Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 28 - ORIS


__ADS_3

DI jalan menuju kerajaan Riguaria, Oris lagi-lagi bertingkah aneh. Wanita itu memeluk pinggang Jendral dengan erat.


Jendral terlihat sangat risih, sesekali ia melepaskan tangan wanita itu dari pinggangnya.


“ Kau mau aku jatuh tuan Jendral?” tanya Oris di dekat kuping Jendral.


“ Bukan begitu, tapi aku tak terbiasa berdekatan dengan wanita asing” jelas Jendral.


“ Emm, Berarti nona Merlin bukan wanita asing ya untukmu tuan?”


Jendral tak menjawab, hanya menoleh sedikit dan mengacuhkan perkataan Oris.


Perjalanan dari kerajaan benteng ke wilayah kerajaan Riguaria lumayan jauh. Perlu waktu beberapa hari perjalanan berkuda untuk sampai kesana.


Beberapa kali mereka berhenti karena tidak terlalu mengerti jalan yang dituju, tapi Oris selalu menunjukan jalannya.


Ditengah perjalanan, di sebuah wilayah perbatasan kota, belum masuk ke wilayah Riguaria, mereka terlihat lelah. Akhirnya diputuskan untuk beristirahat di kedai minuman di tengah kota.


Mereka memasuki kedai dan memesan minuman. Ziggo yang selalu mendekati Oris mencoba berbincang dengannya, tetapi Oris sesekali melihat Jendral yang sedang minum.


“ Akkhh....Minuman ini agak keras..aku belum pernah minum yang seperti ini..” Jendral mengatupkan keras bibirnya setelah minum setengah gelas minuman berwarna kuning keemasan.


“ Yah, katanya minuman ini yang terbaik di daerah sini Jendral” Leon menjelaskan, yang juga sudah meminum hampir segelas penuh.


Jendral meminta Ziggo untuk memesan kamar untuk mereka menginap malam itu.


Malam mulai pekat, mereka bermalam di kota itu.


Pagi yang cerah menyilaukan. Dari sela-sela gorden kamar penginapan membias cahaya matahari pagi.


Jendral membuka matanya perlahan, sepertinya ia tidur terlalu pulas, tapi sontak ia terperanjat kaget, mengapa ia berselimut dan bertelanjang dada…ketika menoleh kesampingnya Jendral dua kali tambah terkejut, disampingnya gadis berambut pirang tergerai tidur di ranjang yang sama dengannya.


“ Oris!!, kenapa kau ada disini?!!” teriakan kaget Jendral membangunkan Oris, gadis cantik yang juga tidur satu selimut dengan Jendral.


“ Tuan Jendral…?” Oris juga kaget dengan kondisinya, tubuhnya setengah tertutup selimut namun bahu dan punggungnya terlihat, sepertinya ia telah melepas pakaiannya.


“ Apa yang terjadi?” Jendral masih memandang Oris.


“ Kenapa kita bisa di ranjang yang sama?” tanya Jendral keheranan.

__ADS_1


“ Aku sendiri tidak tau tuan, tapi sepertinya kita minum terlalu banyak, jadi tak sadarkan diri..”


“ Ya tapi kenapa kau ada disini?!” Jendral mulai tidak sabar dan panik.


“ Aku juga tidak tahu..”Oris membela diri.


“ Apa kita..melakukan..Aarggh” Jendral meraup rambutnya.


“ Ini tidak mungkin..aku tidak mungkin melakukan itu..” Jendral bangkit dari ranjang dan cepat-cepat memakai bajunya.


“ Kau cepatlah berpakaian!..ini gila, ini tak mungkin, aku tak mungkin melakukannya..” Jendral terus saja menggerutu sambil merapihkan rompi kulitnya dengan buru-buru.


“ Tuan, bagaimana jika kita memang melakukannya?” tanya Oris yang masih terpaku di ranjang.


“ Tapi aku tidak merasa melakukan apapun padamu!” Jendral mulai geram.


“ Ya karena kau tidak sadar tuan!”


“ Ini gila! ” Jendral keluar kamar lalu menutup kembali pintu dengan keras.


Di luar Jendral terlihat bingung sekaligus marah. Dua temannya Ziggo dan Leon menanyakan kondisi Jendral.


“ Siapa diantara kalian berdua yang minum tidak terlalu banyak?” tanya Jendral sedikit berbisik.


