
"Ya elah lu ki, kenapa gak bayar dari tadi napa."
"Lah eluu.. "
"Buruan naik, keburu mereka semua pergi dari caffe itu. "
"Iya sabar napa. Cerewet amay jadi cewe. "
Luki dan Henna tiada hentinya beradu mulut, padahal mereka berdua sedang berada dalam misi yang sangat penting. Kalau saja tadi Nijar tak melihat kita mungkin rencana mereka akan berhasil.
"Ehh ki, tapi kenapa ya, si Nijar itu gak ngelihat mereka semua? " tanya Henna.
"Iya juga si, padahalkan meja mereka deketan banget, lah kita yang jauhan aja kelihatan. "
"Aneh banget gak sih? "
"Nanti kita pikirkan. "
" Apaan sih Lo ki gak jelas amat.. "
"Ya soal itu nanti kita pikirkan gak usah sekarang, lu kan lagi bonceng gue. Gue gak mau yah sampe cel*ka."
"Emangnya gue apa sampe mau nyela*kain diri gue sendiri. "
"Lu yang bonceng gue dah," Ujar Henna lagi.
Henna memberhentikan motor milik Luki.
Mereka berdua kini melanjutkan perjalanannya lagi ke caffe.Padahal waktu sudah sangat malah tapi mereka tetap saja melakukan ini semua untuk mengumpulkan bukti-bukti.
****
Nijar yang kembali ke rumah di sambut oleh Vira.
"Enak ya jadi laki-laki bisa keluyuran sampe kapan saja, katanya suruh istri kesini tapi malah main di luar." Tutur Vira.
"Maksud kamu apa Vir berkata seperti itu? " tanyanya.
"Masa segitu aja kamu gak paham bang. Atau jangan -jangan kamu habis bersama perempuan itu lagi? "
"Mau aku kemana pun itu hak aku, kamu gak berhak melarangnya. "
__ADS_1
"Ouhh begitu ya? Lantas suami macam apa kamu ini bang bisa di sebut apa kamu bang? Oh! Aku tau kamu pantas sekali di nobatkan sebagai suami dzolim pada istrimu dan anaknya. "
"Viiraa kalau ngomong itu di jaga, saya ini suami mu dan kamu tidak berhak berkata seperti itu sama saya. Atau kamu mau jadi istri durhaka terhadap suami? "
Vira yang sudah lelah dengan perlakukaan suaminya, ia yang semena-mena pada dirinya. Meskipun Vira tahu betul durhakanya seorang istri apa bila menentang perkataan suaminya. Namun, apa boleh buat jika suami kita sendiri tak mampu mendidik dan mencontohkan hap yang baik terhadap istrinya.
"Kenapa kamu diam Vira, makanya kalau jadi perempuan itu jangan sok ngebantah, giliran di bilang jadi istri durha*ka aja diam. "
Vira menunduk.
"Maaf jika saya telah lancang berkata seperti itu pada abang. Namun perlu abang tahu satu hal suami itu pemimpin dalam rumah tangga ,maka ia harus bisa menjadi pemimpin yang baik untuk orang di sekitarnya. "
Nijae terdiam.
"Kamu tidak pernah tahu betapa besar harapan seorang istri dari suaminya. " Vira meninggalakan Nijar.
Meskipun sakit yang Vira rasakan, ia tetap berusah harus tegar dan kuat di hadapan ibu dan neneknya, karena ia tak mau melihat mereka semua sedih.
...”Oh iya bang,aku meminta ijin padamu untuk membawa bude lagi kesini. ”...
Ia mengirim nya lewat kertas yang di tempel di pintu. Bagaimana pun juga suaminya tidak harus tau dulu siapa sebenarnya Bude.
Nijar yang melihat itu kertas itu langsung membacanya dan mebalasnya juga lewat pesan singkat.
Vira tertunduk lesu.
Maafkan aku nek, yang tak bisa membawa nenek kesini kembali. Maafkan aku juga karen nenek harus tinggap bersama ibu sambungku. Padahal usia nenek sekarang sudah sangat sepuh lagi di tambah ibu dan bapa juga sudah tak muda lagi. Maafkan aku cucu mu nek yang tak bisa memberi kebahagiaan. *Ucapa Vira dalam hatinya. Air mata kini telah membasahi wajahnya yang putih dan cantik itu..
