Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 91 - KEMANA MEREKA MEMBAWANYA


__ADS_3

“ Bagaimana itu bisa retak?! “ tanya Jendral dengan tercengang dan alis tebalnya yang mengerut.


“ Kami telah membubuhi ujung kunai kami dengan bubuk pemecah sihir. Kami sempat memanggil beberapa penyihir melalui Eldr tuan, mereka dari hutan Kabut Utara, aku harap mereka bisa melawan para penyihir itu, mereka akan segera kesini “ jelas Razel.


“ Kerja bagus Razel, baiklah. Coba kau lemparkan lebih banyak lagi! “ Jendral seolah memiliki harapan untuk menyelamatkan istrinya dan para wanita yag bersembunyi di lumbung.


Razel dan pasukannya melemparkan lebih banyak kunai kearah aray penghalang itu, dan retakkan yang di akibatkan lemparan mereka semakin besar, dan membuat sedikit lubang diantara retakkan aray tersebut.


“ Sial! Tambah mantranya!, ayo! Rapalkan terus mantra kalian! “ seorang penyihir terlihat geram dengan usahanya yang mampu di gagalkan oleh Razel dan pasukannya.


Tak lama berselang, beberapa penyihir dengan pakaian putih bersulam emas datang dari belakang Jendral dan pasukannya, mereka di sebut ‘Penyihir putih’.


Kemudian para penyihir putih merapalkan mantra untuk memecah aray yang sudah retak tersebut.


Akhirnya…


PRANG!!...


Aray sihir penghalang tersebut pecah berkeping-keping. Tak butuh waktu lama, Jendral dan seluruh prajurit berlari menyerbu para penyihir.


Penyihir putih mencoba menahan serangan penyihir musuh yang berencana membuat penghalang lagi untuk menghalau para pasukan benteng.


Jendral berlari kearah lumbung, ia berusaha membuka pintu yang terkunci, tetapi pintu itu tidak juga terbuka.


“ Merlin! Hey! Yang ada di dalam!, buka pintunya! “ teriakkan dan gedoran Jendral di pintu tidak mendapat balasan.


Kemudian Jendral mendobraknya besama beberapa prajurit.


Akhirnya mereka masuk kedalam lumbung, tetapi Jendral dan pasukannya terdiam di tempatnya menyaksikan seluruh wanita dan anak-anak disana tergeletak tidak sadarkan diri.


Para prajurit memeriksa keadaan mereka.


“ Mereka hanya pingsan tuan..” sahut salah satu prajurit.


Jendral menghampiri dua orang anak kecil yang tergeletak di pangkuan seorang wanita paruh baya yang juga lemah terkulai tak sadarkan diri.


Dua orang anak itu adalah si kecil pangeran dan calon pemimpin Demon Eldr.


Jendral mendekati mereka dan memeluknya, tampak kecemasan di wajah Jendral.


“ Mereka masih hidup tuan.. “ ujar seorang prajurit di sebelah Jendral.


“ Yah, aku tahu..tapi bagaimana mereka bisa pingsan seperti ini…maafkan ayah nak, ayah tak disini melindungi kalian “ ujar Jendral lirih sambil memegang kepala kedua anaknya.

__ADS_1


Jendral bangkit dan mencari-cari seseorang….


Dan Jendral tidak menemukan Merlin disana.


Spontan pria itu menjadi geram, ia mengepalkan keras jemarinya, matanya tajam menyiratkan kemarahan.


“ Sial! Mereka telah membawa Merlin! “


Mata Jendral menangkap sesuatu yang membuat alisnya mengerut, ada sebuah lubang besar di atas atap lumbung yang mengarah keluar.


Jendral melangkah kearah lubang besar itu, dan menatapnya ke atas, kemungkinan Merlin telah di bawa pergi memalui lubang itu.


‘ Apa mereka bisa terbang? ‘ gumam Jendral yang mendongak melihat atap lumbung yang seolah di tembus membuat sebuah lubang dan sesuatu mencuat keluar dari sana.


Jendral kembali ke tempat para penyihir beradu kekuatan sihir, akhirnya penyihir putih berhasil melumpuhkan penyihir musuh.


“ Para penyihir, tolong kalian pulihkan mereka yang ada di dalam “ pinta Jendral pada para penyihir putih.


Jendral melangkah cepat kearah penyihir musuh yang mengeluarkan darah dari mulutnya karena kehabisan energi sihirnya.


“ Katakan kemana mereka membawa istriku! “ tanya Jendral dengan nada dan mata yang penuh amarah. Jendral mencekik salah satu wanita penyihir dengan satu cengkraman tangannya yang kuat.


