
Pengirim kabar melaporkan lagi keadaan di medan peperangan, yang membuat Raja Rowen mulai khawatir dan merasakan juga nyalinya saat ini menyusut mendengar kebrutalan dan kekuatan pasukan Drake.
Begitu juga di Kerajaan Hazmut, Raja Zaimon terlihat mulai gelisah dengan kabar menakutkan dari medan perang, dengan aliansi yang di pikir akan menguasai peperangan, justru keadaan berbalik membuat dua Raja lawan Jendral tersebut tak tenang.
Peperangan berlangsung hingga petang. Kedua belah pihak menyudahi sementara peperangan tersebut, dan kembali ke barak-barak tenda pasukan masing-masing.
Besok mereka akan memulai peperangan yang kedua.
Di tengah langit yang mulai redup, kemenangan sementara tentu saja di raih pasukan Jendral Luzen, dengan korban berjatuhan yang tidak sebanyak pasukan lawan.
Akhirnya mereka beristirahat dari lelahnya medan perang.
Di tenda milik Jendral, ia merebahkan tubuhnya yang letih di permadani bulu yang digelar di atas lapisan hamparan kain anyaman sebagai alas, dengan zirah perang yang masih lengkap.
Ia ingin melepas lelahnya sesaat. Matanya terpejam sebentar seiring hembusan nafasnya melepas letihnya.
Kemudian pria itu membuka matanya dan menatap ke atas langit-langit tendanya, masih pada posisi berbaringnya di atas permadani bulu.
Seketika ia mengingat wajah Razel, dan mengingat percekcokan kecilnya dengan pelayan barunya itu, ketika ia menemukan Razel yang telah siap dengan pakaian hitam, jubah hitam dan beberapa kunai yang tersimpan di pinggang bagian tengah dan sela-sela sepatunya serta pedang di pinggang sisi kirinya, ia memintanya ikut berperang bersama Jendral.
Sontak Jendral melarangnya, karena ia bisa mengikutinya kemanapun pria itu pergi, tetapi tidak ketika berperang.
Jendral menasehatinya, tetapi dengan sedikit keras kepala Razel bersikeras ingin ikut berperang bersamanya. Razel menjelaskan pada tuannya kalau ia juga bisa bertarung. Baru kali itu Razel membantah perintah tuannya.
Tetapi dengan sedikit kemarahan dari Jendral, Razel tak berani lagi membantah, dan dengan ciri khasnya, ia kembali menunduk dan mengiyakan perintah tuannya.
Lamunan Jendral terhenti ketika Gardden memasuki tendanya.
“ Hey, sedang beristirahat? Apa aku mengganggu? “ tanya Gardden di bibir pintu kain tenda.
“ Masuklah! “ jawab Jendral yang kemudian bangkit dari berbaringnya.
“ Bagaimana besok? Apa kita langsung akhiri saja? “ tanya Gardden yang duduk di alasi hamparan kain anyaman.
“ Ya, jangan berlama-lama, itu akan memakan korban dan membuang waktu lebih banyak. Besok kerahkan seluruh pasukan dari semua sisi “ sahut pemimpin pasukan Drake tersebut.
" Hey, bagaimana pelayan barumu? Sepertinya dia sangat penurut.." Gardden lagi- lagi memancing Jendral.
" Yah, penurut dan sedikit keras kepala ". Jawab Jendral santai.
" Kau pria yang beruntung Luzen, selalu di kelilingi wanita cantik ".
" Kau lebih beruntung Gard, kau selalu di temani seorang Jendral tampan...hahaha..."
" Hahaha...ya..ya..terserah katamu lah.."
__ADS_1
Kemudian keduanya tertawa di dalam tenda.
Pagi menjelang, dingin di daerah Leyn tak sedingin di wilayah Benteng Drake.
Para pasukan kembali membuat formasi. Begitu juga dengan pasukan musuh yang telah bersiap dengan rapih, walau ketakutan membayangi langkah mereka.
Setelah kedua belah pihak mengerahkan seluruh kemampuan dan kekuatan mereka, tetapi karena mental pasukan musuh telah lenyap separuhnya, maka kemenangan tidak bisa dielakkan lagi memihak pada pasukan Drake.
Belum lagi petang membentang, pasukan Nerogon dan Hazmut yang tersisa sedikit, mundur dan kembali ke tenda, mereka ingin mengabarkan tentang kondisi kekalahan mereka pada Raja-Raja mereka.
Teriakkan kemenangan dari pasukan Drake menggema di lembah Leyn.
Kabar kekalahan akhirnya sampai ke telinga Raja Rowen dan Raja Zaimon.
Raja Rowen lebih kecewa dan marah daripada Raja Zaimon.
Raja Zaimon hanya diam di kursi singgasananya dengan penyesalan yang dalam.
