
Pagi hari yang hangat, kicau burung sangat riuh terdengar di sekitaran hutan.
Jendral keluar dari kamarnya dan menjumpai teman-temannya yang bersikap agak berbeda, terlihat lebih semangat.
“ Hey, ada apa dengan kalian? pagi-pagi sudah tersenyum seperti ini? “ tanya Jendral yang masih sedikit menguap.
“ Yah, yang mulia, semalam ada yang datang menemani kami, awalnya kami bingung untuk menolak atau menerima, tetapi sepertinya sayang juga jika kami menolak mahluk menggemaskan seperti mereka..” beberapa rombongan tertawa dan merasa terhibur.
“ Akh kalian ini, selalu saja memanfaatkan situasi “ sahut Jendral sambil duduk di kayu panjang dan memegang secangkir minuman panas di genggamanya.
“ Bukan memanfaatkan yang mulia Luzen, tetapi aku pikir itu adalah salah satu pelayanan di tempat ini. Ngomong-ngomong apa kau menikmatinya?..berapa wanita yang datang ke kamarmu? “ tanya Gardden sambil merangkul sahabatnya itu, kalimat terakhir sedikit berbisik.
“ Aku tak melakukan apapun Gard “ jawab Jendral. Kemudian Jendral menoleh kearah wajah Gardden.
“ Jangan-jangan kau?..” Jendral mulai curiga.
“ Ah…aku.., hanya dua yang datang ke kamarku. Sudahlah kawan, jangan memasang wajah naif seperti itu..” seru Gardden. Tetapi Jendral masih menatap wajah Gardden.
“ Ya,.ya..baiklah, sepulang dari sini aku akan meminta maaf pada Violet “ tanpa suara dari Jendral, Gardden seolah menyadari sesuatu yang salah.
Jendral hanya menggeleng dengan kelakuan rekannya.
Jendral dan rombongan akhirnya bisa kembali ke kastil dengan membawa dua pasukan sekaligus.
Mereka semua kembali ke kastil Gozan Selatan. Pasukan pimpinan Daby dari suku Abyee, pasukan pimpinan Akai dari suku Raw juga Wyen sang naga hitam, ikut beserta rombongan Jendral menuju kastil Gozan Selatan.
Di kastil Gozan Selatan,
Sesampainya di kastil, mereka bergabung dengan pasukan yang lain.
__ADS_1
Dan di dalam aula, Jendral, para petinggi kerajaan, penasehat juga beberapa ahli perang kerajaan berdiskusi mengenai peperangan yang akan diadakan sebulan lagi.
Setelah diskusi selesai, Jendral keluar dan menemui Wyen si naga hitam yang berada di halaman kastil.
Seluruh pasukan yang melihat kehadiran naga tersebut tercengang dan seolah tidak percaya Raja mereka membawa seekor naga.
“ Hey, apa kabarmu?..Hm, baiklah mari kita bersihkan lumut yang ada di tubuhmu “ gumam Jendral pada Wyen.
“ Hey! Pasukan!, naga hitam ingin mandi..ambilkan ember dan sikat! “ perintah sang Raja di depan naga hitam miliknya.
Jendral dan beberapa pasukan, termasuk Daby ikut membersihkan kulit naga tertebut, membersihkannya dari lumut, memandikannya, hingga terlihat warna hitam yang mengkilat dan gagah.
Membersihkan tubuh naga membutuhkan waktu setengah hari dan pasukan yang cukup banyak, karena tubuhnya yang sangat besar.
Akhirnya mereka beristirahat. Tetapi tidak dengan Jendral, ia terus memikirkan strategi untuk peperangan nanti.
Jendral akan menyiapkan barak-barak pasukan di benteng Drake nantinya, membagi mereka kedalam kelompok-kelompok. Ia juga membagi dan membentuk komandan perang untuk masing-masing batalyon. Semua telah tersusun matang di kepalanya.
Sisa pasukan yang masih berada di Benua Hitam akan berangkat sepekan menjelang peperangan.
Di lautan perairan Oleic, tampak perahu-perahu milik Jendral berlayar gagah dengan bertambahnya awak kapal dan kapten di setiap kapal.
Di atasnya terbang mengikuti seekor naga hitam yang kini terlihat lebih segar dengan kulit hitam pekat dan berkilau di terpa cahaya mentari.
Di tanah Oleic, akhirnya mereka tiba dengan selamat.
Seluruh pasukan di bawa menuju Benteng Drake.
Di benteng Drake, seluruh Eldr berhamburan di udara ketika mereka melihat penampakan seekor naga.
__ADS_1
Penduduk benteng juga sempat tercengang dan takjub dengan kehadiran naga di tengah-tengah mereka, juga dengan kehadiran dua pasukan yang di bawa Jendral.
Jendral memasuki benteng, ia mencari Merlin, ternyata merlin sedang mengasuh pangeran Corrie dan si kecil Alpen di kamarnya.
Ketika pintu kamar dibuka perlahan oleh Jendral, ia melihat Merlin sedang menemani kedua putranya bermain di lantai kamar. Merlin langsung menoleh keraha pintu yang terbuka.
“ Ah tuan, kau sudah pulang? “ wajah Merlin sedikit kaget dan terlihat senang dengan kehadiran suaminya.
“ Hey, Apa kabarmu Merlin, dan anak-anakku? “ tanya Jendral pada Merlin dan langsung menggendong kedua anaknya.
“ Hey,..bagaimana kabar putra-putraku yang gagah? “ Jendral dengan tubuh tegapnya mampu menggendong kedua putranya sekaligus di lengan kanan dan kirinya.
Kedua putranya yang tampan meraih wajah ayahnya dan gembira berada di gendongan sang ayah.
Setelah beberapa saat mereka bercengkrama, Merlin memanggil pengasuh untuk membawanya ke kamar anak.
Jendral mendekati Merlin di pinggir ranjang.
“ Apa kau rindu padaku? “ tanya Jendral pada istrinya sambil jemarinya menyelipkan rambut istrinya di sela-sela telinga.
“ Ya, tentu saja tuan, aku sudah menunggumu..” jawab Merlin.
Ketika Jendral ingin melepas rindu pada istrinya, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar.
“ Siapa?! “ tanya jendral.
“ Maaf tuan, pangeran Corrie menangis terus, sepertinya ingin di temani nyonya Merlin, aku tidak bisa menanganinya tuan “ seorang wanita paruh baya berkata dari balik pintu.
“ Ah ya, baiklah bibi, aku segera kesana “ jawab Merlin dari dalam kamar.
__ADS_1
“ Maaf tuan, aku harus menenangkan Corrie, aku akan segera kembali “ Merlin mengecup pipi Jendral kemudian beranjak dan keluar kamar.
Jendral yang ditinggal sendiri hanya menghela nafas dan akhirnya berbaring dengan kaki menekuk kebawah.