
Nijar tak menyadari bahwa ucapannya barusan telah melukai dan sangat menyakiti budenya itu, bahkan dirinya pun tak tahu bahwa bude telah pergi dari rumah itu.
Obsesinya terhadap Fitri saat ini telah menghancurkan perasaan putrinya sendiri. Bahkan untuk saat ini saja dia tidak tahu harus kemana mencari Caca dan Vira.
Bukannya berubau untuk memperbaiki hubungannya dengan Vira dia malah dengan sengaja memamerkan Fitri sebagai selingkuhannya kehalayak umum.
"Mas Nijar saya gak menyangka ya ternyata mas Nijar seperti itu.Harusnya mas Nijar itu bersyukur punya istri seperti mba Vira,ini malah diselingkuhin.Pantas saja anaknya pergi."
"Ya elah ibu-ibu gak usah munafik kenapa."
"Issshh, amit-amit saya mah kalau punya suami kaya mas Nijar. "
"Ya siapa juga yang mau istri tua seperti ibu hah?lagian ya bu, ibu gak usah ikut campur urusan saya, apa coba untungnya buat ibu? "
"Mendingan ibu-ibu semuanya urusin tuh suaminya, entah kalau udah kaya saya repot lagi. "
"Di kasih tau malah melunjak. "
"Idihh, ibu-ibu mau ngasih tau apa mau kepo sama urusan saya? Lagian ya bu, ibu itu lebih banyak mempercantik diri biar suaminya gak tergoda sama Perempuan lain seperti saya. "
"Ya itu mah mas nya aja yang gak bersyukur punya istri masih muda bisa menerima anak bawaan dari mas nya."
"Aahh sana-sana kalau gak mau berbelanja hak usah kesini aja, pergi sana ke toko lain. "
Dalam hati Nijar sendiri pun ia khawatir kalau pelanggannya tak mau berbelanja disini lagi, dengan apa yang terjadi pada dirinya saat ini.
Bukan hal mudah untuk mendapatkan pelanggan sebanyak ini bagi dirinya perlu proses dan perjuangan yang panjang untuknya.
"Ya sudah ibu-ibu kita pergi dari sini aja gak usah berbelanja di toko ini lagi pemiliknya aja mengusir kita secara langsung. "
"Pak bagaimana ini, kalau bapak seperti ini bisa-bisa toko bapa mengalami kebangkrutan. " Timpal protes salah satu pegawai ku.
"Ya kamu pikirin dong gimana caranya supaya toko ini tetap ramai pembeli. "
"Kita sudah melakukannya semaksimal mungkin, tapi dengan sikap bapa yang seperti itu pada pelanggan akan membuat penjualan toko ini menurun pak. "
"Kamu ini hanya pegawai yah. Lakukan cara yang bagus dong biar pelanggan tetap mau berbelanja di toko ini. "
"Baik pak. "
Masalah satu belum kelar datang lagi masalah baru membuat Nijar merasa frustasi.
***
"Budee...? "
"Budee... Tolong buatkan Nijar teh hangat dong? " panggil Nijar pada bude.
Bahkan saat ini saja dia tak tahu kalau budenya telah pergi dari sini.
"Budeeee..? "
"Lusi kamu lihat bude tidak? " tanya Nijat pada salah satu pegawainya.
"Ma-ma'af pak sebelumnya, bukankah bapak sendiri yanh menyuruh bude untuk keluar dari rumah bapa. "
__ADS_1
"A-apaa..? Kamu jangan bercanda Lusi? "
"Benar pak, setelah percekcokan bapak dan Vira tadi ibu, bude bapa marahi lalu bapak menyuruhnya untuk keluar dari rumah bapa. "
Astagfirulloh! Nijar kamu ini bodoh dan sangat ceroboh amat si, kenapa mulut dan emosi mu itu tidak dapat di kontrol hah? Bude sudah tua saat ini, bagaimana mungkin kamu membiarkan bude pergi sendirian di jalanan.
Nijar dengan sigap langsung mencari kunci motor untuk mencari keberadaan Budenya itu, Bude pasti belum jauh dari sini, dia sudah tua tak mungkin bisa cepat pergi dari sini.
Sesekali dia bertanya pada orang-orang barang kali ada yang melihat budenya itu, namun ternyata nihil tak ada satupun yang melihat nya.
Nijar yang benar-benar merasa takut kehilangan budenya itu, karena bude lah orang pertama yang membuatnya bisa seperti sekarang ini.
Apa mungkin Bude berada di rumah orang tuanya Vira.
***
Nijar yang tak mau langsung mendatangi rumah orang tuanya Vira,dia hanya mengawasi dari kejauhan barang kali ada. Dia tai mau langsung kerumah itu karena itu semua akan menjadi keributan seperti tadi siang bersama ibu mertuanya.
