Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 75 - KERINDUAN YANG BELUM TERSELESAIKAN


__ADS_3

Malam telah meninggi, hampir seluruh penduduk telah terlelap dengan keletihannya masing-masing.


Jendral yang masih terjaga bersama beberapa temannya akhirnya merasakan keletihan juga dan ia beranjak menuju ke kamarnya.


Di depan pintu kamar, ia mengharap Merlin masih terjaga, hingga ia bisa melepas kerinduan pada istrinya.


Ketika pintu kamar terbuka perlahan, ia menatap istrinya yang tengah terlelap dengan sangat pulas, hingga pria itu tak tega untuk membangunkannya. Akhirnya Jendral tidur di sampingnya dengan menahan hasrat kerinduan yang belum terselesaikan.


Ketika pagi menjelang. Udara sedikit dingin dan lembab.


Jendral membuka matanya dan tidak mendapati Merlin di sampingnya. Pria itu menghembus kesal, kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut sampai ke kepala.


Tak berapa lama, Merlin masuk ke kamarnya dan mendapati Jendral yang terselubung selimut. Merlin membuka selimut yang menutupi kepala suaminya.


“ Tuan, kau masih saja berselimut? “ tegur Merlin.


Jendral tidak menjawab, tetapi kemudian ia menarik selimutnya lagi dan menutup kepalanya.


Merlin lagi-lagi membukanya.


“ Tuan..” sahut Merlin.


Kemudian Jendral memegang lengan merlin dan menariknya.


“ Kenapa kau sekarang selalu sibuk Merlin!, tidak bisakah kau menyempatkan waktu sebentar untukku?! “ nada Jendral agak tegas namun juga sedikit merajuk.


“ Ah, maafkan aku tuan..tapi iya aku memang agak sibuk akhir-akhir ini..” jawab Merlin yang sudah berada di pinggir ranjang.


“ Baiklah, aku minta waktumu sebentar saja, bisa kan? Tinggalkan dulu pekerjaanmu” pinta suaminya.


“ Um, tapi,..yah baiklah..” gumam Merlin agak terpaksa.


Jendral kemudian mendekat ke istrinya, ia menyentuh perlahan leher Merlin, tetapi kemudian..


“ Ahh! Aku lupa! “ Merlin terkejut seperti mengingat sesuatu.


“ Ada apa? “ tanya suaminya.


“ Bubur untuk pangeran, bibi sedang membuat bubur, pasti dia menambahkan pitersely, akhir-akhir ini pangeran tidak suka buburnya di tambah irisan pitersely, aku akan memberitahu bibi dulu, sebentar tuan, aku akan kembali secepatnya…aku janji akan kembali, tunggulah..” Merlin dengan buru-buru beranjak dari ranjangnya dan berlalu keluar kamar.


Jendral yang lagi-lagi ditinggal sendiri, menghela nafas panjang lagi dan mengetuk-ngetuk jemarinya ke kasur.


“ Yah..pitersely, bubur…baiklah..” gumamnya menahan kesal.

__ADS_1


Pria itu menampar bantal dengan keras, kemudian ia beranjak berdiri dan mengambil jubahnya dengan kasar, lalu keluar kamar.


Tak lama berselang Merlin buru-buru kembali ke kamar dan memanggil suaminya, tapi ia tak menemukan Jendral di kamarnya.


“ Tuan..maafkan aku..” gumam Merlin lirih di bibir pintu.


Siang meninggi, hangatnya menyebar ke sela-sela kepala para penduduk benteng.


Merlin telah siap dan terlihat cantik dengan pakaian yang rapih, setelan warna gading dan rok coklat susu, keranjang belanjaan dan mantel hijau tua telah dikenakan untuk berpergian.


Wanita itu sempat berhenti dan melihat ke angkasa, disana telihat Wyen si naga hitam terbang di sekitar benteng.


Merlin tersenyum dan melambai kearah naga tersebut meskipun sang naga belum tentu mengerti.


Jendral Luzen melihat kearahnya.


“ Mau kemana? “ tanya Jendral yang mendekatinya.


