
“ Kumohon Vier, jangan bunuh dia..akulah yang kau cari bukan?! Biarkan Ryon pergi..“ sahut Charlotte dengan wajah penuh ketakutan.
“ Ahh, ternyata kau muncul juga adik..” sahut Vier dengan entengnya.
Wajah Vier berubah, senyum bengis tersirat di bibirnya. Ia memberi isyarat pada beberapa pasukannya yang berada di belakangnya untuk keluar dan berjaga-jaga.
Mereka juga menyeret Ryon keluar dari aula.
“ Putri!!..Putri Charlotte!” teriakkan Ryon samar-samar hilang bersamaan dengan tertutupnya pitu aula.
Kini Vier dan Charlotte hanya berdua di dalam aula kastil yang besar. Vier terus melangkah menuju Charlotte.
“ Dimana bayiku?! “ tanya Charlotte dengan bibir gemetar ketakutan.
“ Dia aman..” pria itu semakin melangkah menghampiri Charlotte.
“ Apa kabar adikku yang cantik.. “ Vier sudah berada di depan Charlotte, kemudian ia lagsung meraih rahang Charlotte dengan kasar.
Charlotte sempat berontak dan berusaha membuka genggaman Vier dari leher dan rahangnya.
“ Rupanya kau sudah memilih orang asing untuk mengisi tahta kerajaan ini adik..dan kau melupakan aku?..” tatapan Vier sangat tajam, dingin dan bengis.
“ Kar-ena,..ka-u tak pan-tas men-ja-di Ra-ja..” suara Charlotte masih terbata terdengar karena tertahan genggaman Vier.
“ Oh begitu rupanya.. , kalau begitu aku harus menyingkirkan Raja baru suamimu itu, kemudian aku akan pantas menjadi Raja, bukan begitu Charlotte adikku? “
“ Akhhh!..le-paskan- aku! “ suara wanita itu tertahan karena cekikan yang semakin kuat.
“ Ah, baiklah..sebagai gantinya aku akan melakukan hal yang dulu belum kuselesaikan padamu “ Vier melepaskan cengkramannya dari leher Charlotte, tapi kini pria itu malah mendorong Charlotte sampai merapat ke dinding.
“ Vier, kumohon..kau adalah kakakku..” Charlotte memohon dengan suara bergetar.
“ Kau pikir aku perduli dengan hal itu? “ Vier mendekat kearah Charlotte, kini ia berada sangat dekat dengan wanita itu, hingga nafasnya terasa di wajah Charlotte.
Pria itu mendekap tubuh Charlotte hingga wanita itu sulit bergerak.
Wajah Vier mendekat ke wajah Charlotte, tangan pria itu menyentuh pipi Chrlotte kemudian menyentuh bibirnya dengan ibu jari, tatapan Vier liar penuh hasrat.
Charlotte memejamkan matanya dengan kuat. Ia tahu kelakuan kakaknya yang selalu menginginkan dirinya.
“ kau masih saja cantik seperti dulu..” suara pria itu sedikit berbisik.
ketika Vier ingin mendaratkan ciuman ke bibir Charlotte…
tiba-tiba ia mendengar suara gaduh di luar aula.
Banyak suara prajurit yang gaduh dan berteriak, dentingan pedang mulai terdengar sampai ke telinga Vier.
__ADS_1
" Pasukan bantuan datang!"..
" Banyak makhluk menyeramkan!"
Teriakkan dari luar seolah mengganggu rencana Vier.
“ Ck!, pengganggu sudah pulang rupanya..“ Vier mengurungkan niatnya, dan ia berdecak sambil menghela nafas.
Tangan Vier merapat ke dinding dan berada tepat di samping kepala Charlotte.
Pria itu menundukkan wajahnya seolah menunggu seseorang yang akan memasuki ruang aula tersebut.
BRAK!!..
Benar saja, pintu aula terbuka dengan keras. Jendral yang masih terengah-engah sudah menghunuskan pedangnya.
“ Charlotte!, kau tidak apa-apa?! “ tanya sang Raja yang juga suaminya.
“ Aku..baik-baik saja..” jawab Charlotte yang merasa lega dengan kehadiran suaminya tapi suaranya juga masih menyisakan ketakutan.
“ Jadi kau yang mejadi pengacaunya ! Apa urusanmu disini?! “ Jendral melangkah mendekati Vier yang masih berada di dekat Charlotte.
“ Seharusnya aku yang bertanya padamu orang asing, apa yang kau lakukan di kerajaanku?! “ Vier mengeluarkan pedang dari sarungnya yang berada di pinggangnya.
Mereka berdua kini dalam posisi siap bertarung.
“ Hah, ternyata kau sadar orang asing “ jawab Vier dengan sinis.
“ Aku tak pernah lupa pakaian prajurit Nerogon, kau hanya meminjam prajurit dari sana bukan?! ” seru Jendral dengan pedang yang masih menghunus.
