Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 34 - SERANGAN ZERON


__ADS_3

Disana telah berdiri tiga buah menara kepungan, tangga-tangga panjatan, pelontar batu, kayu penjebol benteng dan pasukan yang jumlahnya ribuan.


Jendral dan seluruh penghuni benteng kaget dengan pasukan perang yang datang secara tiba-tiba itu.


“ Bukankah Pasukan Gozan akan menyerang satu bulan lagi ?!” Gardden mewakili yang lain bertanya pada Jendral.


“ Ya, kalau mereka menepati janji, seharusnya satu bulan lagi mereka menyerang.


Coba lihat dengan jelas, pasukan dari mana di depan sana?! “ perintah Jendral yang sedang bersiap dengan pedang dan busur panah di tangannya.


“ ITU PASUKAN ZEROOON!!!” teriakan penjaga menara membuat semua terkejut.


“ Zeron?..kenapa mereka menyerang benteng?” pertanyaan yang muncul di benak seluruh pasukan benteng termasuk Jendral.


Merlin tampak cemas dan melihat Jendral dari kejauhan. Tapi gadis itu menghampiri Jendral.


“ Tuan, apa mereka dari Zeron?” tanya Merlin sedikit panik.


“ Yah, kau berlindunglah dulu bersama para wanita yang lain” Jendral memegang pundak Merlin.


“ Tuan, aku akan membantumu” pinta Merlin.


“ Jangan! Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi lagi padamu. Berlindunglah Merlin, kumohon” Jendral dengan buru-buru berlalu menuju gerbang utama.


“ Baiklah, Buka Gerbang !!” perintah Jendral yang sudah siap dengan kuda hitamnya.


Jendral seorang diri menaiki kuda hitamnya yang gagah menuju kearah pasukan musuh.


Ia meminta utusan dari Zeron untuk melakukan perundingan, dan sekaligus mempertanyakan alasannya menyerang benteng Drake dengan tiba-tiba.


Utusan Zeron yang juga berkuda maju dari pasukannya, ia melajukan kudanya kearah Jendral.


“ Aku utusan Kerajaan Zeron, Kapten Robin” ciri khas Zeron dengan pakaian bulu beruang, kalung gigi hewan dan rambut panjang di kuncir di bagian belakang ditambah tubuh yang tinggi besar, membuat tampilan mereka terlihat menyeramkan.


“ Aku Luzen. Ada apa kalian tiba-tiba menyerang benteng kami?!” tanya Jendral tegas.

__ADS_1


“ Kau?..kau Jendral Luzen dari Noregon?, bukankah kabarnya kau telah wafat?”


“ Apa kau berbicara dengan mayat saat ini?” Jendral menjawab.


“ Rupanya nyawamu tak mudah dihilangkan Jendral. Tapi sayangnya kami akan merebut wilayah kalian! “ jawaban Kapten Robin utusan Zeron tadi membuat Jendral geram.


“ Apa Raja Zeroix ada diatara kalian?” Jendral mengisyaratkan wajahnya kearah pasukan Zeron.


“ Ya, ada..dia akan menyaksikan perebutan wilayah ini “ Kapten Robin menjawab.


“ Baiklah, sampaikan salamku, bilang padanya aku akan menemuinya jika saatnya tiba dan benteng ini tidak akan bisa ditaklukan, bahkan oleh seorang Zeron sekalipun!” sahut Jendral sambil memegang tali kekang kudanya.


“ Kau sangat percaya diri Jendral, apa kau pikir jumlah pasukanmu bisa mengimbangi pasukan Zeron?, sebaiknya kau bangun dari mimpimu”


“ Aku sudah bangun dari mimpiku semenjak keluar dari Noregon, Kapten!”


Jendral melajukan kudanya dengan cepat kembali ke benteng, dan menyusun strategi bertahan.


Para prajurit di benteng sudah siap dengan pakaian dan persenjataan perang mereka.


Jendral dan beberapa prajurit pilihan yang akan berada posisi paling depan nanti telah siap dengan ‘ baju besi papan’, terbuat dari plat logam yang dihubungkan oleh tali atau cincin baja.


