Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 93 - PULAU DEIRU


__ADS_3

Jendral menghela nafas panjang dan kembali merenung memandang lautan yang gelap hanya tercahaya sinar bulan.


‘ Merlin, maafkan aku…,kau tidak akan terganti oleh siapapun, aku hanya kasihan pada pelayanku. Istriku, apa kau baik-baik saja disana?..tunggu aku, aku akan menjemputmu..’ gumam batin pria itu.


Pagi menjelang, mentari memantulkan cahaya di air laut yang menjadi biru berkilau.


“ Hey, apa perjalanan masih jauh? “ tanya Ziggo pada anak buah Will.


“ Sebentar lagi tuan “ jawab salah satu dari mereka.


“ Tuan, dimana kami bisa menemui tuan yang memimpinmu? “ tanya beberapa dari mereka.


“ Tuan Luzen? Mungkin dia ada di kabin “ jawab Ziggo.


“ Baik, terimakasih tuan “


Mereka melangkah menuju kabin kapal, dan benar saja Jendral dan teman-temannya sedang berada di sana tengah menyusun sebuah rencana.


“ Tuan, maaf mengganggu “ ujar salah satu pria di pintu masuk kabin.


Jendral dan Gardden yang tengah berdiskusi menoleh spontan.


“ Tuan, kami sudah putuskan untuk mengikutimu dan menjadi anak buahmu, apa kau bersedia menerima kami? “ ujar perwakilan dari anak buah Will.


Jendral dan Gardden saling menatap sejenak.


“ Apa kalian serius?, lalu bagaimana dengan Raja kalian? Apa kalian tidak mengikutinya lagi? “ tanya Jendral.


Para pria itu melangkah mulai mendekati Jendral.


“ Sebenarnya banyak dari kami yang tidak suka dengan Raja sihir kami, tetapi kami terlalu takut untuk menentangnya, karena dia memiliki kekuatan dan sihir yang hebat. Tetapi kami sudah muak dengan kebengisan yang selalu dia lakukan “ jelas salah satu pria di hadapan Jendral.


“ Kebengisan macam apa yang dia lakukan? “ tanya Jendral kembali.


“ Dia selalu melakukan apapun semaunya, terkadang dia merampas wanita-wanita kami dengan paksa. Dia juga sering menyiksa atau membunuh dari kami tanpa alasan “


“ Ya, si brengsek itu memang tukang rampas! “ ujar Jendral dengan geram.

__ADS_1


“ Hah? Membunuh tanpa alasan?! “ tanya Gardden setengah berteriak.


“ Ya, jika kami tidak menyerahkan wanita kami atau kami memberontak, maka kami akan di siksa, di bunuh, dikuliti dan dijadikan santapan untuknya, banyak dari teman kami yang sudah di makan di depan kami setelah di jadikan hidangan daging “


“ Apa dia manusia? Atau makhluk apa? “ tanya Jendral seolah jijik dengan penjelasan pria tadi.


“ Wujudnya adalah manusia, tetapi dalamnya kami tidak tahu, bahkan iblis mungkin lebih manusiawi darinya “


“ Yah, baiklah kalau begitu, kalian boleh bergabung dengan kami, tapi kalian harus ingat! Jangan ada pengkhianat dan jangan sekali-kali kalian menipu kami, seperti si Will brengsek itu, jika salah satu dari kalian ada yang berkhianat atau membohongi kami, maka semua kalian akan kami perlakukan seperti yang kami lakukan pada Will, pemimpin bodoh kalian itu “


Akhirnya mereka menyetujui syarat yang diberikan Jendral.


“ Oya, tunggu!..apa kalian tahu orang yang membawa istriku? Apa dari kalian ada yang bisa terbang dan menembus ke atas atap? “


“ Ah, mungkin mereka adalah pasukan bayangan tuan, pasukan bayangan adalah pasukan terhebat di pulau Deiru setelah para penyihir. Mereka bisa bergerak sangat cepat dan bisa melompat bagai katak “


“ Pasukan bayangan? Pantas saja dia bisa menghilang dengan cepat “ ujar Jendral.


