Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 43 - TERSADAR


__ADS_3

Esok paginya mereka melanjutkan perjalanan mencari pemecah sihir, dan akhirnya mereka sampai ke tempat tabib penyihir yang diberitahukan oleh penyihir tua.


Mereka bertemu dengan tabib penyihir.


Mereka diberi pemecah sihir berupa dupa, bubuk sihir dan beberapa ramuan tumbuhan kering, mereka juga di beritahukan caranya menggunakan bahan-bahan tersebut.


Hari itu juga mereka melakukan perjalanan pulang ke benteng.


Hampir petang mereka sampai di benteng. Dumor telah menanti mereka di halaman benteng.


Akhirnya mereka melakukan ritual pemecahan sihir yang diajarkan oleh tabib penyihir, dan Merlin harus memberikan dupa sihir ke Jendral karena sihir yang diberikan wanita penyihir itu sedikit lebih kuat.


Jendral masih tertidur karena ramuan penenang racikan Merlin yang belum lama diberikan lagi oleh Dumor. Merlin menyalakan dupa didekat wajah Jendral, agar bau asapnya terhirup.


Malamnya, penduduk benteng tertidur lelap, begitu juga dengan Merlin dan Denzu yang agak letih karena perjalanan mereka.


Pagi hari, penduduk benteng terbangun dengan kepala yang sedikit pusing, mereka seolah tersadar dari mabuk, begitu juga Jendral yang sepertinya merasakan sedikit pusing dan seperti tersadar dari sesuatu.


Sarapan pagi seperti biasa sudah tertata rapih di meja panjang, mereka berkumpul disana, tapi satu yang tidak biasa, Merlin tidak ada di tempatnya.


Biasanya Merlin selalu ada di dekat meja kayu siap melayani para penghuni benteng untuk sarapan.


Yang lain menanyakan keberadaan Merlin, terutama Jendral.


Jendral yang melihat kehadiran Dumor dan pasukannya disana, langsung memeluk Dumor, ia bertanya apa yang terjadi, kemudian Dumor menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Denzu yang menghampiri Jendral, berbisik seperti mengatakan sesuatu. Wajah Jendral sontak berubah kaget.


Jendral langsung melangkah agak berlari keatas benteng, benar saja, ia mendapati Merlin yang sendirian, lengannya bertumpu pada tembok benteng, ia menatap rumah-rumah dan bangunan di bawahnya, dengan rambut perak indah yang tergerai di terpa angin.


“ Merlin..” suara lembut Jendral mengagetkan Merlin yang langsung menoleh ke belakang.


“ Tuan, kenapa kau tidak makan?” Merlin bertanya.


“ Kau sendiri, tidak biasanya di atas sini ketika sarapan “ Jendral melangkah mendekati Merlin.


Pria itu memegang pundak Merlin, perlahan membalik tubuh Merlin agar gadis itu menatapnya.


“ Merlin, aku- apa benar aku telah menamparmu? “ Jendral menatap wajah Merlin serius.


“ Merlin, yang kemarin itu bukanlah aku! Yakinlah…, aku tidak akan menyakitimu..bahkan terbesitpun tidak pernah untuk menyakitimu, Merlin, maafka-..”


Merlin langsung memeluk jendral dengan erat. Kepalanya tenggelam di dada jendral.


“ Itu bukan salahmu tuan, aku rindu anda yang seperti ini…” Air mata Merlin meleleh seketika.


Jendral memeluk Merlin dan mengecup kepalanya agak lama.


“ Aku tidak akan pernah menyakitimu…” Jendral mengulang lagi kata-katanya seolah ia sangat menyesal dengan dirinya yang kemarin.


“ Merlin, menikahlah denganku…jika memang kekuatanmu akan hilang aku tidak perduli, aku hanya ingin menikahimu sebagai seorang manusia biasa “

__ADS_1


Merlin yang masih memeluk Jendral tiba-tiba melepas pelukannya.


“ Ah ya, aku rasa kita bisa menikah tuan, tapi aku harap kau bisa bersabar menahan untuk tidak menyentuhku, maksudku…di ranjang, hingga perang dengan Gozan berakhir, maka kekuatanku masih bisa kumiliki, bagaimana tuan? ”


“ Apa bisa seperti itu?, kau bilang jika Eldr menikah dengan selain Eldr maka kekuatannya akan hilang? “


“ Ya, awalnya kufikir begitu tuan, tapi kemarin ketika bertemu tabib penyihir aku sempat menanyakan hal itu, dan ia memberitahuku bahwa yang menghilangkan kekuatan Eldr sebenarnya adalah ketika dua pasangan melakukan….emm…”


Merlin tampak malu-malu, ia menyentuhkan jemari telunjuk kanan dan kirinya menyatu, terlepas dan menyatu lagi, layaknya anak kecil.


Jendral menatap Merlin dengan serius.


“ Teruskan…” sahut Jendral.


“ Yah, kau pasti mengerti tuan, kenapa aku harus menjelaskannya..”


Hal itu membuat Jendral tertawa.


“ Kau masih saja seperti anak kecil Merlin, tapi itulah yang kusuka darimu. Ayolah makan, semua menunggumu..” Jendral mengusap keras atas kepala Merlin, hingga rambut gadis itu agak berantakan, kemudian Jendral kembali ke bawah.


“ Tuan!, kau bahkan belum menjawabku..” merlin menghela nafas yang masih berdiri dan ditinggal oleh Jendral ke bawah.


Di bawah, semua menjadi gaduh ketika Merlin kembali bersama mereka. Merlin tersenyum lega menyaksikan keadaan yang di rindukannya, teman-temannya telah kembali sadar, terbukti dengan suasana yang ricuh, ramai dan gaduh ketika para pria makan di mejanya.


...**********...

__ADS_1


__ADS_2