
Vira langsung memeluk erat orangtuanya, kerinduan yang teramat dalam bagi seorang putri pada cinta pertamanya yaitu ayahnya sendiri.
Ada sedikit rasa menusuk di hati Nijar takkala melihat kebersamaan istrinya bersama orang tuanya berbeda dengan dirinya yang hidup sendirian semasa kecil.
Aku mengikuti langkah Vira yang masuk kedalam rumah, tak ada sapaan yang di berikan oleh bapaknya Vira padaku.Berbeda dengan ibunya yang begitu sangat menyambutku.
"Duduk jar, biarkan saja mereka berdua seperti itu. Vira dan bapanya memang seperti itu jika sudah saling merindukan akan lupa dengan orang di sekitar. "
"Iya bu, mungkin Vira lebih bahagia bersama Bapanya. "
"Jangan ngomong begitu nak, ibu yakin Vira hanya butuh waktu untuk bisa menerima semua ini. "
***
Sedangkan di kamar Vira mencurahkan seluruh perasaan gundah dan takutnya.
"Paa,, jika kelak Vira harus bernasib sama seperti mantan istrinya bang Nijar bagaimana?"
"Apa yang kamu bicarakan Viraa? "
"Vira mengikutinya tadi pagi, dia berpakaian begitu sangat rapih dan wangi hanya untuk mengantarkan Putrinya sekolah saja bang Nijar berpenampilan seperti itu. "
Bapa Vira menghela nafas.
"Apa kamu melihatnya? " tururnya dengan tenang, padahal bapanya begitu sangat gelisah mengetahui cerita itu.
"Tidak pak, aku hanya melihat dia berbicara dengan seorang laki-laki. "
"Lebih baik kamu jangan memikirkan hal buruk pada suamimu nak, "
"Apa yang harus Vira lakukan pa? Vira sadar bahwa Vira tak menyukainya, namun ada rasa cemburu yang Vira rasakan ketika suami Vira berpenampilan rapih hanya karena ingn bertemu dengan mantan istrinya. "
"Apa kamu sudah mulai mencintainya nak? "
Vira menggelengkan kepalanya dan terdiam.
Memikirkan apa yang di katakan bapa nya itu, apa Vira mulai mencintai Bosnya?
"Mungkin kamu sudah mencintainya nak? "
"Tidak mungkin pak. "
"Lebih baik sekarang kamu temui suamimu dan meminta maaflah dengan apa yang telah kamu lakukan selama ini,tak baik jika seorang istri bersikap seperti ini pada suaminya. "
Vira pun menuruti apa yang di perintah oleh ayahnya ,menemui suaminya yang sedanga ada di rumah tamu bersama ibunya.
"Nak Nijar kalian mau menginap disini ya? Bapak senang mendengarnya? " ucap ayah mertua pada Nijar.
Nijar tertegun kaget, bahwa dirinya sama sekali tak ingin menginap hanya ingin mengantarkan Vira saja.
"Iya Bang, kamu kan yang mengajak aku untuk menginapa disini? " ucap Vira bertanya pada suaminya, sembari mengedipkan matanya memberi kode pada suaminya untuk bilang ya.
"I-yaa pak,"
"Ya sudah,kalau begitu bapa tinggal kalian berdua ya? "
"Ayo bu.. Kamu bukannya mau pergi ke luar. "
Ibu yang tak mengerti dengan ajakan suaminya itu bingung.
"Ayoo buuu...? "
__ADS_1
"Bapak ini. "
Orang tua Vira pun meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Vira yang merasa canggung untuk pertama kalinya harus duduk berdekatan dengan suaminya, karena Vira sendiri menyadari pernikahan ini sakral tidak boleh ada perceraian di antara Vira dan suaminya itu.
Seharusnya saat itu dirinya harus bisa mengambil pelajaran yang berharga dari masa lalu suaminya, bukan malah sebaliknya.
Apalagi setelah Vira mengetahui bahwa mantan istrinya itu adalah Henna perempuan yanh begitu ia cintai, meski Vira sadari kebencian telah mendarah daging di diri suaminya itu. Tapi, besar kemungkinan jiga suaminye mengatahui semuanya kebenarannya apakah dia akan kembali pada mba Henna. Sekarang saja suaminya selalu mencari perhatian pada Nabila mantan istri yanh pertamanya itu.
"Mmm... Bang..? " ucap Vira dengan gugup.
"Ya ada apa Vir? Kenapa kamu bilang bahwa aku akan menginap disini? Jika dirimu saja tak mengharapkan saya."
Vira hanya bisa menggerak-gerakkan tangannya dengan cemas.
"Kamu kenapa Vira? "
"Mmm gini bang Nijar, sebelumnya Vira ingin seminta maaf yang sebesar-besarnya pada abang karena selama ini Vira tidak pernah bersikap baik pada suami Vira sendiri. Vira sadari jika selama ini Vira telah menjadi istri yang durhaka pada suami sendiri,aku ingin merubah semuanya, menjadi istri yang berbakti dan taat pada suamiku. "
Nijar yanh heran mendengarkan penuturan istrinya itu hanya mampu mengangkat kedua bahunya.