“ Bunuh saja aku! Aku tidak akan memberitahu padamu! “ jawab wanita penyihir berpakaian hitam itu.


“ Katakan kemana mereka membawa istriku!! “ tanya Jendral kembali kepada wanita penyihir di hadapanya, ia berjongkok bertumpu pada tumitnya, Jendral mencengkram pakaian atas wanita itu dengan kepalan tangannya.


“ Aku tidak akan mengatakannya! “ jawab penyihir itu yang sudah mulai melemah terkulai.


“ Cih! Dasar tidak berguna! “


Jendral mendorong wanita tadi ke tanah melepaskan cengkramannya.


Tiba-tiba, seorang penyihir lain yang juga sudah tergeletak di tanah dengan suara parau berusaha mengangkat kepalanya.


“ Tu-an…”


Jendral spontan menoleh kearahnya dengan mata yang masih tajam.


“ Ra-tu di-bawa ke pu-lau De-iru, pulau ke-ma-tian,…ce-pat-lah sebelum Raja itu meni-kahi Ra-tu Mer-lin,….“ penyihir yang tergeletak itu menatap dan menyampaikan pesannya kepada Jendral dengan kondisi lemah.


“ Ha? Siapa yang akan menikahi Merlin?! “ Jendral tersentak, dengan suara mengencam menatap penyihir yang memberi informasi tadi.


“ Dasar pengkhianat! Kenapa kau beritahu dia! “ umpat penyihir wanita di depan Jendral.

__ADS_1


“ Aku tidak sudi pri-a jahat itu me-nikahi Ra-tu.. -..aarrgg!!” penyihir itu memegang dadanya dan darah mencuat dari mulutnya.


Penyihir wanita yang ada di depan Jendral mengantarkan sebuah sihir dengan sisa kekuatan yang ada kearah temannya yang barusan memberitahukan informasi kepada Jendral, sehingga penyihir yang mengatakan keberadaan Merlin tadi mati seketika.


“ HEY!! Aakh!! Kenapa kau langsung membunuhnya?!. Siapa yang ingin menikahi istriku?! “ Jendral sangat kesal dengan kelakuan penyihir wanita di depannya, ia menatapnya dengan tatapan kemarahan.


“ Huh! ku tidak akan memberitahumu apa-apa! “ jawab penyihir wanita yang baru saja membunuh temannya sendiri.


“ Aaaaa!! Ka-u…“ wanita penyihir itu mengerang kesakitan.


Dengan cepat jendral menusukkan pedangnya kearah penyihir di depannya itu.


“ Kau penyihir busuk tidak berguna, pantas mati di hadapanku! “ kemudian Jendral bangkit berdiri dan mengibaskan darah yang menempel pada pedangnya.


Jendral mengerahkan seluruh pasukannya untuk mencari istrinya ke pulau Deiru, pulau kematian sebagaimana yang di katakana penyihir tadi.


Belum lagi Jendral melangkah kearah kudanya, dari kejauhan suara gemuruh lari kuda dan debu tanah berhamburan mencuat keudara.


Mereka adalah Raja Zaimon dan pasukan Hazmut diikuti Gardden beserta pasukannya.


“ Salam Tuan Luzen “ Raja Zaimon sedikit menunduk memberi hormat.


“ Salam Raja Zaimon “ balas Jendral.


“ Aku dengar istrimu di tangkap, akan bantu mencari istrimu tuan Luzen.. “ ujar Raja Zaimon.


“ Terimakasih atas bantuanmu, tapi aku tidak ingin merepotkanmu “ seru Jendral.


“ Itu tidak merepotkan sama sekali…aku senang bisa membantu seorang LORD“ jawab Raja Zaimon.


“ Hmm, ya baiklah ” sahut Jendral sedikit terpaksa.


“ Kapan kita akan berangkat? “ tanya Raja Zaimon.


“ Aku akan menunggumu di dermaga petang ini, ketika bayangan matahari ada di sebelah timur. Setelah kita mempersiapkan senjata dan perlengkapan masing-masing, kita langsung menuju Pulau Deiru, bagaimana? “ jelas Jendral pada Raja Zaimon.


“ Ya, aku setuju “ jawab Raja Zaimon.


“ Baiklah Raja Zaimon, kau boleh kembali ke kastil Hazmut terlebih dahulu, aku juga akan kembali ke benteng untuk mempersiapkan segala sesuatunya “ ucap Jendral pad aRaja Zaimon.


“ Baiklah “ Raja Zaimon kemudian memacu kudanya kembali ke kastil Hazmut terlebih dahulu.


“ Katakan pada Ziggo dan kapten kapal yang lain, siapkan kapal untuk seribu pasukan!” perintah Jendral pada prajuritnya.

__ADS_1


__ADS_2