
Dua hari berlalu, Dumor dan pasukannya belum tiba juga di benteng.
Merlin dan Denzu berharap mereka cepat sampai agar penyihir wanita itu bisa segera ditangkap.
Di dekat ruang penyimpanan, Melin mendapati Elya sedang berdiri di dekat pintu.
Merlin menatap sinis kearah wanita penyihir itu yang ternyata adalah penyebab dari masalah yang dihadapi Merlin.
Kebetulan tak ada siapapun disana, Merlin menghampiri wanita itu.
“ Hey penyihir!, kenapa kau tidak pergi saja dari sini?! Aku bisa saja melukaimu, karena aku adalah Demon Eldr, tapi aku belum mau melakukannya, tapi jika sampai kau macam-macam dengan Jendral, maka jangan salahkan aku jika kau tidak bisa keluar dari benteng ini selamanya, karena aku bisa saja membunuhmu!” Merlin mengancam dengan taring di giginya yang keluar sedikit.
“ Ha..ha..ha..,Coba saja mengancamku gadis kecil. Jendralmu sudah aku kendalikan. Jika kau membunuhku, maka tuan Luzen tidak akan bisa kembali seperti semula, ia akan terpengaruh sihirku sampai kematian menjemputnya.”
Merlin yang mendengar itu langsung terkejut kemudian ia mencekik Elya dan mengangkat tubuhnya menjauh dari tanah.
“ Merlin!!! Apa-apaan kau! Turunkan nyonya Elya!!” dari belakang Jendral membentak Merlin.
Sontak Merlin menoleh kearah suara yang sangat ia kenal, ia menjatuhkan Elya dan menatap Jendral dengan tatapan tajam.
“ Tuan, tidak bisakah kau sadar?!” suara Merlin mulai melemah, ia tak sanggup marah kepada Jendral.
Jendral hanya menatap Merlin.
“ Tuan, aku rindu dirimu yang dulu…” Merlin berlari dan menabrak pundak Jendral lalu pergi dari hadapan pria itu.
Wanita tadi yang berada di sisi Jendral dengan sombongnya mendongakan kepalanya lalu terseyum dengan sudut bibirnya.
Merlin serasa sesak, dadanya terasa di remas dan di peras. Ingin rasanya menampar wanita itu dan mengusirnya, tapi dia sedang mengendalikan Jendral, ia tak ingin ada apa-apa dengan Jendral, dan dia tidak bisa membunuhnya sekarang ini.
Akhirnya Dumor dan pasukan dari kastil datang dan langsung bertemu Merlin juga Denzu.
Mereka belum bertemu dengan Jendral yang pergi entah kemana dengan wanita penyihir itu.
Di lumbung gandum, Merlin, Dumor dan Denzu berdiskusi. Diluar beberapa pria berjaga-jaga.
“ Tuan Dumor, apakah kau terpengaruh lingkaran sihir?” Merlin dengan polosnya bertanya pada Dumor.
“ Aku tidak terpengaruh nona, aku masih sadar seperti yang biasanya” Dumor sedikit tersenyum pada Merlin..
“ Tuan Denzu, apakah lingkaran sihir tidak berpengaruh pada orang yang datang dari luar?” Merlin menoleh kearah Denzu.
“ Sepertinya tidak, karena mereka tidak ada ketika sihir itu di bacakan, dan mereka datang setelah sudah terbentuk lingkaran sihir”
“ Baguslah kalau begitu” Merlin mulai lega.
“ Mereka adalah suruhan seorang bangsawan, aku mendapatkan info tentang dua orang yang biasa di bayar untuk menjadi mata-mata atau mencuri, mereka dari wilayah Riguaria.
Mereka semata-mata menginginkan harta kita” Dumor memulai investigasinya.
“ Jadi mereka adalah pencuri?!” Denzu seolah geram.
“ Aku juga sempat berfikir kesana..” sahut Merlin.
“ Ya, dan memang tidak mudah menangkap penyihir. Sebaiknya kita urus saudaranya dulu, setelah itu baru si wanita penyihir” jelas Dumor.