“ Tuan, maaf tadi aku mencarimu di kamar, tapi kau ti-..”


“ Yah, sudahlah..kau mau kemana Merlin? “ Jendral tampak masih sedikit kesal.


“ Aku mau ke pusat kota, membeli rempah dan beberapa roti “ jawab Merlin.


“ Tapi tuan, apa kau tidak sibuk hari ini? “ Merlin bertanya ketika Jendral kembali dari aula.


“ Tidak apa sebentar saja “ pria itu langsung berlalu menuju Ghosse berada.


Akhirnya Merlin, Jendral dan Ghosse berangkat menggunakan kereta karavan menuju pusat kota.


Di pusat kota, wilayah Hazmut.


Jendral dan Merlin pergi menuju ke toko roti dan toko rempah, sementara Ghoose seperti biasa menunggu di kereta.


Mereka melewati pasar budak sebelum menuju toko rempah. Di sana para penjual budak sangat ramai dan saling berteriak menjual dagangannya.


Tatapan Merlin berkeliling sambil mengerutkan kening, merasa kasihan dengan budak-budak yang diperjual belikan, yang mereka juga adalah manusia.


“ Tuan, ayo kita cepat-cepat melewati pasar ini, aku merasa iba dengan budak-budak itu “


Merlin menggandeng suaminya dan melangkah cepat.


Tetapi seketika itu mata Merlin membulat, langkahnya yang tadi terburu-buru sesaat terhenti, ketika ia melihat sesosok yang ia pernah lihat.

__ADS_1


Seorang gadis cantik, berambut hitam pekat, bermata dan beralis hitam dan indah, berwajah putih bersih dengan pipi yang kemerahan.


Ia berada di dalam kurungan dan berjejer bersama budak-budak yang tengah di jual.


“ Gadis itu..” gumam Merlin.


Merlin langsung berlari kecil menuju kurungan gadis tersebut, diikuti Jendral yang agak heran dengan kelakuan istrinya.


“ Hey, kenapa kau ada disini? “ Merlin langsung menuju kurungan gadis itu dan memegang jerujinya.


“ Nyonya!..” mata indah gadis itu berbinar dan ia terlihat seperti menaruh harap kepada Merlin untuk di bebaskan dari kurungan tersebut.


“ Kenapa kau dijual sebagai budak? “ tanya Merlin penuh keheranan.


Belum sempat gadis didalam kurungan menjawab, penjual budak sudah mempromosikan dagangannya.


“ Yah, nyonya..ini adalah budak baru, masih segar, cantik..ayo nyonya pilihan anda tidak akan salah!, hanya seribu lima ratus koin perak nyonya..” penjual budak mulai mengiklankan gadis yang ada dikurungan tersebut.


Merlin menoleh kearah suaminya.


“ Tuan, bolehkah aku membeli budak ini? “ wajah Merlin menyiratkan harap agar suaminya membolehkannya membeli budak tersebut.


“ Hm,..ya baiklah “ sahut jendral.


“ Berapa harganya ?” tanya Jendral pada penjual budak.


“ Seribu lima ratus koin perak tuan “ jawab penjual budak.


“ Delapan ratus bagaimana? “ tawar Jendral.


“ Haduh, itu terlalu jauh tuan, budak ini sudah banyak yang menawar dari kemarin, bahkan ada yang menawar seribu seratus koin perak, tidak ku lepas “


“ Seribu tiga ratus, kami ambil “ Jendral lagi-lagi meminta harga yang ringan.


“ Em,..yah baiklah…” akhirnya pedagang budak menyetujui transaksi tersebut.


Gadis berambut hitam itu di keluarkan dari kurungannya, dan penjual budak menerima sejumlah koin perak dari Jendral.


Serta merta gadis tadi memeluk Merlin dengan erat, si gadis tak kuasa menahan tangisnya di pelukan Merlin.


“ Terimakasih nyonya.., terimakasih “ serunya masih di dekapan Merlin.


Jendral sedikit memiringkan kepalanya dan mengerutkan kening melihat mereka saling berpelukan.

__ADS_1


__ADS_2