Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 76 - BUDAK WANITA BERNAMA RAZEL


__ADS_3

“ Kau mengenalnya Merlin? “ tanya Jendral penuh tanda tanya.


“ Yah, aku pernah bertemu dengannya tuan ketika di pusat kota, pengawal kerajaan mendorongnya hingga jatuh“ jelas Merlin sembari merangkul gadis itu.


“ Siapa namamu? “ tanya istri Jendral Luzen itu.


“ Aku Razel..” bibir mungil gadis itu menyebutkan sebuah nama dengan masih menahan sedikit tangisnya.


“ Razel,..baiklah, sekarang kau adalah milik kami, mari kita pulang “ tukas Merlin.


Akhirnya mereka membawanya pulang dan menaiki kereta karavan.


Merlin duduk bersebelahan dengan suaminya, Jendral Luzen, sedangkan Razel, gadis berambut hitam pekat, duduk di hadapan mereka.


Di kereta karavan, Jendral sempat melihat kearah gadis itu, dan sedikit terpesona, mengingat ketika pertama kali ia melihat Merlin, muda, polos dan cantik.


Tatapan Jendral sempat di tangkap oleh mata jernih berwarna hitam milik Razel, tetapi gadis itu cepat-cepat menunduk tidak berani menatap Jendral.


“ Razel, kenapa kau bisa dijual menjadi budak? “ tanya Merlin memecah suasana hening di kereta karavan.


“ Waktu itu aku bersama ayahku sudah berkemas dan ingin pindah ke benteng Drake, kami memutuskan untuk pindah, karena di Hazmut pajaknya sangat tinggi dan banyak petinggi kerajaan yang serakah dan sering semena- mena pada rakyat.


Tetapi ketika aku hendak berangkat, seseorang mengetahui rencana kami dan melaporkannya ke pihak kerajaan.


Aku disuruh lari sejauh-jauhnya oleh ayah, sehingga ayahku di tangkap, aku menyaksikannya sendiri dari kejauhan, ia dipukuli dan di paksa menjadi prajurit Hazmut, dan ditempat yang berbeda aku ditangkap oleh bandit, kemudian bandit menyerahkanku ke pedagang budak dengan meminta bayaran yang tinggi “


“ Kau ingin ke benteng Drake? “ kali ini Jendral membuka suara.


“Iya tuan, karena memang yang aku dengar disana sangat makmur, pemimpinnya sangat bijaksana dan telah berhasil menaklukan pasukan Zeron “ Razel menunduk tidak menatap Jendral ketika ia berbicara.


Jendral hanya tersenyum dan menoleh ke istrinya.


“ Sial sekali nasibmu Razel, berati ayahmu sekarang masih di Hazmut? “ tanya Merlin kembali.

__ADS_1


“ Iya, aku berpisah dari ayahku “ sahut Razel lirih.


Jendral membisikkan sesuatu ke Merlin.


“ Razel, kami akan membebaskanmu dari statusmu sebagai budak, sekarang kau bebas, kau boleh memilih untuk tinggal dimanapun, tapi aku harap kau bisa tinggal bersama kami di benteng Drake “ sahut Merlin.


“ Tapi nyonya, aku sudah berjanji pada diriku sendiri, siapapun yang membebaskan aku dari kurungan di pasar budak dan ia memperlakukanku dengan baik, maka aku akan menjadi pelayanannya yang setia. Jadi nyonya, dan tuan…biarkan aku tetap menjadi pelayan setia kalian, kalian tidak perlu membebaskan aku dari status budakku.. “ ujar Razel dengan sedikit memohon.


Merlin dan Jendral saling melempar pandangan. Mereka justru bingung dengan keputusan Razel.


“ Tapi, apa kau tidak ingin menjadi orang bebas Razel? “ tanya Merlin sedikit masih heran.


“ Tidak apa nyonya, aku ingin mengabdi pada seseorang yang telah menolongku, aku ingin menjadi pelayan saja, lagipula aku sudah tidak memiliki tempat untuk pulang “ tukas Razel.


“ Um, yah..baiklah jika itu kemauanmu..” sahut Merlin.


Akhirnya mereka sampai di benteng Drake.


