
Pulang ke rumah dengan badan yang sangat lemas, mendapati kabar tentang pernikahan Nabila dan Hakim. Aku tak paham dan tak mengerti dengan semua ini, walaupun aku tau hidupku kini telah bahagia dengan kehadiran putri kecilku. Namun itu semua seakan telah mematikan cahaya yang menerangiku.
Kenapa memori indah bersama Nabila selalu saja hadir dalam Bayanganku, Kenapa? Kenapa setelah aku menceraikan dan meninggalkannya bahkan saat ini dia akan menikah dengan Hakim sahabatku? Aah,, entahlah semua ini telah merusak pikiranku.
"Dari mana aja kamu mas, bukannya urusin tuh anak kamu. Malah main keruyuran gak jelas lagi. " Belum sempat aku merebahkan badanku Henna sudah mengomel saja.
"Aku habis dari luar Henna."
"Kalau mau keluar lama bawa anaknya, bukan di tinggalin di sini berisik ganggu orang lagi bahagia saja. "
"Apa kamu tak ada rasa sedikit pedulinya sama anak kamu sendiri Henna? "
"Enggaa.. Dia itu bukan anak aku yah Nijar. "
"Astagfirulloh Henna. "
"Berisik, gak usah banyak bac*ot jar, mendingan kamu sekarang urus anakmu itu, lalu siapkan aku makan malam. "
"Iyaa... iyaaa.. "
"Ya udah sana ngapain masih disini, oh iya jangan lupq masaknya agak banyakan yah soalnya pacar aku mau kesini. "
"Kamu mau bawa cowo lain lagi kesini Henna? "
"Iyaa.Memang nya kenapa? terserah aku dong,mau bawa siapapun kesini bebas. "
"Seharusnya kamu itu berubah Henna? Apa kamu gak malu jika kelak di lihat oleh putrimu sendiri, dia pasti akan sedih melihat ibunya begini. "
"Kamu bisa diam tidak Nijar, aku gak perduli dengan apapun yang terpenting bagi saya hidup senang-senang. "
Mau tak mau aku harus selalu mengalah dengan Henna. Berkali-kali dia melakukan ini padaku, aku menerimanya dengan lapang, karena mungkin ini semua balasan yang telah tuhan berikan padaku karena telah menyia-nyiakan Nabila.
"Aduhhh ..sayang nya papah lagi main sendirian yah? "
"Pa.. paaa.. "
"Pap.. paa. paa. "
"Anak pintar papa udah bisa bilang papa iya sayang, maafin papa yah, belum bisa membahagiakan kamu. " Air mataku tiba-tiba menetes membayangkan betapa malangnta nasib putriku yang tak di sayang oleh ibunya.
"Sini papa gendong yu sayang? "Abisha mendekatiku.
__ADS_1
" Emmm anak papa bau acemm..Belum mandi kamu yah nakk? "
Abisha tersenyum padaku.
"Pap.. paa... paa... maa.. maam.. maa" Abisha terus saja mengoceh, aku bahagia melihat pertumbuhannya yang sangat bagus.
"Apa sayaangg? "
"Eeemm.. " Abisha terus menunjuk kearah pintu.
"Apa sayaaangg, mau main keluar iyaa? "
Abisha mengangguk.
Anak sekecil ini sudah memahami apa yang kita bicarakna dan apa yang ia mau. Aku. benar-benar tal. sanggup jika harus membayangkan perlakuan ibunya kelak pada Abisha.
Menggendongnyq membawa keluar rumah. Abisha begitu sangat bahagia dan senang. Maafkan papa yah nak? karena papa belum bisa membelikan kamu pakaiana yang bagus untukku, air mataku terus menetes, betapa tak bergunanya aku untuk putriku sendiri.
Suara langkah kaki Henna ku dengar.
"Bagus, di suruh menyiapkan makanan, malah asik ajak main anak ini. "
"Alaahh.itu mah cuman alasan kamu aja Jar, ngurus anak begitu aja gayanya sok selangit. "
"Cukuupp! Henna, kali ini aku benar-benar muak dengan atas apa yang kamu lakukan pada Abisha. "
"Maksud kamu apa hah? Kamu mau apa hah? "
"Aku mau kamu sedikit saja, memperhatikan Abisha, bagaimana dia begitu menginginkan sosok ibu? Apa kamu pernah mengendongnya atau pun memberikan Asi mu sedikit saja untuknya. Tidakkan? Apa kamu tau perkembangan dia selama dua tahun ini Henna? "
"Itu urusan kamu Nijar. Bukankah itu keinginan kamu sendiri untuk mempertahankan anak itu hidup. "
"Ya.. Memang aku yang mengingikan Abisha tumbuh dan lahir dengan baik kala itu, tapi apa kamu tak pernah sedikit pun merasakan kehadirannya? "
"Haa.. haaa. Kehadiran? Kehadiran apa Jar, kehadiran dia yang membuat aku harus keluar dari pekerjaanku sebagai wanita karir. Memang benarkan anak itu pembawa kehancuran dalam hidupku , sama seperti kamu dan ibumu itu yang membawa kehancuran dalam hidupku. "
"Cukuup! Cukup kamu terus bawa-bawa ibuku."
