
“ Ba…baik tuan“… Razel dengan sedikit tegang perlahan akan membuka pakaiannya.
“ Siapa yang menyuruhmu membuka pakaian? aku hanya ingin mandi air hangat, siapkanlah..” Jendral menyadari ketakutan di wajah Razel, ia senang menggoda budak barunya itu.
“ Ha?..ahh, mandi?..baik tuan “ gadis itu langsung menutup lagi pakaiannya yang baru terbuka sebatas bahu.
Pipinya yang kemerahan bertambah terlihat merah menahan malu.
Razel terlihat sedikit lega tapi juga malu, ternyata tuannya hanya meminta air hangat untuk mandi.
“ Baik tuan, akan ku siapkan bejana besar “ Razel dengan cepat keluar kamar dan menyiapkan segala sesuatunya untuk tuannya mandi.
Tak lama berselang, Razel kembali, dan memberitahu Jendral bahwa bejana air hangatnya sudah siap.
Kemudian Jendral hendak melangkah menuju ketempat pemandian dan keluar kamarnya.
“ Hey, kenapa kau masih berdiri disana? Kau pelayanku bukan? Ayo ikut denganku!“ perintah Jendral kembali yang melihat Razel masih berdiri.
“ Ah, ya baik tuan “ Razel seolah kikuk, lalu mengikuti langkah Jendral.
Di ruang pemandian, Jendral berdiri di depan Razel. Pria itu merentangkan kedua tangannya sedikit di depan gadis polos itu.
“ Ayo bukakan pakaianku! “
Razel lagi-lagi terkejut dengan perintah tuannya, tetapi ia harus melayaninya.
Dengan perlahan Razel maju melangkah mendekati pria itu, kemudian ia mulai membuka tali atas pakaian tuannya.
Jendral menatapnya dengan senyum di sudut bibir, ia melihat tangan Razel yang sedikit bergetar ketika membuka kancing pakaiannya, hingga dada pria itu terlihat. Kemudian Jendral memegang tangan Razel yang bergetar, pria itu tertawa kecil dan spontan Razel melirik ke wajah tuannya.
“ Sudahlah, biar aku melakukannya sendiri “ gumam Jendral yang merasa iba dengan gadis di hadapannya.
__ADS_1
Kemudian Jendral masuk kedalam bejana besar yang berisi air hangat.
“ Ah, hangatnya..” gumam Jendral yang setengah tubuhnya telah terendam air. Kedua tangannya ia rentangkan di bibir bejana.
Pria itu memberikan sebuah sikat lembut pada Razel.
“ Sikatlah punggungku” perintahnya.
“ Baik tuan..”
Razel dengan sigap menyikat punggung tuannya yang tegap dan gagah. Dari sisi yang berlawanan pria itu tersenyum melihat ketegangan di sikap Razel, ia seperti menikmati kejahilan dirinya pada Razel.
Gadis itu sangat baik melayani tuannya. Semua yang diperintahkan Jendral tidak ada satupun yang di bantah.
Sampai kemudian mereka kembali ke kamar…
Cahaya sedikit redup menyelimuti suasana kamar Jendral.
“ Naiklah ke ranjang “ ujar Jendral yang juga hendak menaiki ranjangnya.
Gadis itu kemudian diam dan menunduk seperti biasanya di atas ranjang.
Jendral menyentuh dagunya, dan menolehkan wajah Razel untuk menatapnya.
“ Hey, gadis kunai, kenapa kau tidak berani menatap wajahku? “ tanya Jendral menatap gadis di sampingnya dengan kepala agak di miringkan karena wajah Razel yang tadi menunduk.
“ Gadis kunai? “ Razel mengangkat alisnya yang hitam seperti benang sulaman tebal.
“ A.. aku tak berani menatapmu tuan..” tapi justru kini Razel menatap wajah tuannya.
“ Mulai sekarang kau harus sering menatapku, karena kau akan sering berada di sisiku “
__ADS_1
“ Iya tuan “ Razel lagi-lagi menunduk, dan hanya melirik kearah Jendral.
‘ Kau persis seperti Merlin, polos dan seperti anak kecil ’ gumam Jendral di batinnya.
“ Apa kau rela menyerahkan segalanya padaku sebagai pelayanku yang setia? “
“ Emm, I-iya tuan..” jawab Razel sedikit gugup.
“ Kau yakin? “ Jendral kembali memastikan.
“ Iya tuan, aku yakin “
“ Apa kau memiliki seseorang yang kau cintai? Kekasih misalnya? “ tanya pria itu kembali.
“ Ah, tidak tuan, aku tidak memiliki kekasih “
“ Hm,..baiklah, medekatlah padaku.. “perintah tuan gadis cantik itu.
Razel dengan masih menyimpan malu, perlahan mendekat kearah pria yang berada di ranjang yang sama. Tetapi masih ada jarak diantara mereka.
“ Mendekatlah lagi..” perintah pria berwajah tegas itu sambil menatapnya.
Razel mendekatkan tubuhnya kembali, dan kali ini kulitnya hampir menyentuh kulit tuannya.
Jendral menatap gadis di sampingnya, menikmati detail keindahan wajah Razel, Ia mengelus rambut Razel dekat telinganya, kemudian pria itu menyentuh pipi Razel dengan perlahan dan memiringkan wajahnya sedikit, lalu mendekat ke wajah ke gadis itu. Razel hanya pasrah sembari memejamkan matanya.
Kali ini Ia berhasil mencium bibir mungil Razel, setelah beberapa saat, kemudian pria itu menyingkap perlahan apa yang menghalangi tubuh gadis itu. Perlahan pria gagah itu menuntun gadis yang telah dikuasainya merebah di ranjang miliknya.
Tidak ada paksaan, tidak ada perlawanan…yang ada hanya lentera dan cahaya redup menerangi sisi ruangan yang menjadi saksi kesetiaan mutlak seorang budak dan hasrat cinta seorang tuannya.
Dalam udara dingin yang merayap melalui celah kamar, dua perasaan saling bergejolak beriring tanpa suara.
__ADS_1
Hasrat yang kemarin tak terselesaikan akan terbayar di malam itu.
Malam itu Razel menyerahkan segalanya untuk tuannya. Semenjak itu Razel bersumpah akan menjadi pelayan setia Jendral Luzen.