
Bangunan sudah mulai terbentuk sedikit demi sedikit. Mereka membutuhkan koin perak dan emas untuk membeli bahan-bahan yang belum ada.
Beberapa dari mereka membantu Merlin berjualan di pusat kota menjual obat herbal. Ada juga yang menjadi pekerja kasar, atau sekedar menjadi pengangkut barang di pasar.
Sebagian lagi ada yang bekerja sebagai pengawal bayaran di tempat si wanita bangsawan tempo hari.
Jendral tidak diizinkan mereka untuk keluar dari desa untuk sementara waktu, karena khawatir ada yang mengenalinya.
Musim semi yang indah, cuaca sudah mulai hangat bersahabat.
Genap lima bulan mereka membangun desa, sekarang sudah mulai terbentuk bangunan yang lumayan kokoh, bentengnya terbuat dari beton bertulang, dan batu.
Gerbang utama dibuat besar dan kokoh, terbuat dari kayu tebal berlapis, juga bangunan dalam yang sudah rapih di beberapa sisi. Masih banyak yang harus dibenahi, tapi untuk saat ini desa mereka sudah layak untuk dijadikan tempat tinggal.
Akhirnya desa itu resmi menjadi tempat tinggal lima belas orang pria dan satu orang gadis, di tambah beberapa serigala di sekitaran desa.
Menjelang sore, Merlin sudah pulang kembali ke desa, ia di temani Ghose, pria bertubuh gemuk yang periang.
Ghose mengurus kereta kudanya dan Merlin membawa obat-obatan ke dalam ruangan obat.
Ketika membuka pintu kayu, Merlin tiba-tiba berteriak kaget dan menutup matanya dengan kedua telapak tangan.
__ADS_1
Spontan beberapa pria yang berjarak dekat dengan Merlin segera menghampirinya. Jendral yang berdiri membuka bajunya di dalam ruangan di balik kursi kayu tiba-tiba menoleh keheranan.
“ Ada apa nona?” tanya salah satu pria agak panik.
“ Kenapa Jendral melepaskan baju diruangan ini?” Merlin menjawab dengan sedikit berteriak sambil masih menutup wajahnya.
Jendral yang masih kebingungan melangkah maju ke arah Merlin, tapi Merlin masih menutup matanya. Kawan-kawannya menghela nafas dan tersenyum.
“ Nona, Jendral hanya melepas bajunya, tapi dia memakai celana, apa kau pikir dia telanjang?” salah satu pria tertawa ringan dengan kelakuan Merlin.
“ Iya tapi aku malu melihatnya, apa jendral sudah pergi?” tanya Merlin yang masih menutup matanya dengan tangan.
“ Apa kau ingin Jendral pergi? “ Jendral Luzen bersuara.
Merlin kembali menutup matanya dan berlari.
Pria yang ada disana terpingkal-pingkal melihat tingkah kekanakan Merlin yang polos.
“ Dasar bocah polos“ ujar jendral sambil tersenyum dengan sudut bibirnya.
Malam hari, ketika hampir semua pria beristirahat,
__ADS_1
“ Aku harus keluar Gard, aku harus ke pusat kota, aku akan mencari pekerjaan disana” Jendral yang duduk di dekat timbunan kayu di depan ruang kamar, berkata pada Gardden sahabatnya.
“ Tapi itu beresiko Luzen, kau bisa dikenali. Walaupun kerajaan Hazmut yang paling jauh dari tiga kerajaan lainnya, tapi tetap ada saja pendatang yang singgah di kerajaan itu “
“ Tapi aku ingin membeli kuda Gerd, aku harus memiliki koin“ jendral menyampaikan keinginannya.
“ Sabarlah sedikit, kami juga menginginkan kuda, tapi itu sesuatu yang mahal “
Jendral menundukan kepalanya agak kesal.
“ Aku tidak bisa melihat kalian lelah bekerja, sementara aku berdiam diri disini terus menerus ” jendral agak mengeraskan suaranya.
“ Terselah kaulah, jika memang kau keras kepala, sebaiknya kau tidak memperlihatkan wajahmu di pusat kota” Gardden berdiri dari duduknya dan meninggalkan jendral sendiri.
Jendral menyenderkan kepalanya ke dinding kayu di belakangnya, seolah bingung dengan keputusannya.
Di sisi belakang dinding kayu tempat jendral menyender, disana berdiri Merlin si gadis berambut pirang, mendengarkan percakapan jendral dan Gardden tanpa sengaja,
Merlin membuka genggaman telapak tangannya, ia menatap beberapa koin perak yang telah ia kumpulkan.
‘Andai saja uangku cukup untuk membeli seekor kuda untuk Jendral’ pikir Merlin dalam hati.
__ADS_1
‘ Apa sudah saatnya aku beritahu mereka tentang hal itu..’ Merlin membatin.
...**********...