
Aku ingin segera menemui bude, namun aku juga tak mungkin meninggalkan putri dan istriku. Apalagi aku begitu menginginkan jika ia siuman nanti , akulah orang pertama yang ia lihat bukan orang lain.
Aku tak memberi tahu kedua orang tua Vira, karena aku tak ingin membuat mereka berdua khawatir melihat keadaan Vira yang seperti ini.
Seorang dokter mengahampiriku.
"Permisi pak! Apakah bapa bisa masuk sebentar ada hal penting yang ingin saya bicarakan. "
"Baik bu."
Aku pun mengikuti langkah dokter memasuki ruangan.
"Begini pak, Apa sebelumnya istri bapa pernah melakukan operasi besar? "
"Maksud nya dok? " tanya ku heran.
"Jadi setelah kami melakukan pengecekan, sepertinya istri bapa pernah melakukan operasi besar, kami menemui bekas jahitan di kepala beliau. "
"Operasi! Jahitan! "
Aku tertegun mendengar penuturan sang dokter, tak tahu jika selama ini istriku pernah melakukan operasi.
"Jadi maksud ibu dokter, istri saya pernah mengalami kecelakaan parah begitu? Hingga membuat dia harus di operasi? "
"Ya seperti itu pak.Dan saat ini kami betul-betul sedang membutuhkan darah golongan A."
Bagaimana mungkin aku tak mengetahui ini semua, kenapa Vira tak pernah menceritakan ini semua padaku.
Tidak! Ini bukan salahnya namun ini salah aku juga karena aku tak pernah memperdulikan istriku sendiri.
Aku harus menemui ibu dan ayah mertuaku karena mereka adalah orang tuanya Vira, tak mungkin aku membiarkan Vira seperti ini.
Ya aku harus menurunkan ego ku sendiri, bagaimana pun juga mereka harus tahu keadaan putrinya sendiri. Dan Vira saat ini sungguh sedang membutuhkan da*rah yang cukup banyak.
"Gue titip Caca.. "
"Lu mau kemana jaaar? " Panggil Wildan.
Aku tak memperdulikan panggilannya yang terpenting bagi ku saat ini segera sampai kerumah ibu mertuaku.
*Tiiiittt...
Tiiiittt*....
Klakson mobil terus aku bunyikan, padahal ini malam hari, kenapa harus macet segala. Seharusnya aku menggunakan motor saja.
”Berisik pak! Sudah tahu macet masih saja membunyikan klakson. ”protes seorang pengemudi motor kepadaku.
Aku tersadar, bahwa aku harus meminjam pemilik motor itu.
"Mas! Boleh saya pinjam sebentar motornya? Saya benar-benar sedang buru-buru sekali,"
Pengendara motor itu acuh tak menanggapi ucapan Nijar.
"Maas! Saya mohon sangat, istri saja sedang membutuhkan Darah. Saya harus cepat sampai kerumah orang tuanya. "
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak telpon saja. " balasnya cuek.
Mendengar ucapan sang pengendara itu Nijar merasa bodoh, kenapa ia tak kepikiran dari tadi.
"Kalau bapa mau minjam motor saja apa jaminannya? tanya pengendara itu.
" Kamu boleh membawa mobil saya, "
Kesepakatan telah mereka lakukan. Nijar akhiranya bisa dengan cepat sampai kerumah mertuanya.
Mungkin ini akan sangat mengganggu orang-orang yang sedang beristirahat.
"Assalamua'laikum bu pak? " ku ketuk pintu rumah denga sedikit keras dan kencang.
"Pak! Buu! "
"Ini Nijar. "
Akhirnya pintu rumah pun di buka, namun dengan sedikit cemberut ibu mertuaku melihat kearahku.
"Kamu apaan si jar, ganggu orang malam-malam gini. Mau apa? "
"Buuu.. Ibu dan Bapak sekarang harus ikut Nijar. "
"Kamu ini apaan sih jar, terus kita mau naik apa? " tanya ibu melihat kearah depan karena aku tak menggunakan mobil.
"Yang penting sekarang ibu dna bapa ikut Nijar dulu. Setelah itu Nijar akan menceritakan semuanya."
Dengan mata yang masih menggantul mereka pun mau ikut dengan ku, meskipun kita harus berdempetan menggunakan motor.
"Kamu ini mau ngapain sih jar? tanya ibu.
"Duuuhh Jar , kamu ini yang benar apa sih mengendarai motornya. Pelan-pelan kenapa gak harus kebut-kebutan begini, mana jalanan macet lagi. "
"Iya buu, sabar nanti sebentar lagi juga kita sampai. "
Kami pun sampai di rumah sakit.
