Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 72 - MERANGKUL SUKU ABYEE DAN SANG NAGA


__ADS_3

“ Hey! Aku tahu naga ini..dia adalah naga Fernyige (naga hitam yang merupakan penguasa naga) , dia adalah penguasa para naga. Aku telah membacanya dalam kitab kuno berkali-kali, yah dia adalah penguasa para naga!” seorang penasehat paruh baya berteriak ketika melihat penampilan Wyen secara utuh.


“ Fernyige, penguasa para naga ? Benarkah? “ sahut Jendral.


“ Ya, yang mulia..semua ciri-cirinya sama persis yang aku lihat di kitab kuno. Aku pikir dia hanya mitos…ini sungguh sebuah kebetulan atau sebuah keberuntungan yang mulia!” sahut si penasehat semangat.


Jendral menghampiri naga hitam tersebut, lalu mengusap ujung hidungnya yang besar. Ia seperti sangat penurut di tangan Jendral.


“ Ini bukan suatu kebetulan atau keberuntungan, ini adalah bagian dari jalan kita“ gumam Jendral sambil mengelus Wyen hitam di depannya.


Naga besar itu mulai menarik nafas dan menggerakkan hidungnya. Kepalanya diangkat sedikit, seolah ingin menyemburkan sesuatu.


“ Awas! Dia akan menyemburkan api! “ teriak Daby.


Spontan semua yang ada di sekitar Wyen berlari menjauh, tetapi Jendral masih tetap di depan hidungnya, Gardden cepat-cepat menarik Jendral lalu menghindar menjauh dari sang naga, sampai-sampai mereka hampir tersungkur ke tanah.


‘ CCYYUUU!!’….


Suaranya menggelegar…


Naga besar itu ternyata hanya bersin, namun ada sedikit api yang keluar dari mulutnya, hingga semburan api tersebut membuat dedaunan pohon ek yang ada disekitarnya ikut terbakar, juga semak dan rerumputan ikut terbakar dan menyisakan hangus berasap.


Semua yang menyaksikan terheran sekaligus tertawa. Ada beberapa dari mereka yang sibuk memadamkan api, tetapi ada juga yang masih tertawa dengan kelakuan naga besar tersebut.


Jendral menghampirinya lagi, dan mendekatkan kepalanya…

__ADS_1


“ Hey naga hitam, ikutlah dengan kami, aku akan merawatmu dengan baik “ kali ini Jendral meletakaan kedua telapak tangannya di ujung hidung makhluk besar itu, kemudian menempelkan keningnya hingga sangat dekat dengan sang naga.


Perkataan Jendral membuat naga tersebut memejamkan matanya, seolah dia mengiyakan ajakan Jendral.


“ Pak tua, apa naga ini memang hadiah untuk kami? “ tanya Jendral pada kepala suku di sampingnya.


“ Ya, memang kami akan memberi tuan yang agung, Wyen sebagai hadiah..mohon terimalah tuan “ sahut orang tua itu.


“ Terimakasih, aku terima hadiah kalian yang sangat berharga ini, aku sangat senang… “ jawab Jendral sambil masih memandangi naga besar hitam di depannya.


“ Kami sangat bahagia jika bisa membuat anda senang “ sahut si orang tua.


Akhirnya mereka meninggalkan Wyen sementara di tengah hutan di depan gua. Karena mereka akan kembali ke lumbung dan bermalam disana, dan melanjutkan perjalanan kembali ke suku Raw esok paginya.


Malam mulai meninggi, angin berhembus menebar di sekitar desa dan udara agak lembab.


“ Apa kalian bersedia untuk menjadi pasukan kami? “ tanya Jendral pada penduduk di sana dan pak tua kepala suku.


“ Kami sangat suka berperang, aku akan ikut! “ salah satu dari mereka sangat bersemangat menyambut ajakan Jendral.


“ Bagaimana denganmu Daby? “ tanya Jendral seraya menoleh kearah Daby.


“ Bolehkah aku bergabung ayah? Aku sangat ingin mengikuti perjalanan bersama tuan Mohywe “ wajah Daby menyiratkan harapan kepada ayahnya agar diizinkan ikut bersama Jendral.


“ Hmm, ya..tentu saja..semua yang mengikuti perjalanan bersama Mohywe pastilah akan menempuh jalan terhebat “ sahut orang tua kepala suku tersebut.

__ADS_1


“ Baiklah, kalian yang ingin bergabung dengan kami bisa ikut ke suku Raw kemudian kita akan kembali ke kastil “ sahut Jendral.


Akhirnya ketika pagi mulai muncul dan sinarnya menyebar ke penjuru hutan. Jendral beserta rombongan dan para prajurit suku Abyee ikut serta dalam perjalanan menuju suku Raw.


Jendral meminta izin kepada kepala suku untuk membawa Wyen ikut, tetapi dia masih bingung bagaimana caranya membawa Wyen, sedangkan naga itu belum bisa terbang dengan sempurna karena sayapnya yang kaku terlalu lama tidak dipakai untuk terbang.


Akhirnya kepala suku memberi saran agar Wyen sementara di suku Abyee sampai ia bisa memulihkan sayapnya, barulah kemudian Wyen di bawa ke kastil untuk di serahkan pada Jendral.


Jendral menyetujuinya, dan ia menemui Wyen untuk berpamitan sementara.


“ Naga hitam, aku akan menuju suku Raw, aku ingin membawamu tapi karena kondisi sayapmu yang belum bisa terbang dengan sempurna, maka aku akan menitipkanmu sementara di suku ini. Kau baik-baiklah…aku akan menjemputmu nanti “ Jendral berbicara seolah naga tersebut mengerti apa yang ia bicarakan. Ia mengelus sang naga kemudian meninggalkannya di depan gua.


Perjalanan ke suku Raw tidak terlalu jauh, hanya perlu setengah hari perjalanan melewati bukit kecil dan hutan.


Di tengah perjalanan salah seorang rombongan melihat keatas dan berteriak…


“ Hey! Lihat!...itu Wyen..dia sudah bisa terbang!!” sahutnya sambil menunjuk kearah atas.


Sontak semua melihat kearah atas dan benar saja, di hamparan udara yang luas Wyen sang naga yang gagah terbang diatas mereka. Ia berputar-putar seolah menunggu mereka berjalan.


Jendral yang melihatnya tidak dapat berkata-kata, ia sangat gembira dan terus menatap Wyen dengan senyum lebar.


“ Dia sangat gagah bukan? “ sahut Gardden diatas kudanya pada Jendral.


“ Yah, sangat gagah…” Jendral yang masih menatap Wyen seolah tidak percaya dengan peliharaan barunya yang mencengangkan.

__ADS_1


Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju suku Raw diikuti naga yang terbang di atas mereka.


__ADS_2