“ Yah, mungkin hanya kebetulan aku dan Nerogon memiliki musuh yang sama, apa salahnya bekerjasama, untuk melenyapkanmu! “ jawab Vier dengan langkah menyerang.
Tanpa basa basi lagi Jendral juga langsung menyerang lawannya dengan tebasan keras.
Vier sempat tidak bisa menahan kerasnya hantaman pedang Jendral, ia mundur dan hampir jatuh kebelakang.
Pertarungan terjadi, dentingan pedang bersautan.
Jendral terus menghantamkan pedangnya tanpa ampun. Vier seolah kualahan dengan kekuatan Jendral, ia terus mencoba menghindar.
Satu, dua, empat, tujuh…dua belas sabetan pedang dari Jendral mendarat di sekujur tubuh Vier. Darah mulai mengalir di pakaian mewah milik Vier.
Namun hantaman pedang Vier tak satupun yang mengenai tubuh Jendral.
Dengan pukulan keras dari Jendral, Vier sedikit terpental dan jatuh tersungkur dengan pedangnya yang terlepas.
Jendral menghampiri Vier yang menggelepar di lantai, pedang milik lawannya itu di singkirkan menggunakan kaki oleh Jendral.
__ADS_1
Jendral mendekati musuhnya itu kemudian memukul lagi wajah Vier higga lagi-lagi ia terjatuh.
Jendral meraup kerah pakaian Vier, lalu dengan hantaman keras Jendral mendarat di perut musuhnya, kemudian lagi-lagi di wajahnya.
Darah mengucur dari hidung dan mulut Vier. Jendral melempar Vier hingga membentur meja kecil yang ada di pinggir ruangan.
“ Ayahmu sudah tidak menginginkan kau berada di dunia ini, apalagi di kerajaan ini“ Jendral terus mendekati Vier yang tengah mengerang lemah menahan sakit.
Jendral dengan geramnya berkali-kali menendang tubuh Vier yang sudah tak berdaya di lantai, hingga tubuh Vier menekuk dan tangannya ditekan di bagian perutnya berusaha menahan sesak dan sakit.
Darah tercecer di lantai tepat di bawah posisi Vier, pria itu sudah tidak bisa melawan lagi.
Kini posisi Jendral berdiri, sedangkan tubuh Vier masih tergeletak di lantai, kedua kaki Jendral berada diantara tubuh Vier, dan Jendral siap menusukkan pedangnya kearah tubuh lawannya yang sudah melemah tak berdaya.
“ Kau hanya tikus lemah! Mencoba mengganggu kediaman singa “ Jendral yang sudah mengangkat pedangnya siap akan menusukkannya pada Vier.
“ Hyaa!!..”
“ Tunggu!! “ suara Charlotte yang tiba-tiba terdengar oleh Jendral, spontan membuat Jendral menghentikan gerakannya.
“ Biarkan dia suamiku, walau bagaimanapun dia adalah kakakku ” sahut Charlotte yang malangkah kearah suaminya.
“ Tapi dia tak pantas untuk hidup “ protes Jendral seraya menoleh arah Charlotte.
“ Biarkanlah suamiku, lagipula dia sudah tak berdaya.., apa kau mau membunuh seorang yang sudah tidak bisa melawanmu lagi? “ pinta Charlotte.
Jendral sempat bimbang, ia melihat Vier yang sudah sekarat dan melihat ke istrinya. Pria itu menghela nafas.
“ Yah, baiklah..dia akan mati dengan sendirinya “ Akhirnya Jendral mengurungkan niatnya membunuh Vier.
Ia membiarkan Vier tergeletak ditempatnya dan pria itu melangkah menuju Charlotte.
“ Anak kita?..bagaimana pangeran kecilku?” Chalotte yang sudah berada di hadapan suaminya meletakkan kedua telapak tangannya di dada Jendral.
“ Tadi aku sudah melihatnya, dan Gardden telah mengurusnya, tenanglah dia sudah aman..” Jendral mengelus rambut istrinya.
“ Ah, syukurlah..” gumam Charlotte dengan senyuman.
Tiba-tiba…
Charlotte dengan cepat dan kuat mendorong tubuh Jendral kesamping hingga pria itu terjatuh…lalu..
ZLEEP!...
Charlotte tertusuk belati milik Vier..,.sesaat semua hening sekejap...
Charlotte menunduk, melihat darah keluar dari pakaiannya...
__ADS_1
Sekejap yang lalu, wanita itu melihat Vier tiba-tiba berdiri ada di belakang suaminya, entah sejak kapan ia ada di sana, Vier mencoba akan menusuk Jendral, tetapi dengan sigap Charlotte menyingkirkan tubuh Jendral, wanita itu juga ingin menghindar, tetapi tusukan Vier lebih cepat dari gerakan tubuhnya, hingga belati mendarat di tubuh Charlotte.