Ketika turun dari kereta karavan, Merlin mendekati Razel. Sementara Jendral menemui Ghosse dan berlalu kearah aula benteng.


“ Belum nyonya “


“ Dia tadi berada di hadapanmu, dan aku adalah istrinya “ Merlin tersenyum pada Razel.


“ Ha?..jadi tadi itu tuan Luzen? Dan nyonya adalah nyonya Merlin?..benarkah?..” wajah polos Razel seperti anak-anak yang baru bertemu idolanya.


“ Ya. Ayo Razel, aku antar kau ke kamarmu “ Merlin merangkul Razel dan meninggalkan halaman benteng.


Lima hari berselang kemudian. Merlin terus memantau Razel, gadis itu sangat rajin, cekatan dan kuat, tidak mudah lelah. Merlin semakin bersimpati padanya.


Di depan kebun anggur, Razel menemui Merlin yang sedang menyemai biji anggur.


“ Nyonya, aku sudah membereskan rak obat-obatan, menyapu lantai aula dan menjemur sprei anak-anak, apa lagi yang harus ku kerjakan nyonya?..apa aku bantu menyemai biji anggur? “ Razel melapor dengan sopan sambil kedua tangannya yang disatukan berada di depan.

__ADS_1


“ Ah, kerjamu cepat sekali Razel, sepertinya satu dirimu setara dengan dua pekerja,..” tawa kecil Merlin membuat pipi Razel yang kemerahan menyembul menahan senyumnya.


“ Baiklah, kau tolong bersihkanlah kamarku, karena bibi yang biasa membersihkan sedang tidak enak badan, oya tolong ganti gordennya sekalian ya, dan setelah itu istirahatlah “ perintah Merlin.


“ Baik nyonya “ Razel sedikit menunduk dan kemudian berlalu mengambil peralatan untuk membersihkan kamar Merlin.


Razel menuju kamar Jendral dan Merlin. Ia membuka perlahan pintu kayu kamar. Kemudian mulai membersihkan ruangan itu.


Mulai dari menyapu lantai, membersihkan meja dari debu, mengelap cermin dan mulai mengganti gorden.


Ia mengibaskan gorden yang terbuka setengah, ia bersin-bersin karena debu yang berterbangan dari gorden tersebut.


‘ Ternyata memang sudah harus diganti ‘ gumam Razel di batinnya.


Razel menyeret kursi kecil yang ada di sebelah meja dan menaikinya, karena tubuhnya tidak sampai untuk menjangkau atas gorden yang cukup tinggi.


Gadis itu mulai memasang gorden bermotif bunga kecil berwarna merah marun.


Di sela pintu yang terbuka sedikit, Jendral yang melewati kamarnya tak sengaja menoleh kearah gadis itu, seketika itu ia kaget dengan kehadiran Razel di kamarnya.


‘ Apa yang dia lakukan di kamarku? ‘ gumam Jendral, dan ingin segera menegurnya.


Tetapi langkahnya terhenti sejenak ketika jemarinya belum sempat menyentuh pintu yang memang telah terbuka, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpesona.


Razel, gadis itu menggulung rambutnya yang hitam, menyisakan helaian rambut yang menari di sisi keningnya dan tengkuknya di terpa angin dari jendela , dengan bibir yang mungil dan kemerahan, juga matanya yang indah dengan bulu mata yang melengkung sempurna dari arah samping, wajahnya di terpa cahaya keemasan berasal dari balik jendela melukiskan siluet yang begitu sempurna.


Beberapa saat Jendral diam membatu dengan pemandangan di depan matanya. Seolah ia lupa akan maksudnya untuk menegur Razel yang berada di kamarnya.


Seketika itu Razel tak sengaja menoleh kearah Jendral yang sedang memperhatikannya dari sela pintu yang terbuka, dan gadis itu terkejut bukan main, hingga tubuhnya tak seimbang karena kaget, kemudian ia jatuh dari kursi kecil yang di pijaknya…


“ Aaa!! “…


BUUK!!...

__ADS_1


Jendral spontan masuk ke kamar dan hendak menolongnya, tanpa pikir lagi pria itu berlari mendekat kearah Razel dan membungkuk, ia memegang lengan dan pinggang ramping gadis itu untuk menolongnya berdiri.


__ADS_2