Penguasa Dua Benua

Penguasa Dua Benua
BAB 40 - KEANEHAN


__ADS_3

Denzu yang masih berjalan pincang berusaha menghadiri pertemuan di aula.


Merlin berbisik kepada salah satu pria didekatnya, ia menanyakan siapa wanita itu.


Pria disamping Merlin menjelaskan bahwa wanita itu dan saudara laki-lakinya sedang dikejar perampok dan tersesat, hingga masuk ke wilayah benteng.


Wanita tadi meminta bantuan agar diantar ke kotanya di sekitar kerajaan Riguaria besok pagi.


Awalnya Jendral menolak untuk menerima tamu yang menginap di benteng tetapi wanita tadi memohon kepada Jendral dan kawan-kawannya untuk diberikan tempat semalam saja agar bisa bermalam disana.


Akhirnya Jendral mengizinkan wanita tadi dan saudaranya untuk menginap semalam di benteng dengan syarat-syarat tertentu, termasuk menyita senjata mereka berdua.


Dan Jendral menjelaskan bahwa kemarin terjadi peperangan hingga bangunan di benteng agak berantakan karenanya jika wanita tadi tidak berkenan mereka berdua bisa bermalam ditempat lain, tetapi si wanita tidak keberatan dengan kondisi itu dan tetap ingin bermalam di benteng.


Setelah wanita tadi yang bernama Elya dan saudaranya diantar ke kamar tamu, semua yang ada di aula di perintahkan Jendral untuk berhati-hati dan waspada dengan tamu asingnya itu, dan meminta kepada semuanya agar tidak memberitahukan apapun tentang wilayah tambang intan.


Semua setuju.


Malam telah melebar….


Jendral di kamarnya yang hanya diterangi tiga buah lilin, tertidur dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


Tiba-tiba ia bangun dan tersentak kaget dengan kehadiran Elya yang sudah berada disampingnya, tetapi belum sempat ia melakukan apa-apa wanita itu menjulurkan telapak tangannya ke wajah Jendral lalu meniupkan sesuatu.


Bubuk halus yang ditiupkan wanita itu bertebaran disekitar wajah Jendral.


Seketika itu Jendral menjadi sangat mengantuk dan tidur kembali.


Pagi membuka lembarannya, ayam berkokok isyarat untuk kembali ke aktivitas awal.


Elya keluar dari kamarnya, ia tersenyum dan menyapa beberapa orang di pagi itu, termasuk Merlin yang sudah sibuk membawa cawan berisi bahan makanan.


“ Selamat pagi nona?...siapa namamu? ” sapa Elya pada Merlin.

__ADS_1


“ Selamat pagi nyonya, aku Merlin” sahut Merlin dengan senyum terpaksa.


Ketika waktunya sarapan, suasananya agak berbeda, yang biasanya ricuh dan gaduh, para pria berebut makanan atau berbincang dengan suara keras, tapi pagi itu seluruh pasukan seperti ‘ anak penurut’, diam hanya menyantap sarapan mereka dengan teratur.


Merlin seperti menyadari ada yang aneh dengan mereka.


Kemudian Jendral datang dan bergabung bersama mereka, tetapi Jendral sama sekali tidak melihat Merlin apalagi menyapanya, ia langsung duduk di sebelah Elya dan bercengkarama dengannya.


Merlin mengerutkan kening melihat kelakuan Jendral, ia menoleh ke sebelahya, Ziggo yang tengah menikmati sarapannya di tegur oleh Merlin.


“ Tuan Ziggo, apa kau melihat ada yang aneh dengan Jendral?” Merlin bertanya sambil berbisik.


“ Aneh?..tidak ada yang aneh. Menurutku semua biasa saja” Ziggo menjawab dengan santainya.


Merlin menelan kekesalan, ‘ Apa dia tidak bisa melihat perubahan pada Jendral ‘ batin Merlin.


Siang semakin meninggi.


Jendral, Elya, saudaranya, dan beberapa pria sedang berada di ruangan pembuatan berlian.


Merlin yang tak sengaja melihat kehadiran wanita itu dan yang lainnya di ruang pembuatan berlian heran dengan kebebasan wanita itu menjelajah seisi benteng.


Merlin melangkah menuju ruangan itu, ia menghampiri Jendral dan menarik lengannya.


“ Maaf nyonya, apa aku bisa bicara sebentar dengan Jendral?” merlin terlihat sedikit geram.


Elya dengan senyum penuh misteri mengangguk.


Di tempat yang agak jauh dari Elya Merlin sedikit berbisik pada Jendral.


“ Tuan, kenapa kau membiarkan wanita itu ketempat ini? Bukankah itu berbahaya?”


“ Berbahaya? Apa maksudmu Merlin, dia hanya ingin melihat-lihat, sudahlah..” Jendral melepaskan genggaman tangan Merlin di lengannya.

__ADS_1


“ Tunggu tuan..apa yang terjadi padamu? “ Merlin sedikit keras berbicara.


“ Sudahlah Merlin, lebih baik kau kembali saja ke dapur “ Jendral membalikan badan lalu kembali ketempat Elya berdiri.


Merlin yang menyaksikan hal itu benar-benar yakin, pria itu bukanlah Jendral yang ia kenal.


Dua hari berlalu, wanita itu masih ada di benteng, meleset dari perjanjian yang disepakati.


Pagi menjelang siang, Merlin lagi-lagi menemukan sesuatu yang aneh.


Dia mendapati Jendral memberikan berlian yang sangat berharga, berlian merah muda kepada Elya di ruang penyimpanan perhiasan, pintu ruangan yang sedikit terbuka membuat Merlin melihat semua kejadian itu.


Yang Merlin tahu, ruangan itu sangat rahasia, untuk penduduk benteng saja yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan masuk, apalagi untuk orang asing, tetapi disana Jendral dengan mudahnya memberikan berlian yang sangat mahal itu kepada wanita yang baru di kenalnya.


Ketika Merlin ingin menegur Jendral, tiba-tiba Dude menghampirinya.


“ Nona, Jendral memintamu memasak iga rusa dan makanan yang enak..” Dude membawa Merlin agak paksa kearah dapur.


“ Tapi tuan…, apa kau tidak lihat tadi? Jendral memberikan berlian merah muda untuk wanita itu?!..apa itu masuk akal?” Merlin mencoba berontak dan ingin kembali menemui Jendral,


“ Sudahlah nona, biarkan Jendral menemani dan membuat wanita itu senang..” Merlin semakin bingung dengan keadaan penduduk benteng saat itu,


‘ Aku harus bicara pada tuan Luzen!’ batin Merlin dengan menyimpan amarah.


Siang itu, Jendral berencana menunjukan tempat penambangan intan kepada Elya.


Dia memerintahkan beberapa pria untuk berhenti menggali, karena wanita itu akan melihat-lihat keadaan di dalam tambang intan.


Merlin mendengar informasi tersebut dari percakapan dua pria yang sedang berdiri di depan pintu aula.


Merlin ingin segera menemui Jendral dan mencegahnya, ia sempat memerintahkan dua Eldr yang langsung dipanggilnya untuk menjaga pintu pertambangan.


Merlin berlari kearah tempat penambangan intan, tetapi disana sudah ada Jendral, Elya, Gardden, dan beberapa pria yang sepertinya bukan sedang mencegah Jendral, tetapi mereka justru membiarkan wanita itu memasuki wilayah pertambangan.

__ADS_1


...**********...


__ADS_2