
Nabila yang merasa cemas terus mondar-mandir kesana kemari. Membuat suaminya sendiri merasa heran dengan tingkah istrinya itu.
"Kamu kenapa dek? " tanya Hakim berbisik pada istrinya.
"Bude pergi dari rumah mas, tetangga yang melihat memberi tahuku. Katanya sudah di larang bude malah tetap pergi. "
"Innalillahi ya Alloh! Terus sekarang harus bagaimana? Lebih baik mas pulang ya, kamu tunggu di sini kasian Caca. "
"Tapi mas, aku tak nyaman tanpa mu disini. "
"Kita pulang saja, "
Keberadaan Nabila disini bukanlah siapa-siapa hanya sebatas seorang yang menjaga Caca bukan selebihnya.Ketidak nyamanan pasti akan di rasakan Nabila apalagi harus bertemu kembali dengan mantan suami yang notabennya ia telah membuat kegaduhan beberapa minggu kebelakang.
Memutuskan untuk berpamitan pada semua orang yang ada disini tanpa memberi tahu pada Nijar bahwa bude nya pergi dari rumah.
"Nanti kalian kesini lagi ya, sekalian aja bude juga. " titah Nijar.
"Insya alloh ya jar. "
"Dadaaahh tante bidadarii.. " ucap Caca.
Nabila hanu tersenyum.
Entah kemana mereka harus mencari bude..
"Mas aku mau pulang ke rumah ibu dulu boleh? Kasian putri kita di dititip sama neneknya.
" Boleh banget dek, lagian kamu juga lebih baik beristirahat tak usah ikut mencari bude, biar mas saja yang mencarinya. "
"Kamu gak usah khawatir sayaang. Mas pasti akan berusaha mencari bude sampai ketemu. "
Nabila pun mengangguk.
Kini tinggallah hakim sendiri yang harus mencari bude, ia harus cepat menemukan bude untuk di bawa pulang ke Nijar.
Karena Hakim tahu belum, watak dari sahabatnya itu Nijar yang mudah emosi dan susah untuk di kontrolnya.
Berhenti sejenak untuk beristirahat lalu lalang orang Hakim yang tak sengaja melihat Luki sedang bersama seorang perempuan.
"Luki! " ucap Hakim, yang ternyata di dengar oleh Luki sendiri.
"Kim.. "
"Lu bukannya lagi di rumah sakit?" Tanya Hakim yang heran karena Nijar ternyata bersama Henna. Bukankah mereka berdua sudah berpisah.
"Em-mmm itu kim.. " Jawab Luki yang gelagapan.
"Lu sendiri ngapain sendirian disini, Nabila mana? ucap Luki mengalihkan pembicaraan.
" Gue lagi kerjalah. "tutur Hakim berdalih, karena ia merasa Luki belum sepenuhnha benar-benar berubah.
Henna sendiri pun hanya terdiam seribu bahasa,tak berani menatap kearah Hakim.
" Lu masih sama ini perempuan ki? "
"Ah-ah engga ini hanya tidak sengaja bertemu. "
"Ouhh! Gak sengaja ketemu tapi pegangan tangan ya? "
Refleks mereka pun melepaskan tangan mereka masing-masing.
"Lu bisa aja si kim. Ya udah kim gue sama Henna duluan ya. "
"Mariii.. " Ucap Henna.
__ADS_1
"Oke! "
Hakim harus berhati-hati pada Luki karena ia yakin ada sesuatu yang Luki sembunyikan.
****
Sedangkan di rumah sakit Nijar hanya seorang diri menunggu Vira untuk tersadar, putrinya ikut pulang bersama mertuanya.
Tak terkecuali Wildan ia selalu setia menemani Nijar, bagaimana pun sikap Nijar, ia akan tetap selalu ada untuk sahabatnya itu.
"Lu yang sabar jar, Vira pasti sadar juga. "
"Gue sungguh menyesal jar, terlalu percaya sama Bibi gue sendiri. "
"Ya namanya juga manusia jar, penyesalan pasti nya ada di akhir. "
"Jar? Lu ngerasa ada yang ganjal gak sih dengan si Luki? "
"Maksudnya? "
"Ya lu coba pikir-pikir deh. Masa iya dia bisa secepat itu bisa melupakan si Henna. Gue ka ga percaya deh. "
"Lu selalu aja bikin beban di pikiran gue. "
"Gue kan hanya berpendapat jar,"
"Ya tapi pendapat lu itu selalu bikin gue kepikiran. "
"Ya sorry! "
"Lagian lu itu kenapa si wil selalu saja berpendapat terus. "
"Ya terserah gue lah! "
"Pusing gue tiap hari gini terus, belum beres masalah ini, masalah itu datang lagi. "
"Terserah lu dah wil. "
Nijar yang merasa pusing dengan Wildan, tiada hentinya dia berbicara. Bukannya diam malah terus saja membicarakan orang lain.