“ Tapi bagaimana kau bisa menagkap penyihir wanita itu tuan Dumor? Jangan-jangan ketika kau menangkapnya kau juga bisa terkena sihirnya?” Merlin bertanya.
“ Sebaiknya yang menangkap adalah nona Merlin atau kau Denzu, yang tidak terpengaruh sihir, nanti aku akan membantumu” Dumor menjelaskan.
“ Baiklah, aku saja yang menangkapnya” Merlin tampak bersemangat.
__ADS_1
“ Tapi kau harus menangkapnya tanpa sepengetahuan Jendral nona” ujar Dumor.
“ Baik, serahkan padaku”
“ Aku dan pasukan kastil akan berjaga jangan sampai Jendral dan yang lain mengetahui jika penyihir itu telah ditangkap ” lanjut Dumor.
“ Kemudian aku dan nona Merlin mencari pemecah sihir?” Denzu seolah sudah mengerti kelanjutan rencananya.
“ Betul..”
Maka mereka bersiap merencanakan aksinya.
Ketika malam telah menebar, masing-masing telah berada dalam kamarnya.
Merlin dan beberapa Eldr menyusup memasuki kamar Elya. Tetapi ternyata dia tidak berada dikamarnya.
Merlin bingung kemana perginya Elya, tak berselang lama satu Eldr memberitahu Merlin bahwa Elya sedang menuju ke kamar Jendral.
Merlin tak buang waktu, ia bergegas menuju kamar Jendral, dan benar saja wanita itu hampir mengapai pintu kamar Jendral, seketika itu Merlin melesat dengan sekejap mata dan sudah berada di belakang Elya lalu menjambak rambutnya dari belakang sambil menutup mulutnya.
Elya dengan kondisi yang tidak bisa berteriak, tubuhnya terseret menjauh dari kamar Jendral, dibelakangnya Merlin mendekapnya dengan dua tanduk dan taring yang runcing.
“ Kau berada dalam genggamanku” suara Merlin yang berubah berat menakutkan.
Elya terus diseret tubuhnya dengan mulut masih di bekap Merlin, mereka menuju sebuah ruangan di dekat kandang kuda.
Setelah sampai keruangan tersebut, Merlin membanting tubuh Elya ke tumpukkan jerami.
“ Sudah kubilang bocah kecil, aku tidak akan takut padamu, dan jika kau membunuhku, maka tuan Luzen tidak akan sadar dari kodisinya yang sekarang “ Elya masih saja mengancam Merlin.
“ Diam kau penyihir!!, aku akan membakarmu ketika tuan Luzen telah sadar. Bersiaplah jika saatnya tiba, kau akan berteriak kesakitan, dan tidak akan ada yang tersisa dari tubuhmu kecuali abu bekas pembakaran” Merlin menyeringai menampakkan gigi runcingnya.
Merlin keluar ruangan dan menguncinya dari luar. Ruangan itu di jaga oleh beberapa Eldr.
Pria itu diletakkan di ruangan yang berbeda dengan saudari penyihirnya.
Merlin meninta izin kepada Dumor dan Denzu untuk pergi ke Gunung Selatan menemui penyihir tua.
Dia akan bertanya tentang pemecah sihir dan cara mengembalikan pengaruh sihir pada Jendral.
Sebelum pergi, Merlin meracik ramuan untuk membuat Jendral tertidur agak lama, sehingga ia tidak akan bertanya tentang Elya dan saudaranya yang kini sedang ditahan.
Merlinpun pergi dengan beberapa Eldr menuju Gunung Selatan.
Sore menjelang, Merlin sudah kembali ke benteng dengan membawa informasi bahwa pemecah sihir bisa didapat di hutan dekat kerajaan Nerogon, disana ada seorang tabib yang juga bekas penyihir, mereka diminta menemuinya.
Akhirnya Denzu dan Merlin memutuskan pergi kesana dengan dua kuda. Mereka melakukan perjalanan hari itu juga.
Mereka menyusuri jalan menuju kerajaan Nerogon. Petang mulai merambat, redup-redup awan telah berwarna agak gelap.
