Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 64 - PENYERANGAN VIER


__ADS_3

Di kastil Gozan Selatan,


Para ksatria masih mencoba melawan pasukan musuh yang merangsek menembus benteng kastil.


Charlotte sang Ratu diminta tetap berada di kamarnya melindungi pangeran kecil.


Ryon tak berhenti bertarung hingga tenaganya hampir habis. Ia bersama beberapa prajurit melindungi kamar Charlotte jangan sampai dimasuki siapapun.


Vier yang berusaha memasuki ruang istana di hadang oleh ratusan prajurit ksatria, hingga Vier mengurungkan niatnya.


Pertempuran berlangsung hingga petang. Langit tampak hampir gelap, dari awan yang redup terlihat segerombolan sesuatu berwarna merah mendekati kastil.


Ternyata itu adalah ratusan Eldr yang terbang menuju kastil dan ketika mereka sampai di kastil mereka berusaha menghalau pasukan musuh.


“ ELDR!..ADA ELDR! “ teriakkan salah seorang prajurit musuh membuat prajurit yang lain ikut berlari menghindari Eldr.


Akhirnya pasukan Vier mundur ketika para Eldr berusaha menyerang mereka.


Vier memerintahkan pasukannya mundur dulu, besok ia akan kembali menyerang kastil dengan peralatan untuk meghalau Eldr.


Akhirnya petang itu pertempuran selesai dengan korban yang cukup banyak di pihak Gozan Selatan. Vier dan pasukannya kembali karena serangan Eldr.


Tok..tok..tok..


“ Putri Charlotte…anda sudah aman, Vier dan pasukannya telah pergi “ Ryon dengan luka-luka yang cukup banyak mencoba menenangkan Charlotte.


Pintu kamar Charlotte terbuka.


“ Ryon?..lukamu sangat banyak! “ Nampak kekhawtiran Charlotte di wajahnya ketika melihat luka di tubuh Ryon.


“ Aku tidak apa-apa putri, asal kau selamat.baik aku permisi dulu “ Ryon berlalu meninggalkan Charlotte yang masih menatapnya hingga hilang.


Malam itu penduduk kastil merasa kehilangan banyak prajuritnya. Mereka berharap Jendral cepat kembali.


Senja membentang, mentari masih terselimuti kepulan awan, belum sepenuhnya muncul.

__ADS_1


Tetapi para prajurit kastil Gozan Selatan sudah bersiap dengan jumlah yang seadanya.


Mereka lebih siap dibandingkan kemarin walaupun jumlah mereka lebih sedikit pagi itu.


Ketika mentari agak meninggi, dari kejauhan terlihat ribuan pasukan mendekati kastil.


Yah, pasukan Vier kembali ingin menyerang di pagi itu.


Bunyi tanda peringatan terdegar nyaring dari atas menara kastil. Semua prajurit bersiap pada posisinya.


Charlotte yang tengah menggendong pangeran kecil, terlihat agak panik dan mencari dayang pengasuh tapi ia tidak menemukan dayang pengasuh yang biasanya, namun seorang wanita separuh baya menghampirinya.


“ Ratu, saya dayang pengasuh pengganti, biar saya pegang pangeran, suasana di luar sudah mulai kacau “ ujar wanita itu.


“ Baiklah, tolong bawa anakku ke tempat aman, aku akan menemui kakakku “


Charlotte langsung menyerahkan bayinya ke dayang pengasuh itu lalu dengan buru-buru berlari ke atas menara kastil.


Charlotte lagi-lagi melihat Vier di depan gerbang istana berada diatas kudanya.


“ Ratu Charlotte, selamat pagi!.” sahut Vier yang menghadap ke atas.


“ Aku hanya ingin pulang ke rumahku dan menjalankan apa yang menjadi kewajiban ku, memimpin kalian,..apa salah?! “ jawab Vier di atas kudanya.


“ Gerbang ini tidak akan terbuka untukmu! “ sahut Charlotte lagi dengan nada geram.


“ Benarkah? “ pria itu menjentikkan jarinya kearah seseorang.


Tangisan bayi mengejutkan Charlotte, seorang pasukan Vier menggendong bayi pangeran kecil, anak Charlotte dan memberikannya pada Vier kakak sambung Charlotte yang selama ini hilang karena telah diusir dari kerjaan.


