
“ Hadiah?..tetapi aku tak memerlukan hadiah “ sahut Jendral.
“ Tapi ini adalah bentuk kecintaan masyarakat kepada yang mulia Raja “ jawab petinggi kerajaan tersebut.
“ Yah, baiklah..” gumam Jendral sedikit terpaksa.
Hari itu Jendral yang ingin membahas soal peperangan menjadi terhambat karena perayaan tersebut.
Dari luar tak henti-henti berdatangan berbagai macam hadiah, kebanyakan yang mengirim hadiah adalah para bangsawan, dari mulai sutra bersulam emas, buah-buahan mahal, mantel bulu yang mewah, makanan mahal dan lainnya.
Hampir separuh ruangan aula di penuhi berbagai macam hadiah.
Jendral memandang semua hadiah itu sambil mengelus dan menggenggam janggutnya, seolah memikirkan sesuatu.
Jendral memerintahkan pada pejabat kerajaan, penasehat dan yang ada di ruangan itu untuk mereka mengambil satu dari hadiah yang mereka sukai dari banyaknya hadiah yang tertimbun di ruang aula untuk pribadi mereka, tetapi mereka tidak berani mengambilnya.
" Ambilah hadiah ini untuk kalian..pilihlah yang kalian suka" Jendral menyuruh mereka mengambilnya, tetapi mereka justru saling melempar pandangan.
" Kami tidak berani yang mulia, ini adalah untuk anda, kami tidak pernah menerima hadiah dari Raja sebelumnya."
" Haah..lalu mau kukemanakan hadiah sebanyak ini?" sahut Jendral.
" Aku adalah Raja yang sekarang bukan? maka kuperintahkan kalian untuk mengambil hadiah dariku! Ambillah!" seru Jendral pada bawahannya.
Akhirnya mereka mengambil satu-satu hadiah yang ada di sana dengan perasaan heran Tetapi gembira yang tidak bisa disembunyikan.
Tetapi hadiah itu masih saja banyak dan menumpuk walau sudah diambil oleh semua petinggi kerajaan yang ada di sana.
Akhirnya Jendral memanggil salah satu petinggi kerajaan, dan bertanya padanya.
“ Apa ada lagi suku atau penduduk di Benua Hitam yang hidup miskin? Tempo hari waktu kunjungan ke wilayah Benua Hitam hanya ada satu suku yang terlihat miskin dan kita sudah memberi bantuan, tapi masih ada beberapa wilayah yang belum aku kunjungi?“ tanya Jendral.
“ Em, ya sepertinya ada yang mulia. Ada suku yang tidak suka keluar dan berinteraksi dengan manusia, suku Abyee, mereka adalah suku yang senang bersembunyi. Ada juga suku Raw, mereka adalah ras campuran manusia dan rakun, biasanya suku Raw tidak menyukai kedatangan orang asing. Jadi mereka hidup miskin karena hanya mengandalkan kehidupan di tempatnya “
“ Hmm, baiklah kalau begitu, bisa tolong kau urus hadiah-hadiah ini untuk dibagikan kepada dua suku itu ” sahut Jendral pada petinggi kerajaan.
Mereka semua terdiam dan saling pandang.
“ Ada apa? “ tanya Jendral.
“ Maaf yang mulia, tapi tidak ada satupun yang berani untuk memasuki wilayah suku tersebut ” jawab salah satu dari mereka.
“ Apa mereka memakan manusia? “ tanya Gardden.
“ Bukan begitu tuan, tapi mereka sangat tidak menerima kedatangan orang asing“ sahut salah satu penasehat yang ada di sana.
“ Baiklah, aku akan menemui mereka besok, Gard tolong kau atur keberangkatannya dan orang yang bisa memandu kita “ Jendral menoleh kearah Gardden.
“ Tapi untuk apa kita kesana, bukankah kita harus ke Gozan selatan besok ?” tanya Gardden.