Ratusan pemanah sudah siap di semua sisi tembok benteng. Disana pasukan pimpinan Denzu sang pemanah ulung, berada di antara celah benteng, bersembunyi untuk memanah para prajurit yang dinilai lebih berbahaya.


Denzu dan anggotanya memakai panah busur yang dibuat dari pohon birch. Panah ini bisa mengenai musuh pada jarak dua ratus meter. Ia diperintah Jendral untuk membidik pengendali pelontar.


Wadah berisi minyak, jerami, wadah penyulut api, pendulum untuk melempar api, semua telah dipersiapkan di atas benteng.


Suara terompet perang tanda dimulainya serangan telah berbunyi panjang dari arah pasukan Zeron.


Bak gelombang air dahsyat ratusan pasukan Zeron maju serempak ke arah benteng. Pelontar dan tangga-tangga mengiringi pasukan menuju benteng.


Pasukan Zeron telah menggerayang di tembok-tembok benteng, mereka meletakkan tangga-tangga di sisi benteng.


Dengan sigap pasukan Drake yang ada diatas meletakkan jerami api dan menaburnya ke bawah, hingga pasukan tangga satu persatu terjatuh.

__ADS_1


Minyak hitam juga dituang dari atas benteng, ada yang langsung dituang dari wadah besar, ada pula yang menggunakan pelontar, ketika pasukan Zeron sudah terkena minyak hitam tersebut, panah api diluncurkan dari atas benteng, serta merta mereka yang di bawah terkena minyak hitam tadi terbakar seluruhnya dan pasukan menjadi buyar.


Pelontar musuh di tembakan beberapa meter dari arah benteng. Batu-batu besar membentur sisi benteng. Ada yang terlempar melewati tembok dan mengarah ke dalam benteng.


Tetapi tembok benteng belum juga hancur, karena pondasi tembok yang kokoh, benteng dua lapis, dengan bahan utama batu-batu bercampur tanah juga campuran lain untuk pengokoh, tersusun didalamnya.


Pasukan pemanah Drake bersiap dengan anak panah ujung logam lebar, tembakan panah jarak jauh meluncur bagaikan hujan di siang hari.


“ Perintahkan para pemanah untuk lebih banyak mengincar menara kepungan dan pengendali pelontar!” perintah Jendral kepada kepala regu pemanah.


Ratusan pasukan Zeron tumbang di tanah terkena panah dan api. Pasukan Drake juga beberapa telah tewas.


Di atas benteng, Jendral yang sedang memantau keadaan, lalu bergegas ke bawah.


Ia memerintahkan agar penjaga gerbang membukanya agar pasukan Zeron yang masuk bisa terperangkap di dalam benteng.


Tapi ternyata tak satupun pasukan Zeron yang masuk kedalam benteng walaupun gerbang telah terbuka lebar.


Dari kejauhan ada sebuah perintah yang melarang pasukan Zeron untuk masuk kedalam benteng. Sepertinya mereka sudah mengetahui jebakan yang ada di halaman benteng.


“ Pantas saja tidak ada penjebol gerbang yang mereka kerahkan, mereka sudah mengetahui jebakan milik kita Jendral “ seorang pria disebelah Jendral bersuara.


“ Yah, sepertinya jebakan kita telah dibocorkan, dan mereka lebih memilih memanjat dinding benteng “


“ Jendral bukankah lebih baik kita menggunakan Eldr untuk menyerang dari udara?” satu pria lagi menambahkan.


“ Jangan!, aku tidak mau melibatkan Merlin “ jawab Jendral sambil memantau keadaan.


“ Baiklah, sepertinya kita memang harus bertarung keluar. Jika berlama-lama seperti ini benteng akan hancur, walaupun bangunannya kokoh ”


“ Tapi jumlah kita tidak seimbang Luzen” Gardden bersuara.


“ Yah, memang, tapi kita memiliki strategi “ Jelas Jendral.


Akhirnya Jendral memutuskan untuk menghalau musuh dari luar benteng, dan ia memerintahkan beberapa pasukan ikut bersamanya.

__ADS_1


...**********...


__ADS_2