“ Bagaimana bisa?! tadi aku memberi kepada dayang pengasuh?..” mata indah Charlotte membulat, jantungnya serasa ditusuk, berjuta keheranan dan ketakutan menggelayut di pikirannya..


“ Apa kau heran adik cantikku?..hahahaha…aku tidak bodoh, seperti biasanya otak licikku selalu bekerja. Apa kau menitipkan bayi mungil ini pada dayang pengasuh? Apa kau mengenal pengasuh itu? apa kau tidak curiga bahwa dia adalah bawahanku?.., KENAPA KAU BEGITU MUDAH MEMPERCAYAI ORANG BARU CHARLOTTE?!..” nada terakhir pria itu meninggi dan berubah marah.


“ AKU YANG SEHARUSNYA ADA DISINI MENGGANTIKAN AYAH! BUKAN ORANG ASING YANG BAHKAN TIDAK ADA KETURUNAN RAJA! “ kemarahan Vier membuat bayi di dekapannya itu menangis kencang.

__ADS_1


“ Vier, tolonglah..jangan kau sakiti anakku.., apapun yang kau minta akan ku turuti, tapi tolong kembalikan bayiku..” dari atas Charlotte mulai menangis, memohon pada kakaknya.


“ Yah, itulah kelemahan seorang ibu…aku akan mengembalikan bayi ini padamu, tapi izinkan aku dan pasukanku masuk! “


Akhirnya dengan berat hati Charlotte mengizinkan mereka memasuki kastil. Ryon yang menyusul Charlotte ke atas tidak tahu harus berbuat apa, dengan bayi pangeran yang berada di tangan musuhnya.


“ Apa tidak masalah membiarkan mereka masuk putri?! “ tanya Ryon pada Charlotte.


“ Aku tidak punya pilihan Ryon, keselamatan bayiku adalah yang utama “ jawab Charlotte sambil buru-buru menuju kebawah kastil.


Bayi mungil yang ada di tangan Vier menjadi sandera untuk mereka memasuki kastil.


Seluruh pasukan kastil di tawan dan tidak bisa berkutik karena bayi Ratu mereka tengah berada di tangan Vier, begitu juga para petinggi kerajaan yang ada disana tidak dapat melakukan apa-apa karena takut terjadi sesuatu pada pangeran kecil itu, dan para pasukan Vier dengan bebas memasuki istana.


Vier memberikan bayi itu kepada salah satu pasukannya, dan pria itu mencari Charlotte.


Pria bertubuh tegap itu memasuki lorong kastil, lalu memasuki sebuah pintu besar, ia memasuki aula istana.


“ Adik, apa kau bersembunyi? apa kau tidak ingin bayimu kembali padamu?” Vier berkata dengan nada mengintimidasi.


Pria itu melangkah perlahan di aula istana, pandangannya mengeliling ke seluruh ruangan, dan ia terus melangkah perlahan menuju sisi ruangan yang ada di sana.


Ternyata disana telah berdiri Ryon seorang diri dengan pedang di tangannya yang mengarah ke Vier.


“ Aaahh..ya..tentu saja..pengawal pribadi adikku yang setia.., maaf tapi aku tidak ada urusan denganmu! “ Vier mengisyaratkan sepuluh prajuritnya untuk menyerang Ryon.


Ryon bertarung melawan sepuluh prajurit, dengan luka kemarin yang belum pulih, kini harus ditambah dengan serangan dari sepuluh orang di hadapannya.


Vier hanya melihat dengan tangan terlipat di dadanya.


Ryon sudah tersungkur dengan luka yang serius di sekujur tubuhnya, tapi ia masih tetap berusaha melawan dengan kondisinya yang sangat lemah.


Ia berusaha menangkis semua sabetan pedang musuhnya yang datang kearahnya silih berganti, tapi sepertinya Ryon tak lagi kuat menahan serangan yang bertubi-tubi, pria itu terkulai di lantai.


Tiba-tiba...

__ADS_1


“ Cukup! Hentikan Vier! “ suara Charlotte spontan membuat Vier menoleh kearah suara berasal.


Akhirnya dari balik pintu yang besar yang berada di sisi belakang aula, Charlotte keluar dengan ketakutan yang menyebar keseluruh tubuhnya.


__ADS_2