"Jika kamu tak membukakan pintu kamar ini maka saya akan mendobraknya. " Ujar Nijar di balik pintu.
Vira yang takut, sesegera mungkin menghapus air matanya dan langsung membuka pintu.
"Bagus, jadi istri itu harus nurut apa kata sumai bukan ngeyel. "
Vira tak menjawab, ia sesegara mungkin langsung keluar dari kamar.
"Mau kemana kamu hah? " tanya Nijar.
"Aku mau ke kamarnta Caca. "
"Suami disini kamu malah pergi kekamar Caca. "
__ADS_1
"Tapi aku butuh sendiri dulu. " Ujar Vira yang membuata Nijar tediam.
***
Keesokan harinya. Nijar yang masih tertidur pulas itu. Vira yang masuk kedalam kamar, mendengar ponsel suaminya yang tiada berhenti berbunyi, awalnya dia tak mau membuka panggilan itu, tapi karena panggilan telpong yang tiada hentinya itu ia mengangkatnya.
”Halloo sayangg! Kamu kapan mau kesini?kamu sudah berjanji akan datang kesini lagi. Aku gak suka ya kamu berlama-lama sama istrimu itu, atau kamu tidur bersama dia semalam? ”
Tangan dan seluruh badan Vira bergemetar, saat ia menerima panggilam telpon itu dari seorang perempuan. Hingga membuat Vira tak sengaja menjatuhkan ponsel itu.
Hal itu lantas membuat Nijar terbangun dari tidurnya, dengan cepat Vira bersembunyi, tak sempat membereskan ponsel itu.
'Perasaan tadi ada suara orang yang menangis. Kenapa handphone ku bisa di bawah dan ruksak seperi ini. 'Ujar Nijar.
'Apa mungkin tadi ada orang yang masuk kekamar ini? '
Tak ingin terus berlarut dalam hal ini, Nijar segera bangun dari kasur dan membersihkan badannya.
Ia harus segera pulang ke rumab Fitri, karena jika ia terlambat saja pasti Fitri akan datang kesini lagi dan membuat kekacauan.
"Viraaa...? "
"Viraa.. Abang pergi dulu ada kerjaan yang gak bisa abang tinggalkan. " Ujar Nijar, yang langsung pergi.
"Papah mau kemana? tanya Caca, yang sedang duduk di kursi luar.
" Emm, ituu emm anuu sayang papah hari ini ada kerjaan yang sangat mendesak sekali. "
"Jadi papah gak bisa anterin Caca kesekolah lagi dong? Padahal Caca udah sangat rindu sekali di anterin papah sekolah. "
"Lain kali aja ya sayang, papah lagi buru-buru banget. "
"Oh iya Caca sayang, nanti bilang Maba ya kalau barang-barang toko akan sampai hari ini. " Ujar Nijar, ia yang harus mengeluarkan modal usahanya lagi untuk mengisi kekosongan toko.
Caca mengangguk.
Vira yang sejak dari tadi terdiam di pojok lantai menangis tanpa ada suara, sesakit itu kan yang ira rasakan , ternyata benar bahwa suaminya telah memiliki perempuan lain di bandingkan dirinya.
Suaminya yang mungkin tidak akan pernah bisa merubah kebiasaan buruknya, hobinya menikah, bercerai, menikah dan bercerai lagi.
Vira yang takut semua itu terjadi pada dirinya, harus bisa merebut hati suaminya hanya untuk dirinya seorang. Mencari tahu siapa perempuan yang tadi menelpon suaminya.
__ADS_1
Atau kah jangan-jangan selama ini ia masih berhubungan Fitri, itu makanya Fitri kemarin ada disini membantu Bang Nijar. Tapi di jari nya Fitri tak ada cincin pernikahan yang mengikat antara keduanya. Bahkan Bang Nijar pun masih menggunakan Cincin pernikahan kami.
...****************...