Melihat ibu dan bapa celingukan karena merasa aneh mungkin aku bawa kerumah sakit.
"Mau apa kesini?Kamu gak salah bawa ini jar? Tanya nya.
"Engga bu. "
"Sekarang ayo kita masuk bu, pak sudah di tunggu.
Mereka pun mengikutiku, meskipun dengan perasaan yanh mungkin sangat bingung, ada apa sebenarnya.
" Kita mau apa sih jar kesini? "
"Pak! Buk silahkan masuk? " ucap salah seorang suster.
"Ini ada apa sih? Kenapa kita harus masuk keruangan ini? " Ibu bertanya-tanya.
"Ibu dan Bapa orang tua dari ibu Vira kan?"
__ADS_1
Mereka mengangguk.
"Jadi begini bu, saat ini putri ibu dan bapa sedang berada di ruangan khusus. Kami membutuhkan beberapa kantung darah lagi, karena rumah sakit kamu benar-benar sedang kehabisan stok darah golongan AB. "
Ibu dan Bapa terdiam dan saling lemapar pandang, dari raut wajah mereka seperti menyimpan kesedihan.
"Tapii dok kamu berdua bukan orang tua kandung dari Vira. " Ucap mereka menahan kesedihan.
"Maksud ibu? " tanya ku kaget mendengat jawaban mereka.
"Kami bukan orang tua kandung Vira nak. "
"Laluuu? "
Belum sempat mereka menjawab pertanyaan ku datanglah seorang pria yang bersedia mendonorkan darahnya untuk istriku.
"Sama bersedia mendonorkan darah saya untuk beliau. "
Kami semua yang ada di ruangan ini terkejut.
"Zain...? " ucap bapa mertua.
Aku bingung kenapa bapa mertua ku mengenalinya.
"Aku bersedia pak mendonorkan darah ku untuk Vira. "
"Tapii nak? "
"Ini semua demi kebaikam Vira pak, Zain yakin Vira akan sehat kembali seperti sedia kala.
Saat ini aku tak ingin banyak betanya pada siapa pun karena yang aku perlukan saat ini darah untuk Vira istriku.
Pria itu memasuki ruangan sedangkan aku dan mertuaku menunggunya di luar.
Ada banyak pertanyaan muncul dalam benakku. Hingga mulut ini berkata dengan refleksnya.
" Jika Vira bukan anak kandung ibu dan bapa lalu Vira anak siapa?"
"Jadi selama ini kalian telah membohongiku? "
Dengan bergemetar bapak mertuaku menceritakan semuanya.
"Kejadian ini sudah sangat lama sekali kami tutupi, Vira anak yang kami temukan pada saat kecelakaan 7 tahun lalu kami menyaksikam kecelakaan itu dengan mata kepala kami sendiri. Seorang anak remaja yang berjalan dengan ibunya ingin melintasi jalanan. Namun nasib buruk menimpa mereka berdua,Ibunya Vira meninggalk tepat saat kecelakaan itu terjadi dan Vira sendiri alhamdulillah dia bisa selamat dari kecelakaan itu namun Vira harus melakukan operasi panjang, benturan dan luka yang sangat keras terjadi kepalanya. Membuat ia lupa akan siapa dirinya sendiri. Bapa dan ibu yang sudah sangat lama tak memiliki keturunan dengan kesepakatan kami berdua mau mengurus dan mengangkat Vira menjadi putri kami. Kehadiran Vira membuat rumah kami hangat, meskipun kami sadari bahwa sewaktu-waktu vira pasti akan mengadari siapa dirinya sebenarnya. " Bapa menceritakan semuanya, linangan air mata terus membasahi keduanya. Aku sadari mereka begitu tulus menyayangi Vira.
"Jadiii Vira adalah korban dari kecelakaan? " tanyaku.
"Iya nak, "
"Ma'afkan kami karena tak pernah menceritakan ini semua padamu.Karena saat ini yanh terpenting bagi kami Vira bisa hidup bahagia. "
"Engga pak, bu justru Vira pasti akan sangat bangga karena memiliki orang tua yang begitu sangat tulus menyayangi dirinya. "
Ibu dan Bapa meminta padaku untuk tak menceritakan ini semua pada Vira, karena mereka sangat takut untuk kehilangan Vira, apalagi Vira jika harus mengetahui bahwa ibu kandungnya sendiri telah tiada.
"Nak,, bolehkan ibu dan bapa melihat keadaan Vira? tanya ibu.
__ADS_1
Aku mengangguk membawa mereka berdua ketempat Vira di rawat, Hanya bisa melihat dari kejauhan karena memang kamu sama-sama tidak di izinkan untuk masuk kedalam ruangan.
...****************...