
Keesokan harinya Nijar terbangun dengan badan yang masih lunglai. Sedangkan Vira dia semalam tidur di ruang tamu itu pun ia lakukan setelah semua orang tertidur.
Uwooo...
Uwooo...
"Vira kamu kenapa? " tanya bude yang melihat Vira mondar-mandir ke mandi.
"Engga papa bude, mungkin aku masuk angin. "
"Tapi wajah mu pucat banget nak? "
"Jarr, bawa istri mu ke dokter gih kasihan. "
"Gak papa bude, beneran Vira hanya masuk angin saja, nanti juga hilang sendirinya. "
"Engga nak, bisa jadi kamu lagi isi. "
"I-siiii? "
"Iya nak kamu mungkin sedang hamil.. "
"Ohookk... " Nijar yang kaget mendengar penuturan budenya itu langsung melihat kearah Vira dengan tatapan yang begitu tajam.
"Vira aku mau berbicara sama kamu. " tarik Nijar pada Vira.
Vira mengangguk.
***
"Apa benar yang bude bilang kalau kamu sedang hamil? "
"Aku gak tau bang. "
"Aku yakin jika anak yang ada dalam kandunganmu itu bukan anakku kan? Pasti itu benih dari laki-laki lain? "
"Bang aku tak mungkin hamil, apa lagi hamil oleh pria lain. Aku hanya masuk angin saja, mungkin karena semalam tidur di luar. "
"Alah kamu gak usah beralasan, pasti kamu menyembunyikan sesuatu dari aku kan? "
"Mana mungkin kamu hamil dari aku, sedangkan aku saja hanya sekali menyentuh mu. "
"Banggg,, kamu dengar aku tak sedang hamil. "
"Pantas saja kamu begitu,ternyata pergaulanmu sama buruknya dengan Henna."
"Cukup bang, cukup kamu bandingkan aku dengan mantan istrimu, bahkan dia pun tak seburuk apa yang kamu kira, asal kamu tau bang dia begitu karena saa... "
"Karena sa apa hah? "
"Tak penting aku menjelaskan semuanya sama kamu yang egois. "
Vira pun meninggalkan Nijar.
Perkataan Vira barusan membuat Nijar berpikir keras, siapa sa? Dan juga semalam Henna pun sama-sama membuat dirinya pusing.
Nijar yang merasa kesal dengan semua ini, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi Fitri, perempuan yang menawarkan diri untuk bisa menemani harinya itu.
Semakin kesini, semakin tak ada perubahan baik yang ada pada Nijar. Dia seolah-olah lupa pada tugasnya, mengabaikan keluarganya, tanggung jawabnya pada toko yang telah iya rintis dari awal.
"Sudah aku bilang pak, pasti bapak akan memerlukan saya. " goda fitri.
"Bisa aja kamu fit. "
__ADS_1
"Menyesal kan bapa sekarang karena tak memilih saya dulu? "
"Entahlah, hari ini saya sedang pusing sekali dengan semua permasalahan yang terjadi pad rumah tangga saya. "
"Tuh kan udah saya bilang pak, si Vira itu buka cewek baik-baik,dia itu menggunakan jampi-jampi supaya bapa terkelepek-kelepek padanya. "
"Kalau soal itu saya yakin tidak mungkin,tapi jika soal tentang kehamilan dia pasti itu bukan anak saya. "
"Apaaa? Vira hamil? "
"Ya kata bude seperti itu. "
"Kenapa bapak gak coba untuk membawanya ke dokter kandungan, lalu setelah anak itu lahir kela bapak bisa melakukan ter dna? "
"Cerdik juga kamu fit, kenapa gak dari dulu kamu saya pilih. "
"Bapak bisa aja. " Fitri merasa senang mendapat pujian itu dari mantan bosnya . Niat dia untuk mendekati bosnya itu kini telah berhasil. Tinggal menunggu bosnya jatuh cinta pada dirinya lalu menghancurkan Vira.
"Kalau bapa ada perlu apa-apa lagi, saya akan selalu ada untuk bapa. "
"Terima kasih ya fit, kamu sudah mau menemani saya. "
Semuanya terjadi begitu saja, mereka yang akhirnya sering bertemu dan bertemu tanpa sepengetahuan Vira, kini telah saling jatuh cinta.
Mereka sesekali pergi berlibur ke luar kota, hanya untuk menghindari agar tak ketahuan orang yang di kenal.
Kejadian ini telah terulang lagi oleh Nijar, dirinya menyadari betul bahwa semua ini bukanlah hal yang baik, kata-kata Nabila dulu kini terngiang lagi di pikirnya.
Namun sejauh dan sedalam apapun Nijar menyembunyikan nya pasti akan kecium juga dan semua itu telah di ketahui oleh orang tua Vira sendiri ibu Wati.
"Nak Nijar..? "
"I-buu? " Nijar yang gelagapan karena kaget bertemu dengan ibu mertuanya itu.
"Siapa perempuan ini? "
Nijar yang takut berusaha memberi kode pada Fitri, namun kekasihnya itu tak menyadari.