“ Lalu kenapa Rajamu menculik istriku? “ tanya Jendral kembali.


“ Tapi yang dia culik adalah istri orang, sembarangan saja Raja sihir sialan itu!“ geram Jendral.


Kita harus cepat tuan, karena besok malam adalah purnama kedua setelah Raja penyihir mengumpulkan sihirnya, dan besok malam adalah bulan purnama sempurna, ia akan menikahi Ratu Demon Eldr" ujar pria dihadapan Jendral.


Jendral mengerutkan keningnya dan rahangnya terkatup keras menahan marah.


“ Tuan!! Aku melihat pulau!!” teriakan Ziggo dari luar mengejutkan mereka yang ada di kabin.


Mereka semua keluar, dan melihat sebuah pulau dari kejauhan.


“ Apa itu pulau Deiru? “ tanya Jendral.


“ Iya tuan, itu pulau kami “ sahut salah satu pria disamping Jendral.


Akhirnya mereka mendarat di pulau Deiru. Suasana aneh merayap ketika pertama kali memasuki pulau itu.


Kapal-kapal perang Jendal menepi di pantai, tetapi para pasukan masih di dalam kapal menunggu perintah.

__ADS_1


Akhirnya hanya seratus pasukan elit yang sementara di turunkan ke pulau itu di belakang Jendral. Mereka melangkah menjauh dari pantai, dan mulai memasuki pepohonan yang ada di dalam pulau itu.


“ Apa pulau ini di penuhi sihir? “ tanya Jendral.


“ Iya tuan, di tempat tinggal kami juga di halangi aray sihir penghalang “ jawab salah satu pria asal pulau itu yang menjadi pemandu untuk Jendal dan pasukannya .


“ Untung kami membawa banyak penyihir putih “ tukas Jendral.


“ Di mana Raja penyihir kalian? “ tanya Jendral kembali.


“ Dia berada di dalam desa pohon bersama para penyihir.”


“ Desa pohon? “ Jendral terlihat heran.


“ Kau akan segera melihatnya tuan “


“ Mereka pasti sudah mengetahui keberadaan kita “ ucap pria pemandu.


“ Bagus kalau begitu, aku tak perlu mengenalkan diri lagi “ ujar Jendral yang terus melangkah menyusuri pulau itu.


Sebuah desa terlihat, rumah-rumah kayu yang di bangun menjulang tinggi keatas, dengan tangga dari anyaman akar yang melingkar, membuat sebuah bangunan tinggi seperti rumah pohon besar.


Di sisi kanan dan kiri dekat pepohonan terlihat banyak bekas kepala tengkorak tergeletak menumpuk di sana.


“ Apa mereka tinggal di tempat tinggi seperti ini? “ tanya Gardden yang melihat ketinggian rumah-rumah mereka “


“ Ya, kami memang membangun desa meninggi seperti ini, dan kediaman Raja ada di bangunan yang paling atas “ ujar pria pemandu.


Mereka mendongak melihat bangunan yang paling atas.


“ Panggillah Rajamu “ perintah Jendral.


“ Baiklah, tapi aku harap sebentar lagi dia bukan lagi Raja kami “ ucap pria pemandu sedikit berharap kepada Jendral.


Belum lagi pria itu melangkah jauh. Seorang pria berbadan besar, dua kali lipat lebih besar dari ukuran orang-orang disana, melangkah mendekati Jendral. Rambutnya hitam agak kusut panjang terurai, sebagian lehernya di penuhi tato.


Di belakangnya tampak beberapa orang bertampang sangar, juga ada para wanita yang berpenampilan sama dengan yang ada di benteng kemarin, tidak salah lagi mereka adalah para penyihir.

__ADS_1


__ADS_2