Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 85 - PERTEMUAN DI KERAJAAN HAZMUT


__ADS_3

Di Benteng Drake,


Seluruh penduduk benteng bersorak menyambut kedatangan dan kemenangan Jendral dan para prajurit yang berhasil merebut dua kerajaan sekaligus.


Mereka merayakan kemenangan itu di malam harinya. Semua menikmati makanan yang telah tersaji di meja panjang di halaman benteng.


Merlin juga ikut menikmati hidangan perayaan kemenangan bersama suaminya. Razel berdiri di dekat meja menunggu perintah tuannya untuk melayani.


Jendral yang melihat Razel hanya berdiri, kemudian menyuruhnya duduk dan makan bersama mereka.


Dari arah gerbang seorang prajurit datang menemui Jendral dan sedikit berbisik.


“ Jendral, Raja Zaimon bersedia menerima kedatangan kita besok di kerajaannya“ ujar prajurit tadi di sebelah Jendral.


“ Baiklah, kerja bagus. Sekarang bergabunglah dengan yang lain” Jendral menepuk pundak prajurit tadi yang ternyata utusan yang di kirim ke wilayah Hazmut.


“ Besok kita akan berangkat ke Hazmut, dan menemui Raja Zaimon! Wilayah kekuasaan kita akan bertambah dengan tumbangnya dua kerajaan sekaligus! “ suara Jendral yang lantang membuat semua menoleh dan akhirnya bersorak.


Mereka mengangkat gelas mereka tinggi-tinggi.


Jendral dan beberapa orang esok harinya akan pergi ke kerajaan Hazmut menemui Raja Zaimon untuk membicarakan tentang pengambil-alihan kekuasaan di wilayah Benua Oleic.


Malam yang dingin merayap dalam suasana suka cita di Benteng Drake.


Lampu-lampu minyak di sisi dinding dan obor yang berada di sudut-sudut tiang menerangi malam itu membuat siluet hitam di bawah tergambar ramai orang-orang yang sedang berpesta dan bersuka ria.


Pagi menjelang, keletihan masih menyisa dan sisa dari pesta semalam masih terlihat di sekitaran halaman benteng.


Tetapi mereka harus bersiap untuk rencana keberangkatan ke kerajaan Hazmut.


Jendral di temani beberapa rekannya. Gardden yang selalu setia menemani, Ziggo, Leon, Akai dan beberapa pasukan dari kastil timur akan ikut serta dalam perjalanan ke Hazmut.


Di dalam kamar Jendral, Razel sesekali memandangi Jendral dengan wajah yang muram, ia yang tengah menyiapkan keberangkatannya, dengan sedikit lesu Razel membantu menyiapkan perbekalan kedalam wadah yang akan di letakkan di pelana kuda.


Seolah ia berharap Jendral akan mengajaknya ikut dalam perjalanan.


Tetapi karena kemarin ia sempat sedikit mendapat omelan dari tuannya karena ingin ikut berperang, karenanya sekarang ia takut untuk menyampaikan keinginannya.


Jendral yang tengah merapihkan jubahnya, menangkap kegundahan Razel, ia melirik wanita cantik itu

__ADS_1


“ Apa kau mau ikut? “ tanya Jendral melihat wajah Razel yang langsung menoleh kearah Jendral.


“ Ah, apa boleh tuan?! “ spontan wajah dan sikap Razel berubah seketika itu juga.


“ Hmm, ya..bersiaplah “ ujar tuannya.


Senyum kecil Jendral seolah siraman air dingin untuk Razel, ia seolah ingin meloncat kegirangan, tetapi ia menahannya dengan kepalan kedua tangannya di dada yang di guncang kecil.


Wajah kegirangannya tidak bisa di sembunyikan. Jendral menggeleng dengan senyumannya lagi melihat pelayannya yang seperti anak kecil.


Tak butuh waktu lama, Razel telah bersiap dengan pakaian dan jubah hitamnya serta tudung besar yang menutup sebagian rambutnya.


Jendral menatapnya agak lama, ia teringat ketika pertama kali melihat Merlin yang memakai jubah dan tudung coklat.


“ Aku sudah siap tuan..” ujar pelayan wanita milik Jendral dengan semangat.


“ Ya, naiklah ke kuda “ perintah Jendral.


Mereka semua telah siap dan berangkat menuju Hazmut.


Di Kerajaan Hazmut.


Mata Razel menjelajah seisi kastil yang mewah. Ia tak sadar sampai memegang ujung jubah Jendral. Pria di depannya itu hanya menghela nafas ringan sambil tersenyum kecil.