Lebih baik gue sekarang cari makan dulu, sembari menunggu Vira cepat sadar.
Nijar meninggalkan ruangan itu dan pergi keluar ke kantin rumah sakit.
Harapan dan penyesalan yang iya lakukan terhadap Vira, bukan hanya terhadap Vira namun juga pada mantan istrinya Nabila. Seharusnya dia menjadi pribadi yang lebih baik lagi bukan malah terus mengulang kesalahan yang sama.
"Ngapain dia kesini si! " gerutu Nijar dalam hati, saat melihat kedatangan Fitri.
"Haaai sayaaanggg? " lambai tangan Fitri pada Nijar.
"Mau ngapain kamu kesini Fit? "
"Ya mau melihat keadaan calon mantan istrimu itu lah sayaangg.. "
"Maksud kamu apa berbicara seperti itu?"
"Ko kamu sewot sih sayang! Apa yang aku bilang itu benarkan sebentar lagi dia akan menjadi mantan istrimu. Lihat saja saat ini saja dia belum tersadar juga, ngapain kamu nungguin dia disini? "
"Sampai kapan pun juga saya tidak akan pernah dan tidak akan mau meninggalakn Vira, asal kamu tahu. Kamu itu perempuan yang sudah bersuami. "
"Apa aku tidak salah dengar sayang! Bukankah kamu sendiri juga sama mempunyai istri. Lantas apa beda nya kamu dengan ku?"
Nijar meremas rambutnya.
"Cukupp! Cukup! Cukup Fitri kamu berada disini, pergi kamu dari hadapan saya. "
__ADS_1
"Nanti juga kamu butuh sama aku. "
"Pergi..! "
"Baiklah, semoga istrimu cepat ma*ti ya, supaya kita bisa hidup bahagia. Muachh! Sayang baaay! "
Fitri meninggalkan Nijar, Nafsu makan Nijar pun kini sudah hilang, ia kembali ke ruangan Vira.
"Pak.? Istri bapa sudah sadar. " panggil seorang suster padaku.
Aku bergegas berjalam dengan cepatnya, ingin segera melihat keadaan istrinya itu.
"Viirr.. Kamu sudah sadar sayangg? "
"Sa-sayang? Ka-kamu siapa?dan Vira siapa? " tanya Vira dengan heran.
"Saya Nijar suami mu! Kamu Vira istriku sayang."
"Suami!Istri!"
"Iyaa saya suamimu Vira dan kamu istriku"
"Saya tidak mengenal kamu, mana ibu saya? "
"Sebentar lagi dia akan kesini Vir. "
"Saya bukan Vira nama saya Suci! "
Nijar yang bingung dengan Istrinya, memutuskan untuk di luar saja karena percuma saja orang yang di harapkan hadir ternyata bukan dirinya melainkan ibunya.
Terdiam dan merenungkan atas apa yang telah terjadi pada dirinya.
"Dok sebenarnya apa yang terjadi pada istri saya, kenapa dia tak mengingat saya? "
"Ma'af pak, efek dari benturan yang begitu keras membuat istri bapa mengalami amnesia sementara. "
"Amnesia? "
"Iya betul pak. Namun bapa tak perlu khawatir karena itu hanya bersifat sementara, kemungkinan besar akan ingat kembali namun perlu waktu dan kesabaran. "
"Kami harap bapak tak memaksa beliau untuk mengingat semuanya. "
Cobaan apa ini, kenapa engkau memberikan ujian ini di saat aku sudah mulai ingin merubah semuanya.
"Buuu...? " ucap ku sembari mendekatu ibu mertua yang baru saja datang.
Aku langsung menyuruhnya untu masuk karena dia yang ia ingat ibunya.
Putriku sangat sedih tatkala Vira tak mengingatnya sama sekali.
Selang ibu masuk beberapa menit dia sudah keluar lagi, dengan linangan air mata.
"Bukan ibu nak, dia hanya ingin bersama ibu sukma. "
"Ibu sukmaa? "
"Apa beliau ibu kandung dari Vira, dia sendiri pun bilang pada nijar bu. Nama dia bukan Vira melainkan Suci. "
"Apa Vira sudah mengingat semuanya pak? " Ucap ibu mertuaku jatuh kepelukan bapa.
Beberapa menit ibu tak sadarkan diri. Kami semua disini bingung tak ada satu pun yang di ingat Vira dari kami.
"Papaaahh.. Boleh Caca masuk? "
"Boleh sayang. " Semoga saja Vira bisa mengingat jika melihat Caca.
__ADS_1
Caca masuk di temani dengan aku. Harapan ku sungguh besar pada putriku sendiri.
...****************...