“ Nona, sepertinya kita harus istirahat dulu, karena sedikit lagi akan gelap” Denzu menarik tali kekang kudanya supaya berjalan lambat.
“ Baiklah, tapi dimana kita bisa beristirahat?” Merlin melihat sekeliling.
Mereka berhenti di sebuah kota kecil sebelum masuk wilayah Nerogon.
“ Aku akan mencari tempat penginapan “ Denzu melihat-lihat kalau kalau ada penginapan disana.
“ Aku ikut denganmu tuan “ pinta Merlin.
Akhirnya mereka menemukan sebuah penginapan sederhana.
__ADS_1
“ Kami ingin memesan dua kamar” pinta Denzu kepada penjaga penginapan.
“ Maaf tuan, tapi yang tersisa hanya satu kamar, itupun kamar yang agak kecil“ jawab pria setengah baya penjaga penginapan.
“ Baiklah, kami pesan kamar itu saja “ Denzu menyetujuinya.
“ Tuan? Apa itu berati kita akan sekamar? “ Merlin mengerutkan kening seolah tidak setuju.
“ Tentu tidak nona, aku akan tidur diluar, kau tidurlah dikamar itu “ Denzu menjelaskan sambil tersenyum.
“ Tapi kau akan tidur dimana? “
“ Aku bisa tidur dimana saja “ Denzu mengambil kunci kamar dari penjaga penginapan.
Malam mulai menebar.
Di depan sebelah kiri kamar Merlin, sebuah kursi kayu panjang di jadikan tempat tidur untuk Denzu, tiba-tiba...
“ Aaaaa!!!!”
Sebuah teriakan dari dalam kamar Merlin membuat Denzu terbangun dan langsung membuka pintu kamar yang terkunci.
Nona!! Apa yang terjadi?! Buka pintunya nona!!" Denzu tidak bisa membuka pintu itu.
" Aku tidak bisa!! " Jawab Merlin dari dalam kamar.
Lalu dengan terpaksa Denzu mendobrak pintu itu.
BRAAK!!...pintupun terbuka paksa.
“ Nona!!! Ada apa?!” Denzu yang sudah merusak pintu akibat dobrakannya, bertanya panik.
“ Tikus!!!! Ada tikus di bawah tempat tidurku!!” Merlin yang ternyata sudah berubah menjadi Demon Eldr, dengan sayap hitam besar, gigi runcing, berdiri di atas kasur dan merapat ke dinding, ia terlihat sangat ketakutan.
" Ha?... Ya ampun nona...ku kira ada apa.." Denzu menghela nafas.
Tetapi tak berselang lama...
“ Ha..ha..ha..!!!! “
Denzu malah tertawa sampai ia memegang perutnya.
“ Apanya yang lucu tuan? “ Merlin sedikit merasa kesal dengan tawa Denzu.
“ Nona, penampilanmu jauh lebih menakutkan dari tikus itu, tapi kau masih saja ketakutan..itu kelihatan aneh..” Denzu yang masih diiringi tawa tipisnya menggeleng lalu melongok ke bawah kasur.
Bibir Merlin mengerucut sedikit kesal dengan ejekan Denzu.
Pria itu mengusir tikus yang berkeliarah di bawah dipan Merlin, akhirnya tikus itu keluar kamar.
“ Nah, tikusnya sudah ku usir, lalu mau sampai kapan kan di atas sana nona? “ Denzu melihat Merlin yang masih berdiri diatas kasurnya.
“ Ah..ya, terimakasih tuan..” Merlin akhirnya berubah seperti sedia kala, ia menarik selimutnya dan akan bersiap untuk tidur.
Tetapi Denzu yang masih berdiri malah mematung melihat Merlin.
“ Tuan? Ada apa lagi? Kenapa kau tidak keluar? “
“ Ah, iya..iya, maaf nona, aku akan segera keluar…oya, pintunya jadi rusak, aku akan bilang pada penjaga penginapan.
Denzu keluar dan menutup pintu yang sedikit rusak.
__ADS_1
...**********...