__ADS_1
“ Apa kau punya solusi untuk menyingkirkan hadiah sebanyak ini Gard? “ Garden hanya menggeleng.
Besok pagi, di hari yang cerah. Jendral, Gardden dan beberapa prajurit serta pemandu akan siap berangkat menuju suku Abyee, kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan menuju suku Raw.
Mereka menyusuri hutan pinus dan sungai yang agak kecil. Iring-iringan kereta karavan juga ada di antara mereka dengan berbagai macam hadiah di dalamnya.
“ Yang mulia, bukankah sayang jika barang-barang ini diberikan pada warga miskin seperti mereka?..apa tidak lebih baik dipergunakan sendiri oleh yang mulia? “ tanya salah satu penasehat kerajaan yang ikut dalam rombongan.
“ Aku tak memerlukan benda-benda mewah seperti itu “ jawab Jendral di atas kudanya.
Penasehat yang bertanya tadi hanya diam dan menghela nafas.
Akhirnya mereka sampai di pemukiman suku Abyee. Tempat itu sangat sepi dan masih alami. Tidak tampak rumah-rumah penduduk yang terlihat.
“ Apa kau yakin disini tempat suku itu? tapi dimana rumah-rumah mereka? “ tanya Gardden pada penunjuk jalan.
“ Iya aku yakin tuan. Karena mereka memang tidak tinggal di rumah, mereka membuat sebuah lumbung besar untuk tempat tinggal bersama “ jelas si penunjuk jalan.
“ Baiklah, mari kita temui mereka “ ujar Jendral sambil turun dari kudanya.
Rombongan Jendral memasuki wilayah Abyee dengan hati-hati. Tatapan mereka mengeliling, dan seolah ada yang memperhatikan mereka.
“ Hoy! Kami datang baik-baik..kami ingin memberi hadiah pada kalian! “ teriakkan Gardden membuat para burung-burung yang ada di atas pepohonan membuncah keluar dan berhamburan di udara.
Tiba-tiba dari sela-sela pepohonan muncul sekelompok manusia dengan dandanan aneh, mereka mencoreng pipi dan jidat mereka dengan sesuatu berwarna merah.
Mereka semua bertelanjang dada, menggunakan celana panjang seperti dari kulit binatang yang telah di samak, dan di genggamannya ada sebuah senjata agak panjang terlihat seperti terbuat dari gading atau tulang yang ujungnya runcing, dan bagian bawah pegangannya penuh dengan ukiran.
“ Apakah kalian bisa bahasa kami?!..keluarlah! kami tidak bermaksud menyakiti, kami hanya ingin berbicara dan memberi kalian hadiah! “ seru Jendral pada mereka.
Tetapi tiba-tiba, dari arah sela-sela pohon, senjata tadi di lempar oleh salah satu dari mereka kearah Jendral.
Beruntung Jendral bisa menghindarinya. Tapi rombongan di belakang Jendral bergerak agak maju dan mencoba mengeluarkan pedang mereka dari sarungnya, tetapi dengan sigap Jendral mengisyaratkan mereka untuk tidak melakukan apa-apa dulu.
“ Tahan!, jangan buru-buru mengeluarkan pedang kalian! Tetapi tetaplah waspada“ perintah Jendral.
Akhirnya mereka mengurungkan mengeluarkan pedang, dan mereka kembali tenang dengan sikap tetap waspada.
“ Aku ingin bicara pada pimpinan kalian! “ Seru Jendral.
Tak lama berselang, muncul seseorang dengan penampilan hampir sama dengan orang di pepohonan tadi, tetapi yang datang kali ini adalah orang tua dengan rambut panjang sepinggang berwarna putih.
Orang tua itu melangkah mendekati Jendral. Ia menatap Jendral dari atas sampai kebawah.
“ Mau apa kalian datang kesini?! “ tanya orang tua itu dengan nada tidak ramah.
“ Kami hanya ingin berbicara, dan kami ingin memberi hadiah untuk penduduk disini “ sahut Jendral.
