anak buahnya.


Tetapi tak lama berselang, tampak dari kejauhan Eldr kembali menemui Jendral. Eldr tersebut langsung berlutut dan melapor.

__ADS_1


“ Tuanku, benteng Drake di serang! “ lapor Eldr pada Jendral.


“ Apa?! jangan-jangan…, Prajurit! Tahan orang yang ke dermaga tadi! “ perintah Jendral pada beberapa prajurit yang berada disana.


Beberapa prajurit menahan pria yang tadi bersama Jendral.


Tak berselang lama Jendral menghampiri Will, pria itu yang telah berhasil di tangkap, dan Jendral turun dari kudanya kemudian dengan cepat menghampiri pria menyebalkan tadi.


“ Apa kau yang membuat keributan ini?!, kau sengaja mengulur waktu agar teman-temanmu bisa menyerang benteng kami bukan?! Hah!! “ Jendral menarik kerah pakaian yang di kenakan Will dengan kedua tangannya.


Pria itu tersenyum dengan sudut bibirnya.


“ Sudah terjawab bukan pertanyaanmu tadi tuan? “ jawab Will seolah di atas angin.


“ Apa maksud semua ini? Apa yang kalian inginkan?! “ tanya Jendral kembali yang masih meraup kerah pakaian Will hingga pria itu sedikit tercekik.


“ Carilah tahu sendiri tuan..aku tak perlu menjawabnya “ jawaban pria itu membuat Jendral benar-benar geram, sehingga Jendral memukul rahangnya hingga ia roboh jatuh ke tanah, pria itu pingsan di tempatnya dengan darah mengalir dari hidungnya.


“ Bajingan! Beraninya meremehkanku! “ dengan mata yang agak memerah menahan amarah, Jendral menoleh kearah Gardden.


“ Gardden!, kau pergilah ke kerajaan Hazmut, minta bantuan pasukan dari sana untuk mengatasi yang disini, aku akan kembali ke benteng! “ perintah Jendral pada Gardden sambil ia menaiki kembali kudanya.


“ Baik, aku akan ke kastil Hazmut secepatnya “ sahut Gardden.


“ Begitu sudah selesai, kau segeralah bergabung ke benteng! “ kemudian Jendral menarik tali kekang kudanya dan berbalik arah.


“ Tolong kau urus dia, ikat dan jangan sampai lolos, aku belum selesai dengan bajingan ini “ ujar Jendral kepada beberapa prajuritnya dengan isyarat wajahnya kearah Will yang tergeletak pingsan tak berdaya, kemudian Jendral berlalu dengan kudanya.


Para prajurit segera membawanya, dan bersiap bertarung dengan sisa pasukan musuh yang masih ada di dermaga.


Sebelum mencapai benteng, seorang prajurit datang menghampiri Jendral dari arah berlawanan.

__ADS_1


“ Tuan!! “ sahut prajurit tadi dengan tersngal-sengal.


“ Nyonya, nyonya Merlin sedang di incar oleh para pasukan entah dari mana, mereka juga memiliki penyihir dan naga merah “ jelas prajurit tadi.


__ADS_2