Ruangan yang dulu pernah ia masuki untuk membahas penyerahan sebagian kecil wilayah Hazmut, dan kesepakatan dengan Raja Ell, ayah Raja Zaimon.


Mereka duduk di kursi berlapis bludru yang bagian sandarannya tinggi melebihi kepala mereka.


Kursi-kursi yang berjejer terbagi menjadi dua sisi, bagian kanan dan kiri yang di halangi meja panjang, sedangkan kursi utama hanya ada dua dan saling bersebrangan, yang berada di ujung meja.


Jendral duduk di kursi bagian kiri, dekat dengan kursi utama yang berada sendiri di sisi ujung meja.


Sebagian pasukan berdiri di belakang kursi, ada yang melipat tangan mereka di dada, sebagian ada juga yang menaruh sandaran tangannya pada ujung pedang di pinggang mereka.


Razel berdiri persis di belakang sisi kiri Jendral.


Tak berselang lama, pintu besar ruangan terbuka, dan beberapa orang pengawal mengiringi langkah seseorang yang berada di tengah.


Dengan jubah kebesarannya, dan mahkota di kepalanya, pria itu memasuki ruangan. Raja Zaimon akhirnya bertemu kembali dengan Jendral.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan berdiri memberi penghormatan. Kemudian sang Raja duduk di kursi utama, dekat dengan Jendral. Ia mempersilahkan semuanya duduk kembali.


“ Lama tak bertemu, Jendral, ah Tuan,..maksudku…. Ah, sekarang aku mulai bingung harus memanggilmu dengan sebutan apa“ sapa Raja Zaimon memulai pembicaraan.


“ Ya, lama tak bertemu, yang mulia. Biasa saja memanggilku, aku lebih suka dipanggil Jendral atau tuan“ jawab Jendral tegas.


“ Tetapi posisimu kini jauh lebih tinggi dari sekedar Jendral, bahkan seorang Raja“ puji Raja Zaimon


“ Yah, itu hanya masalah pencapaian, aku tak terlalu memperdulikan “


“ Baiklah, sebutan tuan mungkin lebih cocok. Jadi, bagaimana kabarmu tuan Luzen? “ tanya Raja Zaimon.


“ Keadaanku sangat baik, yang mulia“


Akhirnya mereka membicarakan pengambil alihan kekuasaan di wilayah Benua Oleic.


Jendral masih membiarkan kerajaan Hazmut dengan Raja Zaimon sebagai Raja yang menguasai wilayah Hazmut, tetapi kerajaan Hazmut tetap di bawah kekuasaan Jendral Luzen sebagai pemegang otoritas tertinggi di Benua Oleic.


Begitu juga dengan kerajaan Riguaria. Raja di Riguaria tetap bisa memimpin di wilayahnya, tetapi tetap semua wilayah itu adalah di bawah kekuasaan Jendral sebagai kedaulatan tertinggi.


Mereka menyetujui syarat-syarat dan kebijakan yang di buat. Raja Zaimon menerima apapun keputusan yang diberikan Jendral.


Karena Jendral yang sekarang adalah ‘ Penguasa Mutlak atas Benua Oleic ‘


Setelah perundingan selesai, mereka menikmati hidangan ringan di ruangan itu.


“ Silahkan di nikmati tuan Luzen, mari bersulang “ ujar Raja Zaimon ramah sambil mengangkat gelasnya agak tinggi.


“ Ya, terimakasih..“ Jendral juga meninggikan posisi gelas di genggamannya.


Di tengah perbincangan ringan, tiba-tiba Raja Zaimon melirik ke arah Razel.


“ Tuan Luzen, apa wanita yang di belakang itu pasukanmu? “ tanya Raja Zaimon sedikit mendekat kearah Jendral.


“ Dia pelayan pribadiku. Ehm!..yang mulia, sepertinya aku harus menegaskan satu hal padamu..” posisi Jendral agak membungkuk, maju mendekat ke arah Raja Zaimon dan setengah berbisik.


“ Jika sekali lagi kau mengusik yang sudah menjadi milikku, akan kupastikan perjanjian kita batal dan rencana lain akan kutempuh untuk menghancurkan semua milikmu, aku harap kau mengerti, yang mulia “


“ Ah, ya..maaf tuan Luzen, aku hanya bertanya..tidak perlu seserius itu..” Raja Zaimon tertawa ringan untuk meredakan kekesalan Jendral.

__ADS_1


__ADS_2