"Ke-kasiiihh..? "
"Oh jadi kamu pelakorr? " Ibu wati dengan sangat emosi menjambak rambut Fitri.
"Kamu tahu tidak dia itu sudah beristri, jadi perempuan murahan sekali kamu ini hah? Memangnya tidak ada laki-laki lain apa?"
"Kamu juga Nijar, ternyata kamu bukan laki-laki yang baik,apa yang di bilang suamiku ternyata benar. Kamu itu laki-laki yang tak pernah bersyukur dengan satu wanita. "
Ibu wati marah besar pada menantunya itu, ia tak terima karena putri semata wayangnya itu di khianati seperti itu. Walau iya sadari semua itu terjadi karena dirinya sendiri, penyesalan kini telah merasuki bu Wati.
"Aaawww... Saaayaanngg tolong akuu.. " ucap nya merintih kesakitan.
"Buuu.. Udah cukup dia kesakitan? "
"Apa kamu bilang dia kesakitan, lalu apa ini semua akan sebanding jika Vira mengetahuinya hah? Atau jangan-jangan Vura sudah mengetahui nya tapi dia hanya diam saja dan tak bilang pada kami. "
"Ibu-ibu.Bapa-bapa semuanya sini? Wanita ini adalah pelakor, dia telah berselingkuh dengan wanita ini. "
Teriak bu wati memanggil semua orang yang sedang lalu lalang.
"Buu.. Ibu apa-apaan sih. "
"Kalian semua dengar, lihat wanita ini dengan baik-baik, semoga ibu-ibu semua nya bisa mengingat perempuan ini agar ibu semua berhati-hati. "
"Bubaaarr semua bubaarrr.. "
__ADS_1
"Huuuhuuuuhuuu.. " sorakan dari orang-orang.
"Ibu puas telah mempermalukan saya dan Fitri seperti ini? Apa ibu lupa, ibu juga yang mendukung pernikahan saya dulu dengan Vira kan? "
"Ya saya tahu itu. Namun, saya kira kamu akan berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi dari dulu ternyata kamu semakin brengsek. "
Kejadian barusan telah di ketahui oleh semua orang karena banyak orang-orang yang memvidio kejadiannya itu.
***
"Bang apa ini semua benar? " tanya Vira langsung saat Nijar baru saja tiba.
"Iya, semua ini gara-gara ibumu. "
"Jadi kamu telah bermain api dengan perempuan ini? "
"Kalau iya memangnya kenapa hah? Aku punya kebebasan aku sendiri dan kamu tak perlu ikut campur. "
"Tapi aku istrimu bang? Aku berhak marah saat kamu melakukan hal seperti ini. Kamu anggap aku apa selama ini? Apa kamu tak pernah cukup dengan satu perempuan saja bang? "
"Kalau aku bilang tidak kamu mau apa? Kamu dengar Vira, selagi saya bisa mendapatkannya kenapa saya harus mengabaikannya. "
"Papaaah jahaaatt.. Caca benci papah.. "
Caca yang melihat pertengkaran kedua orang tuanya itu sangat sedih, apa lagi papahnya dengab tega memarahi maba nya.
"Caca benci papa.. "
"Ca-ca? "
"Caca sayang.. Papah gak bermaksud seperti itu nak. "
"Engga,, Papah jahat. Papah gak sayang saya maba. Papah udah buat maba menangis. Caca benci. "
Caca pergi meninggalkan rumah itu.
Nijar yang takut kehilangan putri nya itu langsung mengejar Caca dengan cepat.
"Caca ma'afin papah sayang.. "Nijar memeluk putrinya itu.
" Engga , Caca gak mau sama papah. "Caca lari kepelukan Vira.
" Maba ayo kita pergi dari rumah ini, Caca gak mau lihat maba menangis karena papah. "
Caca menarik tangan Vira untuk pergi meninggalkan rumah itu. Vira merasa mungkin ini saatnya dia harus pergi dari rumah ini, melindungin Caca dari masalah yang mungkin kelak pasti akan terjadi.
"Kamu lihaat jarr,, apa yang telah kamu lakukan itu telah menyakiti putri mu sendiri.. "
"Aaaggghhhh... "
"Semuanya telah terjadi, dia begitu marah sama kamu, kekecewaanya terlihat sangat besar pada sosok papahnya. "
"Aku tau, aku salah bude, aku menyesal. "
"Semuanya sudah terlambat, Caca sekarang lebih memilih bersama ibu sambungnya, dibandingkan kamu papahnya sendiri. Bude sudah sering kali bilang sama kamu Jar, jangan melakukan hal yang akan membuat Caca kecewa dan bersedih, lalu apa sekarang kamu sudah sangat menyakiti hatinya. "
"Cukuuuppp bude, lebih baik sekarang bude pergi dari sini. "
"Pergiiii bude.. Kalau perlu bude kemasi semua pakaian bude.. "
Bude yang kaget dengan ucapan Nijar itu secara tiba-tiba ia menangis.
"Baikk duk, jik kamu menginginkan bude untuk pergi dari sini, bude akan pergi. "
__ADS_1
"Ya sudah sana pergi, ngapain kamu masih disini. "
...****************...