Setelah kekalahan pihak musuh, dan kekuatan juga semangat mereka telah tumbang.
Jendral Luzen dan pasukannya mengarahkan kuda-kuda mereka menuju kerajaan Nerogon.
Jendral ingin mengakhiri perseteruan ini, dan menyudahi dendamnya yang selama ini masih tersisa.
Mereka memacu kudanya dengan cepat, khawatir Raja Rowen yang pengecut itu melarikan diri lagi seperti dahulu ketika Jendral mengejarnya.
Jendral meminta prajurit penjaga gerbang memanggil Raja mereka, dan mengatakan bahwa Jendral Luzen sudah berada di depan gerbang.
Tak lama kemudian, penjaga gerbang kembali dan memberi kabar bahwa Raja Rowen tidak bersedia menemui Jendral.
Dengan kemarahan yang besar, Jendral memanggil Wyen yang memang terus mengikuti mereka, dan Jendral memerintahkan pada naga besar itu untuk menyerang gerbang agar mereka bisa memasukinya.
“ Wyen, naga hitamku!, seranglah gerbang itu!“ perintah Jendral pada naga hitam seraya menunjukan jarinya ke gerbang.
Serta merta seluruh prajurit yang ada di sekitar gerbang secepat kilat menghindar dan menjauh, mereka berteriak ketakutan ketika melihat seeokor naga hitam besar terbang dan menuju mereka.
“ LARI!!, NAGA!!”..
Naga besar itu merendahkan posisi terbangnya ke arah gerbang kastil, ia membuka mulutnya yang besar dan ia mengerang keras sambil merusak gerbang kastil dengan kaki besarnya.
Sayapnya yang besar mengepak keras sehingga membuat kepulan debu di tanah.
Tak butuh waktu lama, gerbang kastil kayu besar yang kokoh hancur berantakan.
“ Kerja bagus kawan! “ Jendral melempar senyum pada naga besar itu, dan naga itu mengerang keras sambil terbang ke atas lebih tinggi.
__ADS_1
Mereka memasuki kastil sampai ke pintu utama kastil. Jendral dan beberapa prajurit mendobrak pintu besar berukir mewah itu.
Di balik pintu yang telah di dobrak, para prajurit Nerogon yang menjaga istana telah bersiap dengan pedang-pedang mereka.
Dengan sedikit gerakan dari pasukan Fangs dan prajurit-prajurit kuat bawahan Jendral, prajurit Nerogon dengan mudah di kalahkan.
Jendral menemukan seorang pengawal kerajaan yang akan menyelamatkan diri, ia mengendap-endap berusaha keluar pintu.
Tetapi salah satu prajurit Fangs yang berbadan besar berada di hadapannya setelah Jendral memerintah untuk menangkap pengawal tersebut.
Prajurit berbadan besar itu membawa pengawal tersebut ke hadapan Jendral kemudian mendorongnya ke bawah, pengawal itu tersungkur di lantai.
Jendral berlutut dengan tumit tak menyentuh ke bawah.
“ Dimana Rajamu? “ pedang Jendral sudah mengarah ke lehernya.
“ A-aku..tidak tahu tuan..” jawabnya ketakutan.
“ Kau memilih mati di tanganku? “ Jendral mendekati pengawal tersebut dan pedang Jendral semakin mendekat menempel ke lehernya.
“ Akh!…” pengawal itu mengerang karena pedang Jendral kini membuat lehernya sedikit tergores.
“ Dimana Rajamu sekarang?! Katakan! “ tanya Jendral kembali.
“ Di-dia ada..di ka-mar-nya..” jawab pengawal tersebut terbata-bata.
“ Antar kami kesana cepat! “ Jendral menarik paksa baju zirah pengawal tersebut hingga berdiri.
Pengawal tersebut mengantar Jendral dan prajuritnya ke kamar Rajanya.
Mereka melewati lorong di kastil yang agak gelap. Hanya ada jendela kecil di ujung lorong dan obor yang menyala di sisi dinding.
Terlihat sebuah pintu besar dengan ukiran mewah di hadapan mereka.
“ I-ini kamar Raja “ Jendral mengisyaratkan satu jarinya ke bibir agar pengawal itu tidak berisik. Pengawal tersebut di suruh mengetuk pintu itu oleh Jendral.
Tok..tok..tok..
“ Yang mulia?..” suara pengawal itu belum mendapat jawaban dari dalam kamar.
“ Ketuk lagi dengan keras “ bisik Jendral di dekat telinga pengawal tersebut.
Tok..tok..tok..
Kali ini suara ketukannya agak keras.
__ADS_1
“ Masuklah Luzen! “ suara dari balik pintu tersebut membuat semuanya terkejut. Ternyata Raja Rowen sudah menyadari kehadiran Jendral.