“ Siapa kalian! Kami tak butuh hadiah! “ sahut si orang tua ketus.
__ADS_1
“ Aku Luzen, aku Raja kerajaan Gozan Selatan yang baru, dan mereka teman-temanku“ sahut Jendral.
“ Heh!, aku tak perduli kau Raja atau bukan. Apa yang ingin kau bicarakan! “ tanya orang tua itu lagi.
“ Kami ingin mengenal penduduk disini “ Jendral masih berusaha ramah dengan orang tua dihadapannya.
“ Apa boleh kami berbicara? “ tanya Jendral kembali.
“ Hmm…, baiklah! Ikut aku” perintah orang tua itu.
Mereka di bawa ke sebuah lumbung besar, dengan atap bulat terbuat dari jerami yang disusun tebal, juga dinding yang terbuat dari kayu dan ranting-ranting.
Para penduduk Abyee berdiri mengeliling di sisi ruangan dalam lumbung. Sementara orang tua tadi duduk di bawah di alasi bulu binatang dan hamparan anyaman pelepah daun kering.
“ Duduklah! “ perintahnya pada Jendral dan rombongan.
Mereka duduk berhadapan dengan si orang tua tadi. Orang tua itu menyalakan sebuah tungku yang berisi bara api dan mengambil lembaran daun kering yang sudah digulung, kemudian menyalakan ujungnya, lalu dia mulai menghisapnya.
Disela asap yang mengepul keluar dari mulut orang tua itu, ia mulai berkata agak tenang.
“ Apa yang kalian ingin tau dari penduduk disini?” tanya si orang tua.
“ Apa kau kepala suku atau pemimpin disini? “ Jendral balik bertanya.
“ Yah, aku kepala suku Abyee “ jawabnya.
“ Aku hanya ingin tahu, kenapa kalian tidak suka mengenal dunia luar? “ tanya Jendral kembali.
“ Karena diluar sangat berbahaya. Mereka semua serakah, mereka diluar sana hanya mementingkan keinginan mereka sendiri. Kami juga tidak akan diterima jika keluar dan berbaur dengan mereka “ suara orang tua itu seolah geram.
“ Tapi aku rasa tidak semua seperti itu, memang banyak dari mereka yang serakah, tapi dari banyak manusia jahat, ada sebagian kecilnya yang masih memiliki hati nurani “ jawab Jendral.
“ Yah, tapi mereka yang baik biasanya lemah, karena mereka dikuasai oleh orang jahat yang kedudukannya lebih tinggi “
“ Bagaimana jika dibalik? “ pertanyaan Jendral membuat orang tua itu bingung.
“ Dibalik bagaimana maksudmu?” tanya orang tua yang bingung.
“ Bagaimana jika orang baik yang kuat menguasai orang jahat yang lemah? Apa kau dan pendudukmu akan keluar dan berbaur? “ tanya Jendral.
“ Mana ada yang seperti itu? “ alis orang tua itu menyeringit.
“ Jika ada bagaimana? “
“ Yah, bisa jadi kami akan keluar, tapi dimana kami bisa menemukan orang baik yang berkuasa, semua yang memiliki kekuasaan pasti hati mereka dikuasai iblis “ jawab orang tua sambil menghisap lagi gulungan daun kering di tangannya.
“ Pak tua, kami adalah penguasa Benua Hitam. Kami sudah mengalahkan kerajaan Gozan Timur, dan sekarang aku adalah Raja di Gozan Selatan. Aku akan menjamin keselamatanmu dan pendudukmu jika kau berada di luar sana”.
“ Jadi kau bukan sekedar Raja? “
__ADS_1
Orang tua itu langsung menegakkan duduknya dan wajahnya berubah semangat. Belum sempat Jendral menjawab tiba-tiba orang tua berkata lagi.
“ Kau..kau adalah ‘Mohywe’!..Mohywe terlahir kembali!…” tiba-tiba pak tua itu bangkit dari duduknya dan berteriak kegirangan.