Hingga keluarlah seorang perempuan dari rumah ibunya Vira.
Henaa..
Ngapain dia berada disana apa jangan-jangan benar bahwa Henna lah orang yang telah membuat Vira menjadi perempuan pembantah seperti ini.
Namun tak ada satu pun pemilik rumah yang keluar dari sana, apa mungkin Caca, Vira dan bude tidak berada disana.
Nijar yang geram melihat Henna berada di rumah ibu mertuanya itu, dengan sengaja langsung melabrak Henna di hadapan ibu dan bapa mertuanya itu.
"Ohhh jadi kamu yang telah membuat Vira menjadi istri yang pembangkak pada suamibya, dan sekarang kamu mau mencuci otak ibu dan bapa mertuaku? "
"Heh laki-laki bajingan kamu ngapain kesini hah? "
"Gak usah marah-marah bu. "
"Engga pak, ibu gak terima dia udah menyakiti hati putri kita, dia telau berselingkuh. "
"Ibu, pak sebelumnya Henna pamit duluan ya bu, takut mengganggu ada tamu. "
"Heeh, Henna tunggu sebentar, " tarik Nijta pada Henna.
Tanpa babibu Nijar langsung berkata nyerocos saja. "Pa, bu dengarkan saya, wanita ini adalah orang yang telah membuat putri ibu dan bapa menjadi perempuan murahan. "
Orang tua Vira merasa sangat marah tak terima putrinya di katakan murahan seperti itu oleh orang lain.
"Dan asal ibu, bapak tahu. Perempuan ini juga yang mengajak Vira menjadi istri pembantah pada suaminya."
Bapa hanya tersenyum.
"Nak Henna katanya mau ada urusan penting silahkan nak. "
"Terima kasih pak. "
Nijar yang tak terima melihat perlakuan bapa mertuanya itu pada Henna langsung pergi dan mengikuti Henna.
"Tunggu Henna..? "
__ADS_1
"Ada apa lagi mantan suami ku? "tanya Henna.
"Kamu mau ngapain kerumah orang tuanya Vira hah? Pasti kamu sengaja kan, biar mereka membenci aku? "
"Buat apa aku melakukan hal bodoh seperti itu hah?membuang-buang waktu dan tenaga ku saja. "
"Terus kalau bukan itu apa hah? "
"Gak perlu saya jelaskan pun nanti kamu tahu sendiri, saya harap kamu tidak akan kecewa dengan apa yang terjadi selama ini.. Baayy!"
"Maksud kamu apa Henna..? "Nijar yang merasa tak paham dengan ucapan Henna itu, bahkan berulang kali Henna mengatakan aku jangan kecewa, sebenarnya ada apa dengan ini semua.
"Tunggu waktunya tiba. "
henna pun meninggalkan Nijar begitu saja, Nijar kembali lagi ke rumah ibu mertuanya.
"Ibu paak? Apa Vira, bude dan putriku ada disini? " tanya Nijar memohon.
"Mau ngapain kamu tanyakan putri saya hah? Lebih baik kamu sekarang pergi dari sini. "
"Buu,, Nijar mohonn! "
"Dengar yah, Vira dan keluarga mu tidak ada disini.Lebih baik kamu cari mereka di tempat lain. "Menutup pintu dengan keras.
***
Nijar merasa saat ini dia begitu kesepian tidak ada satu orang pun yang menemaninya, istri, putri dan budenya pergi meninggalkannya. Semua itu terjadi atas kesalahannya sendiri.
*Aaaarrrgggghhh..
Kenapa semuanya jadi begini sih, apakah aku tak boleh melakukannya? Bukankah dulu saja Nabila memperbolehkan aku untuk berpoligami. Kenapa? Kenapa sekarang semua orang tak mengijinkan aku untuk melakukannya ?.
Budee...?
Viraa...?
Caca...?
Kalian semua kemana sih? Aku merindukan kalian? Aku akui aku salah, tapi kenapa kalian begitu tega meninggalkan aku sendirian disini, caca papah janji gak akan melalukan kesalahan seperti ini lagi. Ma'afin papah nak.
”*aku gak mau sama papah maba, papah bukan orang tua aku.. ”
”Caca sayaaang sini nak, papah sayang sama caca. ”
”Enggaaaaaaaa.. Papah aku om itu.”
”ini papah sayang? ”
”Engga papah aku bukan kamu*.. ”
Cacaaaaa...
Astagfirulloh ternyata aku hanya mimpi. Kenapa mimpi aku seperti ini? Apa yang sebenarnya akan terjadi pada aku dan Caca kedepannya.
Namun kenapa mimpi itu seakan terasa nyatanya?.
__ADS_1