"Apa yang kamu katakan? "
"Kita mulai semuanya dari awal bang, memulai dari sini, dari kamu yanh menikahiku menjadi istrimu. "
Nijar tertegun.
"Apa kamu sudah tak mau kepadaku bang? Atas apa yang telah aku perbuat padamu membuat kamu seperti ini? "
Nijar yang menyadari bahwa Vira telah mencintainya itu menjadi ragu, karena sekarang ini rasa cinta pada istrinya seolah memudar tatkala Kerinduan pada sosok Nabila selalu hadir dalam bayang-bayangnya.
Nijar yang bibgubg dengan semua ini, entah perasaan macam apa yang ada dalam hatinya.
"Bukan abang yang tak mengerti dengan ucapanku. Tapi,,abang sedang memikirkan wanita lain selain aku kan? "
"Baik Vira sekarang kita mulai semua dari awal, kamu akan menjadi istri seutuhnya untuk aku."
Vira merasa kaget dengan ucapan suaminya, keringat dingin menjalar di tubuhnya, apakah ini adalah akhir daro kesucianku.
Perubuhan sikap Vira tak serta merta membuat Nijat merasa sangat aneh, dia yang sekarang ingin menjadi istri yang baik untuknya.
****
Pukul 05.30
Vira yang sedang bersiap-siap karena harus kembali kerumah suaminya.
"Terima kasih atas semuanya Vira. "
Vira tersipu malu.
"Abang sangat senang sekali, kamu sudah mau menjadi istri abang yang seutuhnya. "
"Amiinnn.. Semoga abang pun sama akan menjadi suami yang setia untuk Vira , tak ada penghianatan yang merusak kepercayaan ku. "
Nijar tertegun dengan ucapannya istrinya.
"Pak,, bu Vira pulang dulu ya. "
"Iya, hati-hati ya,"
Kamu berdua bersalaman pada ibu dan bapa, walau rumah orang tuaku dan Bang Nijar tak terlalu jauh, namun bagiku saat ini sangat lah jauh.
__ADS_1
Sesampainya di rumah aku melihat seorang ibu-ibu yang sedang menarik-narik tangan Caca.
"Bang ada apa itu? " tanya Vira pada suaminya.
"Itu pasti ibuu,, ngapain sih dia datang lagi kesini? "
"Apa gak cukup perbuatannya dulu pada Caca. "
Nijar yang geram melihat tingkah mantan ibu mertuanya itu.
"Buuu,,, ibu ini apa-apaan sih main tarik anak kecil saja. "
"Kamu diam Nijar dia itu cucuku, aku berhak untuk mengambilnya. "
"Tapi aku yang lebih berhak atas ayahnya sendiri,, "
"Kamu ituu hanyaa ayah..... "
"Mas ibu ini siapa ? " tanya Vira sengaja memotong ucapan Ibu itu.
"Ibunya Henna.. "
"Caca sayang kita masuk kerumah yu? " ajak Vira pada Caca.
Caca melihat heran pada ibu sambungnya itu, karena Vira sekarang sudah mau berbicara lagi pada nya.
"Kamu siapa hah? Berani nya mengajak cucu saya masuk? "
"Saya istri ya bang Nijar bu,, "Ucap Vira sembari meninggalkan mereka .
" Heehh, nijar kamu segaja menjauhkan sata sari cucu saya sendiri? "
"Tapi apa yang ibu lakukan dulu pada Caca membuat aku takut untuk mengijinkan Caca dengan ibu. "
"Alah alasan saja kamu Jar, pasti kamu di suruh nenek tua itu kan untuk menjauhkan aku dengan cucuku sendiri? "
"Buu, jika kedatangan ibu kesini ingin membuat onar maka dengan sangat terpaksa Nijar harus mengambil tindakan kasar. "
***
" Tante sekang udah mau main sama Caca lagi? "
"Ohh jelas iya anak cantik, tante mau bermain sama Caca. Tapi boleh tidak kalau Caca sekarang panggil tante ibu saja? "
"Caca gak mau, Caca benci ibu. "
"Loh memangnya kenapa sayang? "
"Caca benci sama ibu caca, papah bilang ibu Caca sudah meninggal, bahkan tante monster pun bilang juga. "
"Tante monster? "
"Iyaaa,, tante monsterr dia yang mendorong Caca jatuh, tapi sekarang Caca senang katena tante mau jadi ibu Caca Caca boleh panggil tante dengan panggil Maba.. "
"Maba? Apa itu maba Caca sayang?"
"Mama baik,,"
Vira merasa terharu dengan ucapan Caca padanya, padahal dirinya pernah membuat Caca menangis olehnya.
...****************...
__ADS_1