
Tapi ia langsung tersadar, bahwa Razel adalah pelayan milik istrinya. Akhirnya Jendral melepaskan pegangannya, dan berdiri kemudian menjauh.
“ Ehm!, Ah.., kamu tidak apa-apa? “ tanya Jendral yang kikuk antara ingin menolongnya berdiri tapi tidak enak hati.
“ Duhh,..iya,..iya tu-an,..aku tidak apa-apa “ jawab Razel yang masih duduk di lantai menjawab dengan sedikit meringis menutupi rasa nyerinya dan memegang bokongnya yang sakit karena terbentur lantai.
“ Perlu aku bantu berdiri? “ tangan Jendral mengulur di depan Razel untuk membantunya berdiri.
“ Ah, tidak apa tuan, aku masih bisa bangun sendiri..”Razel berusaha bangkit dengan menopang tubuhnya di kursi kecil yang sudah miring karena jatuh.
“ Hm, sedang apa kamu di kamarku? Tanya jendral yang padahal ia tahu Razel pasti sedang membersihkan kamarnya.
“ Aku diminta nyonya Merlin membersihkan kamar tuan, juga mengganti gorden. Maaf tuan aku telah lancang berdiri di kursimu..” Razel berusaha berdiri sempurna dengan tangan didepan menyatu dan wajah menunduk, walaupun wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya akibat terjatuh.
“ Hm, tidak apa. Baiklah, lain kali hati-hati, lalu beristirahatlah..“ Jendral meninggalkan Razel yang masih menahan sakitnya, andai saja itu adalah Merlin mungkin Jendral sudah memapahnya dan membawanya ke tempat tidur untuk beristirahat.
Di atas benteng, Jendral dan Gardden berdiri bersebelahan dengan menopang tangannya di tembok benteng. Mereka berdiskusi, bercengkrama dan membahas keseharian mereka seperti biasa.
Gardeen yang sedari tadi berbicara tentang rencananya membuat kebun, menjual ternak, dan hal ringan lainnya, seketika terhenti bicara ketika menoleh kearah sahabatnya yang seolah tidak memperhatikannya berbicara.
Ia menyusuri arah pandang Jendral yang ternyata sedang memandang dua orang wanita yang tengah berkebun bersama. Disana terdapat Merlin dan Razel di sampingnya.
“ Hey, siapa yang kau perhatikan? Istrimu atau gadis di sebelahnya? “ tanya Gardden sambil menyikut lengan kawan disampingnya yang membuat Jendral tersadar dari lamunannya.
“ Ha?..tidak. aku tak memperhatikan siapapun “ jawab Jendral seadanya.
“ Kau tidak bisa membodohiku kawan..apa kau mulai tertarik dengan gadis pelayan itu?..siapa namanya?..Ra..Razuel..” Gardden mendekatkan kepalanya kearah Jendral.
__ADS_1
“ Razel!, dasar bodoh! “
“ Ah ya,…Razel, apa kau tertarik dengannya yang mulia?, hmm dia lumayan cantik“ seperti biasa Gardden mulai menggoda Jendral.
“ Diam kau! otot besar. Lalu bagaimana rencanamu tadi? “ Jendral mengalihkan pembicaraan.
“ Rencana yang mana? Aku sudah lupa..” jawab Gardden ringan.
“ Hei Luzen, terkadang aku heran denganmu, ketika ada wanita terhormat yang suka padamu, yang semua lelaki tergila-gila padanya, tapi sikapmu biasa saja kepada wanita itu. Tetapi ketika ada seorang wanita yang derajatnya justru rendah, kau malah tertarik dengannya, bukankah itu aneh?“ ujar Gardden.
“ Apanya yang aneh?... ketertarikan seseorang bukan ditentukan dengan banyaknya laki-laki yang menyukainya juga terhormat atau tidaknya, tetapi pada apa yang menyebabkan dia menjadi menarik, kau tidak bisa menentukannya hanya dari satu sisi”
Gardden mengerutkan dahinya.
‘ Akh! Sudahlah..Bahasamu selalu saja membuatku pusing, sulit dimengerti! “ Gardden mengibaskan tangannya.
“ Yah, wajar saja, dia mengurus dua anakmu bukan? Ujar Gardden.
“ Iya, tetapi ketika aku di sisinya seharusnya dia bisa menyerahkan anakku kepada pengasuh untuk sementara “
“ Sabarlah Luzen, mungkin kau hanya perlu lebih banyak mengobrol dan berdiskusi dengannya, jangan terus menerus membahas perang dengan para prajurit “
“ Yah, mungkin ada benarnya “ akhirnya Jendral menerima saran Gardden.
Hari peperangan hanya tinggal dua pekan lagi. Musim dingin telah memasuki cuaca di desa itu.
Semua sibuk menyiapkan stok makanan di lumbung untuk musim dingin yang sebentar lagi akan tiba.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat seorang gadis cantik berambut hitam membawa tumpukan gandum untuk di bawa ke lumbung, ia melewati ruang pembuatan senjata.
Di depan pintu ruang pembuatan senjata yang sedikit terbuka, Razel si gadis terhenti dari langkahnya. Ia masih memeluk tumpukan batang gandum yang akan di bawanya ke lumbung.
Gadis itu memperhatikan pengrajin besi dan penempa pedang sedang bekerja di ruang yang terlihat memerah terkena pantulan cahaya dari api pembakaran besi.
“ Hoy nona kecil, ada perlu apa kau berdiri disana?! “ teriak seorang penempa besi yang berbadan besar, berotot dan berkeringat.
“ Ah, aku..tidak ada “ Razel langsung berlalu dari tempat itu dan cepat-cepat menuju ke lumbung.
Di dalam lubung penyimpanan makanan dan gandum, Razel menyusun tumpukan gandum yang nanti akan di masukan kedalam karung anyaman.
Ketika gadis itu berbalik badan, ia sangat terkejut dengan kehadiran pria berbadan besar dan berotot di hadapannya yang dilihatnya tadi di ruang penempaan besi.
Saking terkejutnya, Razel sampai mundur menimpa tumpukan gandum yang telah disusunnya.
“ Aaah, paman..a-ada apa ? “ tanya Razel yang masih sedikit kaget dengan kehadiran pria itu yang tiba-tiba.
“ Aku hanya ingin memberimu ini, kau menjatuhkannya tadi “ pria berbadan besar itu memberi seikat gandum yang jatuh di depan pintu ruang penempaan.
“ Huufft…aku kira ada apa “ Razel menghela nafas panjang, seolah lega.
“ Baiklah, aku kembali dulu nona “ jawab pria itu.
“ Eee, paman, sebentar..” Razel langsung memanggil kembali pria berbadan besar. Seketika pria itu menoleh.
“ Ada apa lagi nona? “
__ADS_1
“ Apa kau bisa membantuku?..membuatkan sebuah senjata “ Razel dengan ragu-ragu bertanya pada pria di depannya