
Sebenarnya aku juga tak mengerti dengan jalan pikirnya Henna, menyimpan dendam yanh begitu sangat dalam padaku berbeda dengan ibunya.
"Nak Nijar ibu sungguh minta maaf padamu atas perlakukan yang Henna lakukan selama ini, ibu benar-benar telah gagal mendidik Henna menjadi seorang istri yang baik. "
"Gak bu, ibu gak salah. Mungkin ini sudah menjadi hukuman buat Nijar. "
"Makasih ya nak, kamu sudah sangat berbesar hati dan sabar menghadapi Henna. Ibu takkan menghalangi mu lagi untuk berpisah dengan Henna, kamu sudah sangat cukup sabar menghadapi nya. Ibu akan selalu mendoakan yang terbaik buat Kamu dan juga cucu ku Abisha."
"Seharusnya Nijar bu yang bilang makasih sama ibu. "
Tak ada lagi pembicaraan yang terucap. Bagaimana pun juga perlakuan buruk Henna padaku, aku harus tetap menghormati orang tuanya. Belum sempat aku berpamitan pada ibu mertua tiba-tiba saja suara Henna yang memanggil-manggil ibunya. Apakah Henna datang kesini?
"Mamiiihhh? "
"Maa.. miihhh? "
"Iya ada apa sayang? kenapa kamu berteriak seperti itu? " ucap bu Mila pada Henna.
"Oh jadi kamu juga ada disini Nijar. Kamu membicarakan apa lagi dengan Mamih aku?"Timpal Henna berbicara padaku, dengan pandangan yang begitu sinis.
"Diam Henna, mamih sangat kecewa dengan atas apa yang kamu lakukan. "
"Oh jadi mamih lebih percaya dengan dia, Anak dari seorang pelakor. Apa mamih lupa ibunya dia yang telah membuat aku kehilangan sosok ayah mihh,satu lagi mih dia itu bukan siapa-siapa mamih lagi,aku dan Nijar sudah resmi berpisah."
"Lantas bagaimana dengan kamu sendiri Henna?Karena bagi Mamih Nijar tetaplah menantu mamihh. "
"Maksud Mamihh apa? " Henna tak paham. "
"Apa kamu tau perkembangan putri mu sendiri dan apa kamu pernah menggendong nya dikala ia menangis? "
"Buat apa menggendong anak sial itu mihh,gara-gara kehadiran dia karir Henna hancur. "
" Dia bukan anak sial Henna, apa kamu tega jika kelak dia tak pernah merasakan kasih sayang dari ibunya? Bahkan kamu sendiri pun tak terima saat tak mendapatkan kasih sayang dari ayahmu sendiri. "
"Cukup miihh, aku datang kesini itu ingin bawa mamih keluar dari rumah ini, bukan malah menceramahi Henna seperti ini . "
" Dan kamu Nijar ! Puas kamu membuat hubunganku dengan mamih ku hancur. "
"Stoop, kamu menyalahkan Nijar Henna, kesalahan ini terjadi atas kamu sendiri. "
"Ohhh, jadi sekarang mamih lebih membela laki-laki ini di bandingkan anak mamih sendiri. Baik jika begitu Henna akan pergi dari hadapan mamih, dan jangan pernah mamiih berharap Henna akan kembali lagi kesini. "Henna pun pergi meninggalkan ibunya, mengendari mobip dangan sangat cepat kilat.
Aku tak sanggup melihat air mata yang jatuh dari ibu mertuaku, kekecewaan yang ia rasakan saat tau anaknya seperti itu.
" Buu.. Ibu jangan menangis yah? Disini kan masih ada Abisha, ini cucu ibu. "
"Ibu hanya kecewa dengan apa yang Henna tuturkan. "
"Mungkin Henna sedang pelah bu, makanya dia berkata seperti itu. "
____
__ADS_1
Di kontrakan baru ku, aku menata dan merapihkan seluruh barang-barang milikku dan Abisha. Keputusanku untuk mengontrak sudah di pikirkan secara matak, bukan aku tak mau tinggal di rumahku sendiri, namun disana itu banyak sekali kenanganku bersama dengan Henna. Aku tak ingin mengingat semuanya lagi,aku hanya ingin merubah apa yanga telah terjadi selama ini dalam hidupku menjadi lebih baik lagi.
Sambil memikirkan toko apa yang harus aku buka sapaya ramai pembeli. Satu persatu ide ku mulai bermunculan dari berbagai ide hanya satu yang membuat aku ingin memilihnya. membuka toko sembako, karena kebetulan di tempat aku tinggal saat ini tak ada satu pun toko sembako.
Drrrrttt..
Drrrrttt...
Handphone ku begetar,ada beberapa pesan masuk di ponselku terutama Wildan
[Haii broo? Bagaimana besok lo jadi kan hadir keacara nya Hakim?]
[Entahlah dan, gua masih di pikir-pikir dulu. ]
[Kenapa harus di fikir dulu sih, sekarang kan hidup lu bebas gak ada beban?]