“ Aku juga minum agak banyak, kepalaku juga agak pusing”


Tangan Jendral menepuk keningnya dan tangan satunya berdecak pinggang.


“ Ada apa Jendral?” tanya Leon.


“ Kenapa aku bisa sekamar dengan Oris?” Jendral menjelaskan kepada mereka.


“ Anda sekamar dengan Oris?.. Aku tak tau hal itu Jendral “ Leon berkata apa adanya.


“ Sekamar?...” Ziggo mengerutkan keningnya.


Tak lama Oris keluar dari dalam penginapan. Mereka serentak menghentikan pembicaraan. Jendral langsung memerintahkan Ziggo untuk membawa Oris bersamanya di satu tunggangan, sedangkan Jendral bersama Leon.


Dalam perjalanannya kembali, Jendral masih terlihat galau dan agak kikuk jika melirik kearah Oris.

__ADS_1


Sesampainya di kerajaan Riguaria, mereka mencari sisa prajurit yang keluar dari kerajaan Nerogon, yang juga adalah mantan pasukan Jendral.


Setelah hampir seharian mereka mencari informasi, akhirnya mereka bertemu dengan dua belas sisa prajurit dan lima penduduk yang juga keluar dari kerajaan Nerogon.


Mereka sangat kaget bertemu dengan Jendral. Mereka diminta untuk tinggal di benteng Drake, dan mereka sangat antusias, bahkan sangat ingin bergabung menjadi pasukan Jendral kembali.


Di Riguaria, orang yang berharta atau memiliki uang banyak bisa membeli pasukan dari warga sipil yang terlatih atau para prajurit bayaran.


Mereka memang sudah terlatih untuk bertempur, tetapi tidak terikat dengan kerajaan. Mereka bebas memilih untuk menjadi prajurit di kerajaan manapun.


Alhasil Jendral membeli pasukan dari sana sebanyak dua ratus prajurit bayaran dan warga siplil terlatih. Mereka di berikan peta menuju benteng Drake, karena Jendral tidak mungkin membawa semua pasukan saat itu.


Jendral langsung membeli dua kereta karavan di kota itu untuk mengangkut tujuh belas orang yang akan dibawanya pulang.


Akhirnya mereka mulai berjalan lagi untuk pulang ke benteng.


Diperjalanan dekat hutan pinus, mereka memutuskan untuk beristirahat.


Mereka memakan bekal yang telah dipersiapkan. Jendral hanya memakan kentang rebus dan sedikit daging asap.


“ Makanlah ini tuan..” Oris yang tiba-tiba ada disebelah Jendral menyodorkan roti isi yang mirip dengan buatan Merlin.


Jendral setengah kaget dan canggung, ia memandangi Oris lalu roti isi itu, kemudian mengambilnya.


“ Tuan, kenapa sepertinya kau marah padaku?” tanya Oris sambil mengigit roti isi di tangannya.


“ Aku tidak marah padamu, aku hanya bingung dengan kejadian kemarin. Kenapa kita bisa satu ranjang dan…satu selimut” Jendral tidak menatap Oris.


“ Sudahlah tuan, anggap saja hal itu tidak pernah terjadi ” Oris menoleh kearah wajah Jendral.


“ Tuan, apa menurutmu aku menarik?” Oris bertanya lagi. Jendral sedikit heran dengan pertanyaan gadis itu.


“ Yah, kau cukup menarik..” jawab Jendral seadanya. Oris tersenyum.


“ Bagaimana jika aku menjadi pendampingmu tuan? Aku akan melakukan apa saja untukmu..” tiba-tiba jemari Oris meraih jemari Jendral. Jendral kaget dan kebingungan, ia melepaskan perlahan.


“ Ehm, lebih baik kau siap-siap, kita akan berangkat lagi..” Jendral langsung berdiri dan beranjak ke teman-temannya. Oris hanya menghela nafas.


Dalam perjalanan pulang, Jendral terus diam tak banyak bicara. Ia memikirkan tentang yang telah terjadi dengan Oris, tetapi sepertinya tidak demikian dengan Oris, dia lebih santai dan banyak tersenyum.

__ADS_1


Dua hari perjalanan pulang, mereka singgah untuk beristirahat dan bermalam di kota yang lain, mereka hanya tidur di kereta karavan, dan esoknya memulai perjalanan kembali


********


__ADS_2