
Aku dan Wildan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari serangan dari Luki dan para antek-anteknya. Hidupku kini seakan berada di stak itu saja, saat mengetahui ternyata Luki di balik semua kekacauan yang terjadi dalam rumah tanggaku lalu dengan Henna.
Pantas saja Luki selalu begitu bersemangat saat aku mengeluh tentang rumah tanggaku, bahkan sering Kali Luki pun selalu bertanya tentang keadaan rumah tangga ku. Ada ekspresi berbeda kala itu saat aku memberu tahu Kawan ku tentang ke hamilan Henna.
"Broo, gue hari ini sedang bahagia sekali. "
"Ada apa nihh bro, pasti lo bisa bebas dari istri mu yang galak? " tanya Luki dengan penuh antusias.
"Ya elah lu ki, main nyerobot aja bicara nya, belum juga dia beres ngomong. "
"Kan gue pengen tahu wil, "
"Ya udah dengerin gue baik-baik, gue sebentar lagi bakalan jadi seorang ayah ."
Seketika raut wajah Luki berubah derastis yang tadinya penuh kegembiraan kini seperti orang yang tak suka
"Woooyyy kii, sebentar lagi kita bakalan di panggil om. " ucap wildan penuh semangat.
"Kiii...? "Tepak wildan pada Luki yang tak merespon ucapannya.
" Ahhh iyaaa,, Selamat ya Jar sebentar lagi lo bakalan jadi seorang ayah."sembari menyalami ku.
"Ehh sorry ya, gue harus pulang duluan takutnya bini gue nyariin. " Luki meninggalkan kita berdua dengan begitu tergesa-gesanya. Biasa nya juga dia kalau main sampai tak ingat waktu pun istri nya tak pernah mencari.
"Kenapa itu si Luki aneh banget? " tanya Wildan padaku.
"Mana gue tau wil, gue sendiri juga bingung. "
"Kaya ada yang di sembunyikan sama dia ke kita, bener gak? "
"Gak usah suudzon begitu wil gak baik. Luki itu teman baik kita dari dulu. "
"Yaa.. Yaa terselah lo Jar, yang pasti gue curiga sama si Luki kaya nya dia gak senang waktu bilang istri mu lagi hamil. "
Kejadian itu telah mengingatkan ku kembali, apa yang dulu pernah dikatakan Wildan tenyata benar adanya.
”Musuh terbesar dalam hidup mu bukan orang lain, tapi dia yang berada dekat dengan mu. ”
Dari pepatah itu paham. Tidak ada yang benar-benar akan menjadi kawanmu bisa jadi dia adalah lawanmu.
Amarah yang begitu memuncak pada Luki begitu terlihat, mata nya yang memerah menyudutkan emosi tak terbendung pada ku dan juga Wildan. Wildan yang sudah tak mampu untuk berlari, badannya kini sudah mulai melemah.
"Lari kemana pun juga engkau tak akan menemukan ujung nya kawaannn haaa...haaa.. "
__ADS_1
"Wil lo harus kuat, kita pasti bisa keluar dari sini. "
"Bro gue bener-bener sangat lemas, maafkan gue selama ini tak pernah berkata jujur sama lo jar. "
"Gak wil, lo pasti kuat, lo pasti bisa. "
Aku bingung harus melakukan apa, tak ada barang yang bisa aku gunakan untuk memapah Wildan.
"Haaa.. Haaa mau kemana lagi kawan engkau berlarii? "
"Hidup mu akan tamat sampai sini,, sorry bro bukannya gue tega melakukan ini sama lo. Tapi dalam hidup gue tak ada yang namanya menyerah untuk wanitaa haaa.. haaa... "
"Pu**ul merekaa.."
"Stooopp.. " ucap Hakim yang datang secara tiba-tiba.
"Kamu gil*a Ki demi cinta lo pada wanita lain, lo malah menyik**sa mereka berdua seperti ini? " tutur hakim lagi.
"Oh,, rupanya di sini ada pahlawan kesiangan . "
"Terusss lo apaa Kim? " emosi Luki pada Hakim.