[Maksud lo? ]
[Iya, kan sekarang lo udah pisah sama si Henna kan? ]Deggg.. dari mana Wildan tau jika aku telah berpisah Henna.
[Apaan sih dan. Ko lo bisa tau kalau gua udah pisah sama Henna? ] Tanya ku penasaran .
[Biasalah dari si Luki, dari siapa lagi.Emang yah si Luki itu paling gercep tau semuanya tentang lo. ]
Aku tak membalas pesan dari Wildan,dari mana Luki tau jika aku sudah berpisah dengan Henna, ada banyak hal yang mengganjal dalam pikiranku secepat itu kah luki tau tentang perpisahanku.
Padahal aku sendiri pun belum bilang, aku sengaja tak memberi tahu mereka saat ini,karena bagiku sekarang yang terpenting adalah membahagiakan Abisha.
"Apa sayangg? Anak papah ingin mimi iyahh? "
Abisha mengangguk.
Aku pun membuatkan susu terlebih dahulu untuk abisha, sambil sesekali melanjutkan pekerjaanku yang lainnya.
Abisha kini sudah tidur dengan begitu pulasnya. Tak tega jika aku harus memindahkan nya ke kasur, dia terlihat begitu sangat pulas sekali tidurnya.Aku juga tak tega meninggalkannya sendirian di kamar.
Apa kamu harus mencari baby sister yang merawat putri ku yah?
Namun pikiran itu aku tepis, karena sekarang ini aku masih mampu dan bisa merawat Abisha sendirian,buktinya selama dua tahun lamanya Abisha bisa tumbuh dengan sehat dan baik. Lagian juga kan saat ini aku bisa sesekali menitipkan Abisha pada neneknya.
Hari pun mulai larut malam setelah seharian beres-beres dan menyicil memberi keperluan toko supaya besok aku bisa langsung membuka toko ini.
____
Pagi yang cerah, setelah aku selesai mengerjakan pekerjaan rumah dan memandikan Abisha, ku awali membuka toko dengan Bismillah semoga ini adalah awal yang baik buat aku dan Abisha. Dan Alhamdulillah ada sat7 pembeli yang berbelanja di toko ku.
"Bang ada telur? "
"Ada bu, mau segimana? "
"Seperapat saja bang, sama beli terigu juga gulanya sekalian. "
__ADS_1
"Baik bu. "
"Ini anaknya yah bang? " pertanyaan ibu itu membuat aku risih.
"Iya bu. "
"Kirain Abang masih sendiri, soalnya aku gak pernah lihat istrinya. "
Aku hanya tersenyum, dengan cepat aku melayani nya karena tak ingin ia bertanya banyak hal lagi. Terulang dan terus terulang orang pun mulai banyak yang berbelanja di toko ku, namun pertanyaan yang sama terus mereka tanyakan membuat aku tak nyaman.
Drrrttt....
Pesan masuk dari wildan.
[Jar, lo masih dimana sih? Gue nunggui lo sama luki dari tadi loh disini. ]Astagfirulloh aku lupa jika hari ini pernikahan nya Hakim,padahal semalam sudah di beri tahu Wildan. Saking ramainya pembeli di toko ku ini.
[Iyaa... Kalian duluan aja, nanti gue nyusul. ]
Aku pun menutup toko sebentar untuk menghadiri acara pernikahan Hakim dan Nabila. Menyiapkan pakaina yang layak untuk Abisha , karena tak mungkin aku tak membawanya, segan rasanya jika harus menitipkan pada neneknya.
Acara pernikahan Nabila berlansung sangat sederhana sekali, sama seperti dengan ku dulu. Kulihat wajahnya yang di rias balutan make up begitu memancarkan cahaya kecantikannya. Senyum kebahagiaan tersirat dari bibirnya. Dengan langkah perlahan aku mendekati mereka berdua, tatapan dari orang tua Nabila melihat kearahku sangat cuek.
"Selamat yah kim dan Nabila atas pernikahan kalian. "
"Makasih Jar, kamu udah mau datang ke acara kita. "
Nabila hanya tersenyum
"Henna nya mana bang? Apa dia gak ikut? " tanya Nabila padaku.
"Aa..ee..aa,, dia sedang ada pekerjaan yang tak bisa di tinggalkan Nabila. " ucapku berbohong.
"Ahh, yasudah. Ini putri mu bang? "
"Iya bil. Ya sudah aku mau langsung pamit pulang aja yah Kim, Nabila. Aku masih ada kepentingan lain juga. "
"Makan dulu Jar, gak usah tergesa-gesa gitu kenapa? "
"Gak usah kim, semoga rumah tangga kalian berdua samawa yah. "
Belum sempat mereka menjawab ucapanku, aku sudah langsung pergi pergi begitu saja.
Jikalau boleh aku jujur, aku tak sanggup melihat ini semua.
Aku sungguh cemburu.
... ...
...Bersambung ...
...Bantu like, subcribe dan komen ceritaku ...
__ADS_1