"Memang laki-laki bod*oh."
"Henna kamu dengar saya. Mulai detik ini kamu saya ceraikan dan saya akan kembalikan kamu pada orang tuamu. "
__ADS_1
"Apa.. Ceraii? Bagus dong, dengan begitu hidup aku akan jauh lebih senang, bawa juga anak kamu itu. " Dengan entengnya dia berkata seperti itu.
Untuk kedua kalinya, aku merasakan lagi perceraian. Aku tak dapat mempertahankan lagi wanita yang tak punya hati seperti Henna. Bagi siapun yang melihat Henna mungkin akan terpesona, sama seperti ku dulu. Namun kenyataanya dia tak seperti yang kita lihat.
Keberaniannya membawa laki-laki lain kerumah tak dapat aku maafkan bahkan dengan sengaja ia bermesraam di hadapanku dengan pria lain, kejadian ini bukan sekali ataupun dua kali tapi terlalu sering, ketidak perduliannya terhadap putrinya sendiri. Tapi, jika Henna dengan kelembutan hatinya mau merubah perlakuan buruknya menyesali perbuatannya itu, kemungkinan besar aku akan memaafkannya, apalagi dengan berjanji tak akan mengulanginya lagi. Kecuali jikaa Henna terus berdalih seakan-akan semuanya itu sebuah kebenaran dan kebebasannya membawa laki-laki yang bukan bagiannya adalah sebuah kebolehan, sungguh wanita yang sangat busuk sekali dia. Layaknya seperti wanita pel***ur pada umumnya.
Mungkin banyak yang menyayangkan atas apa yang telah aku putuskan untuk menceraikan Henna, karena aku terlalu cepat mengambil keputusan. Namun bagiku itu semua seperti ada tantangan tersendiri bagiku aku memang harus melepaskan wanita seperti Henna.
____
Menemui Ibunya Henna, disambut dengan senyuman, karena untuk pertama kalinya aku mempertemukan ia dengan cucunya sendiri.
"Assalamu'alaikum bu? "
"Wa'alaikum salam nak nijar? Aduh ini Abisha yah jar? cantik banget, sini sama nene sayangg? " Ibu menyodorkan tangannya pada Abisha, disambut dengan senyum Abisha yang mau di gendong ibu.
"Atuu... tuu.. cucu nene, udah pintar sekarang yah. Henna nya mana jar? ko kamu datang sendirian kesini? "
"Emm,, sebenarnya ada yang ingin Nijar sampaikan pada Ibu. "
"Memangnya ada apa jar? Apa Henna berulah lagi? "
"Aku telah resmi menceraikan Henna bu, maafkan Nijar tak bisa mempertahankan Henna dalam kehidupan Nijar. Nijar sudah tak sanggu0 hidup dengan Henna yang selalu saja membawa laki-laki lain tak pernah menghargai Nijar. Bahkan jika boleh jujur sama ibu Henna tak pernah sekali pun menggendong ataupun memberikan Asinya untuk Abisha hingga Abisha sebesar ini. "
"Apaa? Kenapa kamu gak pernah bilang sama ibu jar, maafkan ibu karena telah gagal mendidik Henna, dia telah menjadi wanita pendendam."
"Ibu gak salah ko, mungkin Nijarnya aja yang tak bisa merubah Henna. "
Ibu mertuaku, begitu sangat baik padaku, bahkan tatkala dia mengetahui aku anaknya ibu sunarsih tak ada kebencian dari dirinya, dia menyambutku penuh dengan kasih sayang. Bahkan bu Mila sendiri pun awalnya tak mengetahui tentang niat buruk putrinya sendiri.Beliau selalu berkata bahwa aku hanyalah korban dari semuanya dan beliau pun selalu bilang mungkin dengan suaminya tak berjodoh.
Kesedihan dari raut wajah ibu mertua ku terlihat begitu jelas, ketika aku menjelaskan semuanya. Dia terua mengecup cucunya.
"Aku akan membawa Abisha pergi bu, jika ibu ingin menemui abisha Nijar sangat senang dan sangat Nijar zinkan bahkan jika boleh Nijar akan mencari kontrakan yang dekat dari sini, supaya ibu bisa menemui Abisha setiap hari. "
"Makasih nak, ibu sangat beruntung memiliki menantu seperti mu. "
____
Kini aku dan Abisha tinggal berdua di kontrakan yang terbilang sederhana, sambil menunggu keputusan sidang perceraian aku mencoba membuka usaha kecil-kecilan supaya bisa menjaga Abisha.
...Bersambung...
__ADS_1