"Setidaknya gue pernah merelakan Nabila buat Nijar. "
"Omong kosong kim,"
"Lo sama gue sama kim, sama-sama penyuka wanita dari sahabat sendirii haaa.. Haaa.. "
Aku bingung melihat mereka berdua beradu mulut seperti ini, sebenarnya apa yang di katakan Luki ada benarnya, Hakim sama seperti nya menyukai wanita ku, walau aku tahu perbuatan Hakim tidak salah karena dia menikahi Nabila setelah aku bercerai darinya dan perceraianku dengan Nabila sudah sangat lam. Berbeda dengan Luki sendiri ia berselingkuh dengan Henna saat kami masih suami istri bahkan yang lebih parahnya dia telah melakukan hubungan terlarang.
"Will sadar? " aku bari tersadar jika wildan sudag terbaring begitu lemah. Kepanikahan ku lihat dari wajah Luki itu sendiri, pastinya dia juga merasa khawatir akan keadaan Wildan.
"Wiilll banguunn? "
"Wildaaannn.... "
"Jar cepat bawa Wildan keluar dari sini, biar Luki gue selesaikan. " Aku pun membawa luki keluar dari dalam rumah tua itu, tak ada perlawanan dari suruhannya Luki, dia hanya melihat saja.
____
Wildan telah berada di ruang rawat, dia kekurangan asupan makanan.Bagaimana tidak setengah malam dia gak ada sedikit pun makanan yang masuk bagi penderita Lam*bung kro-nis pastinya akan begitu sangat sakit.
Waktu yang begitu tak terasa, aku sudah berada disini menjaga Wildan begitu lama. Aku harus pulang, kasian Abisha di titipkan pada Bude sudah sangat terlalu lama.Aku menyuruh suster untuk menjaga Wildan jikaa ada sesuatu hubungi aku.
__ADS_1
Belum sempat aku masuk kontrakan, suara Henna memanggilku dari kejauhan.Ternyata benar Henna sedang kesini.
"Nijarr lo apakan Lukii haaaahh? "
"Maksud kamu apaa? "
"Alah gak usah mengelak deh, lo kan yang menyuruh orang untuk menghajar dia? "
"Apaa? Apa aku gak salah dengar wahai mantan istrii? "
"Gak usah banyak bicara kamu, tinggal bilang jujur aja kenapa susahnya.. Emang benar tenyata apa yang di katakan Luki padaku kamu itu sama saja seperti pamanmu yang kriminal itu.. "
"Maksud kamu apa haah? " aku sungguh tak terima saat dia membawa-bawa pamanku.
"Haaa.. Haaa.. Kamu lupa apa pura-pura lupa jar? Pamanmu kan pernah mengania**ya orang sampai ma**ti.. Bukan begitu bapak Nijar yang terendah? "
"Jaga bicara mu Henna, paman ku tak pernah melakukan itu, bukankah itu semua atas perbuatanmu sendiri yang memfitnah pamanku? "
"Uuuppsss,, tapi itu semua berbeda kejadian pamanmu itu saat kamu masih sekolah dasar haaa. Haaa.. "
"Aku sangat bersyukur saat kamu mentalakku kala itu, ternyata berpisah dari mu adalah hal yang terbaik. "
"Jika tidak ada kepentingan lainnya, silahkan kamu pulang. Jangan lupa mampir ke rumah mamihmu. " Ucapku sembari meninggalkan Henna.
Pikiran ku kini sangat berantakan berbagai macam persoalan hadir dalam otakku, belum beres yang ini muncup lagi yang ini.Semua ini kenapa harus terjadi pada aku Tuhan?
Masa lalu yang telah aku kubur begitu dalam kini terulang kembali, semua ini terjadi karena masalah orang lain. Tapi, kenapa harus aku yang menanggung semua ini?
"Baru pulang duk? "
"Iya budee,, Abisha mana bude? " Tanyaku.
"Emm itu dukk,, Abisha di bawa sama ibu mertuamu. Maafkan bude gak bisa melarangnya. "
"Ohh,, iya gak apa-apa bude, lagian kan Abisha juga sama nenek nya sendiri bukan orang lain. "
"Kalau boleh bude saranin apa gak sebaik nya kamu cari orang yang buat bantu toko mu, juga orang yang bisa menjaga Abisha. Dengan begitu jika kamu berpergiaan tak perlu menutup toko, apalagi kamu tadi saja pergi begitu lama. "
"Nijar belum tau bude, nanti Nijar pikir-pikir lagi. "
"Ya sudaahh, kalau begitu kamu istirahat sana bude juga mau pulangg.. "
Sudah sangat malam sekali tapi ibu mertuaku belum juga mengantarkan Abisaha kesini apa aku jemput saja?
__ADS_1
Bagaimana kisah selanjutnya?
...Bersambung...